Episode Jodoh

54
points

Malam beranjak larut. Lampu-lampu telah digelapkan. Salma tidur bersama Biyung di kamar. Bapak tidur di kamar atas. Agung, Ika dan Wati juga tidur di kamar atas. Sementara Aku dan Dian tidur di ruang tengah. Menggelar kasur dengan lapisan kain sprey yang tercium bau apek.

Dian mulai membuka pembicaraan. Sesuatu yang sangat penting. Pembicaraan yang mungkin telah dia pendam sejak aku datang sore tadi.

"Mas,.... Sebenarnya, kita ini jodoh gak ya?" Pertanyaan itu meluncur dengan nada hati-hati. Agaknya Dian juga mencoba memahami keadaannya. Memasuki usia pernikahan yang ketiga, Dian telah merasa ada sesuatu yang menghalangi perjodohannya denganku. Mengapa, belum juga diberikan kesembuhan oleh-Nya. Selama menjadi istriku, Dian memang belum bisa memberikan cintanya padaku. Belum bisa memberikan kebahagiaan buatku. Belum bisa melayaniku. Perasaan itu begitu mengganggunya.

"Kok kamu tanya begitu?" Aku mencoba mencari tahu latar belakang dia bertanya seperti itu. Walaupun aku pun punya perasaan dan pertanyaan yang sama. Aku pun bertanya, apakah artinya jodoh bagi manusia itu.

"Ya, Dian khan merasa gimana ya. Kenapa Allah memberikan ujian kepada kita seperti ini. Apa mungkin ini pertanda kalau kita ini tidak berjodoh?" Dian merasa berat mengungkapkan perasaannya.

"Dian, kalo menurut mas, setelah kita menikah, ya.. berarti ya kita berjodoh. Apapun kondisinya. Kalau seandainya kita tidak jadi menikah, itu berarti kita tidak berjodoh" Aku menjawab sambil meyakini bahwa jawabanku itu adalah sebuah keyakinanku. Memang bagiku, seseorang yang telah menikah, berarti itu adalah jodohnya. Jika seseorang gagal menikah, atau seseorang harus bercerai, itulah yang dikatakan tidak berjodoh.

"Mas yakin?" ... Wow .. pertanyaan itu sepertinya sebuah permintaan penegasan jawabanku.
"Iya... mas yakin" Walau dalam hatiku juga masih ada tanda tanya.

"Dian ... Kalau Allah tidak menghendaki pernikahan kita, tentu Dia akan menggagalkannya dari awal. Sekarang, Dia telah menyatukan kita. Bahkan, sudah ada Salma." Aku terbawa emosi. Ternyata masih ada cinta dalam hatiku. Setelah sekian lama aku tidak memperhatikannya, tidak memberinya cinta. Aku biarkan dia dibawa Bapak kemana saja untuk mengembalikan kesehatannya.

"Mas yakin, kamu itu jodoh mas. Dan mas gak akan melepaskan kamu. Kecuali Allah yang akan melepaskan." Mungkin emosi cintaku semakin menguat. "Mas berusaha, apa-apa yang dibicarakan di sekeliling Mas, supaya menceraikan kamu, tidak Mas pedulikan. Bukan karena Mas kasihan. Tapi karena kamu istri Mas. Allah telah pilihkan kamu buat Mas." ...
Betapa bahagianya bisa mengungkapkan perasaan itu di hadapannya.

"Mas bicara jujur ?" ...
"Kok kamu tanya gitu?" .. Aku balik bertanya.

"Dian tidak ingin kalau apa yang Mas ucapkan tadi cuma basa-basi aja."
Aku kembali balik bertanya.
"Kamu yakin gak kalau Mas ini jodoh kamu?"

"Iya, Dian yakin. Tapi Dian takut kalo Mas mau ninggalin Dian." Mulai ada butiran air mata yang mengalir di pipinya. "Bisa saja Mas bicara ini, tapi dalam hati Mas bicara lain. Bisa saja Mas sudah bersiap-siap ninggalin Dian. Mas khan sehat. Dian sakit. Dian gak bisa apa-apa. Dian gak tahu mau sampai kapan seperti ini ... Dian bukan cuma sakit fisik Mas. Tapi konflik keluarga kita juga bikin Dian semakin takut .. jangan-jangan Mas memang mau meninggalkan Dian." Ada suasana tegang .. terbawa emosi.. Dian menangis di dadaku.

Sambil kurangkul dan kucium keningnya, aku mencoba meyakininya. "Dian, Mas gak akan ninggalin kamu. Mas yang sudah kasih saran buat kamu untuk menyelesaikan masalah keluarga kamu. Walaupun hasilnya seperti ini, Mas tetap akan di samping kamu. Selama kamu yakin kalau Mas mencintai kamu." Ada pegangan erat kurasakan. Ada perasaan tenang pada dirinya. "Sudahlah .. Sekarang kita berserah saja kepada Allah ... Dia Pemilik segalanya. Dia berkuasa atas segalanya. Dan Dia juga tahu kalau kita hamba-Nya."

"Sekarang kita istirahat dulu. Besok kita khan mau ke Utan Kayu.. yah.."

"Mas, jangan tinggalin Dian ya!"
Aku hanya menjawab dengan pelukan yang sangat erat, pertanda bahwa aku sangat mencintainya ...

Your rating: None Average: 7.7 (7 votes)
dikirim kesabaran 23 minggu 22 jam yang lalu
Tag: