Magical Gunner Chapter 3: Magistru World

28
points
"

Akhirnya setelah lama vakum, aku kembali menulis cerita Magical Gunner^^ Gara-garanya sibuk ama hal laen jadi mesti ada aja alesan buat gak ngelanjutin cerita ini^^

Plot cerita sedikit diubah dari rencana awal...

"

“Kamu adalah subjek yang sangat penting dalam rancana kita."

Kata-kata itu masih terngiang-ngiang dengan jelas di telingaku. Entah, apakah aku harus senang atau khawatir. Senang karena merasa dibutuhkan atau khawatir karena ada sesuatu yang busuk di balik ini.

Aku harus menenangkan pikiran. Mungkin membaca-baca sebentar akan menenangkan pikiranku. Kutarik napas dalam-dalam lalu kuhembuskan lagi untuk meringankan badan. Aku segera menegakkan badanku. Kulihat kamar baruku ini. Kamarnya terlihat sangat rapi dan teratur. Hanya ada 1 kasur dengan dilengkapi dua lemari kecil dikedua sisinya, sebuah lampu yang dilampisi kain kuning menerangi pojok-pojok ruangan. Sebuah karpet halus terhantar di tengah-tengah ruangan beserta sebuah meja kayu. Sebuah AC juga menyegarkan ruangan yang hanya memiliki 1 ventilasi ini. Tapi, dari semua yang ada di kamar ini ada 1 yang sangat mencolok perhatian, yaitu 5 lemari yang isinya penuh akan buku terjajar dengan rapi di pinggiran kamar. Bahkan masing-masing bagian dari lemari itu nyaris tidak ada yang kosong.

Aku beranjak dari tempat tidur. Aku melihat-lihat sambil memikirkan apa yang sebaiknya kubaca. Aku melihat di bagian ”rahasia”. Entah pengurus istana di sini sangat bodoh atau raja di sini suka lelucon tetapi orang gila mana yang menaruh buku-buku rahasia di kamar tamu.

”Mungkin aku sebaiknya mempelajari beberapa hal mengenai dunia ini.”

Aku menarik sebuah buku besar. Covernya penuh dengan debu. Kuambil sapu tangan yang tergeletak di lemari dan kubersihkan debu-debu tersebut. Aku berusaha melihat judul buku tersebut.

”Zephyr, The Source of All Eternal Fates, Hmmm.”

Aku kembali ke kasur dan duduk di pinggirnya. Kubuka pelan-pelan buku besar tersebut. Kubalik terus halaman demi halaman. Tapi buku ini sangat aneh. Tiada setetes tinta pun yang menghiasi buku ini. Kututup lagi buku aneh ini.

The Source of All Eternal Fates... Sumber dari segala takdir abadi. Aku hanyalah seorang manusia biasa yang tidak pernah bermimpi seumur hidupnya kalau dia bakal terdampar di dunia fantasi. Mungkin buku ini biasa di dunia seperti ini tapi aku bukan dari dunia ini.

Dunia ini...

Aku mengingat kembali perjalananku tadi sore dari ruang yang sepertinya merupakan singgasana raja sampai ke kamar tamu ini.

----------------------------------------------------------

Pintu ruang singgasana ditutup dengan keras. Aku berputar dan perlahan-lahan mengikuti langkah orang yang sepertinya bernama Durandal.

”Anda sebaiknya istirahat dulu, tamu terhormat kami.”
”Tamu terhormat? Apakah Magical Gunner setinggi itu prestisenya?”
”Anda mungkin belum tahu tetapi Magical Gunner di sini sangat berarti bagi kami. Sekarang, tolong ikuti saya menuju kamar tamu.”

Aku masih bingung. Kemarin aku berjalan-jalan menginspeksi TPS dan sekarang aku sudah menjadi orang yang sepertinya sangat penting bagi mereka. Belum lagi istana ini. Sepanjang pengetahuanku, istana mana yang seluruhnya terbuat dari emas murni yang berkilauan serta kristal putih yang sangat mengkilap. Aku terkagum-kagum dengan bangunan ini.

”Maaf, tamu yang terhormat.”
”Ah... Ya, ada apa?”
”Kalau saya boleh tahu, anda dipanggil dengan nama apa?”
”Panggil saja saya dengan nama Shin...”
”Kalau begitu, Saudara Shin, tolong ikuti saya melewati jalan ini.”

Aku mengikutinya berbelok menuju sebuah jalan yang menyempit. Di ujungnya terlihat jalan menuju bagian luar istana. Begitu melewati pintu itu, kami meneruskan perjalanan melewati sebuah gang kecil yang diapit halaman besar istana.

Seraya berjalan, aku mengamati halaman istana yang berada di sebelah kananku. Halaman istana ini mungkin lebih tepat jika kusebut sebagai taman kanak-kanak. Di sana, anak-anak kecil duduk di bangku yang disediakan layaknya kelas di sekolah. Mereka sedang mendengarkan sang guru yang menjelaskan sesuatu menggunakan whiteboard sebagai penunjangnya. Si anak ada yang tidur, ada yang dengan rajin mendengarkan, ada yang mengupil, ada yang bermain-main api menggunakan jarinya, ada yang...

Eh? Memainkan api menggunakan jarinya?

Terkejut, aku menghentikan langkahku. Apakah memang mataku sedang error atau aku sedang bermimpi tapi apa yang dilakukan anak itu benar-benar terjadi. Hanya dengan menggunakan jarinya, dia menciptakan api dan bermain-main dengan api tersebut. Sang guru mendekatinya dan sepertinya menegurnya.

Aku pasti sedang bermimpi.

”Ada apa, tuan Shin?”
”...Ah tidak, tidak apa-apa.”

Seraya aku berjalan lagi, sang guru menginstruksikan sesuatu kepada murid-muridnya.

”Anak-anak, ucapkan mantra ini dan arahkan apinya ke atas ya?”
”Baik bu guru! Magistru Fira, Burst!”

Tiba-tiba saja dari tangan anak-anak itu, keluar api kecil dan menyembur ke udara.

Kenyataannya aku sedang tidak bermimpi.

Aku terpaku saja melihat mereka. Durandal menyadari keterpakuanku. Dia sadar akan anehnya hal yang baru saja kulihat.

”Tuan Shin, kalau anda berkenan, bolehkah saya bertanya sesuatu?”
”...Ah, maaf,” aku meminta maaf akan ketelmianku.”Tentu saja boleh.”
”Apakah di dunia anda sebelumnya, anda mengenal yang namanya sihir?”
”Tentu saja. Sihir sangat terkenal dalam dunia cerita anak-anak.”
”Kalau begitu anda sebaiknya jangan kaget kalau sihir di sini sangat terkenal dalam dunia sehari-hari.”

Seharusnya setelah meihat anak-anak tadi, aku tidak kaget dengan apa yang baru saja dia katakan. Tapi manusia memiliki tendensi untuk terpana terhadap fakta-fakta yang selama ini dianggap sebagai imajinasi. Sebagai manusia yang selama ini hidup normal-normal saja, tentu aku akan terpana akan keseharian sihir.

”Sihir di sini sangat berperan penting bagi kehidupan sehari-hari manusia. Di sini, sihir digunakan untuk transportasi, kehidupan berumah tangga, pertahanan diri, dan macam-macam.”

Setelah kuingat-ingat lagi, mereka tadi menyebutku sebagai Magical Gunner. Seharusnya dari sebutan itu aku sadar kalau ada yang namanya sihir di dunia ini.

Aku melihat lagi pistol naga yang kutemukan kemarin. Aku tidak pernah bermimpi seumur hidupku kalau aku akan terdampar di dunia ”sihir”. Aku tidak pernah menyangka mengambil sampah sembarangan bisa membuatmu terdampar ke dunia lain. Aku harus membuang jauh-jauh kebiasaanku mengambil sampah sembarangan.

Aku mulai mengikuti Durandal lagi menuju sebuah bangunan besar di penghujung gang ini.

----------------------------------------------------------

”Heh... Dunia sihir ya...”

Aku terbangun dari pikiranku mengenai sore ini.

Setelah dipikir-pikir, sebetulnya tinggal di dunia ini tidak jelek-jelek amat. Perlu dicatat, aku adalah orang yang sebetulnya suka berimajinasi, terutama imajinasi fantasi. Orang-orang menyebutku sebagai ”Radical Dreamer” karena imajinasiku yang fantasi banget. Mereka mengatakan bahwa itu adalah hal yang tidak berguna. Tapi aku tidak menyesal. Imajinasiku ini telah membawaku ke dunia barang antik. Di dunia itu, aku bertemu teman-teman sesama pengoleksi barang antik.

Teman-teman...

Bagaimana nasib mereka ya? Aku jadi khawatir, terutama dengan Chelsea. Dia adalah gadis lemah lembut yang oleh keluarganya sendiri tidak pernah diperbolehkan untuk mengemban ilmu bela diri. Kalau ada sesuatu yang terjadi padanya...

Aku menggelengkan kepala. Jangan. Jangan membebani diri sendiri Shin, pikirku. Aku lalu melihat lagi buku yang berjudul ”The Source of All Eternal Fates” ini. Buku ini kelihatannya berumur ratusan tahun. Kulihat pengarangnya bernama The Grim Reaper. Aku tersenyum sendiri. Aku tidak pernah tahu kalau setan kematian bisa menulis buku. Pantas saja isinya kosong. Aku lalu berdiri hendak mengembalikan buku ini.

Buka...

Aku menoleh. Siapa yang baru saja berbisik?

Buka...

Aku merinding. Aku jadi teringat film hantu yang dulu pernah kutonton.

Buka...

Suara lemah itu menyuruhku untuk membukanya. Aku melihat-lihat lagi siapa yang berbisik.

Cepat buka tolol...

Apa?! Tolol?! Aku menggeram. Aku yakin tidak ada siapa-siapa di kamar ini selain aku. Ah, tidak ada salahnya mengikuti suara itu. Kukuatkan diriku lalu kubuka buku itu secara ngawur.

Entah apa yang terjadi tetapi aku terpana begitu melihat halaman yang kubuka ternyata memuat artikel tentang Magical Gunner. Padahal tadi aku yakin semua halaman di buku ini kosong. Aku menutup buku itu meskipun aku penasaran akan isinya. Aku mulai membuka lagi buku itu pada halaman yang sama sekali berbeda. Seperti yang kuduga, halaman itu juga berisikan artikel mengenai Magical Gunner. Aku teringat akan buku ajaib yang ada di buku Harry Potter, novel terkenal di dunia asalku, yang bisa menjawab segala pertanyaan Harry Potter. Buku ini menjawab keingintahuanku.

Aku mulai membaca artikel tersebut.

Seperti yang kita ketahui, roda kehidupan dunia ini selalu dipengaruhi oleh sihir. Orang-orang menggunakan sihir untuk menjalani segala aktivitasnya. Mereka juga mempercayai sejumlah dewa sihir yang mewakili masing-masing jenis sihir. Di dunia persihiran, dikenal sistem kelas untuk mengetahui jenis-jenis penggunaan sihir yang dimiliki oleh para pengguna sihir. Kelas-kelas ini mirip dengan pekerjaan, ada Magistru Teacher atau guru, ada Magistru Student atau murid, ada Magistru Diver atau peneliti, ada Battle Mage atau prajurit, ada Pyromancer atau pengendali api, ada Aqueous atau pengendali air, dll. Tapi tahukah anda mengenai kelas-kelas spesial? Kelas-kelas ini dikhususkan bagi para penggunanya yang jumlahnya sedikit di dunia ini. Kelas spesial yang paling sering dikenal adalah Magistru Lord atau penguasa. Orang yang memiliki berkelas Magistru Lord bisa dihitung dengan jari di dunia ini. Biasanya, orang-orang yang berkelas spesial memiliki kemampuan sihir yang tidak umum. Karena itu, sesuai dengan namanya, kelas-kelas spesial itu spesial.

Salah satu kelas spesial yang ada adalah Magical Gunner. Kelas ini adalah kelas spesial yang pernah ada pada zaman dahulu kala. Pada saat itu, negara Landish dipimpin oleh Magistru Lord Raven. Dia adalah seorang penguasa jenius yang berambisi untuk merebut tanah subur negara tetangganya, Farnoble. Untuk menandingi mereka, dia dibantu oleh orang yang pada saat itu paling jenius juga paling fanatik pada kelas Dark Lord atau menteri sihir kegelapan, yaitu Dark Lord Vance. Dengan bantuannya, Raven memilih 10 prajurit terbaiknya untuk diberi senjata sihir spesial. Senjata itu mirip berbentuk tabung pipih yang memiliki pemicu di belakangnya. Senjata ini mampu menembakkan peluru sihir yang sangat dahsyat. Pengguna senjata ini lalu dianugrahi kelas Magical Gunner. Kelas ini sangat kuat, saking kuatnya, kesepuluh orang ini cukup untuk menghancurkan pasukan pertahanan negara Farnoble. Untungnya, karena usaha gigih negara Farnoble serta bantuan-bantuan dari negara lain yang mewaspadai keampuhan Magical Gunner, negara Landish berhasil dikalahkan. Para Magical Gunner berhasil ditangkap dan dieksekusi. Sejak saat itu, 10 senjata bernama senpi tersebut selalu berpindah-pindah tangan setiap waktu. Senjata-senjata itu mulai digunakan oleh orang-orang untuk kebaikan. Tetapi entah kenapa, pengguna-pengguna senjata tersebut selalu mati dengan tragis. Entah sejak kapan kian hari keberadaan senpi-senpi itu makin jarang diketahui hingga puncaknya beberapa tahun lalu keberadaan senjata-senjata itu hilang tak membekas. Sudah menjadi misi tersendiri bagi para pengguna sihir untuk menemukan mereka untuk menghidupkan lagi legenda Magical Gunner.

Aku tertegun setelah selesai membaca artikel ini. Aku tidak pernah menduga diriku akan menjadi sosok yang selama ini dicari oleh orang-orang di dunia sihir ini. Aku yang sama sekali tidak bisa melakukan sihir ini secara tiba-tiba menjadi Magical Gunner.

Aku tersenyum bangga pada diriku sendiri. Tapi aku merasa ada sesuatu yang hilang. Aku tahu ada sesuatu yang hilang tetapi aku tidak tahu apa yang hilang. Aku bingung sendiri hingga aku ingat akan fungsi buku tersebut.
Kalau seandainya dugaanku tepat, buku ini seharusnya mampu menjawab segala keraguanku, pikirku seraya menutup buku itu.

Kuambil nafas panjang lalu menghembuskannya. Ketika aku hendak membukanya, pintu kamarku diketok dengan keras. Aku kesal karenanya.

”Ya, Ya, Sebentar!”

Aku meletakkan buku itu di meja kecil di samping kasurku lalu beranjak untuk membuka pintu kamar.

”Maaf tuan Shin, tolong ikut saya sekarang menghadap paduka raja,” kata Durandal langsung setelah aku membuka pintu kamar.
”Ah, baiklah.”

Aku harus tahu apa yang hilang dari buku itu... Tapi nanti sajalah. Aku menutup pintu kamar lalu bergegas mengikuti langkah cepat Durandal.

”Ada apa e... Durandal?”
”Ada masalah yang sangat penting. Kami sekarang membutuhkan kamu sebagai Magical Gunner sekarang juga!”
”A... Apa?!”

Aku tidak tahu apa-apa mengenai sihir. Aku tidak tahu apa-apa mengenai pistol yang kubawa ini. Dan sekarang mereka membutuhkan seorang Magical Gunner, yang menurut artikel tadi berkemampuan sihir yang hebar dan ahli dalam menggunakan senjata ini, segera.

Fin

Your rating: None Average: 5.6 (5 votes)
dikirim Cyber_Jar 29 minggu 6 hari yang lalu
Tag: