Dongh Man Panna : part 4

"

Narebae Naburae...? Apa itu ?!

"

Dongh Man Panna
(Penguasa Naga)

Raojhin kesal, bidikannya meleset lantaran sosok Ni Ratma jauh lebih cepat menghindar.

Sekali lagi ia lebih berkonsentrasi pada suara-suara yang tertangkap pendengaran. Ketika satu kelebat cepat tiba-tiba menyibak matanya, ia langsung menyabetkan pedang di tangan kanan.

Ternyata Ni Ratma menangkap serangan Raojhin. Lebih gesit dan Raojhin dalam keadaan tidak siap melayangkan serangan pedang.

Bugh…!!!

Satu pukulan ke tulang dada membuat Raojhin tersungkur dan hampir jatuh. Saat tersadar, sebilah pedang kanannya telah beralih ke tangan Ni Ratma.

Raojhin ingin bangkit sambil menahan bekas hempasan tapak Ni Ratma di dadanya. Namun ia tak berani beraksi lagi tanpa sebilah pedang pun. Sementara Ni Ratma mendekatinya yang sedang setengah terpuruk di tanah berserakan daun-daun bambu kering setebal tumit.

Ni Ratma menodongkan ujung pedang tepat di depan sepasang mata Raojhin.

"Bangkit! Kau merasa dirimu setangguh apa?" geram Ni Ratma menarik lengan Raojhin yang enggan mengikutinya.

"Pegang kuat-kuat gagangnya!" perintah Ni Ratma dan memaksa Raojhin memegang pedang kanan.

"Bukan hanya tanganmu yang kuat, berikut juga tubuhmu…jiwamu…dan hatimu!!!" Ni Ratma mendekap dari belakang, menuntun Raojhin bangkit dan memasang kuda-kuda seperti yang diarahkan kakinya, "…juga nyalimu…," lanjut Ni Ratma mendesis di dekat telinga.

Krak….krak...

Gemertak tulang jemari Raojhin yang menggenggam pedang terasa seperti meretak semua lantaran dalam genggaman dua kepalan Ni Ratma yang kuat. Tak bisa lepas sesakit apapun ia menahannya.

"Keluarkan tenagamu!!" seru Ni Ratma tegas. Dan sekali lagi berseru kaliamt yang sama.

"Buang bebanmu!! Fokuskan hanya pada jiwa pedang ini!!" kata Ni Ratma tanpa melepas jemari Raojhin yang menggenggam pedang kanan. Seiring nafas pemuda itu memburu, pedang terayun-ayun cepat ke banyak arah.

"Lempar!!! lempar!!! Keluarkan tenagamu seperti melempar kebencianmu ke semua arah…seperti ini…seperti ini!!!" Ni Ratma masih mendekap punggung Raojhin yang sempoyongan mengikuti gerakan berputar Ni Ratma.

"Buang!!!" satu teriakan lantang bersamaan ujung pedang kanan di genggaman Raojhin, menjurus searah dengan pandangan mata jatuh ke dapan dan...

Crang!!!

Dua orang itu berhenti cepat dalam posisi lutut kaki kiri sama-sama terantuk tanah dan kaki kanan menahan berat badan masing-masing.

Ada sepasang pisau pipih yang muncul dari pangkal gagang di tangan Raojhin, seperti lempengan baja tipis yang tajam dan bersimbol dua kepala naga, sangat bening keperakan sampai-sampai ia bisa melihat bayangan matanya sendiri dari pantulan pisau-pisau itu.

Sekali lagi Ni Ratma menuntun Raojhin agar mengayunkan pedang kanannya ke satu arah.

Sing….!

Seiring dua pisau itu melesat keluar, terpisah dari pedangnya, sekelebat dan menancap ke satu batang bambu besar.

Dentingan sekali namun cukup keras gemanya sebelum suasana kembali sunyi. Dan pemandangan itu membuat mata Raojhin enggan berkedip selama menyaksikan hal baru dari pedangnya sendiri. Bodohnya lagi, ia bahkan tidak pernah tahu jika pedangnya bisa mengeluarkan senjata rahasia segesit itu.

"Hirup nafas sekuat yang kau bisa, dan mengarah pada pisau itu!!" suruh Ni Ratma dengan tatap mata kea rah pisau yang masih menancap di bambu.

Pisau itu seperti tertarik magnet dari bodi pedang kanan di tangan Raojhin, melesat kembali dan masuk tepat ke pangkalnya diiringi suara sama keras seperti saat pisau itu meluncur keluar.

Kraaak…..krak….Krieeeeeet……

Bambu berderit melengking.

Ctak…Ctak….Ctak!!!

Disusul puluhan kali suara itu beruntun saat batang bambu yang sepintas lalu terkena sasaran pisau dari pedang Raojhin. Dan bambu itu nyaris terbelah jadi dua meski tak sampai ambruk.

"Bayangkan saja jika pisau itu mengenai tulang manusia…," satu kalimat Ni Ratma mengejutkan keterpanaan Raojhin. Sembari ia melepas dekapan ke punggung pemuda itu.

Ni Ratma melirik ke arah pedang kiri Raojhin yang masih tertancap ke bambu lain. Ia merentangkan sebelah lengannya ke sana, kemudian menghirup kuat, menghirup lebih kuat lagi sampai terdengar mendengus.

Takk….!

Pedang yang menancap itu tertarik keluar dari bambu dan langsung melesat ke genggaman tangan Ni Ratma pada gagangnya.

"Tangkap ini!!!" Ni Ratma melempar keras pedang itu pada pemiliknya.

Tepat dan tangan sekali Raojhin menangkap pedang kirinya.
"Ulangi jurus itu!!!" perintah Ni Ratma sebelum beranjak jauh dari Raojhin. Selanjutnya, pemuda itu sudah disibukkan oleh jurus-jurus barunya, semakin lihai setelah mencoba berulang-ulang.

Gemercik riak sungai terdengar tenang. Waktu menjelang tengah siang tidak membuat Raojhin terlalu gerah karena rimbunanya hutan bambu telah melindungi dirinya dari panas siang.

Raojhin telah menyeka wajah sekaligus minum air sekenyangnya. Saat ia melihat ke arah Ni Ratma yang tidur, bersandar di satu bambu meliuk ke permukaan sungai.

"Aku malu pada diriku sendiri. Andai ada kesempatan untukku mengakui…inilah saatnya aku mengakui kebodohanku, Saudara Guruku!" ucap Raojhin tak membuat mata Ni Ratma terbuka. Pria tua itu masih tek bergeming di atas bambu yang melengkung ke sungai.

Lutut Raojhin bertekuk. Ia pun menunduk sambil terpejam selama mungkin.

"Maaf…," satu kata lirih akhirnya terucap dari bibirnya. Namun saat matanya terbuka kembali, soosk si Tua Ni Ratma sudah tak berada di bambu itu lagi, hanya bambu itu saja yang terantuk-antuk ke permukaan sungai. Ia bingung ke sekeliling. Tak ada jejak Ni Ratma bergerak.

Tiba-tiba ada gerakan ringan dan gesit tertangkap telinganya. Ketika Raojhin menoleh, sosok Ni Ratma sudah berdiri beberapa jengkal saja di belakang.

"Kau…," Raojhin berbalik meskipun tak berniat untuk bangkit. Ia masih bersimpuh di bawah kaki Ni Ratma yang berdiri di hadapannya sekarang.

"Kau masih sangat muda…terlalu muda untuk mengerti hidup yang sangat keras. Emosi mengecohmu…dan semakin kau mengkutinya, hatimu semakin tertutup sampai kau tersadar bahwa kau sudah berubah menjadi orang jahat, " kata Ni Ratma dengan lengan bersila di depan dada.

"Aku sangat menyesal…akibat ulahku… seorang temanku mati…juga Atta-ku…," bola mata Raojhin yang jernih berkaca-kaca. Tak sanggup ia melanjutkan kalimat dalam guncangan hatinya sendiri. Pundaknya agak berguncang sambil tertunduk dan menahan airmata sekuatnya agar tidak keluar.

"Tidak semua airmata memalukan. Siapapun yang lihai menyembunyikan airmata, bukan berarti lebih tangguh dari yang terlihat. Sebaliknya, airmata bisa menyejukkan hatimu, mambasuh luka lama, dan membuatmu ingin jarang menangis lagi," Ni Ratma mengangkat muka Raojhin.

Air mata mengalir perlahan dari sudut-sudut matanya yang sipit dan berbulu mata cukup lentik untuk kalangan kaum pria.

"Tetapi…bukan berarti musuh-musuh yang sangat kaubenci itu tidak akan menerima perhitungan. Mereka tetap akan menuai ketidakadilan yang telah mereka lakukan. Mulailah untuk memberi orang-orang itu pelajaran sampai jera. Bukan karena kau mendendam…tetapi karena kau manusia yang punya hati untuk melindungi orang-orang sekitarmu…semampu yang kau bisa," lanjut Ni Ratma bersamaan Raojhin berhenti menangis.

"Dan tidak perlu khawatir, semua yang pernah hilang dalam hidupmu…pasti akan terganti…," Ni Ratma menyentuh lembut dada Raojhin, "…dengan sesuatu yang lebih baik."

"Apa yang harus aku lakukan sekarang, Guru?" tanya Raojhin dan memulai memanggil Ni Ratma dengan sebutan 'guru'.

Ni Ratma berpaling sampai beberapa langkah, tampak seperti mengulur jawaban.

"Jangan terburu-buru ke kota, karena kau perlu sesuatu yang tangguh dan kuat yang akan menemanimu ke sana," jawabnya.

"Lalu? Apa yang harus ku kerjakan di hutan ini?" tanya Raojhin lagi.

Ni Ratma menoleh dan menghentikan langkahnya sesaat.

"Erami saja telur itu, bagaimana?"

"Apa?!" Raojhin mengangkat alis penuh heran. Mukanya yang semula menghiba, berubah masam setelah mendengar jawaban guru barunya.

"Apa aku terlihat seperti induk unggas?" tak ada tanggapan lagi Ni Ratma. Ia juga tidak bisa menolak pekerjaan konyol itu.

Ni Ratma berbalik tanpa tawaran lagi.

(Bersambung)

62.5
Average: 6.3 (4 votes)
dikirim alifwood 17 weeks 1 day yang lalu
Tag: