JAS HUJAN
Irma mengambil sesetel jas hujan dari sebuah hanger, kemarin Mbok Parti ─ seorang pembantu di rumah Irma ─ baru saja membersihkannya dari noda-noda lumpur, kemudian dilemparkan ke atas tas sekolahnya. Irma bersungut-sungut penuh kekesalan. Dia gengsi memakai jas hujan yang dibelikan ayahnya beberapa hari yang lalu. Ingin rasanya dia melempar jas hujan itu keluar rumah. Mata Irma melongok ke luar jendela, bibirnya asyik mencecap segelas ovaltine. Hmm, hujan belum reda juga…
Payung memang sudah tidak menjadi trend akhir-akhir ini, berganti dengan jas hujan yang lebih praktis penggunaan dan penyimpanannya. Tapi berbeda dengan anak-anak muda sekarang, mereka lebih senang menggunakan sweater yang agak tebal. Katanya lebih gaya dan gaul. Itulah sebabnya, kenapa Irma begitu alergi dengan jas hujan. Dia memperlakukan jas hujan bagai sebuah pantangan saja.
Irma kembali duduk, berkutat dengan sarapannya pagi ini. Sepiring nasi goreng dan sebuah telur dadar. Pagi ini Irma malas sekali untuk sarapan, perutnya terasa kurang beres pagi ini. Mulas, melilit dan sangat perih. Semalam dia kebanyakan makan sambal buatan mamanya. Sambel goreng yang sedikit manis tapi pedas sekali.
Mamanya melangkah mendekat. Ia membawa sebuah jas hujan di tangan kanannya.
“Lho, kenapa nggak dipakai jas hujannya?” Tanya mamanya.
“Nggak ah…Mam!” Jawab Irma ketus.
“Memangnya kenapa, Sayang?!” Mamanya bertanya sekali lagi.
“Malu dong, Mam!” Suara Irma meninggi.
“Malu sama teman-teman kamu...” Ledek mamanya sambil tersenyum.
“Ya, iya lah Mam!secara gitu looooh?” Jawab Irma dengan menekuk wajahnya.
“Udah ah, jangan cemberut kayak gitu. Kalau nggak mau bawa juga nggak apa-apa.” Bujuk mamanya. Kemudian ia memasukan jas hujan itu ke dalam tas Irma.
Irma tetap saja cemberut. Kata-kata mamanya telah menyentuh harga diri Irma. Dia pasti jadi badut Ancol di sekolahnya. Bahan tertawaan yang tidak lucu tentunya. Mata Irma masih saja melotot. Irma segera mengambil sepatu kanvas All Star-nya, kemudian memakainya di ruang tamu.
“Mam, aku berangkat dulu. Udah siang nih!” Irma tersenyum sambil mengulurkan tangannya.
“Sebentar. Udah sarapan belum?” Mamanya menyorongkan selembar uang sepuluh ribu-an.
“Udah, Mam. Tapi cuma roti aja.” Jawab Irma, tangannya langsung mengambil uang di tangan mamanya.
“Lho kok, cuma roti aja. Terus nasi gorengnya gimana?” Tanya Mamanya.
“Nasi gorengnya buat Kak Fajar aja, Ma.” Jawab Irma enteng.
“Huh, dasar… kalau tahu nggak dimakan, tadi nggak Mama bikinin aja sekalian!” Sungut Mamanya. Dia berniat menjitak Irma, Tapi dia mengurungkan niatnya itu, lalu kembali tersenyum manis pada Irma.
“Irma berangkat sekolah dulu ya, Mam.” Kata Irma.
“Hati-hati di jalan, Irma.” Jawab Mamanya.
Irma melangkah keluar rumah, memulai hari ini dengan kelabu. Udara dingin dan butiran hujan langsung menyergap Irma, menusuk hingga ke dalam tulang belulangnya. Dia kerap berjingkat, menghindari genangan air yang banyak terdapat di sepanjang gang rumahnya. Pemerintah belum sempat mengadakan perbaikan jalan, sedangkan warga sekitar belum memiliki inisiatif untuk memperbaikinya.
Irma sempat menghentikan langkahnya, matanya menangkap sosok seorang anak kecil terkulai lemah di sebuah emperan rumah kosong. Sebagian seragam sekolah anak itu telah kotor oleh cipratan air hujan. Dia hanya berdiri mematung, tanpa berbuat apapun juga. Sesaat dia merasa iba, tapi kebimbangan merasuk perlahan dalam dirinya. Jika dia menolong anak itu, dia pasti akan terlambat ke sekolah, apalagi hari ini ada ulangan harian. Dia seperti berada di sebuah lautan luas, tak tahu harus bertindak apa.
Irma mengambil keputusan, bahwa ia harus kembali meneruskan perjalanannya ke sekolah. Rasa iba yang dia rasakan tak berbanding lurus dengan tindakannya. Namun inilah kenyataan pahit yang harus dia pilih.
Seorang gadis berlari keluar dari sebuah halaman rumah, berselang satu rumah dari rumah Irma. Kedua tangan mungilnya mengangkat anak kecil yang tergeletak tadi. Dia sama sekali tidak peduli hujan telah mengguyur seluruh tubuhnya. Dia hanya berharap tidak terjadi apa-apa terhadap anak itu. Meski anak itu belum pernah dikenalnya.
-----------------
Ari menggigil kedinginan. Buku-buku jemari Ari terlihat memutih, sedangkan bibirnya terus saja bergetar, menandakan ia tak dapat menahan rasa dingin kali ini. Kepala Ari menengadah, mengamati laju awan-awan hitam di atasnya. Dia berharap seragam sekolahnya yang lusuh, tak basah karena gerimis mulai berubah menjadi lebat. Sebuah asbes kecil terpancang tepat di atas Ari, meski hanya dapat memayunginya untuk sementara waktu, asalkan angin tak sedang bercumbu dengan hujan.
Ari tertunduk memandangi sepatunya yang berlobang, bagian depannya sudah menganga lumayan lebar, membuat bagian dalam sepatunya dipenuhi oleh air hujan yang menyirami kakinya. Ari merasakan sela-sela jari kakinya begitu gatal. Dia tahu kalau kaus kakinya sudah berjamur. Harusnya dia telah menggantinya dengan kaus kaki yang lain. Tapi sayang, dia hanya punya sepasang kaus kaki saja. Adik-adiknya lebih membutuhkan kaus kaki-kaus kaki itu dibandingkan dengan dirinya.
Beberapa menit berlalu, mata Ari menangkap siluet seorang gadis yang berdiri di depan sebuah jendela, gadis itu terlihat asyik menikmati sesuatu dari dalam sebuah gelas. Hal itu membuat iri Ari, kenapa dia tak seberuntung anak itu?! Bukan karena dia tak bersyukur, karena Allah sudah memberikan rizki pada setiap mahluk-Nya sesuai dengan takarannya. Bukan juga dia menyesali hidupnya, dia hanya sekedar ingin merasakan betapa nikmatnya berada di rumah seperti itu.
Ari melihat seorang perempuan berumur setengah baya memasukan sebuah jas hujan ke dalam tas sekolah gadis itu. Kenapa gadis itu tidak memakai jas hujannya? Dia semakin tak mengerti, padahal dia sendiri sudah begitu lama bermimpi untuk memiliki sebuah jas hujan. Pernah suatu kali dia minta dibelikan jas hujan, bapaknya hanya menjanjikannya saja, dan sampai sekarang jas hujan itu belum dia miliki.
“Aku lebih membutuhkannya, Bu! Sayang, Bapak tak pernah membelikanku jas hujan!?” Gumam Ari lirih.
Ari begitu sedih. Air mata sudah bergayut rendah di pelupuk matanya. Dia merasakan aroma ketidak puasan pada dirinya. Andai saja suara batinnya ini dapat didengar oleh ibu itu. Bahkan ia akan berterima kasih sekali jika jas hujan itu sudi diberikan padanya. Tapi apakah ibu itu mau? Yang ada paling-paling caci dan makiannya saja.
“Tapi, aku tak boleh berhenti bermimpi! Bukankah manusia dilahirkan sama? Suatu saat aku juga akan memakai jas hujan seperti miliknya” Kata Ari pada dirinya sendiri.
Mata Ari penuh keoptimisan, meski rasa cemburu hinggap di relung hatinya yang paling dalam. Percaya diri menjadi kunci baginya selama ini. Apalagi semenjak bapaknya minggat dari rumah. Dia bersama ibunya berusaha tetap tegar dalam menghadapi kerasnya hidup. Belum lagi kedua adik-adiknya masih kecil-kecil, dia harus bisa menjadi seorang kakak sekaligus bapak bagi mereka berdua.
Pintu rumah itu terbuka perlahan, gadis itu keluar dari dalam rumah tersebut, sesaat membiarkan pintu rumahnya terbuka lebar. Hati Ari geram. Dia ingin sekali berteriak pada gadis itu, tepat di depan telinganya, memperingatkan bahwa jas hujan itu masih ada yang lebih membutuhkannya. Tapi itu hanya di dalam benaknya saja, sama sekali tak dilakukannya.
“Dasar orang yang kurang bersyukur!” Gumamnya kesal.
Air hujan mulai menyentuh ujung-ujung pakaian Ari, lama-kelamaan semakin melebar. Tubuh Ari mulai bergetar, menggigil karena rasa dingin dan lapar yang terus mendesak di dalam perutnya. Dia ingat kapan terakhir kali menyuapkan makanan ke mulutnya yang mungil itu. Ya, dua hari yang lalu. Hasil mengamennya sudah habis untuk membeli obat, ibunya beberapa hari ini sakit keras. Untung saja ada seorang tetangganya yang baik hati, dia memberikan dua piring nasi dan semangkuk sayur untuk Ari dan adik-adiknya.
Bibir Ari memucat, seputih kapas yang akan dipintal, menandakan dia dalam sebuah penderitaan yang berat. Tiba-tiba pandangan ari mengabur, bercak-bercak hitam mulai memenuhi matanya, lalu gulita menjemputnya sesaat kemudian. Ari terjatuh ke tanah – pingsan – bukan karena kedinginan tapi oleh rasa lapar yang ditahannya dua hari ini.
-----
Sebuah beranda memayungi aku dan dirimu, hangat penuh keceriaan, ditemani secangkir kopi dan beberapa tangkup roti panggang dihadapan masing-masing. Mulutku masih asyik memamah setiap makanan yang memasukinya, kadang terhenti oleh guyonan yang kau ceritakan. Kopi kental buatan ibuku mengalir perlahan di kerongkonganmu, kopi oleh-oleh dari pamanku, kemarin ia baru pulang kampung. Sebatang rokok Djisamsoe berkemeletak, ketika sekerat roti panggang telah kutelan seluruhnya, bersama nyala korek gas yang makin membesar.
Secangkir kopi teraih oleh tanganku yang masih menjepit sebatang rokok itu. Kulihat, matamu tertancap pada seorang anak SD yang sedang berteduh di sebuah rumah kosong. Pikiranku merabai tindakan yang kau lakukan, apakah itu hanya sebuah keisenganmu belaka? Memang aku selalu ingin tahu tentang dirimu. Tentang rahasia keberhasilanmu, tentang keseharianmu, tentang gaya hidupmu, dan tentu saja tentang hatimu.
“Kasihan anak itu, dia begitu kedinginan.” Katamu padaku.
“Memangnya kenapa dengan anak itu?” Tanyaku penuh selidik.
“Kenapa… lihat anak itu dengan seksama!?” Katamu dengan nada menyuruh.
Aku masih saja acuh, bahkan sama sekali tak mendengarkan kata-katamu. Hujan hari ini lebih menarik perhatianku, dibandingkan dengan seorang anak SD yang sedang berteduh di sebuah bangunan tua, betapa egoisnya diriku! Rasa sosial yang aku miliki memang tak sebaik dirimu, itulah yang membuatmu begitu disukai banyak orang. Hal itu tak pernah aku pikirkan sama sekali, apalagi untuk menerapkannya saat ini, saat jaman semakin individual. Kau pernah mengatakan, bahwa seseorang pasti memerlukan bantuan orang lain, meski hanya sebuah bantuan yang kecil artinya.
“Dia begitu kedinginan…”
“Siapa suruh ada di situ?! Bukannya lebih baik sama kita di sini!?” Kataku enteng.
Kau tiba-tiba terkejut, pupil matamu membesar, disertai sebuah dengusan panjang, ketika tubuh mungil anak itu terhempas tak berdaya. Berbeda sekali dengan sikapmu tadi, tenang penuh kedamaian. Tapi kali ini kau begitu khawatir, berkali-kali kau julurkan kepalamu untuk mengetahui keadaan terakhir anak SD itu.
Ponsel kesayanganmu kau lemparkan ke atas kursi, kemudian berlari menuju anak itu. Kau angkat tubuh lemas anak itu, tak peduli hujan mengguyur pakaianmu, hingga basah kuyup. Aku sendiri belum tentu melakukan hal yang telah kau lakukan tadi. Mungkin aku lebih sayang pada bajuku ini, daripada harus menyelamatkan anak itu. Bahkan bisa saja aku tetap terdiam di sini, melihat anak itu menanti ajal di rumah kosong itu.
Kenapa kau rela melakukan itu…
-------
Beberapa hari yang lalu, kau baru saja membeli jas hujan ini. Memang saat musim hujan barang seperti ini sangat diperlukan, apalagi untuk seorang pengendara sepeda motor sepertimu. Kau pernah mengatakan, bahwa kau membeli jas hujan itu dengan harga lima puluh ribu rupiah. Memang tak sebagus jas hujan milikku, tapi tetap berguna untukmu.
Aku membuka bagasi motormu. Warna jas hujan itu masih terlihat baru, meski cipratan-cipratan lumpur telah menghias bagian bawahnya. Aku langsung membawanya ke beranda depan.
“Benar juga, kasihan anak itu! Dia begitu kelaparan….” Kataku sambil menatap Ari.
Wajah Ari penuh keceriaan, sorot matanya tak lagi sendu. Tangannya mulai berani mengambil setangkup roti panggang yang kau tawarkan. Dia tahu kalau kau telah menyelamatkannya. Entah apa yang akan terjadi pada dia, kalau saja kau tak berlari keluar rumahku. Dia bersyukur karena Allah masih mencintainya, dengan memberikan keselamatan padanya.
Aku merasa bersalah. Mataku berkaca-kaca. Penyesalanku memang tak berarti sama sekali, tapi penyesalanku telah membuka pikiranku tentang arti kemanusiaan. Aku takut memandang wajahmu yang cantik, mungkin aku tak layak bagimu, bahkan tak setimpal denganmu. Harusnya aku menghapus ego-ku, semenjak aku bertemu denganmu.
“Dik, ini ada jas hujan dan sesetel seragam sekolah untukmu.” Kataku.
“Terima kasih, Om!” Jawabnya singkat.
“Lebih baik kau ganti bajumu dulu, kemudian lanjutkan perjalananmu ke sekolah. Sepertinya, bel masuk akan berbunyi sebentar lagi.” Katamu penuh kebijakan.
Ari setuju, dia langsung mengganti seragam sekolahnya yang basah di kamar adikku. Beberapa waktu berselang, Ari sudah siap dengan seragam sekolah barunya, pemberian dariku, kuambil dari dalam lemari pakaian adikku. Kau mengambil uang dari dalam saku jeansmu, dua lembar uang seribu rupiah-an. Dia terlihat begitu gembira.
Aku berdiri di ambang pintu, ketika Ari selesai mengenakan jas hujan milikmu, sedikit kebesaran, tapi cukup menahan rinai hujan pagi ini. Beberapa kali kulongokan kepalaku, memastikan kepergian Ari dengan sebuah kelegaan. Hatiku berharap, suatu saat nanti anak-anak seperti Ari dapat menjadi orang yang berguna bagi bangsa dan negaranya, bukan orang –orang yang egois dan rakus pada harta sepertiku. Sosok Ari menghilang di sebuah tikungan, bersama rinai hujan yang tak mereda sama sekali.
Aku tersenyum bangga, kau telah mengajarkan padaku tentang kepedulian pada sesama. Walau hanya dengan setangkup roti, sesetel seragam sekolah bekas dan sebuah jas hujan milikmu. Aku belum tentu bisa sepertimu, begitu peka dengan keadaan disekitarmu. Hmm…sepertinya aku dan tetanggaku, Irma, harus banyak belajar tentang bermasyarakat padamu, siapa tahu aku bisa ngetop seperti kamu…
---------------- SELESAI ---------------









