Senja di St Carolous {part 1-9}

17
points
"

Senja-senja-senja

"

Satu
“Cheryl……..”
Suara itu menggema diantara asap putih yang mengepul.Di Lobi Rumah sakit St Carolous,Aku yang mengenakan gaun putih menoleh kesuatu arah.Ketempat dimana suara itu berasal.
“Nathan….” Aku menyebut nama seseorang yang baru saja menyapaku.Dan seorang pemuda tampan yang mengenakan setelan jas berwarna sama pun mendekat.
“Kemana saja kau selama ini?.”Lirih suaraku mengalir.Isak tangis pun tertumpah bagai hujan yang jatuh dari langit.”Kau berjanji padaku akan kembali setelah 4 tahun.Tapi sudah sepuluh tahun sejak perjanjian itu,kau baru muncul dihadapanku”
“Maafkan aku Cheryl,Aku bukan meninggalkanmu tapi hanya terlepas dari hidupmu.Aku tak bisa bersama selama yang engkau mau.Sebab waktuku sangat singkat.Bahkan lebih singkat dari dari usia Someiyoshino.”
“Apa kau tahu,betapa menderitanya aku?,Tentang rindu yang begitu mencekam.Tentang hati yang begitu sepi sejak matahari tertutup awan.Apa kau pernah mendengar bisikan-bisikan yang kutitip lewat angin yang bertiup?”
“Maafkan aku atas segala penderitaan ini.Tapi aku tak bisa terus bersamamu.Aku harus pergi”
“Kemana?.Kau sudah meninggalkanku selama ini dan sekarang kau juga ingin pergi.Apakah sepuluh tahun tak cukup untuk membuatku menderita?”
“Yang penting kau tahu,bahwa cintaku tak kan pernah berpaling.Aku akan selalu mencintaimu.Sekali lagi maafkan aku,Aku harus pergi….!!!”
“Nathan………,Nathan…….,Nathaaaaan……………….”
Teriakku memecah dikeheningan malam yang sunyi.Seketika ku terbangun dari tidurku dengan keringat dingin yang mengucur deras.Jantungku berdegup kencang.Kuperhatikan sekelilingku yang penuh dengan aura kegelapan.
“Ya Tuhan….” Aku menghela nafas dalam- dalam.Tatapku beralih pada sebuah foto yang terletak diatas meja kamarku.Air mata pun menitik.Tak kuasaku menatap wajah pemuda yang baru saja hadir dalam mimpiku itu.
Dialah Nathan Aditya,mutiara hati yang pernah memberikan cahaya dalam kelamnya kesendirianku.Dia pernah mengalir dalam darahku,menjadi irama dalam setiap detak jantungku.Setiap saat yang kutunggu hanyalah dirinya.didalam tidur,didalam doa bahkan dipenghujung sisa asaku.Namun sayang mimpipun tak sanggup memberikan arti lebih dari sekedar ketidaknyataan.
**************
Dua
Aku berdiri di lobi St Carolous.Entah angin apa yang membawa ku kesini.Sudah enam tahun sejak janji suci itu teringkari,aku tak pernah lagi menginjakkan kakiku ketempat ini.Kenangan pun seolah kembali membawa diriku pada peristiwa yang terjadi kala itu.
Saat itu hujan gerimis.Aku menerima tugas dari sekolah untuk memimpin kunjungan anak-anak kelas satu yang akan melakukan riset tentang obat-obatan yang biasa digunakan di Rumah sakit tersebut.Sebagai ketua osis di sekolah menengah farmasi tentu saja aku tak bisa berbuat apa-apa kecuali menyanggupinya.Padahal tempat yang paling tidak aku suka adalah Rumah Sakit.Karena bagiku tempat itu selalu penuh dengan hal-hal yang mengerikan.
Aku berjanji dengan anak-anak itu untuk berkumpul di lobi St Carolous tepat pada pukul 10 pagi.Namun sampai jam menunjukkan angka 11 pun mereka tak kunjung datang.
Aku mendesah kesal dan memilih melangkah meninggalkan ruangan itu.Aku bermaksud mencari angin segar sebelum akhirnya mereka datang.Namun baru saja langkahku sampai pada recepcionis tiba-tiba…..
“Braaaaaaaaaaak…….!!!!!” Seseorang menabrak bahuku.Aku kehilangan keseimbangan.Seketika tubuhku oleng.Dan pada detik berikutnya,kurasakan sebuah tangan memeluk dan menahan laju tubuhku dengan erat.Musim pun tercekat dimusim semi.Untuk sesaat aku dan pelaku penabrakan itu terpaku dalam diam.Lama kami bersitatap sampai akhirnya,aku menyadari bahwa file-file yang semula berada ditanganku telah berhamburan dilantai.Aku refleks berjongkok dan membereskan File-file itu namun masih dalam hitungan detik pemuda itu turut berjongkok dan membantuku.
“Lain kali hati-hati.Jangan berdiri ditengah jalan.Pemuda itu menyerahkan semua file ketanganku dan pada detik berikutnya Kami pun sama-sama berdiri.
“Kamu nggak apa-apa kan?”.Ujar pemuda itu kemudian.
Aku tak menjawab.Kutatap makhluk ciptaan Tuhan yang begitu indah itu.Kedua matanya berbinar.Rasa takut membuat wajah tampannya terliat pucat.
“Hei….,kamu nggak apa-apa kan?” Pertanyaan itu kembali mengalir.membuatku tersentak dan jadi salah tingkah
“Eh,Oh….,eh nggak….,nggak apa-apa kok” Aku memaksa diri untuk tersenyum.
“Benar kamu nggak apa-apa?”
“Iya,bener kok,Suer….!!!”
“Oh ya aku Nathan,Nathan Aditya” Pemuda itu mengulurkan tanganya.
Kali ini aku benar-benar membeku.Sekali lagi aku terdiam oleh keramahan dan kelembutan tutur katanya.Namun tak lama kemudian“Cheryl…..Pevyta Cheryl” Aku balas menjabat tangan pemuda itu.
Sesaat angin pun bertiup.Anak-anak itu tiba-tiba muncul dan mengacaukan semuanya.Konsentrasiku pun beralih.Hingga tak kusadari,Pemuda yang menjabat tanganku itu tlah menghilang dibalik keramaian.
***********
Tiga
Sejak kejadian itu,Aku tak pernah bertemu denganya lagi.Akupun tak pernah memikirkan tentang apa,siapa,dan dimana dirinya berada.Sampai suatu ketika.
“Cheryl….” Kudengar suara sapaan yang tak asing ditelinga.Aku menoleh.Kucari sumber suara itu diantara sederet buku yang tersusun di perpustakaan.
Sepi tak ada siapapun
“Hei,aku disini”.Suara itu terdengar dari arah depan.Aku menoleh.
“Nathan?,Nathan Aditya?” Aku tersentak kegirangan.Rasa tak percaya mewarnai langit hatiku.
“Kamu sekolah disini juga?”
“Iya…”
“Tapi aku kok nggak pernah lihat kamu”
Nathan tersenyum.
“Aku baru pindah,Cher.Baru aja.Aku dikelas IIIB”
”Oh ya,Memang tadinya kamu sekolah dimana?”
“Tadinya aku di SMF teratai putih.Tapi gedungnya sekarang sudah pindah didaerah Jakarta selatan.Karena jaraknya terlalu jauh,Aku pindah kesini”
“Kamu sendiri…..?”
“Aku dikelas IIC,Dipojok dekat Lab Bahasa.Nggak nyangka ya bisa ketemu kamu disini.Semoga betah ya Nath….?”
“Insya Allah,mudah-mudahan aku betah”
Sejak saat itu obrolan pun berlanjut.Usut punya usut ternyata tempat tinggal Nathan tak jauh dari rumahku.Kami jadi sering pulang berdua.pergi berdua,jalan berdua,bahkan mengerjakan tugas pun berdua.Tanpa disadari lambat-laun benih-benih cinta pun tumbuh.
Tanggal 14 Februari tepatnya dihari Valentine tiba-tiba kudapati sepuket bunga mawar putih didepan pintu rumahku.Diatas kuntuman bunga itu terdapat sepucuk surat bersampul biru.Aku terpanah dengan kedua benda itu.Segera kuambil kedua benda itu dan kubawa kedalam.Aku bertanya dalam hati.Siapa makhluk kerajinan yang rela ,mengirim semua benda ini.
Aku meletakkan bunga itu keatas meja.Karena penasaran segera kubuka surat bersampul biru itu dan kubaca.
Cherylane bunga mimpiku.
Sebenarnya aku takut mengatakan ini padamu.Tapi perasaan hati ini.Sudah tak dapat terbendung lagi.Sejak pertemuan kembali diperpustakaan hari itu.Aku jadi sering memikirkanmu.Aku jadi punya alasan untuk tidak mudah berputus asa dalam hidup.Dengan kata lain.Aku ingin mengatakan kalau,aku sangat mencintaimu.Dan jika kau pun memiliki rasa yang sama,Pergilah kedepan rumah.Aku berada disana.
Aku tersentak membaca bait terakhir surat itu.Dalam hitungan detik,kusibakkan gorden yang menutupi kaca ruang tamu.Disana terlihat sesosok pemuda yang tiada lain adalah Nathan.Pemuda itu tengah berdiri sambil tersenyum kearahku.Aku menutup kembali gorden itu.perasaan senang bercampur gugup pun tiba-tiba saja menyerbu.
Buru-buru aku berlari kearah depan.Aku membuka pintu ruang tamu dan menghambur kearahnya.Sesaat aku terpaku oleh sepoi kebahagiaan yang bertiup.Perlahan namun pasti kedua tanganya terbuka.Dan tanpa membiarkan waktu berlalu lebih jauh,Aku pun segera larut dalam hangatnya pelukan itu.
**********
Sejak saat itu kami sepakat untuk menjalani hubungan.Selama disisi Nathan,aku selalu merasa bahagia.Tak ada celah bagiku untuk bersedih.Ia selalu menjadi penerang dalam hidupku yang kerap kesepian akibat kedua orang tuaku yang selalu sibuk.Aku sangat takut membayangkan apabila aku harus kehilangan dirinya.Sampai suatu ketika,ketakutan itu benar-benar terjadi.Nathan yang satu tingkat lebih tinggi dariku telah menyelesaikan ujian akhirnya.Dan menurut kabar ia akan menempuh pendidikan S1 kedokteranya diluar negeri.Aku seperti mendapat pukulan yang keras saat itu.Belajar diluar negeri berarti kegelapan bagi duniaku.Nathan akan pergi meninggalkanku dan otomatis aku akan mejalani hari-hari yang kelam seperti dulu.
“Kapan kamu akan pulang” Tanyaku sesaat sebelum Nathan berangkat
“Aku belum pergi,Cher.Kamu sudah bertanya kapan aku pulang.”
Air mataku mengalir.Tak kuasa kumenahan kesedihan yang mendera.
“Jangan menangis,empat tahun lagi aku akan kembali.Aku akan menemuimu di tempat pertama kali kita bertemu.Saat itu aku tak akan membiarkan kau hanya menjadi kekasih hatiku tapi juga seseorang yang syah bagiku.Untuk menemaniku selama-lamanya”
Aku menjatuhkan kepala didadanya yang hangat.Sesaat musim pun berhenti.Namun tak urung ku saksikan belahan hatiku itu pergi,jauh membawa sebagian jiwa yang kumiliki…….
*******
Satu,dua,tiga…..tiga tahun berlalu.Tak ada telephon untukku.Bahkan sepucuk suratpun tak pernah menyinggahi kotak Surat rumahku.Hidupku terasa sepi.Siang malam kulalui dengan dentingan kesunyian.Namun aku berusaha yakin pada cinta yang kupunya.Sampai suatu ketika.
“Pos,Pos…..” Terdengar suara teriakan tukang pos dihalaman depan.Aku berlari keluar.
“Surat Neng “ Ujar pak pos itu tersenyum ramah
“Dari siapa pak?”
“Nggak tahu.nggak ada namanya tuh”
“Oh makasih ya pak”
“Sama-sama” Pak pos itu berlalu dan perhatianku pun beralih pada surat beramplop merah itu.Aku membolak balik amplopnya.Tidak ada nama.Hanya ada alamat pengirim.Tanpa membaca lebih jelas,akupun membuka surat itu dan langsung membacanya.

Cherylane bunga mimpiku…………..
Apa kabarmu hari ini.Apakah kau masih sibuk dengan segala urusanmu?.Aku berharap kau masih seperti dulu.Seperti bulan yang setia pada bintang.Seperti matahari yang selalu setia menyinari..Satu tahun lagi aku akan pulang.Aku sudah tak sabar untuk melihat bunga mawar kecilku yang dulu ranum.Menjadi bunga dewasa yang merah merekah.Aku ingin segera memetiknya.Sebelum ada kumbang lain yang mendahului.Jaga dirimu baik-baik,dan tetaplah menjaga kehormatan cinta yang aku percayakan padamu..
Dariku yang selalu merindukanmu
Nathan Aditya
Aku menutup surat itu dengan hati yang amat lega.Perasaan senang bercampur haru mewarnai langit hatiku.Sungguh suatu Keindahan yang tak ternilai harganya.Aku menghempaskan diri keatas tempat tidur.Kutengadahkan kepalaku pada langit-langit kamarku yang biru.Sesaat khayal pun berpadu.Membuatku membayangkan apa yang akan terjadi pada tahun berikutnya. Aku bahagia…..,yah aku bahagia.
***********
Tiga
Empat tahun berlalu.Tanggal empat belas Februari cuaca cerah.Tak ada sejumput mendungpun yang mewarnai langit.Tepat pada pukul sepuluh pagi aku telah berdiri dilobi Rumah Sakit St Carolous.Nathan akan kembali.Dan ia akan menemuiku ditempat yang penuh kenangan itu.Aku berdiri persis ditempat ia menabrakku dulu.Lucu rasanya mengingat saat itu.Andai Nathan kembali dengan membuat kejutan seperti itu.Pastilah terasa lebih romantis.Apalagi dirinya yang sekarang adalah pribadi yang dewasa.Yang mungkin lebih gagah dan lembut dibanding empat tahun yang lalu.
Satu jam terlewati.Aku menunggu dengan hati yang sabar.Mungkin saja pesawatnya terlambat.Atau mereka mengalami kemacetan karena akses dari bandara ke tempat ini cukup padat.Aku duduk pada sebuah kursi yang tersedia.hatiku sudah tak sabar menunggu kehadiran orang yang kucintai.Empat tahun,bukanlah waktu yang singkat untuk dilalui.Semua kujalani denagan penuh perjuangan.Tapi hari ini penantianku akan segera berakhir. Aku akan kembali menemui cintaku.
***************

“Mbak….,mbak….”
Aku terbangun dari tidurku yang lelap.Kutatap seorang gadis berpakaian serba putih yang berdiri dihadapanku.
“Iya….”
“Maaf mbak,Jam besuk sudah selesai”
“Eh…,oh….,eh…”Aku memperhatikan sekelilingku yang tampak sepi
“Memangnya ini jam berapa,mbak…?”
“Ini sudah jam sebelas malam,mbak”
Aku terhenyak kaget.Perlaan aku bangkit dan memperhatikan kembali sekelilingku.Sepi,tak ada siapapun.
“E….ee…e,Beberapa menit yang lalu apa ada seorang pemuda yang datang kesini?”
“Pemuda………………?”
“Ya,Pemuda yang baru datang dari bandara……..?”
Suster itu tersenyum bahkan tertawa terbahak-bahak
“Mbak,Ini tuh tempatnya orang sakit.Bukan bandara…..,Sebaiknya mbak pulang saja ini sudah malam.Nanti keluarga nbak nyariin.Permisi……”
Suster itu berlalu.Namun aku masih enggan untuk beranjak.Aku masih terus berharap bahwa Nathan akan datang.
Satu…..,dua……,tiga…. Tiga jam kembali berlalu.Namun orang yang kunantikan itu tak kunjung datang.Sampai sepuluh tahun terlewati.Penantian itu tak kunjung menemui akhir.Kini hanya tersisa sebuah kenangan,yang mungkin sebentar lagi akan pupus bersama waktu yang terus bergulir.Aku telah kehilangan asaku.
***********
“Braaaaaaaaak!!!!!……….” Sesuatu yang keras menabrak bahuku.Seketika lamunanku yang panjang itupun menemui akhir.Aku hampir terjatuh.Namun tak lama kemudian,kurasakan sebuah tangan menahan laju tubuhku.
“Kamu nggak apa-apa?”
“Ya Tuhan” Bathinku perih.Kejadian ini sama persis dengan kejadian waktu itu.
“Hei,Kamu nggak apa-apa kan?”
“Eh…,oh…,eh….,Nggak,Aku nggak apa-apa kok!!!!” Aku memaksakan diri untuk tersenyum.Sesaat akupun tersadar bahwa tas tanganku telah terjatuh dan seluruh isinya berantakan.Aku refleks berjongkok dan membereskan barang-barang itu.Dan tak lama kemudian pemuda itu pun melakukan hal yang sama.
“Lain kali hati-hati”
“Ya Tuhan…”Lagi-lagi bathinku teriris.”Kata-kata ini,Sama persis dengan kata-kata yang keluar dibibir Nathan saat ia menabrakku dulu.Ia juga turut membereskan file-file-ku yang terjatuh.
“Hei,…..”
“Eh iya benar,A….aku nggak apa-apa”
“Aku ngomong lain.jawabnya lain.”Pemuda itu menyerahkan semua barangku.Kamipun serentak berdiri.
“Baiklah,Sepertinya kamu sedang ada masalah, Oh ya namaku Nathan,Nathan Aditya” Petir menyambar dilangit yang mendung.Gejolak bathinku bergemuruh.Rasa perih bercampur tak percaya seolah mencabik ruang hatiku.
“Ya Tuhan,Benarkah itu dia?.Tapi mengapa aku merasa asing padanya?.Siapa dia?.Apakah dia memang Nathanku atau hanya……”
“Cheryl……..” Seseorang menyapaku dari arah belakang.Aku terhenyak dan langsung menoleh kearah sumber suara itu.
“Gustav……” Aku menyebut nama seseorang yang sudah dua tahun ini mengisi hatiku.Pemuda itu mendekat,Aku mencium tanganya dan ia pun mencium pipi kananku.Sesaat aku tersadar pada orang yang mengaku sebagai Nathan itu.Aku menoleh,Namun pemuda itu telah hilang entah kemana.
“Kamu cari siapa,sayang?”
“Eh,Nggak.nggak ada siapa-siapa kok” Aku menarik nafas,mungkin Cuma khayalan akibat terlalu larut dalam kenangan
“Kok kamu disini….?”
“E….eee,Ka….,kamu sendiri?”
Pemuda itu menatapku lalu tersenyum.
“Kamu lupa ya?.Calon papa mertua kamu kan dokter disini.Tadi dia telephon aku.dan dia nanya kenapa kamu ada disini sejak pagi.
Aku kembali menarik nafas.Betapa bodohnya aku tak menyadari bahwa ayahnya adalah dokter diRumah sakit ini.Andai ia tahu apa yang tengah kuperbuat.Pastilah aku akan dihakimi.
“Jadi kamu kesini karena papa yang kasih tahu” Aku mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Bukan itu aja sayang,Dirumah sakit banyak yang membutuhkan pertolongan kamu.Kamu nggak boleh ngeelepasin tanggung jawab kamu”.
kali ini desahku memanjang.Seketika aku tersadar siapa diriku.Aku bukan lagi Cheryl sepuluh tahun yang lalu.Yang belum memiliki tugas dan tanggung jawab.Cheryl sekarang adalah seorang dokter yang harus berdedikasi pada tanggung jawab yang ia miliki.Sudah saatnya aku mengakhiri penantian ini meskipun hatiku tak dapat memungkiri bahwa sampai detik ini hanya Nathan yang bertahta dihatiku.
*************
Empat
“Cheryl……..,Cheryl…….”
“Nathan….”
“Maafkan aku,Cher….Aku harus pergi”
“Kemana”
“Kesuatu tempat yang jauh”
“Tapi kamu sudah terlalu lama meninggalkan aku”
“Aku pergi bukan untuk meninggalkanmu lagi.Tapi hanya terlepas dari hidupmu”
“Tapi Nath….”
“Maafkan aku Cher,…..”
“Nathan………..,Nathan……..,Nathaaaaaaaan……………”
“Cheryl……..,Cheryl” Aku terbangun dari mimpiku yang singkat sesaat setelah panggilan itu terdengar.Matahari mulai muncul.Terdengar suara ketukan pintu yang berulang kali.Aku beranjak.Segera kubuka pintu kamarku dan kudapati sesosok tubuh mungil berpakaian putih dengan senyumnya yang manis.
“Marsha….”
“iya…,sekarang sudah jam 6 30,Non.Buruan mandi!!!.Kita harus kerumah sakit.Banyak pasien yang membutuhkan”
Aku tak menjawab.Kuturuti saja perintah sahabatku yang bawel itu.Sesaat setelah ia masuk,akupun segera mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi.
****************
“Kok dari tadi kamu diam aja,Cher?” Tanya Marsha ketika mobil jaguar silverku yang dikemudikanya mulai memasuki halaman parkir rumah Sakit Cipto Mangunkusumo tempat dimana kami bekerja.
“Aku sedang memikirkan sesuatu”
“Sesuatu…?”
“Ya,sesuatu masalah”
“Tentang kau dan dokter Gustav….?”
“Bukan.Ini tentang Nathan…”
“Nathan………?,Nathan kekasihmu dulu?”
“Ya,Beberapa hari ini aku sering bermimpi tentang dia.Dia bilang,dia akan pergi jauh.Dan kemarin,saat aku pergi ke St Carolous.Ada seorang pemuda yang menabrakku.Peristiwanya sama persis dengan kejadian waktu itu.Pemuda itu menolongku dan memperkenalkan namanya padaku.Dia bilang……….
“Hhhhhhhh……….”
Aku mendesah.Tiba-tiba ada sesuatu yang mencekat di tenggorokanku
“Apa….?”
“Namanya Nathan Aditya………”Aku menjatuhkan pandangan pada sebuah titik yang mengadirkan kehampaan.Sementara Marsha terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Cher,Cher…,Sudah sepuluh tahun berlalu.Kau masih saja memikirkan pemuda itu.Apa kasih sayang yang diberikan dokter Gustav tak cukup untuk menggantikan semuanya?”
“Aku tahu Gustav sangat menyayangiku.Tapi jauh dilubuk hatiku yang terdalam,Aku masih mengharapkan kehadiran Nathan”
“Apa kau yakin,yang kau temui di St Carolous kemarin adalah dia?”
“Entahlah,Itu yang mengganggu pikiranku.Seingatku wajah Nathan tak begitu.Tapi rautnya begitu meyakinkan.”
Lirih suaraku menggema.Air mataku menitik dan mengalir dengan deras.Saat mobil itu tengah berhenti akibat panjangnya antrian menuju halaman parkir.Aku pun memilih untuk keluar.Aku bergerak kearah lobi.Namun baru saja aku menginjakkan kakiku dilantai tempat itu,tiba-tiba seseorang berwajah tampan muncul dihadapanku.Aku tersentak.Pemuda itulah yang kutemui di St Carolous kemarin.Dia yang mengaku sebagai Nathan Aditya.Dan dia pulalah yang mengingatkanku pada aperistiwa kala itu.
“Kenapa kau menangis,Bungaku….???”
“Oh Tuhan.” Batinku serasa tersayat.Aku terpaku ditempatku dengan seluruh tubuh yang mati rasa.Kutatap makhluk ciptaan Tuhan yang begitu indah itu.Kacamata yang ia kenakan tak urung membuatku menyaksikan selaras sinar yang ada dibaliknya.
Tapi,Ada sesuatu yang mengganjal dihatiku.Yakni perasaan asing dan tak yakin pada apa yang aku lihat.Sungguh tak ada perasaan bahagia saatku menatapnya.Siapa dia?Apakah dia benar-benar Nathan-ku.Jika iya,Mengapa ia menemuiku dengan cara seperti ini.Mengapa ia tidak langsung kerumahku,memelukku,dan meminta maaf atas penantianku selama ini.
“Misteri apa yang ada dibalik semua ini?”
“Tuhan……..,Beri aku jawaban?”

*************
“Cher……,Cheryl…..”
Aku membuka mataku yang terasa amat berat.Kudapati Sesosok tubuh berpakaian serba putih yang didampingi oleh perawat yang cantik.Aku memperhatikan sekelilingku yang penuh dengan ornamen putih.
“Gustav,Aku dimana?”
“Baguslah kalau kamu sudah sadar.Tadi kamu pingsan,sayang” Gustav duduk disisku.Ia memberi isyarat agar suster yang mendampinginya pergi.Sesaat suster itupun beranjak.Dan perhatianya kembali kepadaku.
“Kok kamu bisa sampai pingsan sih?hmm?” Gustav menatapku dengan tatapan yang menagih jawaban.Dibelainya keningku dengan tanganya yang hangat.
“Aku nggak apa-apa.Mungkin cuma kecapean”
“Aku kan sudah bilang,kalau capek,kamu nggak usah masuk.Biar aku yang menggantikan”
“Aku sudah nggak apa-apa kok”
“Yakin….?”
Aku mengangguk
“Ya sudahlah.Sebentar lagi,kamu susul aku di Aula ya!,Ada dokter baru.Sebagai dokter yang sudah lama bekerja disini,kita wajib memberikan sambutan padanya.”
“Dokternya laki-laki atau perempuan?”
“Katanya si laki-laki.Lulusan dari Amerika lagi.”
“Kalau ternyata dokternya ganteng,dan aku jatuh cinta sama dia…..,Gimana?”
“Aku akan culik kamu dan aku paksa papa kamu untuk menikahkan kita”
“Kalau papaku nggak mau?”
“Anaknya nggak aku balikin”
Sesaat bahagia pun mengalir.Aku dan Gustav tertawa lepas sampai akhirnya aku dan dia terpaku dalam tatap yang begitu dalam.
“Cheryl”
“Ya” Kurasakan wajah Gustav yang begitu dekat kepadaku.
“Aku mencintaimu” Bisikan itu mengalir begitu dekat.Perlahan anginpun bertiup.Kubiarkan bibir tipis nan penuh kehangatan itu melumatkan cintanya pada bibirku yang merah merekah.
I love u…….. ************

Lima
Aula itu telah dipenuhi oleh para dokter dan segenab staf yang tengah bertugas.Sebentar lagi mereka akan menyambut kedatangan seorang dokter baru yang disinyalir lulusan dari Amerika.Aku memasuki Aula itu tepat disaat mereka tengah bersiap-siap.Aku berdiri disisi para dokter lainya.Yang memfokuskan pandangan kearah dr Winoto,Sang kepala rumah sakit.
“Saudara sekalian,hari ini kita kedatangan seorang tenaga medis baru.Dia lulusan dari Amerika.Saya harap dengan adanya tenaga baru dirumah sakit ini akan lebih meringankan tugas kita sebagai penolong masyarakat.Saya perkenalkan,dr Nathan Aditya……..”
Semua mata serentak menoleh kearah dokter yang baru saja hadir itu.Aku dan Marsha saling bertatap.Seluruh persendianku terasa lemas.Ingin rasanya aku berlari sejauh mungkin.Namun kedua matakupun tak mampu untuk melihat lebih jelas.
Dokter itu menjabat tangan kepala rumah sakit.Dan pada detik berikutnya,tatapan matanya yang tajam tertuju kearahku.Aku tak kuasa menatapnya.Sebelum semuanya berakhirpun aku memilih untuk meninggalkan tempat itu.Aku menyusuri sepanjang koridor dengan perasaan yang bercampur aduk.Antara sedih,dendam,rindu dan benci.Aku mempercepat langkaku agar segera menjauh meninggalkan tempat itu.Namun baru sampai pada laboratorium Radiologi tiba-tiba,……..
“Cheryl………,Tunggu…” Seseorang menghentikan langkahku.Aku menoleh.Ternyata Gustav yang datang menghampiri
“Cheryl,kamu nggak apa-apa kan,Sayang?” Pemuda itu langsung memelukku dan melepaskanya kembali.
Aku menggeleng.Pemuda itu beralih memegang kedua pipiku.
“Dengar sayang,kita semua tahu siapa Nathan.Bagaimana wajahnya,seperti apa dirinya.”
“Tapi,Gus…..”
“Dengar,walaupun dulu aku bukan teman yang baik bagi Nathan,Tapi aku tahu siapa dia.Kamu nggak lupa kan? Kalau Nathan itu keturunan inggris.Sedangkan Nathan yang kita lihat tadi adalah orang Indonesia asli.Memang dia tampan tapi dia sama seperti aku.Selama beberapa hari ini aku akan melakukan observasi pada sebuah tempat yang terdampak epidemi di daerah Surabaya.Aku minta kau jangan dekat-dekat denganya.kita tidak tahu ada apa dibalik semua ini”
Aku menerima kembali pelukan Gustav.Tak ada hal lain yang bisa kulakukan kecuali pasrah.Otakku tak mampu lagi untuk berfikir.Seluruh tubuhku mati rasa.Dan hatiku pun perlahan membeku.
**********************
Enam
“Cheryl,Tunggu…” Aku mempercepat langkahku ketika kata-kata itu kian mendekat ketelinga.Aku buru-buru melintasi halaman parkir dan mencari dimana mobilku berada.
“Cheryl tunggu” Tangan kananku tercekal.
“Jangan dekati aku!!!” Kuhardik dokter yang mengaku sebagai Nathan itu.Dan kulepas paksa genggaman tanganya.
“Tapi,Cher.Ini aku Nathan”
“Sejak kapan Nathan yang berwajah inggris merubah wajahnya menjadi wajah pribumi.Cukup dengan segala kekonyolan ini.Dan berhentilah menyebut dirimu sebagai Nathan Aditya”
“Tapi aku benar-benar Nathan.Nathan Aditya yang mencintai kamu
“Kalau begitu,Aku minta jangan pernah temui aku sebelum wajah kamu kembali seperti dulu”
Aku masuk ke dalam mobil Jaguar silverku dan membanting pintunya.Namun pemuda itu tetap tak mau menyerah.Ia memukul-mukul pintu mobilku sambil berteriak.
“Cher,Kamu harus yakin,Cher.Aku ini Nathan….,Aku ini Nathaaaaaaan.Cher…….Cheeeeeeeeerrrr……….”
Aku membawa mobilku berlalu tanpa mempedulikanya sedikitpun.hatiku Sakit.Didadaku ada setumpuk pertanyaan yang belum terjawab.Apakah dia benar-benar Nathan.Benar kata Gustav.bila iya memang Nathan mengapa wajahnya sangat jauh berbeda.Bila bukan apa maksudnya.Dan dari mana ia tahu tentang Nathan Aditya-ku.
Aku mengemudi dengan kecepatan yang tinggi.Air mataku tumpah tak tertahan.Pedih rasanya menghadapi semua kenyataan ini.Mengapa disaat aku membutuhkan jawaban yang jelas atas penantianku selama ini,tiba-tiba harus muncul masalah yang rumit.Apakah penderitaan bathinku selama ini tak cukup untuk menebus sebuah kebahagiaan.
****************
Tujuh
Lampu ruang operasi telah dinyalakan.Kedua belah mataku beserta delapan tim medis lainya mulai focus terhadap pasien yang akan mereka tangani.
“Pisau”
“Gunting”
Satu persatu benda tajam itu merobek kulit pasien yang mengalami penyempitan pembuluh darah balik pada jantungnya.Darah mengucur deras.Membasahi tiap jengkal tubuh pasien dan jari-jemari ku yang terbungkus sarung tangan.
“Pisau”
“Gunting”
Jantung pasien itu mulai kelihatan.Fokuspun beralih,Sementara ketegangan seketika mendera.Apalagi kini dihadapanku berdiri seorang dokter yang seakan melemaskan seluruh persendianku
Ya Nathan Aditya.Yang entah asli atau palsu itu juga turut ambil bagian dalam proses operasi ini.Membuat jantungku berdegup kencang dan seolah tak mampu untuk menyelesaikan semuanya.Berkali-kali pisauku jatuh,Dan berkali itu pula pandangan mata tajam tim medis lainya seakan menghujat dan meminta segala totalitas serta keseriusan hatiku.Mereka tak ingin kesalahan itu berakibat fatal pada pasien yang kami tangani.Sekalipun mereka tidak tahu apa yang sesungguhnya membuat aku seperti ini.
Delapan jam berlalu.Operasi pun berhasil dilakukan.Buru-buru aku keluar dari ruangan tersebut dan melangkah menuju kearah ruangan pribadiku.
“Cheryl tunggu” Lagi-lagi suara itu menganggu ketentraman hatiku.
Aku tak menjawab.Aku hanya diam dan makin mempercepat langkahku.
“Cheryl tunggu” Kali ini tangan kananku dicekal.Mau tidak mau aku pun harus menghentikan langkahku dan menghujamkan tatapan kearah pemilik suara itu.
“Mau apa lagi!!!…..?,Mencelakaiku atau membunuhku…!!!…?”
“Aku cuma ingin kamu tahu.Bahwa aku masih mencintai kamu.Kamu adalah milik aku dan bukan milik Gustav.”
“Cukup……!!!!,Apa sebenarnya mau kamu?,Apa salah aku sama Gustav sehingga kamu mengacaukan kehidupan kami?”
“Cinta yang salah.!!!.Cinta Gustav terhadap kamu adalah akar dari semua ini.Dia yang membuat aku jadi gila”
“Cukup!!!!!!!!” Sebuah pukulan keras mendarat diwajah pemuda itu.Aku tersentak,secara tiba-tiba Gustav muncul dari arah belakang dan langsung memukulnya dengan sekuat tenaga.
“Dengarkan aku” Seru Gustav dengan suara yang lantang.Membuat aku refleks menahan tubuhnya agar tidak terjadi hal seperti tadi.Aku takut jika sampai ia emosi dan kembali memukul pemuda itu.
“Cukup dengan segala kekonyolan ini,Nathan Aditya palsu.Kau pikir aku tidak tahu siapa Nathan yang sebenarnya.Kau pikir aku tak ingat pada wajahnya?”.
“Oh, Jadi kau begitu paham pada sosok Nathan Aditya.Bahkan lebih paham dari orang yang mencintainya” Lirikan mata pemuda itu tertuju kearahku.
Seketika Gustav diam.Aku menangkap ada sesuatu yang aneh dibalik raut wajahnya.Antara marah dan menyembunyikan sesuatu.
“Kenapa tak menjawab?” Kali ini suara pemuda itu agak meninggi”Apa kau takut.Jika bunga mawar kecil itu tahu bahwa kumbang yang memetiknya adalah seekor kumbang yang kejam”.Aku menatap kearah Gustav,meminta jawaban atas ucapan yang baru saja kudengar.Namun pemuda itu tak menjawab.Ia malah terlihat makin emosi dan tak kuasa menahan segala hasrat yang menderanya.Hingga tak lama kemudian.
“RRrrrrrrghhhhh” Pukulan itu terjadi lagi.Kali ini Gustav begitu membabi buta.Ia memukul pemuda itu dengan tanpa perasaan sedikitpun.
“Gustav,apa-apaan ini?.”Aku mencoba menahan tubuhnya namun pemuda itu terlalu kuat untuk kuhentikan.Ia berhasil menepiskan tanganku dan kembali memukul dengan pukulan yang lebih kuat.
“Gustav,apa-apaan kamu.Hentikan semua ini.Hentikaaaaaaaaaaan……….!!!!!!!” Aku menghentikan pristiwa itu dengan memaksa Gustav untuk sedikit menjauh.Aku melakukanya dengan kedua tanganku sendiri meskipun sesungguhnya itu tidak mudah.Kini ia berada disampingku.Meskipun tatap mata liarnya masih tertuju pada diri pemuda yang sudah terluka itu.
“Sudahlah,Gus.Aku memaksa Gustav untuk berbalik”.
“Oh,Jadi ini Gadis yang begitu dicintai Nathan?” Tiba-tiba pemuda itu bersuara.Aku dan Gustav tersentak.Terlebih ketika ditatap,Pemuda itu membalas dengan tatapan yang seolah mengakimi.
“Apa maksudmu?” Tanyaku heran.
“Aku hanya menyesali nasib,kenapa dulu aku mempercayakan cintaku padamu.Ternyata orang yang selama ini kusimpan dihatiku tidak lebih dari seorang penghianat yang kejam.”
“Nathan….!!”
“Ya…..!!!!,Dia adalah musuh kita.Kau ingat,karena tidak berhasil mendapatkan cintamu dia hampir membunuh kita.Dia menabrakku saat pulang sekolah tapi kau menghalanginya.Kau yang menjadi korban Cheryl.Kau tertabrak sampai salah satu ginjalmu rusak.Apa kau lupa salah satu ginjal yang kau pakai adalah milikku?”
Matahari tertutup awan.Petir menggelegar dilangit bathinku.Seketika tangispun tertumpah.Tak kuasa kumenahan kepedihan saat kuteringat kembali semua kepahitan yang kualami.
Saat itu aku duduk di kelas dua SMF.Aku yang baru beberapa hari menjalin hubungan dengan Nathan tak menyadari bahwa dibalik semua kebahagiaanku ada sebuah hati yang mendendam.Yakni Gustav.Anak kelas tiga yang terkenal playboy dan pernah kutolak mentah-mentah.Saat tengah pulang sekolah,Gustav yang terkenal dengan keegoisanya itu mengarahkan mobil yang tengah dikemudikanya ke arah Nathan yang berjalan disampingku.Awalnya kupikir ia hanya lewat.Namun lama kelamaan semakin jelas bahwa ia berniat menabrak Nathan.Ketika mobil itu kian mendekat dan didorong oleh rasa saling melindungi.Akupun refleks mendorong tubuh Nathan.Saat itu kurasakan sebuah sakit yang amat sangat mengahantam kakiku.Namun setelah itu aku tak ingat apa-apa lagi.
Sampai suatu ketika.Aku mendapati tubuhku telah berada disebuah ruangan yang penuh dengan ornamen putih.Kulihat hanya ada kedua orang tuaku.Tak ada Nathan disitu.Khawatir terjadi apa-apa.Aku pun bertanya pada mereka.
“Ma….,Pa…..Nathan mana?”
“Dia ada diruangan sebelah.Dia sedang tidur.Salah satu ginjal kamu rusak sayang.Nathan tak ingin kau hidup hanya dengan satu ginjal saja.Dia takut jika sampai suatu hari nanti ginjalmu yang masih bagus akan tidak berfungsi.Untuk itulah ia mengorbankan satu ginjalnya,untuk menggantikan milikmu yang rusak.Dia baru saja menjalani operasi.”
“Kenapa mama dan papa mengizinkanya?” Aku berkata dengan nada setengah menghakimi.
“Kami tidak tahu ,sayang.Kami datang setelah semuanya terjadi”
Aku meminta kedua orang tuaku untuk membawa ku kepada Nathan.Disebuah ruangan yang berada disebelah kamarku.Kulihat pemuda itu tengah berbaring.Ia belum sadar.Ia terlihat begitu lelah.Dan keikhlasan yang terpancar diwajahnya membuatku tak kuasa menahan air mata.Aku menangis sesenggukan.
Dan sejak saat itulah aku jadi sangat membenci Gustav.Aku berjanji bahwa aku tak ingin mengenalnya lagi.Dia adalah musuhku dan musuh semua orang yang pernah disakitinya.
*************
Delapan
“Berapa kali aku bilang jangan pernah percaya dengan segala omong kosong itu….”
“Praaaaangg………!!!!!!!” Sebuah vas bunga terlempar dari atas meja.Dari kursi ruang tamu kulihat wajah Gustav begitu berang.Tangan kananya terlihat mengepal menahan emosi.
“Aku bukan mempercayai,Tapi melihat fakta yang ada”
“Maksudmu dia adalah Nathan?heh?buka mata kamu Cheryl.Dia itu bukan siapa-siapa.Dia bukan Nathan”
“Lalu kenapa dia tahu tentang peristiwa itu.Tentang kekejamanmu pada kami berdua.”
“Cukup….!!!!,Jangan ungkit hal itu lagi.Aku sudah meminta maaf padamu atas kejadian itu.Apa semuanya belum cukup.Atau kau ingin melihat aku mati agar semua kesalahanku termaafkan.”
Gustav meraih sebilah pisau dan menyayat tanganya sendiri.Aku refleks menghambur kearahnya sambil berteriak.
“Gustav,apa-apaan kamu.Hentikan semua ini.Aku berusaha menghalangi niatnya.Namun berkali-kali aku gagal.Ia terus saja melukai lenganya.Sampai pada suatu titik ketidaksabaran.
“Plaaaaak…..”Sebuah tamparan mendarat diwajahya.Gustav terdiam.Pisau itu jatuh dengan sendirinya.
“Inikah sikap seorang dokter.Inikah sifat orang yang akan menjadi suamiku.Kenapa setiap menghadapi masalah kau selalu menyakiti dirimu sendiri.Kenapa bukan orang lain.Bukankah kau terlahir sebagai pribadi yang egois.Yang tidak akan pernah membiarkan dirinya menderita sedikitpun.Kenapa Gustav,kenapaaaa……!!!!,kenapa kau begitu lemah?”
“Aku takut kehilanganmu,Cheryl.Aku takut.Karena aku sangat mencintaimu…..” butiran mutiara bening menggenang di kedua pelupuk matanya.Puncak emosiku pun seketika mencair.Kupeluk tubuh yang berlumuran darah itu dengan perasaan yang penuh haru.Kurasakan ketidakstabilan jiwanya mengalir dalam nafas yang tersendat.
“Jangan tinggalin aku,Cher.Aku mohon”
***********
Sembilan
Aku melangkah di sepanjang koridor rumah sakit Ciptomangunkusumo.Hari ini adalah hari yang melelahkan.Begitu banyak pasien yang aku tangani.sampai-sampai aku lupa kalau aku juga butuh istirahat.Aku melangkah dengan perasaan yang seolah terbawa angin.Sejak kejadian dirumah Gustav kemarin.Aku tlah berjanji pada diriku sendiri.Bahwa aku akan berhenti memikirkan Nathan.Dan mengenai pemuda yang mengaku sebagai dirinya itu.Aku tak ingin ambil pusing.
Andai pun dirinya adalah Nathan yang pernah mengalami operasi wajah dan berganti orang lain.Aku tak akan memikirkanya lagi.Karena bagiku.Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat untuk menghapus segalanya.Cintanya telah berlalu.Dan kini ada Gustav yang menggantikan semuanya.Ia sanggup memberikan semua yang aku inginkan.Dan akupun cukup mampu untuk menyesuaikan diri dengan keadaan yang baru.
“Siang dok,” Seorang suster menyapaku.Aku membalasnya dengan senyum.
Aku terus melangkah tanpa beban.Namun sampai pada laboratorium Radiologi tiba-tiba langkah itu terhenti.Langkah itu membeku ketika kedua mataku menatap sesosok makhluk yang sesungguhnya ingin kulupakan.Ya,dr Nathan Aditya kini berada dihadapanku.Tatap matanya dingin.Seolah hendak menghakimi apa yang telah kuperbuat.
Aku terpaku.Seluruh tubuhku mati rasa.Kini aku mulai yakin bahwa dia adalah bagian dari masa laluku.Masa lalu yang sesungguhnya ingin kulupakan tapi sangat menyakitkan.Sejak kejadian depan ruang operasi kemarin,Sebenarnya aku mulai percaya kalau ia tidak berbohong.Hanya aku dan dirinya-lah yang tahu persis peristiwa penabrakan yang dilakukan oleh Gustav.Meskipun Gustav mengatakan wajahnya berbeda,tapi aku yakin kalau itu benar-benar dia.Aku ingin memeluknya,tapi apa daya dirinya tlah membenci.
Aku tlah terlanjur memberikan cintaku pada orang lain.Dan aku pun tak bisa meninggalkan orang itu hanya demi keegoisan semata.Sedikit banyak ia telah berkorban untukku.Memberikan cinta dan perhatian disela-sela penantianku yang tak berujung.Dia yang menghibur hatiku disaat sepi dan dia pulalah yang selalu menyemangati hidupku sehingga kubisa seperti sekarang ini.
“Aaaaaaaaaaaa…………..!!!!!!” Terdengar suara teriakan disuatu arah.Aku tersentak.Seketika lamunanku terpecah dan refleks kutolehkan wajah kearah sumber suara itu.Seorang anak yang berada dikursi roda terjatuh.Aku berlari dan menghambur kearahnya.
“Sakit……”Anak itu merintih kesakitan.Kuperhatikan keningnya yang berdarah akibat terbentur pinggiran lantai koridor.
“Sayang….,bertahan ya…..” Aku mencoba menggendong anak itu.Namun…,”aaaaaa…..” aku tak cukup kuat melakukanya hampir saja anak itu terjatuh hingga akhirnya.
“Sini….,biar aku yang bawa….”
Musim terhenti dimusim salju.Aku terdiam menatap Nathan yang tiba-tiba hadir.
“Cheryl……..!!!!”
Aku tersentak dari panjangnya lamunanku.Kulihat Nathan yang sudah berdiri sambil menggendong anak itu.
“Ayo…tunggu apa lagi”
“E…eeee,Iya” Tanpa pikir panjang akupun segera beranjak.Kami berdua segera membawa anak itu keruang perawatan.Nathan meletakkanya diatas tempat tidur sementara aku menyiapkan obat-obatan.
“Sini biar aku yang bersihkan” Nathan meminta antiseptik yang berada ditanganku.
“Auuuuu,sakit Om….” Rintih anak itu seraya menatap kearah Nathan.
“Iya sayang.Ini biar luka kamu nggak infeksi,mana obat dan perbanya…”Nathan menoleh kearahku.Aku menyerahkan obat dan perban kepadanya.Nathan memberikan obat.Sedang kini aku membantu membalut lukanya dengan perban.
“Cher,Gunting…..” Aku begerak kearah meja yang tak jauh dari situ.Kuambil sebuah gunting operasi dan kuserakan kepada Nathan.
“Ini….,Auuuuu” Tiba-tiba aku tersandung.Seketika tubuhku oleng dan kemudian
“Aaaaaaaaa………” Sebuah teriakan keluar dibibir Nathan.Keringat dinginya mengucur deras dan seketika akupun tersadar.Bahwa gunting operasi tipis nan tajam yang berada ditanganku telah membuat lubang ditangan kirinya.
Aku refleks mencabut gunting itu dan sekali lagi kedua telingaku harus mendengar Nathan berteriak
“Aaaaaaaaa……”
Nathan terhempas pada sebuah kursi.kali ini keringatnya lebih deras lagi.Sambil meringis kesakitan ia pun beranjak.
“Kamu selesain perban anak itu,Aku akan keruangan sebelah” Nathan berlalu meninggalkanku.Sementara aku buru-buru menyelesaikan perbanan yang tinggal setengah lagi.
************
Usai mengobati dan menyuruh suster untuk membawa anak itu kembali kekamarnya.Aku pun beranjak dari ruang perawatan.Dari ruang itu aku bergerak kearah kiri ketempat dimana ruangan ku berada.Namun tepat pad asebuah ruangan yang terletak disebelah ruang operasi.Tiba-tiba langkahku terhenti.Aku menyaksikan Nathan yang tenga berusaha membalut lukanya.
Seketika rasa bersalahkupun memuncak.Gara-gara aku ia jadi seperti itu.Denagn langkah pasti akupun segera menghampiri dan membalut lukanya.Aku terus membalut luka itu tanpa mempedulikan tatapan Nathan yang seakan membeku.Ia tertegun menatapku.Entah perasaan apa yang tenga menguasainya.Yang jelas.Aku tak ingin bila rasa bersalah terus-terusan menderaku.Aku sudah banyak bersalah padanya.Dan aku tak ingin memperpanjang daftar kesalahan itu.
Usai membalut luka itu akupun berbalik.Aku bermaksud segera meninggalkan tempat itu.Namun…,…….
“Cher……” Kurasakan tanganya yang hangat mencekal lenganku.Aku terpaku kurasakan perjalanan waktu yang terhenti seketika.Bathinku teriris.Tak ingin aku merasakan sikasaan cinta yang berat ini.Ingin rasanya aku segera pergi.Namun kakikupun tak cukup kuat untuk melangkah.
“Aku yakin kalau ini kau.Tapi semua sudah berakir.Terlalu banyak hal yang kita alami”
“Kau boleh saja mengakirinya.Tapi aku tak akan pernah berhenti berharap.Aku tak akan membiarkan Gustav bahagia diatas penderitaanku.Tidak akan pernah” Suara Nathan perlaan menghilang.Seiring dengan lepasnya genggaman tanganya.
Aku pergi meninggalkan tempat itu dengan sejuta perasaan bergemuruh.Hancur hatiku dibuatnya.Lelah rasanya hati ini untuk berfikir.Aku tak kuasa membohongi perasaan bahwa aku masih sangat mengharapkan cinta dan dekapan kasih sayangnya.
Andai saja aku seorang yang egois pastilah kini aku tlah bersama denganya lagi.Namun apa daya kuhanya insan biasa yang tak ingin ada yang terluka meskipun sejujurnya.Hati kami sama menderitanya.
**************

Your rating: None Average: 5.7 (3 votes)
dikirim lovely_luna 18 minggu 4 hari yang lalu
Tag: