Bagi yg belum baca Bagian 1 tolong baca ya, biar kisahnya nyambung dan lebih berasa gimana gitu loh 
II
Dua hari berikutnya secara tak disengaja, kami bertemu di kantin kampus. Tanpa malu-malu seperti pada hari sebelumnya, aku langsung menyapa. Tidak disangka ia langsung mengenali dan menyuruhku duduk di depannya. Kami berbicara banyak siang itu dan semakin akrab seiring dengan tiap perpindahan dari topik satu ke topik yang lainnya pembicaraan kami.
Ya, begitulah memang seharusnya. Begitulah yang aku mau, semakin akrab dengannya. Dari situ kutahu bahwa ia adalah wanita yang penuh dengan keceriaan, tawa, kelembutan serta jauh dari kesan penyendiri, egois, dan manja yang kadang lekat di setiap sifat para wanita. Lalu dengan keberanian dan percaya diri yang tinggi, aku mengajaknya keluar pada malam Minggu keesokan harinya. Betapa bahagianya diriku bagai dibuai sebuah janji dari sang penguasa, Qhay Lilia menerimanya. Ia mau pergi denganku. Benar-benar aku tak bisa menggambarkan perasaanku saat itu. Seolah-olah semua perasaan itu berkombinasi menjadi satu. Tak bisa dilukiskan. Bahkan imagiku yang kadang liar menjelajah tak dapat berbuat apa-apa.
“Kai,” panggilku pada suatu malam ketika hubungan kami semakin dekat. Ia memandangku sambil mengurai senyumnya yang khas.
“Aku ingin mengatakan sesuatu padamu,” tegasku.
“Apa?” tanyanya lembut. Wajahnya yang tak dibalut kosmetik sungguh menawan.
Aku diam beberapa saat, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberanianku. Langsung saja adrenalin ini menyembur ke semua aliran darah hingga otak, mengikat semua hormon yang ada di sana dan memaksaku mengatakannya.
“A... aku... aku...” diam lagi.
“Ada apa, Sam? Apa yang ingin kau katakan? Jangan membuatku bingung,” jelas Qhay Lilia panjang.
Perkataannya tadi membuatku berkomentar dalam hati. Ah, wanita ini. Bukankah dia sudah tahu apa yang nantinya mau aku katakan? Mengapa dia masih mendesakku? Semuanya kan sudah kutunjukkan dengan perbuatan dan perhatian lebih kepadanya. Apa aku harus tetap mengatakannya? Ah... aku malu.
Keringat seakan tak hentinya mengucur deras dari dalam pori-pori dahiku. Kerongkongan tiba-tiba saja kering bagai tak mendapatkan air pada penjelajahan di sebuah gurun. Aku menelan ludah untuk terakhir kalinya. Beban yang menaungi tubuhku seolah bertambah dua kali lipat beratnya.
“Sebenarnya... aku mau bilang kalau aku...” suaraku bergetar. Sementara itu, Qhay Lilia masih setia menunggu akhir kalimatku.
Tak mau membuatnya menunggu lebih lama, kulengkapi saja satu kalimat tadi menjadi satu keutuhan.
“Aku sayang padamu, Kai. Aku jatuh hati padamu sejak pertama kali kita bertemu,” aku berhenti sejenak. “Maukah kau menjadi kekasihku?”
Beban yang sebelumnya menghujam tubuhku seketika hilang. Entah ke mana. Ajaib sekali. Seperti magic saja.
Qhay menunduk. Tampaknya ia tengah berfikir. Semenit kemudian ia kembali dengan pipi merona dan senyum hangat terbersit di bibir.
“Aku juga sayang padamu, Sam,” ucapnya malu-malu. Ia berusaha menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah.
“Ja... jadi... kau...” kataku masih gugup. Napasku makin menderu cepat. Mataku berbinar bahagia. Ludahku lancar sekali keluar hingga kubutuhkan usaha yang keras untuk menelannya, menyebabkan jakunku naik-turun berkali-kali.
“Ya, aku mau menjadi pacarmu.”
“Benarkah?” kataku masih tak percaya atas apa yang baru saja kudengar.
Qhay mengangguk membenarkan. Kegembiraanku langsung meluncur bebas tak peduli apa pun penghalangnya. Pokoknya saat ini aku sangat bahagia. Bahagia sekali. Dunia ini seperti tempat yang sangat indah walau nyatanya tidak. Aku berteriak kegirangan seperti gila.
Akulah orang yang paling bahagia di dunia, jelas hatiku kencang.
Kejadian itulah yang membuat hubunganku dan Kai semakin dekat. Telah ada ikatan di antara kami berdua. Sebuah ikatan untuk menuju ke tahap selanjutnya. Sebuah tingkatan yang akan sangat berarti. Setelah selesai kuliah kami selalu menyempatkan bertemu, entah di kantin atau di tempat lain. Setiap akhir pekan, kami menikmati indahnya malam dan udara nan lembab di kota Bandung. Kadang pula kami nonton di bioskop. Tentu saja bukan film horor. Kai sangat membenci gendre film seperti itu sama seperti ia membenci tangis dan keluhan. Kami layaknya dua orang dalam satu tubuh, tak akan pernah terpisahkan. Aku telah mendapatkan rusukku kembali. Kini aku telah menemukan belahan jiwaku.
Tapi pada akhirnya datang satu kejadian yang membuat ikatan yang telah kami jalin selama dua tahun itu putus tak berbekas. Bagai sebuah kapal yang dihantam badai atau sebuah kerajaan yang diserang secara tiba-tiba hingga sang raja tak bisa berbuat apa-apa. Menyerah pada keadaan. Pada akhirnya, hancur begitu saja. Melibas semua yang ada dan tahu-tahu meninggalkan kesedihan, kengerian, kecemasan akan hidup, dan selanjutnya tempat itu hanya menjadi puing bagunan tua tak berguna layaknya bangunan-bangunan lain di luar sana. Berisi jeritan jiwa-jiwa terlantar dan terabaikan.
Cintaku hancur. Niatku untuk menikmati hidup bersamanya pupus sudah. Gara-gara kecelakaan sialan itu! Mobil brengsek! Goblok! Apalagi supirnya. Ingin sekali kukencingi mukanya atau kubunuh saja. Kucincang tubuhnya, lalu ususnya yang terburai akan kujadikan makanan anjing. Kepalanya akan aku gantung. Di dahinya akan kutulisi sebuah kata dengan darahnya sendiri. “Pembunuh” kata yang tepat. Kalau cara itu belum cukup mengusir seluruh kebencianku, akan kuukir lagi kulitnya dengan belati. Biarkan saja si bangsat itu menderita. Aku ingin ia merasakan apa yang aku rasakan. Tapi tetap saja semua itu tak akan sepadan atas perbuatan yang telah ia lakukan padaku.
Memang hukum telah menjeratnya, tapi aku tak percaya. Hukum negara ini sialan. Busuk dan jorok. Hanya dengan uang segepok saja sudah bisa mengurangi masa tahanan. Apalagi kalau satu koper. Pantas saja negara ini tidak pernah maju. Rakyatnya terus merana dalam keterpurukan sosial dan ekonomi. Kelaparan dimana-mana, pembunuhan dan teror merajalela, terlebih lagi konflik-konflik sering sekali terjadi di setiap daerah lalu berlanjut ke pertumpahan darah antara kelompok agama. Memang aku ini orang awam, tapi aku ini pengamat. Kedudukanku lebih tinggi dari mereka. Bangsat tikus-tikus berdasi itu. Lihatlah, mereka selalu berlindung di balik tahta dan kedudukan sang penguasa. Dasar kasta terendah. Selalu menutupi borok mereka dengan buaian janji. Cuihhh... aku tak akan percaya kalian. Tak akan.
Sama halnya dengan pembunuh itu. Tega-teganya ia mengambil nyawa cintaku. Seharusnya kuluncurkan saja nuklir atau kujatuhkan bom atom tepat di rumahnya hingga meluluhlantahkan semuanya. Aku tak peduli jika istri dan anaknya atau semua orang turut menjadi korban atas kebrutalan dan kebiadabanku. Aku tak peduli. Justru itu yang aku inginkan. Biar semua orang tahu. Biar ia merasakan bagaimana rasanya ditinggal orang yang terkasih. Bagaimana kehilangan orang yang dicintai, disayangi, dipuja bahkan rela mengorbankan jiwa deminya. Biar ia tahu rasa. Tapi... aku bukan karakter seperti itu. Bukan jenis orang yang melakukan kejahatan atas dasar kegilaan atau ledakan kebencian. Aku ini lemah. Aku ini bukan jenis orang yang mampu bertindak. Aku adalah manusia yang kalah. Tak mungkin kulakukan semua itu.
Padahal baru pertama kali kulihat Kai berdandan saat kejadian itu terjadi. Lipstik yang memoles bibirnya sangat serasi di kulit bibirnya. Rambutnya juga sudah ditata sedemikian rupa. Diberi pewarna dan dibuat menggulung pada ujung-ujungnya. Seperti top model saja. Tapi aku bahagia. Aku senang dengan itu semua. Ia masih tetap bidadariku. Apapun yang memoles wajahnya tetap membuatnya terlihat anggun sebab dasarnya memang begitu. Ia lalu memanggil dari seberang jalan seraya memberikan lambaian tangan ke arahku.
“Sam!” panggilnya lembut.
Senyumannya, wow indah sekali. Aku terpaku di tempatku berdiri, membanyangkan kenangan-kenangan lalu yang kulewati bersamanya. Mengingat kembali perjuanganku untuk mendapatkan dirinya. Ya, benar sekali ucapan-ucapan para pria sejati itu. Bukan perkataan Don Juan atau Cassanova yang kerjanya hanya menebar pesona ke setiap wanita. Mereka itu banci yang sangat mudah memberikan cinta ke semua wanita. Seperti PSK saja, ataukah memang mereka yang pertama menyandang predikat itu lalu memberikannya kepada wanita-wanita jalanan secara cuma-cuma. Kalau aku, bukan seperti itu. Aku ini pria sejati.
Cinta memang memerlukan pengorbanan, namun seberapa besar pengorbanan yang kita berikan untuk mendapatkan cinta itu. Tak ada tolak ukur, perbandingan atau takaran yang jelas layaknya pemberian obat bagi pasien dengan penyakit berbeda. Betul saja. Cinta memang membingungkan. Begitu banyak pengertian mengenainya. Bahkan menurutku semua kata-kata yang diketahui oleh otak manusia saat ini, tak bisa dengan tepat mendeskripsikan apa itu cinta. It’s too complicated.
Semua pikiran itu tiba-tiba buyar sedemikian rupa. Cermin-cermin kenanganku pecah menjadi serpihan kecil yang tak bisa disatukan lagi. Suara hantaman membuatku tersadar ke alam nyata. Sempat kulihat tubuhnya terhempas lalu melayang sebelum menyentuh daratan aspal kembali. Saking terkejutnya, kedua bola mataku seolah-olah keluar dari kelopaknya. Lidahku langsung beku mencapai titik tertinggi. Jantungku seperti berhenti berdetak membuat tubuhku lemas dan ingin jatuh pingsan. Tapi kakiku yang masih bergetar cukup kuat menopang tubuhku hingga pengaruh semburan matahari membuat diriku melangkah cepat sembari memanggil namanya.
“K... Kai... Kaiiiiii!!!” teriakku sambil berlari. Aku tak memperdulikan mobil-mobil yang lalu lalang. Tak mau kuberhenti meneriakkan namanya agar jiwanya tetap berada di sana. Jangan pergi dulu.
Kulihat tubuhnya yang lemah tak bergerak. Aku berlutut dan meraih kepalanya yang bersimbah darah ke dadaku. Walaupun begitu, ia masih terlihat cantik. Secantik dewi khayangan. Tak ada yang bisa mengambil kecantikan itu darinya. Kupegang tangannya lalu kugoyangkan sedikit tubuhnya, seperti perahu yang terombang ambing di lautan bergetar ke sana-kemari.
“Kai” panggilku penuh harapan.
Aku semakin panik saat menangkap detak jantungnya kian melemah.
“Kai, jangan pergi dulu,” kataku sambil terisak. “Masih banyak yang akan kita lakukan bersama-sama. Apakah kau masih ingat janjimu dulu? Katamu ingin terus bersamaku dan tak mau terpisahkan. Kai... jangan pergi dulu... aku mohon... Kai... Kai... Kai...”
Tiba-tiba wanita itu membuka matanya sembari menyunggingkan senyuman. Mulutnya terbuka seakan ingin mengatakan sesuatu. Kudekatkan telingaku ke bibirnya.
“Aku mencintaimu dan akan terus ada bersamamu di dalam hatimu. Aku akan menjadi angin yang berhembus sebagai penunjang hidupmu. Kita akan tetap bersama selamanya...” katanya dengan suara antara hidup dan mati. Seakan itu adalah sebuah salam perpisahan untukku.
Air mata berjatuhan dan tak bisa terbendung lagi. Penglihatanku lalu kabur karenanya. Kugelengkan kepalaku berkali-kali seolah pikiran itu tak akan pernah terjadi. Dan memang aku tak mau begitu. Apapun akan kulakukan demi dirinya.
“Tidak... itu tidak akan terjadi. Kau jangan berbicara seperti itu. Kau akan terus bersamaku melewati hari-hari, lalu kau akan menjadi pendampingku untuk selamanya. Kita tak akan terpisahkan. Tak akan... Kai.”
Di belakang, orang-orang bermunculan secara ajaib. Berbisik-bisik seolah-olah aku tak bisa mendengarkan ucapan mereka. “Kasihan sekali wanita itu. Apakah ia sudah mati?” kata seseorang tepat di belakangku.
Dasar manekin-manekin tak berguna, semprot hatiku. Mereka seakan tak peduli atas apa yang terjadi padaku. Enyahlah kalian semua. Biar aku yang menemaninya sendiri di sini.
Detakan jantung Qhay Lilia makin melemah dan hal itu yang membuatku berdoa kepada Tuhan. Kini dengan penuh ketulusan yang mendalam, dengan seluruh kekuatan jiwa dan ragaku.
“Tuhan Maha Pengasih, Penyayang, dan Pemberi nikmat. Tuhan... berikan kami satu jam saja... satu jam saja... itu sudah cukup bagiku. Aku masih ingin mendengar detak jantung atau hembusan napasnya. Aku masih ingin melihat siluet senyumannya.”
Tapi dada Kai sudah sunyi, sesunyi senja dan ratusan orang yang membisu beku. Hanya senyuman di wajah Kai yang menandakan bahwa kematiannya itu tak sia-sia. Bahwa ia tak mengeluh atau protes atas kejadian itu.
Suara sirine ambulance terdengar dari kejauhan.
“Terlambat... sudah terlambat...” kataku pelan sekali sampai-sampai telingaku saja seakan tak bisa mendengarnya. “Dia sudah pergi bersama angin. Dia telah menjadi bagian dari angin dan akan terus berhembus selamanya.”
Selamat tinggal, sayang. Kuijinkan engkau menjadi angin. Angin yang akan selalu ada bersamaku, berhembus di sampingku.
***
Kusimpan kembali semua kenangan-kenangan itu. Kukunci dalam sebuah kotak di hatiku. Kugembok dengan gembok bersepuh emas lalu kuncinya kubuang ke dasar jurang terdalam. Aku yakin tak ada yang bisa menemukannya. Tidak akan ada yang bisa.
Setelah puas menyaksikan gelombang sungai dan sebagian penghuninya, aku berbalik dan memperhatikan mobil yang lalu lalang satu persatu. Kupehatikan plat nomor, body, pengemudi, ban hingga kilauan peleknya yang bersinar diterpa sinar matahari. Pokoknya tak ada yang luput dari pengamatanku. Setelah beberapa saat kemudian, kakiku melangkah sendiri jauh dari kesadaranku yang dikontrol oleh otak. Suara mesin mobil yang menderu makin terdengar. Kencang sekali seakan membuat gendang telingaku hancur dan pecah, setelahnya mengeluarkan darah dan juga nanah. Walaupun begitu, kakiku tetap melangkah. Terus dan terus. Seperti tak akan pernah berhenti. Kulangkahi pembatas jalan. Tak lupa aku menengok ke dua arah berbeda.
“Pas sekali,” kataku pelan. “Seperti yang kurencanakan sebelumnya.”
Samar kudengar suara klakson mobil menderu dari kejauhan dan semakin dekat untuk detik-detik berikutnya. Aku tak peduli. Toh, aku tidak takut. Aku tidak takut mati. Tak ada yang kutakuti sekarang. Semuanya sama, tak ada bedanya. Sinar terik matahari sekali lagi menyinari wajahku. Hangat langsung merasuk ke sekujur tubuhku. Kini yang terdengar adalah suara klakson mobil diikuti teriakan dari pengemudi serta suara mesin mobilnya. Sedetik kemudian decitannya lalu terdengar. Tapi tetap saja. Walau rem telah diinjak dan karena kecepatan mobil yang seperti, benda bermesin itu akan tetap menabrakku.
“Semuanya akan berakhir di sini. Tunggu aku, Kai,” bisikku pada angin.
Kubayangkan tubuhku nantinya. Akan sedikit sakit tapi pasti akan kutahan demi dirinya. Tubuhku yang tak besar ini pasti melayang dan sesudahnya kalau tidak menghantam kaca mobil, paling mati menghantam daratan aspal. Ya, langsung mati seketika. Itu yang kumau.
“Criiiitttttttt... Bllaaaarrrrr...” Suara mobil menghantam sesuatu.
Bukan aku yang dihantam benda bermesin itu. Beberapa detik sebelum benda itu akan menabrakku, seakan-akan hembusan angin menarikku ke belakang. Kencang sekali bagai tiupan puting beliung atau topan yang bersatu badai, hingga menyebabkan tubuhku terhempas jauh. Aku mencoba bangkit. Lutut dan sebelah sikuku berdarah namun tidak parah. Hanya luka lecet kecil. Beberapa hari tanpa pengobatan yang intensif pun pasti sembuh.
Sepasang mataku lalu menelusuri jejak ban yang tertinggal di jalan raya di depanku. Jejak hitam itu berbelok dan si pembuat jejaknya ternyata menghantam sebuah pohon di sudut berlawanan. Asap mengepul dari tempat mesinnya, berwarna kelabu muda. Pengemudinya tak bergerak. Mungkin hanya pingsan akibat terbentur sesuatu. Dari gumpalan asap tadi, bisa kulihat jelas ada sosok terbentuk. Begitu sangat kukenal. Sedikit demi sedikit angin kian memperjelas bentuknya dan angin pula yang membuat guratan-guratan indah pada sosok tersebut. Berikutnya selesai walau tak sesempurna aslinya.
“K... Kai?” kataku lemah. “Ka... kaukah itu?”
Guratan indah yang membentuk bibirnya mengurai senyuman. Suaranya yang dibawa angin mampir di telingaku. “Jangan bertindak bodoh, Sam. Jangan mengakhiri hidupmu seperti itu.”
“Ta... tapi... aku tak bisa hidup tanpa kau di sisiku, Kai,” jelasku. Mataku tiba-tiba berkaca, berat, dan akhirnya melelehlah semua kerinduanku menjadi air mata kebahagiaan yang tak kuasa terbendung lagi. Seperti semburat adrenalin yang melaju kencang tanpa henti di setiap aliran darahku sejak tadi begitu kencangnya membuat tubuhku bergetar.
“Sadarlah, Sam,” sosok itu kembali bersuara. “Bukankah sudah aku katakan padamu sebelumnya, walau aku tak ada lagi di dunia ini tapi jiwaku terus bersamamu. Akan terus ada. Aku akan menjadi angin yang terus berhembus di sampingmu, turut mengisi rongga napasmu.”
Kucoba tahan tangisku. Lagi... lagi dan lagi. Tetap saja tak bisa, seolah-olah tangis itu adalah sebuah keharusan yang harus dilakukan saat ini juga. Seperti tahap-tahap pada sebuah ritual yang begitu sakral, berbalut hawa mistis yang pekat.
“Aku ingin bersamamu, Kai,” ucapku lembut. Kini aku sudah berhasil menahan gelora yang membara dalam tubuhku.
“Aku sudah bersamamu, Sam,” ujarnya cepat.
Aku menggeleng sambil berusaha tersenyum. Sebelah batinku ikut campur. Sepertinya ia juga merasakan apa yang aku rasakan saat ini. Tidak... kau tidak bersamaku. Itu tak sebanding jika kau benar-benar hadir di sisiku.
“Sam!” sosok menyerupai Kai itu memanggil. “Aku meninggal dengan bahagia. Tak ada yang perlu disesali dan ditangisi lagi. Semua sudah sesuai dengan takdirku. Sebaliknya, aku sangat senang bisa menikmati semasa hidupku bersamamu. Menjalani hari-hari penuh kenangan dan kebahagiaan. Dan terlebih lagi, kau buat setiap hari itu menjadi berwarna. Kau adalah lelaki anginku, Samuel.”
Sosok itu tersenyum lagi sambil di akhiri dengan letupan kecil hingga gumpalan asap itu kian menghilang. Seperti tersapu oleh angin dan bersatu menjadi salah satu bagiannya, penunjang kehidupan manusia. Sosok Kai menghilang, menciptakan keheningan yang tidak biasa.
Tak tahu mengapa, kata-katanya tadi seakan bisa menyembuhkan luka sayatan di hatiku yang telah lama menganga. Penghilang dahaga akan cinta dan kasih sayang yang dulu terabaikan. Mengusir segala kebencian lalu menggantinya dengan keceriaan dan kehangatan batin. Ia benar-benar bidadariku.
“Kuijinkan engkau menjadi angin. Angin yang akan selalu bersamaku,” kataku sambil menengadah ke langit. “Ini adalah kenanganku. Kenangan yang membentuk sejarah anginku. Dan satu hal yang lebih penting bagiku. Jauh lebih penting dari semua. Jejak langkah yang kau tinggalkan, benar-benar mendewasakan hatiku dan sejujurnya tak akan pernah hilang dari setiap tapakku.”
Tag:










