"Pedang itu bukan sekedar baja yang ditempa..."
"Dongh Man Panna
(Penguasa Naga)
....
"Aku sengaja membuang pedangmu agar kau mengambil juga telur itu," kata Ni Ratma tenang namun masih belum beralih pandang dari benda yang disebutnya telur.
"Telur?" Raojhin terkejut sampai-sampai benda bulat lonjong seukuran dua kali kepalanya itu terjatuh dari genggaman tangannya, namun tidak pecah meskipun terbentur batu cadas yang dipijak karena kulit telur itu sangat kuat melebihi kerasnya lempengan baja.
Telur itu menggelinding beberapa kaki dari Raojhin berdiri. Ia terpana melihat telur aneh yang ukurannya tidak biasa seperti telur-telur lain.
"Maksudmu…kau ingin memberikan telur unggas raksasa ini untukku?" Raojhin tidak ingin salah duga dan memang demikian yang terpikirkan oleh Ni Ratma.
"Huh, aku bukan peternak, tidak juga butuh bekal untuk perjalananku! Ambil kembali telur itu!" Raojhin berbalik arah karena ingin berniat pergi. Dan tidak peduli lagi telur besar yang sudah tergeletak di tanah. Namun satu kalimat Ni Ratma tiba-tiba menggencat langkahnya.
"Hatimu masih sedih, telur itu bisa menjadi teman dan pelipur lara untukmu…," kedengarannya datar, namun cukup membuat Raojhin bertanya-tanya.
"Yang kau inginkan sudah kupenuhi, jadi jangan ganggu langkahku!" Raojhin merentangkan dua pedangnya dan bernada mengancam.
"Kau hanya seorang murid Ni Gaumma yang gegabah. Semua petaka tak akan pernah terjadi padamu jika kau lebih berpikir tenang dan berhati-hati," sekelabat sosok Ni Ratma berloncatan tinggi-tinggi di antara bambu yang satu ke bambu yang lain. Terlalu gesitnya sampai-sampai mata Raojhin selalu terlambat untuk menangkap jejak sosok Ni Ratma.
"Sahabatmu…juga Gattor-mu…si Macan Putih itu…akhirnya ikut menjadi korban. Salahkan dirimu yang membawa masalah, Anak Muda!" suara menggaung ke sekeliling semakin memusingkan mata Raojhin.
"Kau sendiri siapa? Apa sudah lebih baik dariku? Mematahkan rantai saja masih minta pertolonganku!" Raojhin balas mengejek.
Jbas!!!
Satu hempasan keras tepat sejengkal kaki di hadapan Raojhin, membuat pemuda itu terkesiap mundur karena terkejut.
"Setidaknya aku tidak punya dendam. Aku terkena kutukan karena kesalahanaku sendiri tetapi tidak merugikan orang lain. Tetapi kau? Apa yang telah kaulakukan telah membuat seorang teman dan peliharaanmu mati!"
"Cukup!!!"
Satu kilatan dua pedang Raojhin terangkat lebih tinggi dari ubun-ubunnya, menyilang dan dalam posisi sepertiga kuda-kuda.
"Belajarkan untuk mengendalikan emosi, itu akan membuatmu lebih kuat dan berpikir cerdas!"
"Berisik!! Heaaaah…!!!" tanpa basa-basi lagi, Raojhin menerjang sosok Ni Ratma yang berada dua langkah saja di depannya. Dengan membabi buta, jurus-jurus berputar dan berkali-kali secepat apapun ia menyabetkan pedang ke sosok Ni Ratma yang sangat licin tak terbaca arah geraknya, semakin ia dipermainkan oleh jurus-jurusnya sendiri.
Raojhin kewalahan juga karena aksi Ni Ratma selalu mengindar dan terus menghindar saja. Dan ia pun menyudahi jurus pedangnya yang sia-sia melawan angin.
"Jika kau tahu kekuatan pedangmu itu, mungkin kau tidak akan terlihat tolol...! Tampaknya, saudaraku, Ni Gaumma tidak pernah mengajarimu cara bertarung yang baik!"
Sat…!
Tanpa menoleh, Raojhin melayangkan pedang di tangan kirinya ke arah Ni Ratma di belakangnya.
Dak…!!!
Sekali lagi pedang itu menancap ke batang bambu yang paling keras, meninggalkan suara memecah kesunyian hutan.
(Bersambung)
dikirim alifwood 18 minggu 4 hari yang laluTag:









