Ini sebenarnya Essai dan bukan cerpen, sayang K.com yang kita cintai ini tidak punya kamar untuk essai. Sebelumnya saya mohon maaf bila ada kata dalam essai ini yang menyinggung anda.
"Air Seni Atau Kencing Berseni ?
Andai saya tahu siapa orangnya yang pertama kali menghaluskan air kencing menjadi air seni. Saya mau protes habis-habisan. Apa artistiknya buang hajat yang bisa sembarang “dipentaskan”. Mau berdiri, mau jongkok, mau ngangkang kek, tidak akan ada kritikus yang sudi mengoreksi. Begitupun dengan “tempat manggungnya”. Acak, sebebas bentuk udel “pelakon”-nya. Entah di Mal, entah di Kafetaria, di Semak belukar, di Stasiun, di Selokan, di Mesjid, di di Gereja, entah di Jalan raya.
Karya seni macam apa kalau “ekspresi”-nya cuma segitu-gitunya. Tergesa-gesa untuk menjadi datar dan kemudian lupa. Tak ada daya pukau secuilpun untuk melekat, menghayat dan menjelma menjadi bidadari yang begitu masygul duduk-duduk di lembaran memori. Karena orang yang mau saya tunjuk-tunjuki mungkin sudah mati, maka saya kasih upah buat pasrah menerima istilah latah yang sedari SD saya kenali. Tapi tunggu dulu, pasrah di sini dalam arti ikhlas kehilangan kesempatan bertemu “Sang Penemu” bukan suatu keridoan tulus terhadap pemaknaan istilah rancu.
Kadang saya pikir ini bagian dari warisan orde baru yang doyan bener bikin eufimisme. Desa miskin jadi desa tertinggal, utang jadi bantuan, busung lapar jadi gizi buruk/ Malnutrisi, dipukuli jadi diamankan, dinaikkan jadi disesuaikan, pengangguran jadi tuna karya, gelandangan jadi tuna wisma serta seabrek istilah lainnya yang tak mungkin saya tulis satu per satu. Lagian saya nggak punya kapasitas untuk itu. Saya bukan pegawai balai bahasa. Hanya seorang awam yang bosan basa-basi, terlalu jenuh untuk merasa “dihargai”. Pikir ini tidak habis mengerti, Si kencing ini punya aib apa sehingga namanya harus diperlembut. Di mana letak salah dan dosanya ? toh semua orang berkelamin dan tentu harus kencing.
Keadaan apa yang mau ditutup-tutupi dengan “penghargaan”-nya ini ? siapa yang mesti sembunyi dibalik ungkapan flamboyan ? seniman sekalipun rasanya tidak akan mau menyebut air kencingnya sebagai air seni. Kencing ya kencing, kadang jernih kadang kuning, kadang mengencingi kadang dikencingi, malah kadang mengencingi diri sendiri.
Seorang kawan pernah bertanya suatu saat,
“Kenapa kalau kita kedinginan terus angin menusuk sukma pun sumsum, kita selalu ingin kencing ? bolak-balik ke kamar kecil. Kenapa nggak kentut saja biar lebih ringan dan praktis?”
“Mungkin karena kelamin punya sensor lebih peka terhadap suhu udara ketimbang pantat,” jawab saya sok ilmiah.
“Apa buktinya?”
“Mmmh…”
“Lantas kalau kita ketakutan, kenapa jadi kencing berreaksi ? kenapa nggak kentut saja biar lebih ringan dan praktis ?”
“Mungkin karena alasan posisi, kelamin dan wajah itu dalam posisi linier, keduanya sama persis melihat hal yang ditakuti jadi jelas ia lebih cepat tanggap dari pantat yang berada di belakangnya,” kini sok politis saya.
“Bagaimana kalau yang ditakuti itu ada di belakang kita, tepat di depan mata pantat ?”
“Mmmh… kencing sono lu !” jengkel saya.
“Sok tahu kamu.”
Kalau memang “keukeuh” mesti ada air seni, tidakkah air mani lebih layak terkategori “karya seni” ketimbang air kencing. Ia lebih estetik karena dihasilkan dari penghayatan perasaan akan naluri alamiah. Ia lebih futuristik karena tentunya membutuhkan perencanaan matang di mana ia akan dibuang. Ia menjadi eksotik itu sudah pasti. Ia artistik karena memiliki berbagai metode tersendiri dalam rangka pencapaian kesempurnaan kepuasan. Jangan tanya soal erotik, fantasi dan cinta, Djenar Maesa Ayu lebih paham daripada saya. Saya jadi ingat kesan pertama ketika membaca bukunya, terkencing-kencing.
Ah kencing saja kok jadi masalah, barangkali anda berasumsi seperti itu. Saya yakin anda pasti bermasalah malah berresiko besar, jika berani coba-coba kencing di mimbar mesjid, kencing di depan Presiden atau mengencingi helm tentara dan polisi. Anda mungkin menjawab hanya orang gila yang sadar dan nekat melakukannya. Perlu digarisbawahi bahwa di era globalisasi teknologi ini, yang katanya membuat warga dunia semakin santai. Kasus-kasus depresi, stress dan gangguan psikis lainnya makin menunjukan gejala yang meningkat dari hari ke hari.
Rumah Sakit Jiwa tidak pernah disegel bangkrut karena kehilangan “pelanggan”-nya. Cerita fiktif yang saya kemukakan di atas bukan tidak mungkin menjadi kenyataan hidup. Orang-orang abad mendatang ialah orang yang rentan kondisi jiwanya karena teramat individualistis dan serba pragmatis. Maka suatu saat nanti bisa jadi kencing di sembarang lokasi, kondisi dan situasi merupakan bagian dari keisengan, hobi, trend dan gaya hidup tersendiri.
Ah sudahlah, terbebas dari itu semua kencing memang ambil bagian dari keseharian kita. Lima kali sehari, tujuh kali sehari, berapa kali anda kencing ? berapa kali anda kesakitan manakala rutinitas itu harus ditahan-tahan ? sanggupkah anda dalam jangka waktu yang begitu lama menahan kencing ? bagaimanapun kita butuh kencing agar terhindar dari segala macam penyakit seputar susah kencing.
Tidak hanya sekadar kencing batu atau batu ginjal bahkan juga kerusuhan, anarkhi, bunuh diri, separatisme, pembantaian etnis malah perang dunia. Karena kencing adalah hak politik, kencing adalah distribusi keadilan, kencing adalah pemilikan akan cinta, kencing adalah pengakuan dan perhatian, kencing sarana corong kemerdekaan, kencing adalah kedaulatan mutlak suatu Negara.
Maka berbahagialah anda yang masih dianugerahi kemudahan dan keleluasaan buat kencing. Di luar sana, di sekeliling kita, banyak orang terkencing-kencing karena kesulitan dan kepedihan untuk menahannya selama bertahun-tahun.
Bandung Juni ‘06
Tag:








