Hanya mengaduh karena negeri yang keruh
"Uh…
Kukayuh sampai bercucur peluh
Biar sauhku mampu berlabuh
Tinggalkan negeri kian jauh menuju tempat lebih teduh
Layar berkibar di tiang penuh
Mengucap selamat tinggal budaya kumuh,
Kehidupan rusuh dan kesederhanaan yang terbunuh
Maka aku semakin menjauh
Dari wabah penyebar lumpuh
Dari derai kelopak bangsa yang terus terjatuh
Bukanlah kecintaan leluhurku telah luluh
Rinduku tetap utuh,
Mendamba sejuknya hawa negeri ketika subuh
Sebelum datang Tsunami atau angin puyuh,
Banjir bandang, gelombang pasang, letus gunung silih bergemuruh
Rasa cintaku takkan luluh
Bahkan kian dalam sepenuh ruh
Namun suatu ketika bangsaku ricuh
Penguasa teguh bersikukuh
Berebut tempat demi disumpah di bawah kitab lusuh
Kecurangan tak henti bertabuh
Keadilan, Utopus yang mudah terjaga lalu kembali rapuh
Kemanusiaan tak lagi menyentuh
Ayah dan anak saling bunuh, akal dan hati saling tuduh
Saudara, sahabat tiba-tiba jadi musuh
Maka suatu malam di bulan ketujuh
Berkecamuklah jiwa yang berpuluh-puluh
Agar menyingkir saja dari kidung negeri yang begitu keruh
Sekadar membasuh seluruh tubuh
Karena aku tak punya pengaruh
Menghentikan kekejian yang begitu tangguh
Kemarin, aku sempat berangan jadi buruh
Diperintah, disuruh tanpa syarat harus patuh
Berguling, dibanting, dibunuh
Tuhan, berikan mimpi lain yang mungkin kuretas kutempuh
Jika saat ini aku begitu menjauh
Sungguh, aku hanya menuntaskan jenuh
Dari keganjilan yang teramat gaduh
yang dimulai sejak negeriku masih terkantuk di waktu subuh.
Jan ‘06
Tag:









