Di Tepi Danau Toba, Aku Duduk dan Menagis

56
points
"

Judulnya diadaptasi dari "By the River Piedra, I Sat and Wept", Paulo Coelho's work.

"

Di tepi Danau Toba, aku memandangi profil wajahnya dari samping. Setelah sepiring nasi dengan lauk ikan mujaer, sambel belacan, dan tumbukan daun ketela -khas Parapat- memasuki sistem pencernaanku, aku bisa memandangi wajahnya lebih lekat.

Sudah sembilan tahun yang lalu, sejak terakhir kali kami bertemu. Sekarang dia sudah berubah, menjadi lebih dewasa. Garis mukanya tegas, badannya meninggi seratus delapan puluh senti dan tegap, segaris kumis tipis melintang teratur di atas bibirnya. Yang masih tinggal hanya satu: rambut lembut berbelah tengah, masih sama dengan model rambutnya kala SMP.

Dia tidak pernah tahu kalau aku pernah memendam rasa. Bukan sekedar teman. Dan aku membiarkannya dalam ketidaktahuan, karena itulah kunci aku masih bisa bercakap akrab dengannya.

Sayangnya, kami bertemu lagi, dengan isi pembicaraan yang lebih dewasa, menganalisis hidup, membicarakan misi, memandang ke depan dan berbagi kepahitan,..

dan aku kembali tergetar, dan menyesap air teh manis di depanku untuk mengendalikan denyarnya.

Padahal dua bulan lagi aku menikah dan masih setahun Frater Nuno memunaikan tugasnya di Gereja Tarutung.

Your rating: None Average: 7 (8 votes)
dikirim GodelivaSilvi 28 minggu 6 hari yang lalu
Tag: