Pengeran yang mencari Warna Hidup
"Terdapatlah seorang anak raja, yang tak ingin dipanggil sang pangeran, dia merasa sangat tidak cocok dengan sebutan itu. Kalaupun ada yang memanggilnya pangeran, ia
ingin disebut Pangeran kesepian. Entah pula mengapa begitu, ratusan kawan disekelilingnya tak pernah habis bertanya-tanya, apalah lagi kurangnya. Apalagi yang dicarinya? Harta yang takkan habis walau dipakai untuk hidup berfoya sampai seribu tahun,didampingi putri yang sangat cantik bila berdandan tebal, dan kawan yang selalu
mengajak tertawa.
Namun tetap saja, matanya hanya memandang kosong jauh kedepan bila datang tanya : "Apa yang kau cemaskan wahai pangeran ?".."Tak adakah yang dapat membuatmu tertawa keras ?
Kami tak lagi percaya dengan senyummu yang hanya menawar tanya kami"
Jawabnya slalu saja sama : "Aku merasa sepi dibumi sejuta tawa ini, aku merasa jauh berada diujung bumi yang tak pernah kutau ada dimana ujung itu.."Tak bisa sedikitpun kumerasa kebisingan dari suara hati yang tulus.."
Sang putri yang dipercaya sang mertua untuk memberi nafas baru, memberi hidup baru kepada sang pangeran selalu hanya bisa berlagak seperti seorang ibu yang mengasihi anaknya, namun mata dan hatinya tak pernah terlihat demikian. Beruntunglah pangeran memang tak peduli dengan awal perpaduan mereka, yang hanya diikat oleh harta, bukan dengan hati. Kawan-kawannya yang selalu (bisa) tertawa, tak pernah bisa menghadapi situasi yang jauh dari tawa ini, dan hanya bisa bertanya-tanya seperti seorang anak
kecil yang tak tau apa beda benar dan salah.
Dan misteri itupun tak terkuak hingga puluhan tahun..
Terdapatlah seorang gadis dari negeri sebrang, bukan seorang bangsawan, apalagi putri raja. Gadis yang sempurna, yang miliki paras seindah pelangi yang tersenyum dengan sejuta warnanya, bertutur selembut sayup hembus angin, dan berhati sebening embun pagi digunung.Namun begitu, kemilaunya banyak pula tak disukai oleh manusia-manusia yang belum bisa membedakan apa arti kemilau cerah dan kemilau yang menyengat.Tah tak sadar
akan karunianya itu atau memang ia sedang lelah menerima pantulan cahaya dari para penolaknya, ia terlihat begitu biasa dalam menyikapinya namun teguh sekeras gunung.
Dibalik latar itu, sampailah kemilau indah makhluk sempurna itu dimata sang Pangeran (kesepian). Berjuta cara tuk dapat mengetahui siapakah ciptaan Tuhan yang indah ini,tak ragu tuk coba dekati hatinya, namun tetap berjaga agar tak hanya silau dengan kemilaunya.Hingga akhirnya tak ragu tuk nyatakan : "Pelangi ini memang tercipta untukku, tercipta tuk warnai hatiku yang telah lama gelap.."
Tuturan kata-katanya sering membuat sang Pangeran terbang hingga enggan turun, naik-turunnya intonasi membuat sang Pangeran makin merasa terbakar rasa cinta yang diliputi misteri terhadap sang gadis.Latar kisah hidup yang berbeda membuat keduanya dapat saling berbagi dalam sedih-senangnya, dan sesekali terseling canda.
Mawar merah, anggrek putih, dan jutaan bunga terkirim diiringi sejuta puisi hanya satu tujuan..meluluhkan hatinya.
Namun pangeran tetaplah hanya seorang manusia, yang hanya bisa berharap, dan berusaha, tanpa tau apa selanjutnya yang terjadi. Walau kini kisah (cinta) itu belum terwujud,
sang pangeran kini lebih yakin menyatakan :"Aku tak lagi kesepian..."...namun juga :"Ku mohon, jangan buat kukembali menapaki lorong gelap yang sepi itu.."
Tag:








