masih bersambung..
"Mas Tris .. ada telepon tuh !! Bu Susi memanggilku sambil mengeluarkan kepalanya dari pintu kaca. Saat itu aku tengah ngobrol dengan teman-teman kantin. Kebetulan kantin kantorku memang berdekatan dengan ruang kerja aku.
Bersama Pak Slamet dan Bu Susi, aku mengisi ruangan itu sebagai ruang kerja bagi kami. Meja Pak Slamet dan Bu Susi menghadap ke arah pintu, sedangkan meja kerjaku menghadap dan berhimpit dengan meja Pak Slamet. Pesawat telepon yang gagang teleponnya tergeletak menungguku, terletak di atas mejaku.
Dengan tanpa ekspresi aku menyapa seseorang di balik telepon itu. "Hallo ... " Terdengar suara, "Mas ... apa kabar?" Ternyata suara istriku. Aku telah mendengar kalau dia sedang berada di Indramayu. Dia dibawa Bapaknya untuk menjalani pengobatan. Entah aku tidak mengerti pengobatan macam apa. "Baik" Ku jawab sekenanya. "Sibuk ya Mas?" "Ah. .. nggak juga. Gimana kamu?" "Baik juga Mas. Kapan Mas mau ke sini?" Ada semacam nada harapan dalam bicaranya. "Wah, nggak tau deh" Aku tidak tahu harus menjawab apa karena saat hadir pertanyaan itu, emosiku mulai beranjak naik. "Loh, koq gak tau sih Mas? Dian khan sakit di sini. Memang, mas udah gak peduli lagi dengan Dian?" Aku masih mencoba untuk diam, tidak bicara dan mendengar apa yang akan dia ucapkan. "Dian mengharapkan Mas datang kesini. Dian cuma butuh Mas ada disamping Dian. Dian disini prihatin Mas. Gak ada yang bisa ngasih hiburan ke Dian. Mas di Jakarta. Salma juga di Jakarta. Cuma Bapak. Dian disini sering nangis Mas."
Kata-kata itu terus mengalir dari lisan istriku. Aku mencoba untuk diam, tidak bicara dan mendengarkan. "Disini hidup prihatin Mas. Dian sering cuma makan pake garam." Dalam hatiku bertanya, "dengan berlauk garam .. ?" Sungguh miris emosiku mulai bercampur antara sedih, marah dan apapun. Semua rasa itu berkecamuk. Bagaimana bisa kondisinya lebih buruk dari sebelumnya? Bukankah maksud dibawanya istriku ke Indramayu agar kondisinya dapat menjadi lebih baik? Bagaimana mungkin istriku makan berlauk garam, sementara aku di sini bekerja pada bagian dapur, yang tidak mungkin kelaparan, apalagi cuma makan berlauk garam?... Aku mulai menitikkan air mata. Bu Susi yang masih menghitung bon-bon belanja di meja kerjanya, sedikit mulai salah tingkah.
"Apa Mas tidak kasihan dengan Dian?" Kalimat itu mengalir lagi dari lisan Dian seperti tuntutan pertanggungjawaban statusku sebagai suaminya. "Dian juga tahu, kalau Mas tidak setuju dengan apa yang dilakukan Bapak. Kalau Dian bisa menolak, Dian akan memilih hidup dengan Mas. Akan mengikuti upaya Mas menyembuhkan Dian. Tapi ... Dian khan gak bisa berbuat apa-apa Mas!!" Ada rintihan dalam ucapan lirihnya itu. Emosiku semakin berkecamuk.
Kepergian Dian ke Indramayu adalah upaya Bapak untuk memperjuangkan kesembuhan anak kesayangannya. Bapak tidak peduli dengan anaknya yang lain. Setelah istrinya meninggal, Dian memang satu-satunya anak yang dapat diajak berdiskusi untuk menyelesaikan permasalahan keluarganya, ketimbang kakaknya, Mas Budi. Namun apa yang dilakukan Bapak bagiku adalah suatu perampokan. Ya.. perampokan tanggung jawabku atas anaknya. Tidak pernah aku diajak berunding untuk menentukan upaya penyembuhan anaknya. Mungkin baginya aku masih dianggap belum dewasa. Belum bisa berbuat apa-apa.
Memang usiaku masih 23 tahun. Tetapi Dian adalah istriku. Bapak telah menyerahkan Dian padaku saat ijab qobul dua tahun lalu. Segala apa yang menimpa istriku, harusnya telah menjadi tanggung jawabku, suaminya.
"Dian ..." Aku mencoba untuk tenang dan ingin segera mengakhiri rasa rindunya kepadaku, walaupun aku sangat merindunya. "Mas juga prihatin .. Mas sedih mendengar kamu jadi seperti ini. Mas gak mungkin ke Indramayu. Mas gak bisa seperti dulu. Pekerjaan Mas sekarang berbeda dengan waktu Mas masih bisa menemani kamu di Cianjur, di Pandeglang, atau di Serang. Sekarang ada waktu kerja yang mengikat. Apalagi Mas terbilang masih baru. Lagipula, siapa yang membawa kamu ke Indramayu?" Suaraku mulai sedikit meninggi. "Siapa yang membawa kamu diobati dengan cara yang gak jelas? Apa kamu tahu kalau ini sekian kalinya Bapak tanpa izin Mas membawa kamu kemana dia suka? Bapak gak pernah ngomong ke Mas, ke suami kamu .... !! Jadi jangan salahkan Mas kalo Mas gak bisa ke Indramayu!!" Di ujung telepon terdengar tangisan Dian. Aku merasa bersalah. Mengapa aku menjadikannya lebih terpukul. Bukankah seharusnya aku memberikan hiburan dan menguatkan mentalnya?? Emosiku makin menjadi ... Dian mencoba untuk mengambil hatiku. Tapi justru jawabanku lebih menyakitkan hatinya ... "Tidak Dian, Mas gak akan ke sana. Biar Bapak yang kembalikan kamu ke Mas, suami kamu ... !!!!!" .... Bletakk...... Gagang telepon itu aku banting mengenai badannya dan bergerak hampir jatuh ke lantai.
Bu Susi terkaget ... Sambil menangis, aku keluar ruangan. Mencari tempat untuk menenangkan diri. Merenungi apa yang telah aku lakukan baru saja. Tangisanku saat ini jelas berbeda dengan tangisan Dian di Indramayu. .....
Tag:











