Cupid & I (Season II)

(TAKE EIGHT)
”Jadi... Damien... akan ke Inggris, Kak? Kenapa dia nggak bilang padaku?”
”Karin, maaf ya, maaf kamu baru tahu tentang semua ini sekarang. Karena selama ini aku pikir Damien akan selalu menjadi adik kami. Kami nggak menyangka orang tuanya akan membawanya pulang. Aku... sebenarnya juga nggak pengen dia kembali. Tapi... bagaimanapun juga mereka orang tuanya, dan Damien seharusnya berada di tengah keluarga mereka yang sebenarnya.”
Karin terdiam,”Aku sangat mencintai Damien, Kak.”
Rissa memandang Karin.”Aku juga nggak mau berpisah dengannya, Rin.”
”Maaf, Kak. Seharusnya aku nggak seperti ini, Kakak kan mau sidang... Dua puluh menit lagi. Aku malah bikin pikiran Kakak terganggu.”
”Nggak kok. Aku pikir lebih baik kamu bicarakan ini dengan Damien. Mungkin... dia masih belum siap jadi belum ngomong ke kamu, tapi kalau kalian bicara mungkin kamu bisa memancingnya.”
”Ya udah deh, Kak. Ngomong-ngomong Damien nggak nungguin Kakak sidang? Kak Adam?”
”Kak Adam kan kerja, nggak bisa ijin. Dulu sih Damien janji mau datang. Tapi nggak tahu deh, akhir-akhir ini Damien sering mengurung diri di kamar.”
”Kalau gitu, aku ke kampus arsitek dulu ya, Kak. Aku jemput dia nanti biar kesini. Selama ini Damien nggak pernah mau maen ke kampus kita, aku akan memaksanya. Masa buat kakaknya dia nggak mau... Sukses ya, Kak. Nanti ceritain ke aku ya jadi aku bisa belajar.”
“Makasih ya… Kamu jangan sedih dulu, kalian pasti punya cara untuk menyelesaikan ini.”
Karin mengangguk,”Iya, Kak. Good luck, Kak!” ucapnya berlalu dari hadapan Rissa.
Rissa duduk sendiri di depan ruangan sidang, perasaannya sama sekali tidak gugup, dia bahkan tidak begitu memikirkan sidang yang akan dihadapinya. Yang ada di pikirannya hanyalah Damien.
”Panjang akal juga,” terdengar suara dari sebelah kiri Rissa. Dia menoleh dan melihat Cupid sudah duduk disampingnya.
”Apa yang kaulakukan disini?”Rissa merasa bodoh ketika orang-orang yang lewat di depannya menoleh dan melihat Rissa bicara dengan bangku kosong di sebelahnya.
”Kau mau apa?”Rissa memelankan suaranya dan memandang ke depan.
”Aku bilang, panjang akal juga.”
”Apa maksudmu?”
”Kau ingin menggunakan Karin supaya Damien tidak jadi pergi ke Inggris.”
”Aku nggak ngerti yang kamu omongin.”
”Sudahlah, Ris. Aku tahu persis apa yang kaupikirkan. Kau tidak perlu mengakuinya kalau kau tidak mau.”
”Jadi diamlah. Kau bilang kau tahu persis apa yang kupikirkan? Aku juga tahu persis kalau yang menyebabkan aku berpikir seperti itu, semua awalnya adalah gara-gara kau.”
”Kau harus membiarkan dia kembali pada keluarganya, Ris.”
”Diam.”
”Damien anak mereka. Damien berhak mengenal keluarga kandungnya. Seburuk apapun orang tuanya dulu, mereka tetap orang tuanya. Damien harus mengenal mereka.”
”Diamlah. Kau sama sekali tidak membantu.”
”Oke... kau kan mau sidang, mau kubantu? Membuat dosen-dosenmu saling jatuh cinta misalnya, jadi tidak perlu membantai kamu di dalam nanti.”
”Kau gila!... ”Rissa kelepasan bicara terlalu keras dan kembali membuat orang-orang melihatnya heran.”... kau benar-benar membuatku gila.”lanjut Rissa lebih pelan lagi.
”Jangan, kau tidak boleh tergila-gila dengan Cupid.”
Rissa menggeleng kesal,”Terserah kau...”Rissa terdiam sejenak,”... kalau kau bisa membuat orang jatuh cinta, kenapa kau tidak bisa membuat...” Rissa tak melanjutkan kalimatnya.
”Apa? Membuat Damien mencintaimu bukan sebagai adik pada kakak? Itu maumu?”
Rissa diam, tak mengelak dari ucapan Cupid.
”Aku tidak bisa, Ris. Aku tidak bisa menggunakan anak panahku untuk mengubah cinta antara orang-orang dalam daftarku. Aku bisa menggunakan anak panahku untuk orang lain, asal mereka tidak ada dalam daftarku. Kau tahu kenapa ada selingkuh? Itu bisa disebabkan oleh panah Cupid lain yang mengusik kehidupan cinta yang sudah ditakdirkan untuk sepasang orang.”
”Jadi maksudmu, selain kau masih ada Cupid-Cupid lain?”
Cupid mengangguk.
”Konyol. Konyol sekali.” Rissa terdiam kembali,”Jadi Karin adalah... takdir cinta Damien?”
”Karin, juniormu itu... entahlah, aku juga tidak tahu. Jodoh kan di tangan Tuhan. Yang jelas, untuk Damien, baru sekali itu aku menembakkan panah cinta padanya meski aku telah menembakkan banyak panah cinta pada gadis-gadis untuk mencintai Damien. Aku hanya menembakkan panah cinta, masalah akan menancap dangkal atau dalam, itu aku tidak tahu, itu tergantung mereka. Tergantung pada Damien dan Karin juga. Dan sejauh ini, daftarku belum berubah, belum ada nama gadis lain yang bisa membuatku menembakkan panahku pada Damien lagi.”
”Kenapa kau datang padaku?”tanya Rissa kemudian.
”Karena kau unik. Karena lingkaran cinta yang unik pada orang-orang di sekitarmu.”
”Rissa! Kamu udah dipanggil dosen tuh.” Arga menghampirinya.
”Eh, iya.”
”Kamu nggak apa-apa, Ris? Dari tadi aku ngelihatin kamu kok kayak ngomong sendiri?”
”Nggak... nggak apa-apa... mungkin... karena aku gugup aja kok. Ya udah aku masuk dulu deh.”
”Aku tungguin deh, kamu nggak ada yang nungguin gitu.”
”Makasih ya,” Rissa melirik sebentar ke arah Cupid yang masih duduk di bangku kemudian masuk ke dalam ruangan sidang. Selama sidang, Rissa merasa sangat dipermudah, empat orang dosen yang mengujinya, dua orang diantaranya hanya bertanya hal-hal dasar, sedangkan dua lainnya entah kenapa hanya mengobrol seolah lupa dia mereka sedang menguji Rissa. Mereka hanya melontarkan satu pertanyaan, itu pun nyata sekali dipaksakan. Sejenak Rissa melihat Cupid berdiri diantara dua dosen itu kemudian menghilang. Dan saat itulah Rissa sadar, Cupid benar-benar membuat dua dosennya yang kebetulan masih single itu mulai saling jatuh cinta.

(TAKE NINE)
Rissa keluar dari ruangan sidang dengan perasaan yang sangat lega. Dia mendapati Damien tengah duduk di salah satu bangku depan ruangan. Begitu melihat Rissa, Damien langsung menghampirinya.
”Kakak! Gimana?”
Rissa menatap adiknya itu. Rasa bahagianya tercemar oleh rasa sedih karena sebentar lagi Damien tidak akan tinggal bersamanya lagi, bahwa Damien akan pergi.
”Kak?... Nggak... bagus ya?”raut muka Damien jadi khawatir melihat reaksi Rissa. Rissa langsung tersenyum.
”Bagus kok. Aku lulus.”
”Selamat ya, Kak!” Rissa langsung terkejut ketika Damien serta merta memeluknya.
”Ma... kasih... ya...”
Damien langsung melepas pelukannya.
”Aku senang, Kak.”
”Hey, Ris, selamat ya... tampang bahagia gitu pasti lulus kan? Eh, kok nggak pernah bilang sih kalau kamu ternyata udah punya cowok? Kenalin dong.” Arga menghampiri mereka berdua dan berbisik pada Rissa.
”Kamu katanya nungguin, kok baru muncul?”
”Laper, Ris. Kenalin dong...”
Rissa memandang Damien,”Dia bukan cowokku. Dia adikku.” ucap Rissa merasakan hatinya sedih.
”Masa sih? Kok nggak mirip?”
Damien mulai merasa tidak enak.
”Dia adikku! Ya udah, yuk, Dam, kita pulang.” Rissa menarik tangan Damien dan mengajaknya keluar dari kampus itu.
Rissa menyetir mobilnya pelan-pelan. Mereka berdua belum berkata apa-apa sejak dari kampus tadi.
”Oh iya, Karin mana Dam? Dia kan yang sudah menjemputmu kesini?”tanya Rissa kemudian.
”Karin udah pulang, Kak. Tadi kami bicara. Aku kan udah janji bakal datang. Yah tadi aku telat soalnya mesti ke Tata Usaha dulu... ngurus... administrasi.”
Kalimat terakhir Damien membuat mereka berdua kembali terdiam.
”Aku senang kamu datang juga nungguin sidangku, Dam.”
”Kenapa Kakak nggak nanya padaku tadi pagi?”
”Sejak hari itu kamu jarang bicara pada kami. Damien... aku ingin sekali bicara banyak denganmu.”
Damien mengangguk-angguk. Rissa kemudian membelokkan mobilnya, mencari sebuah kafe kecil.

(TAKE TEN)
”Damien, kamu pasti marah sama kami kan?”tanya Rissa membuka pembicaraan.
Damien terdiam sejenak sebelum menggeleng dan tersenyum.”Marah pada orang-orang yang paling kusayangi? Nggak... apa kakak tahu aku menyayangi kalian daripada mereka?”
”Tapi mereka keluargamu yang sebenarnya.”
”Tapi mereka tidak mau mengurusku. Seharusnya seperti apapun keadaan mereka, mereka harus tetap mengurusku! Kalian lah keluargaku yang sebenarnya.”
Mereka berdua terdiam kembali.
”Sekarang aku tidak bisa menyangkal kata-kata orang lagi, Kak. Selama ini mereka berbisik-bisik dan menggosipkan kalau aku ini blasteran, tapi aku terus menertawakan hal itu walaupun dalam hati aku sedikit mempertanyakannya. Rambutku memang hitam, bola mataku juga hitam, nggak biru, hijau, atau coklat tapi... wajahku yang sangat ganteng ini kan nggak wajar juga... hahahaha...”Damien tertawa mencoba mencairkan suasana.
Rissa tersenyum, ”Kau sombong sekali.”
”Ternyata aku...” Damien menunduk menyembunyikan kesedihannya.
”Damien...”
”Aku nggak ingin ke Inggris, Kak. Aku ingin tetep disini, bersama kalian...”
Rissa menahan kuat air mata yang ingin keluar dari matanya, hati kecilnya ingin sekali mendukung ucapan Damien barusan, namun akal sehatnya melarangnya. Dia teringat kata-kata Cupid.
”Bagimanapun juga, kau harus bersama mereka. Kau harus mulai mengenal mereka sebagai keluargamu. Aku... juga ingin kamu tetap disini, tapi mama, papa, dan Kak Adam udah bicara banyak padaku... selama ini orang tuamu pasti sebenarnya sangat merindukanmu, sangat ingin bersamamu. Tapi ternyata ada masalah diantara mereka dan baru sekarang mereka bisa menjemputmu. Lalu aku sadar, tempatmu, keluargamu, adalah di Liverpool. Kau tahu? nama Damien adalah pemberian mamamu, tante Karlia. Kamu... adalah Damien Sheffield.”
”Aku Damien Suryaputra, Kak!”
”Iya... kamu akan tetap menjadi Damien Suryaputra bagi kami. Kamu jangan khawatir...”Rissa tak tahan lagi, setitik air mata lolos dari penguasaannya.
”Kenapa kalian tidak mempertahankanku untuk tetap disini?”
”Damien, kau tahu persis mereka lebih berhak untuk bersamamu. Aku yakin keluarga Sheffield akan sangat mencintaimu dan memperlakukanmu dengan sangat baik. Tapi sampai kapanpun, kamu tetap menjadi adikku, adik Kak Adam, anak Mama dan Papa. Aku... sangat menyayangimu, Damien...” ucap Rissa mengeluarkan perasaan terdalam dari hatinya. Tidak ingin Damien merasa janggal, Rissa buru-buru memperbaiki kalimatnya,”... kami sangat menyayangimu.”
”Iya, Kak. Aku tahu itu... ” Damien mengangguk-angguk.”... aku akan ke Liverpool.”
Rissa tersenyum meski hatinya meronta.
”Tadi aku sudah bicara dengan Karin, Kak. Kami... memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan kami.”
Rissa terkejut.”Apa? Kenapa?”
”Karin nggak bisa hubungan jarak jauh, Kak... jadi kami putus.”
”Tapi kamu masih mencintainya kan?”
”Entahlah... Nggak ada gunanya kalaupun kami masih saling mencintai. Mungkin Karin benar, hubungan kami nggak akan berjalan dengan baik kalau aku akan tinggal disana.”
”Tapi... tapi kamu masih tetap kesini kan?... Kalau kau ada waktu?”
”Tentu saja, Kak. Aku pasti sering sering kesini. Kalian jangan khawatir.” Damien tersenyum. Rissa menatapnya, dalam hati dia berkata,”Nggak heran Cupid kewalahan menembakkan panah cinta pada cewek-cewek setelah mereka melihatmu tersenyum, Damien...”

to be continued to ----> season II

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Flamers
Flamers at Cupid & I (Season II) (12 years 16 weeks ago)
50

kurang I nya 1 lagi lav ^_^! type penulisannya mirip dgnku ya.. panjaaang... tp mayan deh, storynya bagus, keep it up & sdikit saran nie, gimana kalo di post per take bukan per season, juga buat di awal paragrafnya pake 5-7 spasi biar keliatan ama vq

Writer KD
KD at Cupid & I (Season II) (12 years 16 weeks ago)
100

terus

Writer imoets
imoets at Cupid & I (Season II) (12 years 17 weeks ago)
70

ditunggu lanjutannya...

Writer Olivierly
Olivierly at Cupid & I (Season II) (12 years 17 weeks ago)
80

Bagus! Oke deh...

Writer Argh
Argh at Cupid & I (Season II) (12 years 17 weeks ago)
70

pembagian alurnya pas...

Writer hikikomori-vq
hikikomori-vq at Cupid & I (Season II) (12 years 17 weeks ago)
50

belum ada paragrafya, jadi males baca