Engkong dan Kota Besar

14
points
"

Sekedar bacaan, untuk dibaca disaat senggang...

"

Entah karena cuaca yang panas, atau akibat berdesakan di dalam kereta, keringat mengucur di seluruh tubuh Engkong. Sehingga begitu ia turun dari kereta tersebut segera saja ia berlari ke warung terdekat, memesan segelas es teh dan mengunyah beberapa potong pisang goreng.

Mengedarkan pandangannya, akhirnya Engkong menyadari bahwa kota ini sudah sama sekali berubah sejak terakhir kali ia berada disana. Ia pun teringat kembali masa kecilnya, ketika ia dan teman-temannya, bertelanjang dada menjadi kurir untuk para tentara pembela kemerdekaan di masa peperangan, entah sekedar mengantarkan surat cinta atau bahkan cuma sepotong pisang goreng sama seperti yang ia makan saat ini, walaupun seingatnya pisang goreng jaman dulu terasa jauh lebih enak.

Seingatnya juga, ia tak pernah punya cita-cita untuk kembali ke kota ini saat ia memutuskan mengikuti program Transmigrasi yang dicanangkan pemerintah saat itu, yang saat ini tak pernah terdengar lagi kabarnya. Namun disinilah ia sekarang, di kota kelahirannya puluhan tahun yang lalu, kepanasan dan kehausan.

Setelah ia menghabiskan es teh tawar yang dihidangkan oleh si penjaga warung, yang menurutnya agak terlalu genit untuk wanita sebayanya, dan membayarnya dengan berat hati, karena es teh di tempat tinggalnya tak pernah semahal itu, Engkong pun kembali melanjutkan perjalanannya.

Dia sedikit terkejut karena sedikit banyak ia masih dapat mengingat jalan-jalan di kota tersebut, jadi sebelum ia mencari angkutan umum ia memutuskan untuk melihat-lihat perkampungan di dekat stasiun tersebut. Banyak rumah yang dulu pernah ia lihat masih berada disana, meskipun tentu saja dengan penghuni yang sama sekali tak dikenalnya. Di ujung gang bahkan masih berdiri, tidak terlalu tegak memang, pohon mangga yang dulu sering ia satroni bersama teman-temannya. Ia sedikit kecewa ketika mengetahui bahwa tempat cukur rambut yang dulu menjadi satu dengan pos kamling telah lama pindah, atau mungkin juga tutup, dan di sana kini hanya digunakan pemuda-pemuda sangar untuk tempat genjrang-genjreng semata.

Tak terasa sudah cukup lama Engkong berkeliaran di perkampungan tersebut. Ketika ia kembali ke stasiun, hari sudah menjelang dhuhur. Cepat-cepat saja Engkong berjalan menuju mushola kecil, yang untungnya masih ada, mengambil air wudhu lalu mengimami sholat dhuhur, karena kebetulan ia lah yang paling tua saat itu.

Selepas sholat, sebenarnya Engkong sudah ingin langsung mencari angkutan umum ketika tiba-tiba sekelompok anak jalanan berbondong-bondong sholat berjamaah di mushola itu juga. Engkong pun memutuskan beristirahat sejenak sambil menunggu mereka selesai, lalu seperti yang biasa ia lakukan ketika hari raya tiba, dipanggilnya anak-anak tersebut, lalu satu-persatu diberinya lembaran uang seribuan rupiah. Anak-anak itu bersorak-sorai lalu berebutan mencium tangan Engkong, beberapa orang berbisik-bisik namun Engkong sama sekali tidak peduli.

Akhirnya angkutan umum yang ditunggu Engkong tiba juga. Pelan-pelan, karena ia tak semuda dulu, ia menaiki angkutan tersebut untuk menemukan dirinya terhimpit diantara seorang bapak-bapak dan ibu-ibu yang sayangnya sama sekali tidak bisa dibilang langsing. Angkutan itupun melaju, setelah sebelumnya tak lupa sang supir memaki-maki entah ditujukan kepada siapa.

Di dalam angkutan, asap rokok mengepul bagaikan cerobong asap pabrik yang dilihat Engkong dalam perjalanan di kereta. Engkong tiba-tiba saja menanyakan kembali kebodohan apa yang membawanya kembali ke kota tersebut ketika seorang bayi, mungkin karena tak suka mencium bau asap rokok, berteriak dan menangis sekencang-kencangnya. Orang-orang menggerutu tapi Engkong malah tersenyum, menanti di tempat tujuannya seorang cucu yang telah lama ia nantikan.

Your rating: None Average: 2.8 (5 votes)
dikirim 145 23 minggu 4 hari yang lalu
Tag: