Episode RSCM

32
points

Di bis 58 jurusan Pulo Gadung - Harmoni, aku mencoba bertanya maksud Bapak menyuruhku untuk segera pulang ke Baladewa, Tanah Tinggi. Sudah seminggu Dian kembali ke rumah Bapak, untuk mengobati rasa kangennya dengan rumahnya setelah hampir dua bulan tinggal di rumah orang tuaku di Utan Kayu. Usahaku mengupayakan kesembuhan istriku dengan terapi ruqyah, belum menunjukkan hasil seperti yang diharapkan. Keputusan untuk pulang ke Baladewa aku kabulkan dengan alasan kerinduan dengan keluarganya.

Saat menapaki jalan di gang sempit menuju rumahnya, aku telah melihat Bapak menunggu di sisi pintu masuk. Kemudian Bapak mengabarkan kedatanganku kepada anaknya.

Setelah melepas lelah, duduk di samping istriku yang masih saja terbaring di atas kasur yang dihamparkan saja di ruang tengah yang sempit, Bapak langsung mengajak aku untuk mempertimbangkan membawa Dian ke RSCM. "Sebenarnya, saya sudah mempersiapkan untuk membawa Dian ke RSPAD. Saya sudah berkonsultasi dengan seorang ahli syaraf untuk memulai terapi. Saya juga sedang menyiapkan bantuan dari kantor untuk meringankan perawatan di rumah sakit. Kebetulan kantor khan punya hubungan khusus dengan RSPAD, mudah-mudahan bisa lebih mudah. Tapi kalo Bapak mau membawa ke RSCM, saya juga tidak ada masalah, karena kali ini khan jelas prosesnya Pak." Bapak mencoba memahami, "Ya sudah, kalo gitu kita bawa ke RSCM dulu, karena ada penyakit lain di istri kamu. Kita berangkat nanti habis Maghrib, gimana?" Ya, boleh saja Pak" Aku mengiyakan.

***

Setelah Maghrib, kami membawa Dian ke RSCM dengan menggunakan mobil tetangga. Bapak memang dikenal akrab dengan warga sekitar, sehingga tidak sulit untuk meminjam mobil kepada siapapun.

Di rumah sakit, Dian ditangani dulu di UGD. Cukup lama penanganan dokter. Saya dan Bapak mencoba juga untuk mencari kamar untuk ruang perawatan. Memang cukup sulit. Orang tua saya pun telah datang ke rumah sakit untuk mengetahui perkembangan. Sampai tengah malam hingga pagi datang, saya tidak tidur, mencoba untuk tetap berjaga, menjaga istriku yang masih terbaring di UGD.

Pagi hari, kami telah mendapatkan diagnosa awal tentang penyakit Dian. TBC Tulang kata dokter. Tetapi sebelum memulai proses pengobatan penyakit itu, dokter akan memulai pada perbaikan kondisi fisik terlebih dahulu. Dokter juga mulai menyarankan agar di rawat di kamar perawatan.

Hingga siang hari, kami belum juga menemukan kamar kosong. Mungkin memang harus memberi uang rokok buat petugas, agar mudah mendapatkan kamar.

Karena penat, aku minta ijin Bapak untuk pulang. Sekedar untuk istirahat, dan berencana sore hari akan kembali. Aku pamit ke Dian. Sambil memegang kepalanya yang masih panas. Suhu badannya pun masih panas. Dian pun mengijinkan.

Aku pulang ke Utan Kayu. Saat istirahat, aku merasakan hal yang tidak enak. Ada sedikit malas untuk kembali ke rumah sakit secepatnya. Aku pun baru beranjak setelah ada telepon Bapak yang menyampaikan Dian akan dibawa ke ruang perawatan sore ini.

Sesampai di RSCM, kami memang memulai proses membawa Dian ke ruang perawatan, di satu kamar di lantai 4 yang masih termasuk dalam perawatan UGD. Tidak banyak pendamping yang boleh masuk ke ruangan itu. Saat itu, hanya Bapak saja yang aku berikan kesempatan mendampingi Dian. Aku di luar.

Sesaat, bapak memanggilku dan suster kepala di sampingnya. "Tris, kamu tebus dulu resep dokter ini". "Coba cari aja di Apotek IRNA A atau IRNA B" Suster kepala menambahkan.
Seraya pamit ke Dian, yang kulihat mengalami sesak nafas, aku turun ke bawah mencari apotik itu.

Di Apotik IRNA B, tidak aku dapatkan permintaan dokter yang tertera pada lembaran resep yang kupegang. Di apotek IRNA A, demikian pula. Aku mencoba mencari ke luar RSCM. Ke Apotik Titi Murni, daerah Kramat Raya, tidak ada pula. Ke Apotok Melawai di Matraman Raya, juga tidak ada. Aku nekat mencari ke tempat yang lebih jauh.
Seperti ada yang menggerakkan, aku naik taksi ke Apotik Rini di Rawamangun. Di sana, pelayan apotek menyampaikan kepadaku kalau yang diminta resep tidak ada, tetapi ada yang ukuran lebih besar. "Memangnya apaan sih Mas?" Aku tanya. "Ini alat untuk menghisap cairan di paru-paru melalui hidung. Makanya ukurannya harus pas." "Ooo.. kalo gitu gak papa lah Mas" Aku bilang, dan menerka saja kalo ukuran yang lebih kecil tidak menjadi masalah. "Wah, mendingan Mas tanya dulu deh ke dokternya, daripada nanti malah gak terpakai" Saran pelayan apotek. "Ya sudah kalo gitu, nanti saya balik lagi".

Aku naik taksi lagi. Dalam taksi, entah mengapa aku berkata dalam hati, "Ya Allah, kalo memang kesembuhan lebih baik bagi Dian, sembuhkanlah ya Allah. Jika Engkau hendak memanggilnya, hamba ikhlas ya Allah." Pikiran yang terus saja mengganggu itu menyertaiku hingga sampai di RSCM.

Sesampai di kamar, bapak menyuruhku untuk langsung bertemu dengan Suster kepala, sambil menyampaikan hal-hal yang diutarakan pelayan apotek. "Ya sudah, tidak apa-apa. Sudah gak dibutuhkan koq" kata suster kepala.

Baru saja aku keluar dari ruangan suster, Bapak memanggil aku untuk memanggil suster. Bapak terlihat panik. Aku segera memanggil suster. Sambil mengikuti suster, aku masuk ke kamar melihat apa yang terjadi. Nafas Dian sedang tersengal. Tidak lama .... Dian menghembuskan nafasnya yang terakhir...... Aku bergetar ... Tak percaya ... Mengucapkan lirih saja "Inna lillahi wainna ilahi roji'un..." Mengikuti dokter, suster dan Bapak yang juga melantunkan kalimat itu. Dokter dan suster telah menyelesaikan usahanya untuk membangunkan Dian.

"Diaaaaaaaaann ............." aku berteriak ...
Memeluk jasad yang masih terkulai namun memberi senyuman terakhir. Aku menciumnya .. Membuncahkan segala rasa dalam dada. Maafmu atas segala zhalimku .... kumohon padanya.... Tangisan itu pecah ... Kepalaku, kucoba hantamkan ke tembok kamar tapi Bapak berhasil menahanku. "Sudah Tris,, ikhlas.. !!! Dian sudah menyampaikan seluruh maaf buat kamu .. menyampaikan salam buat kamu. Dia cuma titip Salma. Dian minta kamu menjaganya. ... " Entah berapa banyak kata yang diucapkan Bapak.. Aku masih terbawa emosi .. tangisan tiada henti. Sementara Bapak menyiapkan proses kepulangan, Aku turun untuk mengabarkan ke orang tuaku. Lewat tengah malam sudah. Ku telepon rumah, Mamah yang mengangkat. "Mah .. Maafin Dian ya Mah .. Dian udah gak ada ..." .."Innalillahi wainna ilaihi roji'un.. Iyah .. Mamah maafin ... Mamah ke sana sekarang." .. Ya udah .. Makasih ya Mah."....

Yang kuingat, kabar itu hanya ku sampaikan ke Mbak Asiyah, kakak kelasku di SMEA yang selalu membantu kami, adik-adiknya, rekan seperjuangan dakwah. Dan aku sampaikan juga ke Virtie, akhwat pemuda masjid tempat kami berdakwah, yang tengah membantu proses pengobatan Dian ke RSPAD, karena dokter kami berkonsultasi masih famili dengannya. Dan entah berapa ikhwan lainnya aku kabari.

Emosiku masih terbawa ... Aku tetap menangis, tak percaya, sedih, segala rasa ... Walau jalanku dipapah Bapakku. .. mengantarkan jenazah Dian ke kamar mayat untuk proses administrasi lainnya. Kemudian, kami kembali ke Baladewa dengan ambulan yang meraung ditengah heningnya malam Jakarta.

Sampai di rumah, yang aku lakukan cuma mencari Salma. Memeluknya. Walau Dia tidak mengetahui apa yang telah terjadi. Umurnya masih 2 tahun .. Ya... putri kami, telah kehilangan umminya ... Walau dia hanya merasakan kasih sayang ibunya dalam bentuknya yang lain.

Malam itu juga ... para tetangga menyiapkan segala pengurusan jenazah. Dan rekan-rekan ikhwan pun sudah berjaga dan membantu .. hingga pagi menjelang ......

Your rating: None Average: 6.4 (5 votes)
dikirim kesabaran 23 minggu 4 hari yang lalu
Tag: