Arti Kehilangan Bagi si Bungsu

40
points
"

aduh tulisan ku. sering sekali di edit hehe

"

Papa orang yang giat, ia sering keluar rumah untuk waktu yang lama. Mama bilang papa pergi mencari uang. Sewaktu papa pulang, ia selalu membawa berbagai macam oleh-oleh, biasanya berupa buah-buah yang saya tidak pernah lihat.

Waktu itu papa tiduran di rumah, tidak pernah lagi pergi keluar. Mukanya pucat, aku tidak mengerti tapi sepertinya papa sakit.

Hari demi hari tubuhnya makin lemah, warna kulitnya menguning dan perutnya membengkak. Jariku yang sakit dan bengkak terjepit pintu saja kalah bengkaknya dengan perut papa.

Entah berapa lama papa di pembaringan. Sampai suatu ketika papa dibawa pergi oleh orang-orang yang tidak ku kenal. Kata mama mereka adalah adik-adik papa yang membawa papa ke rumah sakit.

Entah berapa lama aku tidak bertemu dengan papa, aku kangen dengan papa yang bajunya bau dengan asap rokok. Mama juga tampak lelah, ia sering bepergian di sore hari.

Suatu hari, mama dan saudara saudaraku pergi. Aku dititipkan ke tetangga.

"HUUUUUHUUUUUU....maaa...mama!" Aku menangis protes dalam gendongan tetanggaku, aku juga ingin ikut. Tapi mereka tetap meninggalkan ku.

"Sudah...sudah mamamu pergi sebentar saja, jangan nangis lagi sayang. Nih, tante kasih permen" Ku lihat ia mengeluarkan sebutir permen dari sakunya. Tergiur tawarannya aku pun berhenti menangis.

Malam itu mama dan saudara ku pulang dengan wajah yang sayu. Tidak tahu apa yang mereka alami. Jelas bukan hal yang menyenangkan.

Aku merasa ada yang kurang. Biasanya rumah yang selalu ribut menjadi sepi. Bahkan si nakal Rudi juga tidak banyak berulah lagi.

Papa memang biasa tidak di rumah, namun kali ini tidak terasa seperti biasanya. Ada sesuatu yang hilang.

Malam berikutnya, ketika aku selesai menghabiskan isi botol susuku, aku mendapati mama menangis sendiri di dalam kamar. Aku berhenti di pintu kamar dan melihatnya dari situ. Aku tidak mengerti mengapa mama sedih.

Menyadari kehadiranku, ia menghapus air matanya dan mencoba memasang wajah tegar. Ia mengendong ku dan menidurkan ku di sampingnya.

"Ma..ma wan an" Ucapku sambil mengecup pipi mamaku. Aku juga tidak mengerti apa arti kata kata tersebut. Namun, mama selalu meminta ku mengucapkannya sebelum tidur.

"Wan an" Balas mama singkat.

Aku berbaring di samping mama dan memejamkan mata. Sambil mengipas supaya aku tidak kepanasan mama menepuk-nepuk pahaku, berusaha meninabobokan ku.

Malam itu, entah mengapa aku menyadari papa tidak akan kembali lagi...

Your rating: None Average: 6.7 (6 votes)
dikirim wend 29 minggu 6 hari yang lalu
Tag: