Cupid & I (Season I)

(TAKE ONE)
Seorang cowok dengan rambut yang sudah kacau berlari keluar dari kelas begitu dosennya sudah menutup kuliah. Kampus siang itu sangat ramai. Cowok itu melewati sekelompok cewek yang tampak jelas sekali sedang menatapnya bak mercusuar yang menyoroti kapal di lautan. Tapi dia tak mempedulikannya. Tak sengaja dia menyenggol lengan seorang cewek yang sedang berjalan dengan setumpukan kertas di tangannya menyebabkan kertas-kertas itu terjatuh.
”Sori.”ucapnya singkat tanpa membantu cewek itu memunguti kertasnya.
”Nggak apa-apa kok, Dam...”ucap cewek itu dengan mata berbinar-binar. Kelihatan sekali cewek itu sama sekali nggak keberatan kertas-kertasnya berjatuhan.
”Sori ya, aku lagi buru-buru...”dia terus berlari menuju gerbang luar kampus tanpa mengetahui kalau cewek yang tadi disenggolnya tengah menatapnya dari belakang, tak mempedulikan kertas-kertasnya yang tadi terjatuh diinjak-injak orang.
Matahari siang itu sangat terik membuat tubuhnya berpeluh dan terasa gerah.
”Dam! Dam!...”
Langkahnya terhenti oleh suara teriakan yang nggak asing lagi baginya.
”Kamu ngapain sih lari-lari gitu?”
”Duh, Rey, aku mau balik nih.”
”Kok balik? Ntar sore kamu maen kan?”
”Iya lah maen. Makanya aku mau cepet-cepet balik dulu. Aku belum bawa baju ganti nih. Kenapa?”
”Cuma mau kasih tahu, ntar sore Mita datang, mau nonton kamu main!”
”Terus?”
”Yee... nih anak, Mita lho! Mita! Cewek cantik nan sexy yang jadi inceran anak-anak... apalagi setelah ketahuan putus sama cowoknya itu! Tuh cewek kayaknya lagi naksir sama kamu. Udah saatnya ganti pacar. Kamu mesti maen bagus! Kita mesti menang! Udah ada penyemangat tuh!”
”Whatever deh... ada bis ku tuh, aku mau naik keburu ketinggalan. Aku duluan, Rey!”

(TAKE TWO)
”Rissa! Rissa! Kamu ngapain sih bengong gitu? Hayoo, ngecengin anak arsitek ya?” Arga menyadarkan Rissa dari lamunannya. Buru-buru Rissa meneguk jus jeruknya di meja kantin itu.
“Apa sih? Aku cuma lagi mikirin skripsiku. Bentar lagi kan aku mau sidang.”
”Oh iya ya... Udah ada yang mo dampingin kamu waktu kamu sidang belum? Kalau belum ada, aku bersedia lho... aku akan menunggumu di luar ruangan penyiksaan itu. Kau akan menemukanku begitu kau keluar. Gimana?”Arga menaikkan alisnya mencoba menggoda Rissa.
”Makasih deh, udah ada adikku yang bakal nemenin aku.”
”Adik? Nggak seru amat sih. Biasanya yang nungguin tuh cowok kamu. Kamu kenapa nggak punya cowok sih, Ris? Aku bersedia loh jadi cowokmu.”
Rissa menatap Arga tajam,”Mo tahu aja sih urusan orang!”
”Yee, malah marah...”
”Kak Rissa!” seorang cewek menghampiri Rissa yang masih bete karena Arga.
”Hey, ada apa?”Rissa menyambut cewek itu kemudian berdiri.
“Wah, kamu benar-benar penyelamatku dari orang nggak punya kerjaan ini.”Rissa melirik ke arah Arga, sementara Arga mulai cemberut.
“Kak, nanti malam aku ke rumah Kakak ya? Aku mau pinjem majalah-majalah fashion yang jaman-jaman dulu. Aku ada tugas nih, Kak. Yah… sekalian…” cewek itu tersenyum.
Rissa mengangguk,”Iya, datang aja.”

(TAKE THREE)
Rissa menuliskan luapan isi hatinya diatas sobekan kertas koran dengan sebuah spidol hitam. Ditimpanya sebuah artikel tentang peluncuran album baru sebuah grup band ternama di koran itu dengan tulisannya.
”Aku harus bagaimana? Aku nggak boleh memikirkan ini, ini salah... Ini terlarang buatku... Kenapa aku terjebak dalam perasaan ini?...” Tiba-tiba Rissa menghentikan kegiatannya di kamarnya itu. Dia merasa ada yang memperhatikannya. Serta merta dia menoleh ke belakang dan langsung terkejut lalu berteriak.
”Aaahhh!!!” Rissa sangat terkejut melihat sesosok laki-laki yang sangat tampan namun penampilannya sangat aneh. Rambut laki-laki itu berwarna biru pendek acak-acakan dan terlihat berkilauan seperti ditaburi glitter. Kulitnya putih, bola matanya berwarna biru cerah, alisnya sangat tebal, hidungnya mancung, bibirnya tipis tersenyum memandang Rissa. Laki-laki itu memakai baju mirip mantel sangat tebal berwarna biru tua. Rissa menilik ke pintunya, masih terkunci.
”Kau... kau siapa? Ba... bagai... bagaimana kau... bisa masuk kesini? Pencuri ya?!” Rissa berdiri dari kursinya dan merapat ke meja.
”Allo, Rissa Fayza... Kenalkan, aku Cupid.”jawab laki-laki itu ramah.
Rissa menggeleng-geleng,”Kyupid? Kyupid apa? Kau... kau pasti penjahat yang... darimana kau masuk... entah... pergi! Kau mau apa?!”
”Hey, Aku Cupid. Kau tidak kenal Cupid? Peri Cinta? Mitologi Yunani?”
Rissa mengangguk-angguk.
“Nah, kau sudah mengerti rupanya.”
“Aku mengerti… kau.. kau pasti mencoba menghipnotisku atau semacam itu untuk mendapatkan tujuanmu! Kau pasti orang jahat yang…”
“Aduh, bagaimana aku bisa menjelaskan padamu supaya kau percaya ya? Aku ini benar-benar Cupid, peri cinta. Kau tahu kan, yang membuat orang-orang jatuh cinta dengan panah cintanya. Aku biasanya memang tidak terlihat, tapi… aku sedang ingin bertemu denganmu. Kau harusnya merasa beruntung, bukan menganggapku seperti penjahat. Sekarang kau lihat kamarmu, pintu terkunci, jendela juga. Kalau aku manusia biasa, darimana aku bisa masuk?”
”Kalau kau Cupid, mana sayap dan panah cintamu? Hah, ada-ada saja! Cupid itu tidak ada! Kau mau aku percaya padamu? Aku pasti bermimpi sekarang!”
“Namamu Rissa Fayza. Umur 22 tahun, mahasiswi tata busana. Minggu depan kau akan ujian skripsi. Kau suka menulis curahan hatimu di atas kertas koran kemudian membakarnya. Dan kau sedang mengalami cinta yang dilematis.”
Rissa terkejut, selama ini tidak ada yang tahu tentang kebiasaannya menulis di koran. ”Kau tahu karena kau baru melihatku menulis kan? Sudahlah, hentikan tipuanmu itu! Kakak! Rissa berlari mendekati pintu dan membuka kuncinya, bersiap keluar dari kamar. Dia masih takut dengan laki-laki itu.
”Kau selalu membuang kertas yang sudah kaubakar itu di sebuah kaleng bekas cat yang kausimpan di bawah ranjangmu. Kakak laki-lakimu sedang punya masalah dengan pacarnya, kalau kau mau, aku bisa membereskan masalah kakakmu itu karena aku tahu persis kakakmu sangat mencintai pacarnya yang bernama Lena itu.”
Langkah Rissa terhenti,”Apa?... kau...”
”Kau ingin tahu darimana aku tahu rahasia-rahasia itu? Aku sudah bilang tadi, aku Cupid. Ayo kutunjukkan sesuatu.”
Rissa masih diam di tempatnya dengan pintu kamar yang sudah terbuka. Cupid keluar dari kamar itu, karena penasaran Rissa mengikutinya. Cupid berhenti di depan pintu kamar Kakak Rissa yang berada tak jauh dari kamar Rissa di lantai dua itu.
”Ini kamar kakakmu, kan?...”Cupid menatap pintu kamar itu dan tiba-tiba di tangannya muncul sebuah anak panah kecil berwarna biru terang berkilauan. Rissa semakin terkejut melihatnya. Cupid melemparkan anak panah itu ke pintu kamar, dan sesaat kemudian anak panah itu mengenai pintu dan menghilang begitu saja.
”Kau pesulap ya? Kau pasti seperti magician David Blaine itu!”tanya Rissa menyembunyikan ketakjubannya.
”Kau masih saja belum mau percaya. Sekarang kau lihat kakakmu yang sedang menonton TV di bawah.”
Rissa melangkah menuruni tangga dan melihat kakaknya sedang menonton pertandingan sepakbola.
”Tiga... dua... satu...”Cupid menghitung mundur disamping Rissa dan saat itu pula terdengar suara dering handphone milik Adam, kakak Rissa.
”Hallo... kenapa?... hey, kamu bilang apa?... sudahlah... aku... aku yang salah kok... kita lupakan saja... iya... iya aku akan ke rumahmu sekarang... bye... I love you too...” Rissa tercengang mendengar pembicaraan Adam. Dia langsung menoleh ke arah Cupid yang sedari tadi berdiri di sebelahnya di anak tangga.
”See? I’ve told you.”
Adam berdiri dari kursi dan mendekati tangga, dia heran melihat Rissa yang speachless.
”Ris? Kamu ngapain bengong di tangga? Aku mau pergi ke tempat Lena dulu ya, kami baru baikan lho.”
Rissa melotot,”Kak... Kakak lihat dia?” Rissa menunjuk ke arah Cupid berdiri.
”Apa sih, Ris? Kamu ini suka aneh. Udah ah, aku mau pergi dulu.” Adam naik ke tangga.
”Hanya kau yang bisa melihatku, Rissa. Sekarang kau percaya kan?” Dalam sekejap Cupid menghilang dari pandangan Rissa membuat Rissa shock.

(TAKE FOUR)
Dengan perasaan gundah Rissa merebahkan tubuhnya di ranjang kamarnya. Rissa semakin bingung dengan perasaannya, dia merasa tersiksa.
”Hai, Rissa.”
Rissa terkejut mendengar suara itu. Dia mendapati Cupid sudah duduk di tepi ranjangnya. “Kau lagi… bukankah kau hanya mimpi? Atau… khayalan yang datang tiap kali aku melamun??”
”Aku nyata, Rissa.”
”Pergi dari sini! Aku nggak butuh kau dan sulapmu itu!”
”Aku ingin membantumu.”
”Membantu? Kau tahu apa? Pergi!”
”Aku tahu segala masalah cinta. Aku tahu...”
”Ini bukan masalah cinta! Aku tidak butuh kau! Aku pasti gila karena berhalusinasi tentangmu!”
”Kau tidak berhalusinasi, kau tidak gila. Aku tahu ini masalah cinta... cinta yang makin menyesakkanmu... aku tahu siapa yang kaucintai saat ini, Rissa. Seseorang yang seharusnya tidak boleh kaucintai.”
Rissa terkejut, dia menatap Cupid tajam.”Kau tahu apa?”
”Tidak perlu kukatakan apa yang kutahu dari perasaan cintamu itu. Percayalah aku tahu, aku kan Cupid. Aku... yang sudah melakukan hal itu padamu. Membuatmu jatuh cinta padanya. Aku yang menembakkan panah itu padamu.”
”Apa??”
”Rissa... kau harus mengatakannya.”
”Mengatakan apa maksudmu?”
”Kau tahu persis apa maksudku.”
”Tidak, tidak, tidak... dia tidak boleh mengetahui perasaan bodoh yang entah kenapa kurasakan ini.”
”Menurutku kau harus mengatakannya. Kau harus percaya padaku, Ris.”
“Percaya apa? Bahwa kalau aku mengatakan hal itu padanya dia akan mengerti? Bahwa hubungan kami nggak akan rusak?”
“Rissa, kau harus bilang itu padanya. Yah… sebelum…” Cupid menghentikan kalimatnya.
“Sebelum apa? Kenapa berhenti?”
“Sebelum… kau menyesal. Dengarkan aku Rissa, aku tidak pernah menemui orang seperti yang kulakukan padamu sekarang, dan aku melakukan ini bukan untuk iseng. Aku ingin kau percaya padaku, lebih baik kau mengatakan perasaanmu padanya.”
“Kau ini kenapa ngotot sekali sih? Aku nggak mau! Kamu nggak ngerti posisiku, kamu nggak ngerti perasaanku.”
”Rissa, believe me.” ucap Cupid kemudian menghilang lagi dari pandangan Rissa.
”Dasar aneh,” gumam Rissa.

(TAKE FIVE)
”Payah kau, Dam... Masa kemarin Mita nonton kamu cuekin?”ucap Rey setelah melempar bola basket ke ring. Bola itu masuk.
”Memangnya harus aku apain? Aku kan lagi maen, dia nonton. So what?”
”Berapa kali aku mesti bilang, Mita tuh naksir kamu! Well... sepertinya kau tidak surprise. Hmm, cewek mana sih yang nggak naksir kamu?”
”Rey, aku tuh udah punya cewek.”
”Iya, aku juga tahu. Anak tata busana itu kan, ah udahlah, Mita jauh lebih cantik dari cewekmu itu!”
”Kau gila... ya sudah, kenapa tidak kau yang mendekatinya? Ngomong-ngomong, ntar malem kamu mesti dateng ke rumahku. Kita mesti nyelesaiin tugas gambar dan maket itu. Kamu nggak lupa kan deadline nya besok?”
”Iya, iya... Cerewet banget sih.”
”Hai guys,” Rissa menghampiri mereka berdua yang tengah bermain basket di lapangan kampus.
”Hai... Dam, aku balik dulu ya.” Rey beranjak dari tempat itu.
”Jangan lupa ntar malem! Awas kalau nggak dateng!”
”Iya, iya...”
”Apa tuh? Jus semangka ya? Mau dong.” Rissa meraih gelas di bangku pinggir lapangan.”Ini punyamu kan? Bukan punya Rey?”
”Iya. Ada apa?”
”Anterin aku belanja ya. Stok makanan di rumah abis. Kamu nggak ada kuliah lagi kan? Atau ada latihan basket?”
”Nggak. Yuk.”

(TAKE SIX)
”His family name is Sheffield. He must back to where he was born. Liverpool is his hometown.”
“No! His family name is Suryaputra! Suryaputra! His hometown is here!...” Rissa tak bisa menahan emosinya. Nada suaranya semakin meninggi. Pasangan Sheffield terkejut sementara Adam mencoba menenangkan adiknya itu.
”Rissa, udah... udah, Ris...”
”Nggak Kak! Mereka harus tahu kalau mereka nggak boleh membawa Damien kembali ke Inggris. Damien bukan anak mereka!”
”Rissa, maaf, tapi kamu tahu benar kan sejak awal kalau Damien itu anak tante? Dimana Damien sekarang? Tante dengar... dia kuliah arsitek, dan dia pintar main basket...”Karlia berbicara setenang mungkin, mencoba meredakan suasana,
”Tapi dulu tante memberikannya pada Mama! Tante dulu sama sekali tidak mau membesarkan Damien! Apa peduli Tante??!!”
”Rissa, dulu keadaannya tidak memungkinkan untuk tante membesarkannya... tante benar-benar tidak punya apa-apa. Dan sekarang... sekarang suami tante sudah kembali pada tante. Tante sangat berterimakasih dengan keluarga kalian telah bersedia memberi kasih sayang pada Damien... dan kami ingin... ingin dekat dengan anak kami, Rissa. Kami ingin menebus kesalahan kami. Tolong mengertilah.” Mata wanita itu mulai berkaca-kaca. Pria berambut coklat disampingnya mengelus lengannya.
”I know I’ve made a mistake... I left them because I didn’t have any courage to against my family… they were… very mad because of my marriage with Karlia. But now, now everything’s changed. We wanna take Damien home, take him to his big family… they’re waiting for Damien Sheffield at Liverpool. Please let us bring him home… he’s our son…” pria itu berucap panjang mendukung istrinya yang kini terisak.
“No!... u cannot bring him home! How many times I should tell you that he’s not Damien Sheffield! His name is Damien Suryaputra!” Rissa mulai terengah-engah, emosinya meluap.
“Rissa…”Adam tidak sanggup menenangkan adiknya.”I’m sorry, Mr Sheffield... she... she really loves Damien… she just cannot..”
“I understand… but we need to see him… It’s been 19 years… Let us see our son…”
“Tolong beri kami kesempatan.”ucap Karlia.
Rissa dan Adam terdiam. Kini giliran mata Rissa mulai berkaca-kaca. Kesunyian itu terpecah oleh suara pintu yang terbuka. Seorang laki-laki yang menjadi pokok pembicaraan muncul di ruang tamu. Dia terheran-heran melihat orang-orang yang dilihatnya di ruang tamu. Rissa langsung berdiri dari tempat duduknya dan berlari menyambut Damien. Rissa memeluknya erat.
”Damien… udah selesai latihan basketnya?”Air mata Rissa langsung tumpah sementara Damien hanya terkejut.
Begitu mendengar nama anaknya disebut, pasangan Sheffield spontan berdiri mendekat. ”Damien?”Karlia merasa tak percaya kini sudah melihat anaknya yang tumbuh menjadi laki-laki tampan, sangat tampan.
Melihat pasangan Sheffield ingin lebih dekat melihat anak mereka, Rissa memeluk Damien lebih erat.
”Kak?... Kakak kenapa? Duh... kenapa aku dipeluk?... anda berdua siapa?”
“Damien… we’re…” Jake mencoba menjelaskan namun Rissa langsung memotongnya sementara tubuhnya masih memeluk Damien.
”You cannot take my brother back! You can’t! He’s my brother! My brother!”
“Rissa, biarkan tante memeluk Damien… Damien, aku adalah mamamu yang sebenarnya... Damien...”Karlia tak mau kalah.
”Nggak!”ucap Rissa keras.
”Damien, you’re our son. Your name is Damien Sheffield... and we’re gonna take you back to Liverpool, where you came from.” Jake memberondongi pikiran Damien yang masih tidak mengerti. Damien semakin terkejut.
”No! He’s not Damien Sheffield! No!...” Rissa masih memeluk Damien erat.
”Rissa, tolonglah... biarkan tante memeluk Damien.”
”Apa maksudnya semua ini?... Kak? Ada apa ini?”Damien menuntut penjelasan yang lebih jelas.
”Jangan dengarkan mereka, Damien... Jangan dengarkan mereka.”ucap Rissa.
Adam, satu-satunya orang yang masih bisa berpikiran jernih di ruangan itu langsung menengahi. ”Mr and Mrs Sheffield, if you don’t mind... please give us some times, we need to clear this all… and honestly we can’t make any decision without our parents. I know my parents will go home from London tomorrow… after we clear this problem, we will contact you. I think we can’t let you take Damien now…”
“Adam, apa kamu akan membiarkan tante menunggu lagi? Sembilan belas tahun ini tante sudah sangat menderita! Setidaknya biarkan tante menyentuh Damien!”
”Kak... apa... apa yang mereka maksudkan? Aku... aku... anak mereka? Aku... aku bukan adik kalian?”Damien mulai shock, terbata-bata bertanya pada Rissa yang masih memeluknya.
”Nggak, Damien. Enggak!... kamu adik kami... kamu adikku, Damien...”
”Damien, kamu anak kami, Sayang... rumahmu di Inggris...”Karlia mendekat dan menyentuh wajah Damien. Rissa langsung menyeret Damien menjauh dari Karlia.
Karlia terkejut, Jake menyentuh lengannya.
”Stay away from him!” teriak Rissa.
”Rissa!...”Adam memperingatkan kelakuan adiknya yang mulai berlebihan itu. ”…We’re really sorry... please give us some times...I can understand your feeling, but please… please understand us either… we’ve been living with him for 19 years… Everything still confusing for us now. We promise we will contact you as soon as possible.”
Jake Sheffield mengangguk-angguk sementara Rissa mulai berontak lagi,”Apa yang Kakak janjikan? Kenapa harus menghubungi mereka lagi? Damien nggak akan kemana-mana, Kak!”
”Rissa, tenang... kau harus menjaga sikapmu...”Adam mendekati Rissa.
”Lia let’s go now..” Jake menggandeng tangan Karlia.
“No, honey, we won’t go without Damien!”
“We will bring him home, Lia…. But not now… ok? We need to give them time. I’m sure we will take Damien back to Liverpool.”
“No, honey… I want him now… he’s my son, honey…”
“Lia, come on…” Jake menggenggam lengan Karlia erat dan membawanya keluar dari rumah sementara Karlia masih berontak.
”Damien, Damien kau anakkku!” sayup-sayup terdengar suara Karlia yang telah keluar dari halaman rumah itu.
“Kak?”ucap Damien menatap Aldo dan Rissa bergantian, meminta penjelasan. Di matanya masih terlihat pancaran shock yang begitu luar biasa membuatnya tak mampu berkata apa-apa. Rissa masih berusaha mengendalikan air matanya dan langsung berlari menuju kamarnya.
“Damien, dengar baik-baik. Yang akan kaudengar pasti akan mengejutkanmu...”Adam mulai bicara sementara Rissa tak tahan lagi dan berlari menuju ke kamarnya.

(TAKE SEVEN)
Rissa membanting pintu kamar dan menguncinya. Air matanya mulai mengalir deras, tertumpah di atas bantalnya.
”Hey...need a shoulder to cry on?”
Rissa terkejut, dengan pandangan mata yang memburam karena genangan air mata di pelupuk matanya. Cupid muncul kembali di kamarnya.
”Kau mencintai adikmu bukan sebagai kakak kepada adiknya, kau mencintai Damien sebagai perempuan terhadap laki-laki. Dan kau menyadari hal itu sejak beberapa tahun yang lalu. Kau sadar ketika kau tidak pernah bertahan lama dengan pacar-pacarmu dulu. Tapi kau menyimpannya, kau menyangkalnya, kau bahkan tidak pernah membuka hatimu untuk laki-laki lain lagi.”
Rissa menggeleng-geleng,”Kau! Kalau kau memang Cupid, kau yang sudah membuatku menderita! Ini semua salahmu!” Rissa memukul-mukul tubuh Cupid dengan pergelangan tangannya.
”Iya, ini salahku. Aku yang sudah menembakkan panah cinta itu padamu. Dan kau tahu? Itu bukan untuk pertama kalinya. Aku sudah seringkali menembakkan panah cinta yang membuat para perempuan jatuh cinta pada Damien. Kau tahu? Dalam kertas daftar tugasku, aku harus banyak menembakkan panah cinta yang diakibatkan oleh pesona adikmu itu. Dan... aku terkejut ketika mendapati namamu tertera di daftar itu. Kau, kakaknya sendiri... walaupun aku tahu Damien bukan adik kandungmu, sejak kecil kau mengenalnya dan menyayanginya sebagai adikmu. Kau tahu betapa berat aku menembakkan panah cinta itu padamu? Tapi itu sudah tugasku, maafkan aku. Maaf karena mengubah rasa sayangmu sebagai kakak menjadi rasa cinta. Maaf karena membuatmu jatuh cinta pada adikmu sendiri.”
”Lalu ambil! Ambil panahmu kembali! Aku tidak mau merasa seperti ini!”
Cupid menggeleng,”Maaf. Aku tidak bisa melakukannya. Panah yang sudah tertembak tidak bisa aku cabut. Hanya kau sendiri yang mampu melakukannya. Aku... aku hanya bisa menghiburmu.”
Rissa tertawa hambar,”Menghibur? Aku tidak butuh hiburan! Aku mau tidur! Aku tidak bisa tidur kalau kau ada di kamarku!” Rissa merebahkan tubuhnya di ranjang.
Cupid terdiam.
“Kau juga pasti tahu tentang ini kan? Kau tahu dia… akan kembali ke asalnya...”air mata Rissa mengalir makin deras. Dia mencoba menutup matanya untuk tidur,”... jadi karena ini kau menyuruhku untuk mengungkapkan perasaanku padanya? Inikah yang kaumaksud sebelum aku menyesal? Maksudmu sebelum dia kembali ke Inggris?”
”Iya. Karena itu aku memutuskan untuk menemuimu. Aku tahu akan luka yang kaurasakan itu. Sepertinya... kau butuh waktu untuk sendiri. Kalau kau butuh aku, kau tinggal panggil namaku, Blue Cupid.”ucap Cupid kemudian menghilang dari hadapan Rissa. Rissa tak begitu mempedulikannya.

to be continued ---> season II

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer KD
KD at Cupid & I (Season I) (12 years 17 weeks ago)
100

not bad, lanjut

Writer Susy Ayoe
Susy Ayoe at Cupid & I (Season I) (12 years 17 weeks ago)
50

panjang banget..aku jadi capek...dan pengen buru2 nyampe akhir...
tapi idenya bagus .

Writer Olivierly
Olivierly at Cupid & I (Season I) (12 years 17 weeks ago)
80

Bagus idenya. Tapi emang agak panjang?

Writer hikikomori-vq
hikikomori-vq at Cupid & I (Season I) (12 years 17 weeks ago)
50

Paragraf dong, kasian pembacanya. Mau panjang ato pendek yg penting paragraf

Writer fortherose
fortherose at Cupid & I (Season I) (12 years 17 weeks ago)
50

...terlalu panjang. bacanya jadi capek ;p

:)

Writer FrenZy
FrenZy at Cupid & I (Season I) (12 years 17 weeks ago)
50

sebelum membaca, aku mau saran.. sepertinya nomor 1 ini terlalu panjang. kalau dipotong2 dan dirapihin pasti lebih enak bacanya :)