Sarjana Pajangan Dinding

24
points

Hari-hariku tak lebih dari sekedar mengisi bangku kosong, kulewati setiap menitnya tanpa tahu ke mana arah tujuan. Bagaikan terombang-ambing di lautan lepas sana. Hanya berkeinginan untuk mengikuti kemana gelombang air hitam kelam akan membawaku hingga badai mereda. Setidaknya itulah yang terjadi padaku beberapa hari ke belakang. Gamang, dan tidak mengerti mengapa aku harus berada di tempat aku kuliah sekarang ini. Hasrat untuk terbebas dari kukungan ketidakadilan nasib tumbuh semakin besar seiring berjalannya waktu yang kuhabiskan di jurusan ini. Namun, sebuah tangisan pilu baru saja menyadarkanku. Membangunkanku dari mimpi untuk menjadi sosok yang kuinginkan. Mimpi untuk bisa memiliki tujuan dan berusaha sekeras mungkin mewujudkan tujuan di hadapan mata, mimpi yang semenjak awal aku tahu tidak akan pernah bisa terwujud.

Tersayat hati ini mendengar seseorang yang kau sayangi sejak lama menangis tersedu seperti itu. Tidak jelas apakah itu tangisan atau hanya gumaman, karena setengah dari tubuhnya tidak dapat berfungsi. Bibiku membisikan di telingaku,
"Kalo lagi sakit gini biasanya emang lebih sensitif."
Memang tidak seperti biasanya kakek menunjukan air matanya yang berharga itu, satu persatu keluargaku berdatangan dan kemudian kakek kembali menangis. Kehadiran seluruh anggota keluarga hari ini di rumah tua yang menjadi satu-satunya harta yang dimiliki kedua pasangan tua ini, membuatnya sangat terharu. Aku hanya bisa berbisik di telinga kakek,
"sabar kek...ini hanya cobaan yang Allah berikan. Kita akan hadapi bersama, kakek pasti sembuh..."
Beliau malah menangis semakin menjadi. Sambil memegang tanganku beliau mencucurkan air matanya. Aku tidak mengerti sebenarnya apa yang beliau tangisi, semua orang ada di sini untuk menghiburnya, untuk memastikan beliau mendapatkan perawatan yang terbaik. Beberapa saat kemudian, pamanku datang. Dan giliran pamanku yang menenangkan tangisan kakek. Aku keluar dari kamar itu, dan bergabung bersama seluruh keluargaku di ruang tengah. Di sana semua orang nampak serius membicarakan kakek.
"Dokter bilang stroke. Dan perlu terapi yang cukup lama."
Beberapa menit kemudian, seorang ahli terapi datang ke rumah. Semua orang yang memenuhi kamar kakek keluar satu persatu kecuali nenek dan pamanku. Pintu kamar di tutup dan kami menunggu dengan cemas di luar. Aku sungguh tidak tega melihat keadaan seperti ini. Aku beranjak dari tempatku, berjalan ke arah tangga. Tepat di bawah tangga menuju lantai dua, terdapat sebuah dinding yang telah dipenuhi foto-foto seluruh anggota keluarga ini. Dari anak tertua hingga cucu yang termuda. Semua foto memiliki kesamaan, seseorang yang memakai toga sedang bersalaman dengan orang lain yang juga memakai toga. Semua ini adalah foto wisuda seluruh anak dan cucu di keluarga ini. Foto kebesaran yang seakan berkata, "Inilah cucuku yang telah sukses menjadi seorang sarjana." Bisa terlihat, bahwa kakek membanggakan semua foto ini, karena semua ini dipajang tepat di dinding yang pertama kau lihat ketika kau masuk ke rumah ini. Kutelusuri satu persatu sejarah kesuksesan keluarga ini. Foto yang terpajang di sudut dinding ini, terlihat sudah menguning. Bahkan tinggal menyisakan dua warna, abu-abu usang dan putih. Jelas itu adalah foto tertua dari koleksi kakek ini. Terlihat kakak tertua dari Ayah, pamanku sedang menjabat tangan rektor universitas tersebut. Senyumnya mengembang diiringi dengan perasaan bangga yang terpancar dari wajahnya. Tentu saja, karena pamanlah yang pertama kali membuat kakek bisa berkata dengan bangganya, "anakku seorang sarjana!!"

Kemudian, foto selanjutnya adalah ayahku. Foto usang dan tidak lagi menampakan kegembiraan di wajahnya. Bahkan senyuman itu sudah lekang termakan waktu. Ayah sudah lupa bagaimana caranya tersenyum, terlebih lagi setelah penyakit ini mendera kakek. Karena beliau menyadari praktis semenjak saat ini ia lah yang akan menanggung semua biaya perawatan kakek. Aku tahu ini teramat berat untuk ayah, namun hal seperti ini tanpa disadari sudah menjadi tanggung jawabnya sejak lama. Lebih karena alasan tidak ada satupun dari semua yang ada di foto ini bisa diandalkan. Foto kesuksesan study mereka hanyalah sebuah gambar, tidak bisa merepresentasikan kehidupan yang terjadi setelahnya. Karena pada kenyataan di depan mata, dari sembilan anak di keluarga ini hanya ayahku yang bisa diandalkan, ironisnya dalam segala hal. Namun, ayah sudah terbiasa dengan keadaan ini. Seperti yang pernah dikatakan dalam film Spider-Man,'In great power comes great responsibility'. Bisa dibilang keadaan ayah tidak jauh berbeda dengan superhero pada umumnya, karena beliaulah yang menyelamatkan keluarga ini setiap kali menghadapi bahaya. Hanya bedanya, ayah tidak harus menggunakan kostum ketat yang terlihat tidak nyaman itu. Anyway, kembali ke foto yang terpanjang di dinding. Aku sampai ke foto yang terpajang di bagian terbawah dinding. Itu foto diriku semasa taman kanak-kanak. Terlihat wajah luguku yang masih berumur lima tahun kala itu, tersenyum namun tidak tahu tersenyum untuk apa. Karena walaupun saat itu aku sedang mengenakan toga, tapi toh itu hanyalah acara kelulusan anak TK. Hanya perayaan untuk melepas masa anak-anak yang masih harus bergantung pada mama ke masa anak-anak yang mandiri. Ah, masa itu sudah kutinggalkan di belakang, tepatnya 15 tahun yang lalu. Seluruh penjuru di dinding ini sudah penuh sesak, nampak tidak menyisakan satu tempat untukku untuk beberapa tahun ke depan. Lagipula aku pun tidak berniat menyelesaikan studiku. Tentu saja, bagaimana bisa aku berkeinginan menyelesaikan studiku jika bahkan aku pun tida menginginkan kuliah di tempatku sekarang ini. Diterimanya aku di jurusan ini adalah sebuah kecelakaan. Aku tidak menginginkannya. Dan semenjak saat itu hari-hariku bagaikan berada di neraka. Bayangkan saja, apa yang kau rasakan jika kau dipaksa untuk melakukan hal yang paling kau benci. Bahkan aku sering kali mengatakan,"sial, aku menjerumuskan diriku sendiri ke dalam hal yang paling kubenci." Tidak usah kusebutkan di jurusan apa aku berada sekarang.

Teriakan kakek mengehentakan lamunanku. Kulihat kakek keluar dari kamar dibopong oleh beberapa orang pamanku. Entah apa yang terjadi, namun semua orang beranjak dari tempatnya untuk memberikan ruang pada kerumunan yang membopong kakek. Aku semakin tidak tega melihatnya tidak berdaya seperti itu. Karena biasanya aku melihat kakekku sebagai sosok yang tegar, kuat dan tidak membutuhkan pertolongan orang lain. Jika dirinya ingin pergi kemanapun maka dia akan berjalan sendiri. Jika dia menginginkan sesuatu maka ia akan mendapatkannya tanpa bantuan orang lain. Beliau adalah sosok yang seharusnya menjadi panutan semua laki-laki. Dengan perjuangannya yang hanya seorang pekerja di sebuah bengkel besi dia dapat menyekolahkan kesembilan anaknya hingga strata tertinggi. Namun sekarang, penyakit ini membuatnya sungguh tidak berdaya. Bahkan untuk berjalan pun beliau harus dibopong oleh beberapa orang. Miris hati menyaksikan kenyataan ini.

Seketika tujuan yang selama ini kucari muncul di dalam pikiranku. Begitu jelas tergambar sehingga aku tidak mungkin mengabaikannya. Suatu gagasan yang membangunkanku dari tidur panjangku. Tujuan yang akan menuntunku untuk menyelesaikan studiku di tempat yang tidak kuinginkan. Ilham ini hadir bersamaan dengan munculnya kembali ingatan di saat kakek berkata padaku,
"kakek pengen sekali melihat kamu jadi sarjana, sukses dan kemudian bisa membahagiakan orang tuamu."
Saat itu aku hanya menjawab dengan berkelakar,"tentu saja aku akan sukses, asal kakek jangan lupa menyisakan tempat untuk fotoku di dinding."
Seharusnya aku menyadari semenjak awal, jikapun aku tidak menyukai hari-hariku di tempat kuliah. Namun masih ada seseorang yang memberikan harapan yang teramat berharga bagiku. Harapan yang bisa kujadikan tujuan untuk menyelesaikan kuliahku. Harapan yang bisa menjadi penopang bagiku untuk melewati hari-hariku yang bagai neraka. Saat itu aku berjanji hari-hariku tidak akan lagi menjadi 'hari-hari mengisi bangku kosong'. Biarlah kulewati sisa semester di perkuliahanku dengan satu keyakinan, bahwa semua ini kulakukan demi menjadi seorang sarjana pajangan dinding bagi kakek.

Your rating: None Average: 6 (4 votes)
dikirim ThePretender 28 minggu 6 hari yang lalu
Tag: