“Kalau begitu artinya Ruki gak mau dan merasa tidak perlu lu bantu,” ujar Aria sewaktu KK menceritakan kejadian antara dirinya dan Ruki di rumah Aria.”Udah aja, gak usah lu pedulikan lagi.”
Kening KK berkerut. Kasar sekali jawaban Aria. Pandangan yang diberikan seperti tanpa pemikiran lebih dalam. Dia agak tersinggung. Biar bagaimana pun juga dia mengenal Ruki jauh sebelum Aria. Sebagai manusia KK tentu merasa sakit hati. Dia merasa tadi siang Ruki sudah kelewatan. Ruki bukan hanya tidak menunjukkan rasa persahabatan, bahkan memakinya. Dilain pihak, sebagai teman dekat, KK berusaha mengerti beratnya beban masalah yang dihadapi Ruki. Jadi tingkah Ruki yang tidak karuan bukannya tidak bisa mendapatkan toleransi.
“Toh Ruki sudah bukan bocah umur lima tahun. Ruki tidak perlu dikasih permen supaya kembali ceria. Biarkan Ruki sebagai laki-laki dewasa menyelesaikan masalah sendiri,” Aria melanjutkan wejangan kacangannya.”Lagian ngapain lu mencampuri urusan orang lain. Mending….”
“Ruki bukan orang lain!” geram KK. Dia sudah tidak dapat menahan diri.
“Kalau bukan orang lain, trus siapanya lu? Kakak? Adik? Atau pacar?”
KK melotot.
“Oh…ya…ya…Soul mate lu..Lupa gua.”
Sinis dan terdengar merendahkan sekali ucapan Aria bagi telinga KK. Dia gak sangka kalau manusia seperti Aria tidak mempunyai kepedulian terhadap orang lain. Penampilan fisiknya yang hampir sempurna tidak memperlihatkan sisi yang sama dihatinya.
Menyesal sekali KK menceritakan kejadian tadi siang kepada Aria. Kalau tahu tanggapan Aria masa bodoh begini lebih baik dia telan sendiri kekesalannya. Sangat bertolak belakang dengan harapan bahwa Aria akan mengajaknya menyambangi Ruki dan menghiburnya.
“Kali aja soul mate lu cemburu ama gua. Bukan punya masalah kayak yang diceritakan.”
KK menggeram. Memuncak panas dihatinya. Sudah tidak dapat ditahan tanpa pelampiasan.
“DIAM LU!” bentaknya.”Gua udah pernah bilang ama lu kalo Ruki bukan tipe seperti itu. Jangan asal ngoceh!”
Aria terkejut. Mukanya agak pias. Dia tidak menyangka kalau KK akan begitu marah . Keterkejutan Aria juga dialami Jeje dan Jojo, dua adik kembar identiknya yang berumur lima tahun.
Keduanya berlari mendekati KK, meninggalkan permainan robot – robotan mereka di ruang tamu.
“Kak Kakaktua kenapa malah – malah?” tanya Jeje cadel, sang kakak lima menit.
“Kak Alia jahat ya? Kita pukul yuk!” tambah Jojo, juga cadel.
Kalau saja suasananya tidak panas, KK pasti sudah tersenyum. Bahkan mungkin terbahak. Dia suka sewot-sewot lucu setiap kali si kembar memanggilnya ‘Kakaktua’ sebagai pelesetan ucapan KK ( Kaka ). Kecadelan si kembar dalam berkata-kata juga sering memancing tawa.
Tapi karena suasana sedang tidak enak, KK hanya memandang si kembar sebentar. Mencoba mamaksakan senyum walau kaku. Lalu kembali menatap tajam Aria.
“Gua pulang.”
Maunya KK pulang ke rumahnya. Namun panggilan hati memaksa kakinya melangkah ke rumah Ruki.
Dia agak ragu memasuki pekarangan rumah Ruki. Padahal biasanya dia langsung main masuk. Ada ganjalan dihati dan sosok wanita yang tidak dikenalnya yang menahan kebiasaanya.
Dibanding Ibu Ruki, wanita itu kalah cantik. Kedua pipinya cekung. Sorot matanya juga tidak menggambarkan wanita tegar seperti Ibu Ruki. Rambut yang diikat ekor kuda menambah kesan kurus mukanya yang tirus. Wanita itu sedang duduk diteras kecil rumah Ruki.
Pasti ini wanita perusak rumah tangga itu, geram KK. Tapi hanya dalam hati. Dia tidak merasa berhak untuk melabrak wanita itu.
“Permisi, Mbak..”sapanya.”Ruki ada?”
Wanita itu menganggkat wajahnya.
“Gak ada,” sahutnya. Agak ketus.
KK tidak berpaling.
“Tante ada?” lanjutnya bertanya.
“Siapa?” Wanita itu balas bertanya.
“Ibunya Ruki.”
“Ada di dalam. Siapa kamu?”
“Saya KK. Saya temannya Ruki.”
“Kamu mau cari Ruki atau ibunya Ruki?”
Ingin rasanya KK menyarangkan kepalannya ke wanita nyinyir itu. Tapi dia harus sabar. Sebagai tamu adalah kewajibannya menjawab sopan pertanyaan wanita yang mungkin adalah salah satu penghuni.
“Kalo Ruki gak ada, saya mau ketemu Ibunya.”
“Sebentar, saya panggilkan.”
“Maaf, Mbak. Gak usah,” cegah KK. Dia sudah tidak dapat menahan hati.” Saya biasa masuk sendiri.”
“Tapi…”
“Maaf lagi, Mbak siapa?”
Pertanyaan tepat. Satu kosong untuk kemenangan KK. Wanita itu terdiam. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan KK. Atau tidak mau menjawab. Seraya mengedikkan bahu, dia mempersilahkan KK memasuki rumah.
KK menemukan Ibu Ruki di dapur. Kelihatannya sibuk menyiapkan masakan untuk makan malam.
“Hai, Tan..” sapa KK.
Ibu Ruki membalikkan badan. Mengembangkan senyum kecil.
“Udah lama gak main kemari. Cari Ruki?” tanya Ibu Ruki.”Lagi pergi. Tante gak tau kemana dia.”
Lidah KK gatal untuk bertanya sekadar memastikan siapa wanita di depan rumah. Namun dia juga tidak ingin menyakiti hati Ibu Ruki. Lagipula tanpa bertanya dia dapat meraba-raba siapa wanita itu.
“Lagi masak apa, Tan?” KK mencoba berbasa-basi.
“Ini…buat makan malam.”
KK diam. Dia kehabisan kosa kata. Karena dari awal dia sudah tahu situasi di rumah Ruki, jadi banyak kesulitan baginya untuk bersikap seperti biasa. Apalagi dia juga dapat merasakan kalau Ibu Ruki juga sedang tak hendak banyak berbicara.
“Adit ada dikamar, Tan?”
“Kamar belakang.”
Sebelum menjawab, KK melihat jika Ibu Ruki buru-buru membalikkan badan. KK juga menangkap guncangan kecil dibahunya.
“Halooo, Dit,” ujar KK begitu masuk ke kamar Adit yang menurut Ruki tadinya adalah sebuah gudang.
Ukuran ruangan tempat Adit tergolek disebuah ranjang kecil memang hanya setengah dari ukuran kamar yang ditempatinya dulu. Sumpek dan berbau lembab. Mungkin karena fungsi ruangan ini tadinya adalah gudang sehingga satu-satunya ventilasi adalah jalusi diatas pintu masuk.
“Halooo…Kak…”
Itulah Adit. Luarbiasa. Walau pun sudah lima tahun terakhir dia hanya dapat terbaring akibat kanker tulang yang memberinya kelumpuhan seumur hidup, tapi keceriaannya masih tersisa.
KK duduk bersimpuh di samping ranjang. Wajah dan suara Adit memang Riang. Namun seperti pepatah mengatakan mata adalah jendela hati, maka sejuta nestapa terkuak disepasang mata Adit yang tak lagi bersinar cerah. Kesedihan dan penderitaan bergelayut disana.
“Pasti Ruki udah cerita, ya,” ujar Adit enteng ketika tahu KK memandangnya sedih.”Nyante lagi aja, Kak. Gua juga bilang gitu ke Ruki. Ngapain mesti sedih dan dipikirin. Hidup aja udah susah maka jangan membebani diri dengan masalah. Gak ada untungnya.”
KK senyum terpaksa. Dia salut dengan Adit. Dia juga tahu Ruki banyak belajar ketegaran hidup dari adiknya. Tap dia juga tidak dapat memungkiri kalau penderitaan Adit amat memilkukan hati.
“Kehendak Tuhan kita gak pernah tahu,” kata Adit memulai ‘khotbah’nya. Adit suka melontarkan kata-kata bijak layaknya pengkhotbah semenjak dia hanya bisa berbaring dan melakukan kegiatan membaca.” Apakah dengan menyesali kehendakNYA yang kita tidak tahu apa maksudNYA maka kita akan dapat terhindar dari kesulitan?”
“Gua ngerti, Dit. Gua lagi gak pengen denger lu khotbah. Boleh gak kita ngobrol yang enteng-enteng dan lucu aja?”protes KK.
Adit nyengir.
“Ngobrol apa? Yang lucu yang kayak apa? Emang gua pelawak?” canda Adit.
Mereka tertawa bersama. Keduanya meneruskan obrolan tidak penting sementara KK berharap sebelum malam Ruki pulang.
Sampai sore hendak menjemput malam, bayang Ruki tidak muncul. KK menolak ajakan makan oleh Ibu Ruki. Dia memilih berpamitan daripada tidak dapat menahan keinginannya menonjok wajah si wanita perusak rumah tangga. Sebelumnya dia menitipkan pesan lewat Adit yang berisi :’Besok gua tunggu jemputannya yaaaaa…!’.
.....................................bersambung
Tag:







