Puluhan langkah disertai suara para remaja mulai terdengar riuh menuju tempat itu. Motor dan mobil pun mulai berlalu-lalang di jalanan yang mengarah ke gedung tua berwarna hijau yang terletak di seberang sungai yang amat keruh itu, yang merupakan gedung sekolah yang dibangun pemerintah saat Indonesia baru merdeka. Sang Mentari masih enggan menampakkan diri, beberapa orang yang berjalan menuju sekolah juga tampak masih belum tersadar dari mimpinya semalam. Naya berjalan diantara kerumunan orang yang pergi menuju sekolah itu. Sudah hampir setahun Naya bersekolah ditempat itu. Awalnya ia memang tak suka, namun sekarang ia malah ketagihan untuk pergi ke sekolah karena ingin bertemu teman dekatnya yang satu kelas, dan baru ditemuinya ketika masuk smu.
Teman sekelas Naya memang dekat dengannya karena ia mudah bergaul, pandai, ceria, dan mempunyai kharisma yang tidak dimiliki semua orang. Naya juga dikenal sebagai anak yang perhatian sehingga teman-temannya percaya padanya dan sering menceritakan keluh-kesah mereka pada Naya. Begitu Naya masuk ke kelasnya, ia langsung bergabung dengan teman-temanya yang asyik mengobrol di pojok belakang kelas. Mereka begitu asyik berbincang-bincang sehingga tak terasa waktu telah menunjukan pukul 07.00, seketika itu juga bel berbunyi sehingga ia serta teman-temannya segera berhamburan menuju tempat duduk mereka masing-masing.
Pelajaran fisika dimulai, pelajaran ini merupakan satu dari sedikit sekali pelajaran yang membuat seluruh anak di kelas itu tenang dan konsentrasi. Biasanya saat pelajaran dimulai, selain mata pelajaran fisika, matematika, dan kimia, semua anak mulai tidak keruan. Tak ada yang bisa berkonsentrasi lebih dari 10 menit, bahkan ada yang langsung meng-gosip ketika pelajaran baru dimulai. Bukan hanya itu saja para siswa-siswi di sekolah itu bahkan sudah membawa persiapan untuk memerangi kebosanan selama pelajaran berlangsung. Ada yang membawa makanan, handphone dangan tekhnologi canggih, music player, dan beberapa anak yang sangat kreatif membawa spidol dan buku special untuk menyalurkan hobi mereka menggambar berbagai jenis ekspresi guru, ada juga yang sengaja tidak mengerjakan PR dari rumah dan mengerjakannya ditengah pelajaran karena menurut mereka mengerjakan PR di tengah pelajaran membuat adrenaline mereka meningkat seperti saat naik roller coaster di taman hiburan.
Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 10.00, yang artinya para murid bisa beristirahat dari kepenatan pelajaran sejenak. Salah satu teman sekelas Naya menghampiri Naya, Andry namanya. Andry mengahampiri Naya dengan senyumnya yang khas.
“ Nay, aku mau bicara privat denganmu ,” ucap Andry.
“ Ada apa ? Kamu ingin berbicara soal apa ? “ jawab Naya.
“ Aku ada masalah. Ada baiknya kita berbicara di tempat biasa, disini terlalu banyak yang mendengarkan obrolan kita, “ ujar Andry.
“ Baiklah ,” jawab Naya.
Mereka berdua berjalan ke lorong menuju taman sekolah. Ketika sampai disana, mereka berhenti dan duduk di kursi yang berada persis menghadap taman sekolah.
“ Ada apa ? Kamu membuat masalah dengan siapa ? ” tanya Naya.
“ Aku sedang ada masalah dengan Abang Rustam, aku masih berhutang barang yang kemarin. Aku masih belum dapat uang dari ayahku…” ujar Andry.
“ Bang Rustam ? Maksudmu bandar narkoba yang biasa nongkrong di dekat café seberang ? Kamu masih menghisap ganja??!!!! ” seru Naya.
“ Aku tahu ini salah, Nay. Tapi aku tidak bisa berhenti !! Aku butuh pertolonganmu. Maukah kamu meminjamkan uang padaku ? Aku butuh uang itu, besok aku ganti. Bang Rustam memaksaku membayarnya hari ini, uang di tabungan yang diberikan ayahku sudah habis. Ayahku bilang besok akan ia transfer. Aku janji akan membayarnya besok, Nay. Aku tidak tahu harus cerita kepada siapa selain padamu.”
Sesaat keheningan yang mencekat meliputi tempat itu, Naya memandang Andry lekat-lekat. Mereka berdua membatu beberapa saat. Kemudian terdengar helaan nafas Naya.
“ Baiklah, sekali ini saja ku beri pinjaman. Lain kali, kuperingatkan kau, jangan sekali-kali pernah menghisap benda haram itu lagi, atau kau mungkin akan kehilangan temanmu ini, “ jawab Naya sambil memberikan sejumlah uang.
“ Terimakasih Nay, aku sangat bersyukur mempunyai sahabat seperti engkau. Kau memang sahabatku yang paling mengerti diriku, Nay….,” ujar Andry.
***
Di SMAN Luar Biasa, tempat Naya bersekolah, para siwanya memang rata-rata berasal dari keluarga yang mampu. Pergaulan siswa-siswinya tergolong “kelas kakap”, mereka terbiasa nongkrong di deretan kafe yang berada tak jauh dari SMAN Luar Biasa. Andry sepulang sekolah nongkrong di salah satu kafe di dekat sekolah mereka, seperti biasanya . Ia telah mengatur perjanjian dengan Bang Rustam sebelumnya. Bang Rustam mempunyai tubuh kurus kering, di wajahnya bisa kita temui bekas jahitan yang melintang sepanjang 5 cm diantara batang hidungnya dan tubuhnya dipenuhi tato. Bang Rustam melihat Andry dan tersenyum dengan senyumnya yang mencerminkan rasa senang di wajah liciknya. Andry menghampiri Bang Rustam dan duduk di hadapannya. Andry lalu memberikan uangnya pada Bang Rustam untuk melunasi utangnya, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Bang Rustam segera menerimanya dan menghitung jumlah uangnya. Seulas senyum puas tergambar di wajahnya setelah ia selesai menghitung uang itu.
“ Ini baru namanya jantan, pria sejati. Kalau kau cepat membayarkan uang ini aku tak perlu mengancammu seperti tempo hari, kau taulah di dunia ini uanglah yang berkuasa, “ ucap bang Rustam.
“ Saya pulang duluan, Bang, “ jawab Andry datar.
“ Eh, ada barang baru. Tumben kau tak mengambilnya. Sekalian aku mau ajak kau ikut berbisnis. Aku mau kau bantu aku memasarkan barang ke teman-temanmu. Biar mereka ikut merasakan nikmatnya dunia kalau memakai barang kita.”
“ Saya insaf, Bang. Saya nggak mau menghisap ganja lagi. Takut masuk neraka.”
“ Insaf?? Hahahaha… kalau kau bertahan sampai nanti malam tak menghisap ganja, saya menyerah dan tak bakalan menawarkan barang padamu lagi. Taruhan kau akan mencariku ketika malam tiba. Kalau kau mencariku aku ada di Kemang. Aku akan kasih gratis untukmu khusus nanti malam tapi kau harus membantuku mengedarkan barang kita ke kawanmu. Aku tak bakal jual barang ke kau kalau kau tak mau Bantu aku. Pikirkanlah baik-baik, aku bahkan akan kasih kau bonus ecstassy kalau kau datang.”
****
Hari sudah hampir gelap, rasa cemas, emosi, lelah, dan sakit mulai menggerogoti tubuh Andry. Kepalanya sakit, ia sudah berusaha keras menahan siksaan yang ia rasakan, tetapi tubuhnya tidak menurutinya, sekarang ia berada di mobil sport merahnya, mobil itu melaju dengan kecepatan abnormal ke tempat Bang Rustam. Bang Rustam yang melihat mobil Andry tertawa, Andry yang sudah hampir tak sadar berlari ke arah Bang Rustam. Bang Rustam langsung memberikan apa yang dibutuhkan oleh Andry, Andry menyerah terhadap janjinya, ia memilih menjadi budak setan.
Naya merasa gelisah, sahabatnya Andry, sudah tidak masuk hampir seminggu. Ia juga tidak bisa menghubungi Andry seminggu ini. Ia tidak tahu kabar Andry setelah ia meminjam uang seminggu lalu. Ia akhirnya berencana mencari kabar mengenai Andry. Sepulang sekolah Naya bertandang ke tempat nongkrong Andry biasanya. Alhasil, teman-teman Andry yang lain memberi informasi yang mengejutkan Naya. Mereka mengatakan bahwa Andry sekarang adalah anak buahnya Bang Rustam. Naya menanyakan tempat Andry sekarang dan segera bergegas menuju tempat Andry menjual barang haram itu.
Naya sampai di daerah tempat Andry mengedarkan narkoba. Baru berjalan 20 meter, ia melihat sosok Andry dari kejauhan. Ia menghampiri Andry yang memberikan kantong kertas coklat ke seorang pemuda di dekat mobil hijaunya. Naya berjalan kearah Andry yang berdiri sendirian setelah ditinggalkan peuda itu, Andry belum menyadari kehadiran Naya. Naya berdeham untuk menunjukan keberadaannya persis di belakang Andry. Andry berbalik dan terkaget-kaget dengan sosok yang dilihatnya. Ia mengajak Naya memasuki mobilnya. Naya segera masuk ke mobilnya dan meminta kejelasan. Andry berusaha memikirkan sesuatu untuk menjawab Naya, sambil mengemudikan mobilnya.
“ Aku minta maaf, Nay. Tapi aku gak bisa menepati janjiku. Masalahnya bukan segampang membalikan telapak tangan. Ini hidupku, Nay. Bukan kamu yang menjalankannya, aku saja tak sanggup berbuat apa-apa, apalagi kamu. Aku harap kamu mengerti posisi aku, “ ujar Andry.
“ Aku tahu, tapi kamu anggap aku, yang katamu sahabatmu, apa??! Aku bosan dengan tingkahmu, muak, kalau kau tak berubah mulai saat ini jangan anggap aku sahabatmu lagi. Jangan datang ke rumahku atau pun menyapaku. Aku cuma ingin kau lebih baik kalau kau tak menggunakan narkoba. Apakah kau tidak tidak menyayangi ibumu yang sekarang ada di surga? Aku tidak mau di cap sebagai teman seorang Bandar narkoba. Selama ini aku mengharap engkau berubah, aku berusaha tetap mendukungmu, walaupun orangtua serta orang-orang disekelilingku menyuruhku agar tidak berteman dekat dengan pengguna narkoba sepertimu, aku meyakinkan mereka bahwa kau akan berubah. Tapi nyatanya engkau malah berubah jadi pengedar narkoba. Aku muak dengan masalah yang kau buat sendiri, aku tak mau bertemu denganmu selama engkau belum sadar, pilihlah sendiri jalanmu. Aku ini bukan siapa-siapa bagimu. Turunkan aku di lampu merah depan.”
***
Sudah kira-kira dua bulan ketika Andry dan Naya putus hubungan. Hidup Andry sekarang tambah kacau, ia tidak tahu apa yang harus diperbuatnya agar kehidupannya kembali seperti sedia kala. Ia akhirnya melarikan diri dengan pergaulannya yang semakin hancur. Ia menghilangkan semua kecemasan dan kegundahannya dengan obat-obatan haram itu. Ia sekarang menjadi salah satu pengedar narkoba yang terkenal di daerah itu. Ia tidak punya rasa takut karena obat-obat itu membiusnya. Ia sudah mencoba semua jenis narkoba, bahkan dosis yang ia butuhkan semakin tinggi. Ia di keluarkan dari sekolah. Ia juga diusir ayahnya dari rumah. Hidupnya tak berharga lagi. Ia menyesal atas semuanya namun penyesalan itu sudah terlambat. Ia bahkan sudah kehilangan sosok yang biasa mendampinginya, sahabatnya Naya. Ia hanya ingin lenyap dari dunia ini.
***
Keesokan harinya Naya mendengar kabar yang mengejutkan dirinya. Kabar ini mengenai Andry, sahabatnya dulu. Ia selama ini terus bertanya-tanya tentang kabar Andry, namun kali ini ia malah dikejutkan dengan berita kematian Andry. Salah seorang teman sepergaulan Andry, sengaja datang pagi-pagi ke sekolah untuk menyampaikan surat yang ditemukan di genggam erat oleh tubuh Andry ketika Andry ditemukan telah terbujur kaku tak berdaya. Naya menangis sejadi-jadinya pagi itu, di depan pintu gerbang SMUN Luar Biasa. Ia teringat kenangan indah yang dihabiskan bersama sahabatnya itu. Ia pingsan, dan dibawa teman-temannya ke UKS SMUN Luar Biasa. Surat dari Andry itu diselipkan di tasnya oleh pemuda yang menyampaikan berita duka itu pada Naya. Naya selama beberapa jam. Ketika terbangun di atas kasur UKS sekolahnya ia mengingat lagi apa yang terjadi dengannya. Kepalanya masih sakit dan airmata terus mengaliri pipinya yang basah. Ia merasa sangat bersalah atas kematian Andry yang bunuh diri dengan mengkonsumsi obat terlarang berbagai jenis sekaligus, Andry overdosis namun hal itu pasti disengaja olehnya karena tidak mungkin seseorang yang tahu akan menggunakan narkoba membuat surat sebelumnya.
Naya membuka amplop surat itu, di amplopnya tertulis “tolong berikan pada sahabatku Naya di SMUN Luar Biasa”. Perlahan lahan matanya menyusuri tulisan di kertas itu, air matanya mengalir karena isi surat itu:
Untuk sahabatku Naya,
Naya terimakasih atas kebaikan yang kamu berikan selama ini kepadaku. Terimakasih mau menolongku menghadapi semuanya. Terimakasih atas perhatian tulus yang kau berikan padaku. Terimakasih atas waktu yang kita lewati bersama. Aku tersadar bahwa kau adalah bagian hidupku, satu-satunya orang yang bisa mengontrol hidupku, aku pasti telah menyimpang terlalu jauh tanpa kamu. Tuhan pasti telah menghukumku karena keegoisanku. Aku telah menyia-nyiakan kehadiranmu di dekatku. Aku bahkan tak mampu mengungkapkan isi hatiku yang terdalam padamu. Selama ini aku membohongi perasaanku karena takut kehilanganmu. Terimakasih Malaikatku, terimakasih atas semuanya. Maafkan aku dewiku. Aku berharap kita bertemu saat dunia, aku, dan semuanya telah berubah. Selamat tinggal Bidadari rahasiaku. Aku sangat menyayangimu. Aku berharap kau tetap menjadi terang matahari musim semi yang menyinari orang disekitarmu di dunia yang menjeratku ini. Semoga kau berbahagia selamanya.
Sahabatmu,
Andry
Keesokan harinya Naya pergi ke makam Andry. Matanya masih sembab karena menangis semalaman. Ia membawa rangkaian bunga segar dan air di kendi keramik. Ia memandangi makam Andry, tanahnya di makamnya masih basah, masih merah. Air mata mengalir di balik kacamata hitam yang dikenakan Naya.
“ Selamat tidur, sahabatku, ksatria pujaan rahasiaku, aku akan selalu mengenangmu, “ bisik Naya sambil menaburkan bunga diatas makam Andry. Kisah persahabatan mereka telah berakhir dengan meninggalkan torehan luka yang berbekas di hati selamanya.
Tag:







