Pagi yang gelap. Saya terbangun jam tiga dan tak menyisakan kantuk sedikit pun. Saya tak pernah terjaga sepagi ini. Seingat saya, tadi rasanya saya bermimpi buruk. Tapi saya tidak ingat sepotong adegan pun. Mimpi apa tadi, hingga mampu membuat kantuk saya sekonyong-konyong lenyap?
Saya menekan kening saya dengan jari-jari tangan, mencoba mengembalikan ingatan mimpi. Sungguh, saya penasaran. Seperti ada satu adegan yang seharusnya saya ingat, dan tampaknya akan fatal akibatnya jika saya melupakan. Kening saya sudah memerah, tapi saya tetap tidak ingat apa isi mimpi saya.
Meski belum saya baca semua daripada tidak saya baca sama sekali, karena banyak pekerjaan yang harus diselesaikan daripada tidak diselesaikan.
Mustinya cerita ini tidak begitu jelek bagi orang normal meskipun saya sendiri lebih suka cerita jelek tentang zombie dan vampir.
Ah siapa saya juga.
di luar gagasan cerita, penuturan runtut memudahkan pembaca. penggunaan saya sebagai plot utama bisa menjebak terutama ketika musti mendiskripsikan pelakon lain dalam cerita. tapi dalam cerita ini, penulis mampu mengatasinya.
Komen-komen di bawah panjang2 deh ^^ Tapi aku menikmati tulisanmu ini, walau memang bagian awalnya agak membingungkan dan terlalu lama. Tapi menjelang pertengahan ke klimaks, berhasil dibawakan dengan suspense yang kental ^^
saya senang kamu kembali dengan nuansa yang berbeda. good, sedikit sekali kemudianer yang berani eksplorasi tema *nyindir mode on*
ok, let's start our business. (bahas detil aja yak, soalnya secara general, frenzy dan villam sudah melakukannya)
hati-hati saat menulis prosa (agak) liris. kalimat boleh indah tapi kata demi kata harus tetap tersusun dengan logika yang tepat. overall, kamu perlu memeriksa ulang kalimat-kalimatmu (atau bahkan frase-frase). mari saya perjelas:
Saya terbangun jam tiga dan tak menyisakan kantuk sedikit pun. ... siapa yang 'tak menyisakan kantuk'? saya? well, tidak ada pilihan lain karena di sana tidak ada subjek yang lain (kecuali 'pagi'). you made a decons line, so you have to understand the rule. kalimat di atas patut dipertanyakan. jika secara otomatis 'saya' menjadi subyek, apakah kalimat yang terbentuk masuk di akal? 'saya' tak menyisakan kantuk? :D sorry, but i dont buy it.
Seingat saya, tadi rasanya saya bermimpi buruk. Tapi saya tidak ingat sepotong adegan pun. ... dua kalimat ini membingungkan, kurang efektif dan susunannya masih bisa diolah lebih baik lagi.
penjelasan mengenai jam berdentang 3.30 itu boros karena setelah itu kamu menyebutkan 30 menit. untuk apa membuat rumit kalau bisa sederhana? saran saya, pick one. toh dua info itu berisi sama. oh ... saya baru tahu kalau jam berdentang di menit 30 :D *ngga gaul mode on*
'saya' buatanmu terlalu feminim. saya sempat bersikeras, "oh si tokoh lesbian. dia tidur sama sebangsanya." :D dirimu perlu membaca cerita-cerita bertokoh lelaki. membiasakan diri dengan kelelakian. pola pikir berbeda akan membuat detil-detil yang kamu tulis berbeda juga.
oh, di bagian ini: Licin? Basah? Kenapa ada air dst ... lalu Ok, ini tidak terlalu aneh. Benji bla bla bla ... kalau memang tidak terlalu aneh dan Benji biasa bikin basah, reaksi di awalnya ngga lalu 'ada apa ini? kok licin? air? kok basah ya?'. saya rasa akan lebih begini: 'euh, basah. benji habis dari kamar mandi.' di sini (dan beberapa kali) ada percampuran POV penulis dengan si tokoh sendiri. topengnya kadang copot :p
Si saya kok ya reaksinya agak telat ya pas nemu kenop pintu-nya basah? ini kan hal yang seharusnya bagi dia aneh. lha iya, kan sebelumnya dia sudah menyimpulkan kali ini pun 'pasti' punya anjing itu. dia yakin sekali itu benji. reaksinya ngga begini ya: loh, ngapain benji basahin kenop pintu juga. hei, benji ngga mungkin basahin kenop pintu, dia berkaki empat. eh mungkin juga deh, kalau dia melompat. wait, tunggu dulu, aku selalu membiarkan pintunya terbuka kok bla bla bla ... ya macam itulah. (tapi nanti jadi komedi hehehehe :D). pointnya sih, entah karena kurang memahami alur pikiran si tokoh atau susunan kalimat di paragraf itu kurang efektif, sehingga paragraf itu sungguh ngga nendang (padahal harusnya iya) karena kemudian ada isu menarik: MUNGKIN PEREMPUAN ITU. wait! perempuan? oh iya yak etc.
oh, ya ampun! si tokoh 'saya' ini ayu sekali :D *sok kenal sok deket* really, hun. saya bisa membayangkan 'kamu' membaca monolog cerpen ini.
kurasa penambahan deskripsi ruang di beberapa bagian akan membantu pembaca menikmati cerita ini. kamu menulis ada pintu, lalu pintu lagi, ruangan ini, ruangan itu, etc yang bagi saya, masih agak abstrak.
oh, saya agak bingung mengapa si tokoh sibuk berpikir harus melakukan sesuatu biar ngga diam saja di dalam rumah? :D tidak ada penjelasan apa-apa atau mungkin memang seharusnya dia tidak berpikir begitu.
heu, tampaknya sudah terlalu panjang. komen closing saya,
saya suka plot cerita yang kamu buat (saya tidak pernah menulis macam ini, jadi ...) salut!
pada awalnya cerpen ini sedikit datar, juga ada banyak pengulangan psikologis yang sedikit menggantung. Aku jadi mengira cerpen ini adalah cerpen lembut khas Ayu, bukan cerita thriller yang seru. Jejak air pertama kurasa muncul sedikit terlalu lama.
semakin ke tengah cerita semakin membingungkan. Bagian Benji diulang terlalu sering kalau menurutku, sedangkan penjelasan mengenai sang karakter sebagai dokter forensik malahan baru dimasukkan di bagian belakang.
Tapi yu, semakin ke akhir aku semakin merasakan ketegangan yang dimaksudkan :) semakin ke belakang, puzzle pieces yang disisihkan di mana-mana mulai muncul. dan pada akhirnya adalah sesuatu yang cukup menghentak, walau diselesaikan dengan lembut.
aku rasa kalimat pertama di paragraf pertama itu adalah pembukaan yang buruk (hehehe... dicaci dulu sebelum dipuji ya?). maksudku, langsung saja masuk ke kalimat kedua, atau kalimat lain yang lebih tajam. secarah... jam tiga gitu lowh... dah pasti gelap kan? hehehe...
kalimat pertama paragraf kedua, kebanyakan kata 'saya', dan bahkan di satu paragraf itu ada banyak sekali kata 'saya' (halah... komentar gak mutu ya? hehehe...). dan beberapa ketidakefisienan lain ditemui juga di bawah.
tapi aku suka kalimat pembuka di paragraf keempat. cukup satu kata. haha... keren.
pipis si benji? idih, nakal tuh anjing. mungkin bisa ditambahin reaksi kesal 'saya' supaya tampak lebih riil.
dan ternyata 'saya' adalah... seorang lelaki???!!! hayyah... tak ada clue satu pun di awal! Aku kebayangnya sosok mbak ayu sih. Heheh… duh, harus ganti setting di kepalaku neh...
hmmm... sampai tengah... butuh lebih banyak sentuhan thriller. jika ini dimaksudkan sebagai cerita jenis itu. btw, apakah di awal tokoh 'saya' memakai baju, atau celana? ditaruh dimana? juga pakaian si perempuan, taruh dimana? secarah, mereka baru saja... (halah... dibahas lagi...). maksudku detil ini bisa membantu membangun suasana.
oke... sampai dapur... hmm... betul neh, butuh lebih banyak detil lokasi kejadian.
semakin masuk ke tengah. okay, it's getting weird. but i like it! hehehe...
oke... ada suara-suara? 'saya' tidak bertanya lebih jauh kenapa bisa muncul suara-suara itu? Maksudku, apa kejadian macam begini sering terjadi? Penyakit kumat?
tapi... haha... tambah menarik ceritanya... mulai kebaca nih menjelang sepertiga akhir. mungkin perubahan lokasi dan waktunya aja yang kurang 'tegas', sehingga rada bingung. dan juga perubahan emosinya (yang ini penting).
huhuhu... dan endingnya, walau agak kurang jelas, dan masih bisa dieksplor lagi kebingungan dan ketakutannya (atau kemarahannya? - entah emosi mana yang coba kamu tonjolkan), tapi cukuplah.
secara keseluruhan, aku suka ceritanya! bagus... jadi inget film 'butterfly effect', atau yang semacamnya (apa ya? haha... aku benar-benar penulis malas yang enggan berdeskripsi-ria).
Keren. Cerita yang mengaduk-aduk. Deskripsi tentang mimpi, kenyataan, mimpi, kenyataan yang cukup membuat pembaca (kuhusunya aku) cukup merasakan ketegangan dan rasa penasaran.
Cerita yang bagus.
Senangnya karya ini diresensi pak Andya :p *ayu pake id perkosakata*
Meski belum saya baca semua daripada tidak saya baca sama sekali, karena banyak pekerjaan yang harus diselesaikan daripada tidak diselesaikan.
Mustinya cerita ini tidak begitu jelek bagi orang normal meskipun saya sendiri lebih suka cerita jelek tentang zombie dan vampir.
Ah siapa saya juga.
di luar gagasan cerita, penuturan runtut memudahkan pembaca. penggunaan saya sebagai plot utama bisa menjebak terutama ketika musti mendiskripsikan pelakon lain dalam cerita. tapi dalam cerita ini, penulis mampu mengatasinya.
oke deh.
=D>
bagus ..ok juga
deskripsinya indah sangat
tapi saya kok merasa 'saya' masih berkarakter perempuan..sampe ada kalimat yang menjelaskannya
Komen-komen di bawah panjang2 deh ^^ Tapi aku menikmati tulisanmu ini, walau memang bagian awalnya agak membingungkan dan terlalu lama. Tapi menjelang pertengahan ke klimaks, berhasil dibawakan dengan suspense yang kental ^^
bingung mau kritik apa... ceritanya keren.. benar kata dadun, dipuji pun, sudah dilakukan banyak orang!
bisa membaca tulisanmu kembali.
Gemini dan Kepingan Mimpimu masih kunikmati di sisa-sisa malam menjelang diriku tertidur ;)
ah, mau dicaci apaan nih? dipuji pun sudah cukup diwakilkan banyak orang di bawah....
ga bisa comment, nanti aja ya, masih capek baca cerita ayu......pokoknya nice
BANGET
bagus...
aku suka...
tetep semangat ya...
saya senang kamu kembali dengan nuansa yang berbeda. good, sedikit sekali kemudianer yang berani eksplorasi tema *nyindir mode on*
ok, let's start our business. (bahas detil aja yak, soalnya secara general, frenzy dan villam sudah melakukannya)
hati-hati saat menulis prosa (agak) liris. kalimat boleh indah tapi kata demi kata harus tetap tersusun dengan logika yang tepat. overall, kamu perlu memeriksa ulang kalimat-kalimatmu (atau bahkan frase-frase). mari saya perjelas:
Saya terbangun jam tiga dan tak menyisakan kantuk sedikit pun. ... siapa yang 'tak menyisakan kantuk'? saya? well, tidak ada pilihan lain karena di sana tidak ada subjek yang lain (kecuali 'pagi'). you made a decons line, so you have to understand the rule. kalimat di atas patut dipertanyakan. jika secara otomatis 'saya' menjadi subyek, apakah kalimat yang terbentuk masuk di akal? 'saya' tak menyisakan kantuk? :D sorry, but i dont buy it.
Seingat saya, tadi rasanya saya bermimpi buruk. Tapi saya tidak ingat sepotong adegan pun. ... dua kalimat ini membingungkan, kurang efektif dan susunannya masih bisa diolah lebih baik lagi.
penjelasan mengenai jam berdentang 3.30 itu boros karena setelah itu kamu menyebutkan 30 menit. untuk apa membuat rumit kalau bisa sederhana? saran saya, pick one. toh dua info itu berisi sama. oh ... saya baru tahu kalau jam berdentang di menit 30 :D *ngga gaul mode on*
'saya' buatanmu terlalu feminim. saya sempat bersikeras, "oh si tokoh lesbian. dia tidur sama sebangsanya." :D dirimu perlu membaca cerita-cerita bertokoh lelaki. membiasakan diri dengan kelelakian. pola pikir berbeda akan membuat detil-detil yang kamu tulis berbeda juga.
oh, di bagian ini: Licin? Basah? Kenapa ada air dst ... lalu Ok, ini tidak terlalu aneh. Benji bla bla bla ... kalau memang tidak terlalu aneh dan Benji biasa bikin basah, reaksi di awalnya ngga lalu 'ada apa ini? kok licin? air? kok basah ya?'. saya rasa akan lebih begini: 'euh, basah. benji habis dari kamar mandi.' di sini (dan beberapa kali) ada percampuran POV penulis dengan si tokoh sendiri. topengnya kadang copot :p
Si saya kok ya reaksinya agak telat ya pas nemu kenop pintu-nya basah? ini kan hal yang seharusnya bagi dia aneh. lha iya, kan sebelumnya dia sudah menyimpulkan kali ini pun 'pasti' punya anjing itu. dia yakin sekali itu benji. reaksinya ngga begini ya: loh, ngapain benji basahin kenop pintu juga. hei, benji ngga mungkin basahin kenop pintu, dia berkaki empat. eh mungkin juga deh, kalau dia melompat. wait, tunggu dulu, aku selalu membiarkan pintunya terbuka kok bla bla bla ... ya macam itulah. (tapi nanti jadi komedi hehehehe :D). pointnya sih, entah karena kurang memahami alur pikiran si tokoh atau susunan kalimat di paragraf itu kurang efektif, sehingga paragraf itu sungguh ngga nendang (padahal harusnya iya) karena kemudian ada isu menarik: MUNGKIN PEREMPUAN ITU. wait! perempuan? oh iya yak etc.
oh, ya ampun! si tokoh 'saya' ini ayu sekali :D *sok kenal sok deket* really, hun. saya bisa membayangkan 'kamu' membaca monolog cerpen ini.
kurasa penambahan deskripsi ruang di beberapa bagian akan membantu pembaca menikmati cerita ini. kamu menulis ada pintu, lalu pintu lagi, ruangan ini, ruangan itu, etc yang bagi saya, masih agak abstrak.
oh, saya agak bingung mengapa si tokoh sibuk berpikir harus melakukan sesuatu biar ngga diam saja di dalam rumah? :D tidak ada penjelasan apa-apa atau mungkin memang seharusnya dia tidak berpikir begitu.
heu, tampaknya sudah terlalu panjang. komen closing saya,
saya suka plot cerita yang kamu buat (saya tidak pernah menulis macam ini, jadi ...) salut!
yu, aku jg ketinggalan cerpenmu ini.
pada awalnya cerpen ini sedikit datar, juga ada banyak pengulangan psikologis yang sedikit menggantung. Aku jadi mengira cerpen ini adalah cerpen lembut khas Ayu, bukan cerita thriller yang seru. Jejak air pertama kurasa muncul sedikit terlalu lama.
semakin ke tengah cerita semakin membingungkan. Bagian Benji diulang terlalu sering kalau menurutku, sedangkan penjelasan mengenai sang karakter sebagai dokter forensik malahan baru dimasukkan di bagian belakang.
Tapi yu, semakin ke akhir aku semakin merasakan ketegangan yang dimaksudkan :) semakin ke belakang, puzzle pieces yang disisihkan di mana-mana mulai muncul. dan pada akhirnya adalah sesuatu yang cukup menghentak, walau diselesaikan dengan lembut.
Keseluruhan, ide yang sangat menarik, yu!
sudah lama saya gak baca2 cerpen karena malas (panjang) tapi baca ini gak ada matinya..keren mbak!
aku rasa kalimat pertama di paragraf pertama itu adalah pembukaan yang buruk (hehehe... dicaci dulu sebelum dipuji ya?). maksudku, langsung saja masuk ke kalimat kedua, atau kalimat lain yang lebih tajam. secarah... jam tiga gitu lowh... dah pasti gelap kan? hehehe...
kalimat pertama paragraf kedua, kebanyakan kata 'saya', dan bahkan di satu paragraf itu ada banyak sekali kata 'saya' (halah... komentar gak mutu ya? hehehe...). dan beberapa ketidakefisienan lain ditemui juga di bawah.
tapi aku suka kalimat pembuka di paragraf keempat. cukup satu kata. haha... keren.
pipis si benji? idih, nakal tuh anjing. mungkin bisa ditambahin reaksi kesal 'saya' supaya tampak lebih riil.
dan ternyata 'saya' adalah... seorang lelaki???!!! hayyah... tak ada clue satu pun di awal! Aku kebayangnya sosok mbak ayu sih. Heheh… duh, harus ganti setting di kepalaku neh...
hmmm... sampai tengah... butuh lebih banyak sentuhan thriller. jika ini dimaksudkan sebagai cerita jenis itu. btw, apakah di awal tokoh 'saya' memakai baju, atau celana? ditaruh dimana? juga pakaian si perempuan, taruh dimana? secarah, mereka baru saja... (halah... dibahas lagi...). maksudku detil ini bisa membantu membangun suasana.
oke... sampai dapur... hmm... betul neh, butuh lebih banyak detil lokasi kejadian.
semakin masuk ke tengah. okay, it's getting weird. but i like it! hehehe...
pintu terbuka. mana? ruangan mana? duh... belon kebayang nih...
oke... ada suara-suara? 'saya' tidak bertanya lebih jauh kenapa bisa muncul suara-suara itu? Maksudku, apa kejadian macam begini sering terjadi? Penyakit kumat?
tapi... haha... tambah menarik ceritanya... mulai kebaca nih menjelang sepertiga akhir. mungkin perubahan lokasi dan waktunya aja yang kurang 'tegas', sehingga rada bingung. dan juga perubahan emosinya (yang ini penting).
huhuhu... dan endingnya, walau agak kurang jelas, dan masih bisa dieksplor lagi kebingungan dan ketakutannya (atau kemarahannya? - entah emosi mana yang coba kamu tonjolkan), tapi cukuplah.
secara keseluruhan, aku suka ceritanya! bagus... jadi inget film 'butterfly effect', atau yang semacamnya (apa ya? haha... aku benar-benar penulis malas yang enggan berdeskripsi-ria).
sip, mbak ayu...
asik sekali. saya benar-benar menikmatinya.
merinding pun membayangkan ada yang hanya merasa mimpi setelah membunuh orang. Ck!
------------------
cheers!
Two Thumbs Up 4 u sweety.... Like always.... :)
dari sang sekretaris seksih huuu dasyat
bagus, jeung..muter2,bikin penasaran..suka..suka..suka
Keren. Cerita yang mengaduk-aduk. Deskripsi tentang mimpi, kenyataan, mimpi, kenyataan yang cukup membuat pembaca (kuhusunya aku) cukup merasakan ketegangan dan rasa penasaran.
Cerita yang bagus.