criticnua tolong!!
". Aku diam. Mukaku terasa panas. Sakit dan panas. Serasa terbakar api. Pipiku merah membentuk telapak tangan. Teganya dia! Aku nggak menyangka kalau dia bisa berbuat begitu!
. Air mataku mulai terasa menggenang. Dan akhirnya meleleh juga. Aku sakit hati. Kupikir dia temanku. Tapi...
. " A... aku mau pergi!!! " teriaku marah.
. " Ma... maaf Fan, aku nggak sengaja.. bukan begitu... aku cuma reflex.. " katanya pelan.
. " Jadi?! itu namanya reflex?! aku nggak nyangka kalau kamu begitu Fon!! " marahku meledak. " Di hari aku senang kamu justru membuatku menyesal sudah punya teman seperti kamu?! itukah gunanya teman ha?!"
. Aku memandang teman sekamar sekaligus 'sahabatku' itu dengan tajam. Aku bisa melihatnya. Dia mengeluarkan air mata. Sama sepertiku. Aku heran. Dia masih punya hati juga??
. Aku segera mengambil koperku. Kumasukan semua barangku.
. " Maaf Fan, aku bener-bener nggak sengaja! aku cuma sedikit marah karena kamu jadian sama orang yang kusukai! please Fan, maaaaaaf banget!! " tangisnya sambil berusaha mengeluarkan semua yg sudah kumasukan ke koper. Tapi aku mencegahnya. Aku memasukanya kembali.
. " Kenapa selama ini kamu nggak bilang ke aku kalau kamu suka sama Arka?? kenapa FON??" aku jengkel. " Kalau aku tahu,, mana mungkin aku jadian sama Arka!! "
. " Kamu bener Fan, harusnya aku ngasih tau kamu lebih awal... Aku salah..."
. " Baru sekarang kamu nyesel?! setelah nampar aku tampa alasan yg jelas?! " aku menarik nafas antara kemarahanku. " Tapi bisa kan, kamu ngasih tau aku tanpa kamu harus nampar-nampar?? pokoknya aku mau pergi dari sini!"
. " Please Fan,,, jangan pergi!!! "
. Aku mengangkat koperku. Ku ambil handphone-ku yang tergeletak di meja. Fonta menarik narik kakiku dengan air mata bercucuran. Sebenarnya aku tidak tega meninggalkan Fonta. Kami sudah bersahabat sangat lama. Aku bimbang.
- to be continued -
dikirim tha_tho 29 minggu 2 hari yang laluTag:








