Gemuruh Ketidakpastian Bagian 1

5
points
"

Bila bertemu ketidakpastian...
Maka berhentilah dahulu untuk mencari kepastian...

"

Sinar yang cerah telah berputar kembali menyelimuti bumi bagian selatan. Senyuman indah matahari yang muncul dari timur membuat ayam-ayam berkokok riang menandakan manusia harus melanjutkan hidup mereka. Bersiap-siap untuk menantang kembali kerasnya hidup. Pepohonan dan tumbuh-tumbuhan hijau tanpa rasa marah mengulang lagi kegiatannya, yaitu mengisi udara dengan oksigen dan berharap manusia sadar terhadap keberadaan mereka. Sedangkan hewan-hewan, yang liar akan memangsa sesama liar dan yang dipelihara manusia akan menunggu diberikan makanan. Begitulah rotasi kehidupan yang dialami bumi ini, semuanya tak akan pernah berubah, bila tak ada yang mau merubahnya. Untuk manusia sendiri, semuanya ingin berada di atas awan, tapi tentu saja harus ada yang dibawah. Bila dipikir-pikir lagi, mereka yang di atas mengapa tidak mau menolong yang dibawah dan bila mereka dibawah mengapa mereka baru meminta-minta untuk dibawa ke atas lagi, jawabannya adalah karena itu sudah sifat alami manusia.

***

Udara pagi telah menusuk-nusuk hidung Dian, membuatnya terbangun dari mimpi indahnya. Diambilnya jam weker yang ada di meja kecil di samping tempat tidur untuk melihat apakah sudah waktunya dia untuk bangun. Masih pagi pikir Dian sambil menaruh kembali jam wekernya dan melanjutkan mimpi yang sempat terputus tadi. Belum 10 menit berlalu, secercah sinar masuk menembus jendela kamar. Seketika itu pula guling yang Dian rangkul langsung di dekap ke arah sinar yang mengarah padanya.
“Ma, jangan dibuka gordennya, silau.” Kata Dian kesal pada ibunya.
“Ayo bangun! Nanti telat sekolah.”
“Tenang aja, kan masih pagi, paling hanya terlambat beberapa menit dan masih boleh masuk ke sekolah.”
“Sudah!Sudah! Ayo bangun! Kamu itu kemarin tidur jam berapa sih, pagi-pagi masih ngantuk?” tanya mama Dian yang mulai kesal dengan kelakukan anak semata wayangnya.
“Jam 11.” Jawab Dian seadanya.
“Jam 11! Kamu itu mau jadi apa sih, tidurnya malam-malam, mau jadi tukang ronda ya?”
“Ya kan aku mau lihat DVD film yang aku pinjam dari teman-temanku.” Jawab Dian lagi sambil menunjuk ke arah tumpukan DVD yang berada di atas televisi.
“Kenapa tidak nonton waktu siang-siang aja?” bentak mama Dian sambil mengeluarkan baju seragam dari lemari.
“Itu karena setiap hari aku ada les, Ma!” jawan Dian dengan nada yang mulai meninggi.
“Itu kan juga supaya nilaimu di kelas bagus.” Jawab Mamanya tak kalah keras.
Dia sadar tanpa adanya les-les itu maka dia tak akan bisa melalui ulangan dengan baik. Dia yakin sekali ulangannya akan hancur lebur dengan warna merah karena dia malas dan tidak pernah mau untuk mendengar pelajaran sewaktu di kelas. Teman-temannya di kelas mengganggap dia adalah anak yang pintar karena tak usah mendengar pelajaran lagi dari guru-guru, padahal sebenarnya dia juga sama seperti yang lain. Diangkat kepalanya dari bantal dan bangkit berdiri untuk bersiap-siap pergi ke sekolah. Mama Dian yang melihat anaknya sudah bersiap-siap hanya menyuruhnya cepat dan setelah itu menutup pintu untuk menyiapkan makan pagi.

Keluarga Dian adalah keluarga yang sangat berkecukupan, semua yang Dian ingin selalu dapat dipenuhi oleh orang tuanya. Tapi walau begitu Dian bukanlah anak yang manja. Pernah sekali, ketika pulang sekolah, mobil yang seharusnya menjemput dia tidak bisa datang karena ban bocor. Dian tidak mengeluh, dia mengerti dan langsung berjalan keluar sekolah ke arah jalan. Di sana Dian juga tidak naik taksi, melainkan naik angkutan umum karena dia tahu kalau naik taksi akan memakan biaya yang lumayan banyak. Dian juga termasuk anak yang cukup telaten dalam mengerjakan sesuatu, hasil-hasil karyanya mendapat sambutan yang baik dari para guru pengajar kesenian dan pada akhirnya berbuah hasil piala yang seukuran badan Dian yang kini terpajang di ruang depan rumahnya.

Suara kaki Dian yang menuruni anak tangga satu demi satu membuat mama Dian merasa lega karena ternyata anaknya tidak sampai tidur lagi. Dibawanya dua piring berisi nasi goreng dan telur mata sapi ke arah meja makan. Satu piring diberikan pada Dian dan satunya lagi diberikan pada Ayah Dian. Setelah itu kembali ke dapur untuk mengambil miliknya sendiri.
“Dian, gimana sekolah kamu, tidak ada masalah, kan?” tanya Ayah Dian seraya membuka koran di tangannya.
“Belum ada, Pap. Masih tenang-tenang aja.” Jawab Dian sambil menyuap satu sendok ke arah mulut.
“Bagus kalau begitu. Terus papa mau tanya, gimana hubunganmu dengan si dia?” tanya Ayahnya lagi dengan lirikan mengejek.
“Ah… Papa jangan gitu dong, kan belum tentu jadian, masih dalam tahap PDKT.” Pipi Dian memerah menjawab pertanyaan ayahnya.
Ayah Dian hanya tertawa sambil kembali membaca koran di depannya, sedangkan Ibu Dian baru saja keluar dari dapur dengan satu piring di tangan kirinya dan segelas jus jeruk di tangan satunya. Ditaruh piring dan gelas itu dan melihat sekilas ke meja makan. Tersadar, Mama Dian kembali ke dapur, dia belum mengambilkan es jeruk untuk Dian dan suaminya.
“Sewaktu lalu, ketika penerimaan rapor sisipan, gurumu bilang kalau kamu tidak mau membantu temanmu belajar, kenapa?”
“Bukan begitu, Pap, sebenarnya aku itu mau saja ngajarin mereka, tapi tidak tahu kenapa, tiap kali mau menjelaskan selalu saja aku tidak tahu dari mana harus memulai, aku hanya tahu caranya, tapi tak tahu bagaimana menerangkannya…” jelas Dian cepat.
“Itu berarti kamu tidak cocok jadi guru.” Jawab ayahnya menarik kesimpulan.
“Ya, mau gimana lagi, tapi aku usahin deh, Pap.” Disuap lagi satu sendok ke dalam mulutnya.
Habis berkata begitu, Ibunya keluar dengan dua gelas es jeruk dan diletakkan di samping piring Dian dan suaminya. Dihabiskan makanan di atas meja dengan lahap dan setelah selesai bersantap ria, Dian beserta ayahnya siap untuk berangkat melewati satu hari lagi.

Sekolah elite yang menjadi favorit para siswa adalah tempat yang biasa di mata Dian, tak ada yang spesial menurutnya. Bangunan yang tinggi dan megah berlantaikan hingga 5 tingkat itu tak mengubah pandangan Dian bahwa itu hanyalah sekolah-sekolah seperti biasanya, hanya saja yang ini lebih besar. Hanya sedikit tempat yang suka dikunjungi Dian di sekolah itu, yaitu perpustakaan dan ruang komputer yang kini sudah memiliki internet yang gratis untuk digunakan oleh para siswa. Ditatapnya gedung itu sejenak dari halaman depan dan menghembuskan nafas panjang mengingat ujian kenaikan akan segera dilaksanakan. Berjalanlah Dian memasuki pintu depan dan sekilas melihat jam yang ada di ruang administrasi. 5 menit lagi bel akan berbunyi, Dian pun segera melajukan langkah kakinya lebih cepat agar tidak terlambat masuk ke kelas.

Guru wali kelas Dian telah masuk kelas. Hak sepatunya yang cukup tinggi itu membuat suara-suara seperti ketukan pintu tiap kali melangkah. Ditambah lagi dengan pakaian blouse warna kuning pucat dan tatanan rambut yang dikuncir ekor kuda membuat seolah-olah guru yang satu ini terlihat 10 tahun lebih muda dari umur yang sebenarnya. Diarahkan kakinya ke meja guru yang berada di seberang dari sisi pintu, diletakkan dokumen-dokumen dari tangannya ke atas meja dan mulai mencari-cari lembar daftar absensi kelas. Dicarinya satu lembar demi satu lembar sambil menyuruh siswa-siswa untuk diam sejenak, ditemukan dan mulai berdehem menunggu siswanya diam.
“Baik, anak-anak. Saya absensi dulu.”
“Bu, semuanya masuk kecuali Dian.”
Bu guru yang mendengar itu hanya mengangguk pelan dan melihat dari sudut satu ke sudut lainnya. Diperiksanya satu persatu siswanya dengan cermat apakah masuk atau tidak dan setelah sampai pada siswa yang terakhir bu guru pun hanya menghela nafas dan mulai mengisi lembar absensi. Baru saja bu guru mau menulis tanda tidak masuk sekolah pada nama Dian, terdengar suara ketukan di pintu kelas.
“Maaf, Bu. Saya terlambat, tadi ada masalah sedikit.”
“Untung aja kamu datang, baru saya mau nulis kamu tidak masuk sekolah. Memangnya kamu ada masalah apa sampai terlambat?”
“Bukan masalah besar kok, Bu.” Dikatakannya dengan senyum tenang.
“Kalau begitu kamu boleh duduk. Tapi kalau boleh tanya Dian, pipi kamu yang sebelah kiri kenapa memar?” tanya bu guru sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arah pipi yang kebiru-biruan itu.
“Oh ini… ini… kemarin saya jatuh, bu, terus waktu jatuh pipi saya kena ujung meja, untung aja ujungnya tumpul, jadi cuma memar.” Jelas Dian.
Bu guru hanya mengangguk pelan dan kembali menyuruhnya untuk duduk. Dian pun bergerak menuju ke mejanya sambil dilihat oleh teman-teman dengan penuh tanda tanya apakah betul pipi Dian memar karena terjatuh. Ketika Dian sudah duduk pada meja tulisnya, bu guru pun mulai mengisi jam pelajaran pertama dengan berbagai informasi yang perlu diketahui oleh para siswa. Teman-teman Dian yang sedari tadi menengokkan kepalanya kepada Dian kini berganti kepada bu guru, semuanya menyimak dengan sungguh-sungguh karena informasi yang diberikan oleh bu guru adalah tentang ujian kenaikan kelas. Hanya Dian sendiri yang tidak mendengarkan, pikirannya melayang jauh pergi ke beberapa menit yang lalu ketika dia baru saja akan naik tangga.

Tinggal beberapa menit lagi maka bel tanda masuk sekolah akan berbunyi. Masih sempat masuk kelas pikir Dian lega. Dilangkahkan kakinya lebar-lebar menuju ke arah tangga. Baru saja kakinya menginjak anak tangga yang pertama, Dian ditahan oleh seorang cewek yang memiliki badan yang lebih besar dan tinggi daripada Dian. Tanpa ada basa-basi si cewek itu langsung menyeretnya ke arah lorong kosong dimana siswa-siswa jarang melewati. Dian pun mencoba meronta-ronta mencoba melepas genggaman yang kini membuat lengannya terasa perih. Dian yang mulai menitik air mata karena rasa perih dan takut akhirnya terlempar dan bertabrakkan dengan dinding di belakangnya.
“Aku cuma ingin bicara sebentar dengamu!” gertak cewek itu padanya.
Dian hanya terdiam dan berusaha menengadahkan wajahnya ke atas.
“Ada apa ini!? Apa maksudmu bawa aku ke sini!” gertak Dian balik walau sedikit ada rasa takut di hatinya.
“Aku cuma mau bilang supaya kamu jauh-jauh sama Steven! Jangan dekat-dekat sama dia lagi! Kalau kamu masih dekat-dekat sama dia, kamu akan merasakan yang lebih dari ini! Mengerti!!”
Ditampar keras-keras pipi Dian membuat Dian berteriak kesakitan dan terjatuh, namun tak ada yang mendengar teriakan Dian karena lorong itu jauh dari siapapun. Dian memegang pipinya yang sakit dan melihat cewek itu melotot tajam padanya. Saraf-saraf di pipinya yang menusukkan rasa sakit membuat air matanya keluar lebih banyak dari sebelumnya. Dian hanya bisa diam dan berpikir ada hubungan apa cewek tersebut dengan Steven. Beberapa saat cewek itu ingin menamparnya kembali, tapi diurungkan dan melangkah pergi meninggalkan Dian sendiri sambil berteriak kasar untuk tidak dekat-dekat dengan Steven. Bel berbunyi bertepatan dengan cewek tersebut menghilang di tingkungan lorong. Dian tak bergerak beberapa saat, masih meringis kesakitan terhadap pipinya yang kena tampar. Rasa sakitnya mulai menghilang tapi pertanyaan demi pertanyaan yang muncul dalam benaknya tak terjawab sama sekali. Berdiri pelan Dian menyususi lorong sepi itu. Di tangga tadi, kembali Dian menginjak anak tangga pertama lalu segera menoleh ke belakang takut ada seseorang yang akan memegang lengannya kembali. Tak ada seorang pun di belakangnya, hanya dia sendiri. Dilanjutkan langkahnya kepada anak tangga yang kedua, ketiga, dan keempat dan pada injakkan yang kelima Dian berteriak kaget. Mulutnya yang berteriak segera saja didekap oleh sebuah tangan di belakangnya. Tangan seorang lelaki! Baru saja mendapat pengalaman buruk membuat pikiran Dian tak karuan dan tidak bisa berpikir jernih. Dengan sigap Dian menggigit tangan tersebut keras-keras hingga berbekas.
“Auuuwww! Apa-apaan sih Dian, kok tanganku digigit!” teriak lelaki dibelakang Dian sambil melepas dekapan tangannya pada Dian.
“Steven!! Kamu kenapa bisa disini?” Dian pun segera melihat ke sekililing takut cewek tadi melihatnya berdua dengan Steven.
“Aku cuma kebetulan lewat, terus lihat kamu, jadi ingin aja buat kamu kaget.” Jawab Steven ringan, lalu dengan muka bertanya-tanya Steven melanjutkan perkataannya.
“Eh, pipi kamu kenapa, kok biru-biru?”
“Kok biru sih? Mungkin kamu salah lihat.” Dikatakannyas sambil lekas memalingkan wajah membelakangi Steven.
“Oh ya, aku pergi dulu ya, sudah telat masuk kelas nih.” lanjutnya sambil cepat-cepat pergi meninggalkan Steven.
Dihiraukan teriakan Steven padanya dan menghilang dari tangga tersebut.

Bu guru baru saja selesai memberikan informasi tentang ujian kenaikan kelas dan seketika itu juga bel berbunyi pertanda telah memasuki jam pelajaran kedua. Mengucapkan selamat belajar pada siswa-siswanya, guru tersebut pergi menuju ke meja guru untuk mengambil kertas-kertas yang dia bawa tadi dan setelah itu pergi meninggalkan kelas menuju ke kelas lain untuk mengajar.
Jam pelajaran kedua hingga ke empat untuk hari senin ini adalah pelajaran yang membosankan. Pelajaran Matematika yang selalu dipenuhi dengan soal-soal dan pada akhirnya jamnya diikuti dengan PR bertumpuk. Lalu pada pelajaran Fisika berikutnya, siswa-siswa akan disuguhi dengan rasa kantuk yang merasuk ke dalam jiwa dan pikiran. Dian sendiri yang duduk ditengah-tengah kelas hanya bisa menguap menahan rasa kantuk. Bila sudah dalam keadaan seperti ini, segera diambil senjata dari dalam tasnya, yaitu permen rasa coklat bercampur jeruk. Dibukanya satu, lalu dilahap diam-diam. Teman-teman di sebelah Dian yang sudah biasa melihat hal itu hanya mendesis pelan padanya dan dia sendiri sudah tahu kalau permen kesukaannya itu akan habis sebentar lagi. Dilaluinya jam itu dengan penuh kesabaran hingga akhirnya bel berbunyi tanda memasuki jam istirahat.

Puji syukur diucapkan Dian begitu bel berbunyi. Segera diambil dompet dari dalam tasnya dan melihat sekilas bahwa permennya tersisa 3 biji. Hanya bisa bernafas panjang Dian menunggu guru Fisika itu pergi meninggalkan kelas. Segera setelah itu Dian melesat pergi ke arah luar kelas. Perutnya yang sudah kosong minta diiisi membuat dia mempercepat langkahnya. Dilayangkan kakinya keluar dari pintu kelas dan seketika itu pula Dian secara tak sengaja menabrak seseorang di depannya, dompetnya terjatuh.
“Maaf, aku kira tidak orang di depanku.”
“Tidak apa-apa kok.” tanya orang tersebut lembut.
Ketakutannya yang tadi sudah mulai hilang kini telah kembali lagi menyelimuti hatinya. Suara itu adalah suara Steven. Ditatapnya sejenak wajah ganteng yang berdiri tepat di depannya sambil sekali-sekali melihat ke lorong berharap cewek aneh itu tidak sedang melihat mereka berdua sekarang.
“Maaf ya, aku lagi buru-buru, mau ke kantin, lapar nih.” Jelas Dian sambil tersenyum.
“Aku juga mau ke kantin. Kita ke kantin sama-sama aja yuk.” Balas Steven sambil memungut dompet Dian yang tadi terjatuh.
Sejenak detak jantung Dian terhenti mendengar ajakan Steven yang tiba-tiba itu. Di satu sisi Dian merasa senang karena Steven mau mengajaknya makan berdua, tapi di sisi lain Dian merasakan takut terhadap cewek aneh yang dia temui tadi pagi.
“Hmm… bagaimana ya, aku lagi mau makan sendiri nih…” jawab Dian sekenanya.
“Kenapa?” Perasaan kecewa terlihat di wajah Steven. Diserahkan dompet itu pada Dian.
Karena tak menemukan jawaban yang tepat Dian pun mengulur waktu dengan terlebih dahulu mengucapkan terima kasih telah diambilkan dompetnya. Diambil dompet pink HelloKity dari tangan Steven dan Dian melihat bahwa pada tangan Steven berbekas luka gigitan seseorang, cukup dalam pikir Dian. Dikerutkan keningnya sejenak, lalu mengatupkan kedua tangannya pada mulutnya sendiri.
“Steven, itu tadi bekas gigitanku ya. Maaf, pasti sakit.” Kata Dian sambil meraih tangan Steven dan mengelusnya pelan.
“Tenang aja, nanti juga sembuh.”
“Tapi yang ini dalam banget, pasti perih. Ayo, ke ruang kesehatan dulu, aku obati.”
Digandenganya tangan Steven menuju ke ruang kesehatan dan sejenak melupakan perutnya yang kosong. Dalam perjalanan ke ruang kesehatan, Dian tersenyum sendiri dan lebih serius membayangkan apa yang akan terjadi antara dia dan Steven di ruang kesehatan daripada bila nanti dia kepergok oleh cewek aneh itu sedang berduaan dengan Steven. Belum sampai ruang kesehatan, hati Dian sudah melayang jauh bahagianya memikirkannya, pasti romantis pikir Dian dalam hatinya.

Dengan sigap Dian membersihkan tangan Steven yang terluka itu. Dilumurinya obat betadine agar kuman-kuman tidak bisa masuk ke tubuh melalui luka tersebut. Lalu tahap terakhir yang dilakukan Dian adalah membalut tangan Steven. Tak ada yang berbicara saat itu. Steven hanya diam saja dan Dian sendiri tak berani menengadah menatapnya. Dian merasa dari tadi Steven melihatnya terus menerus tanpa henti, dan itu membuat Dian memperlambat balutan pada tangan Steven. Tak tahu nanti harus berbuat apa kalau dia sudah selesai membalut. Detik masih terus berputar mengitar menit, walaupun balutan sudah dilambat-lambatkan olehnya tapi tetap saja pada akhirnya selesai juga hal itu dilakukan. Ditutupnya kotak P3K tersebut dan dikembalikan ke tempatnya.
“Terima kasih ya, Dian.” Dikatakannya sambil melemaskan tangan pelan-pelan.
“Tidak usah, itu kan juga aku yang buat. Maaf ya.” Dilangkahkan kakinya kembali ke tempat Steven tadi diobati, namun setelah itu hanya diam berdiri di sampingnya.
“Kok diam aja sih, duduk sini loh.”
“Ah… Iya…” Muka Dian kian memerah.
Mereka berdua kini sedang duduk di tempat tidur yang biasa di pakai pasien di rumah sakit. Walau tempat tidur tersebut cukup panjang tapi karena pada samping-samping tempat tidur diberikan penyangga agar pasien tidak jatuh ketika tidur maka yang bisa digunakan untuk duduk dengan kaki terjulur keluar dari tempat tidur hanya sedikit, dan berakibat Dian dan Steven duduk sangat berdekatan. Dian dapat merasakan detak jantungnya sendiri dan berpikir apakah Steven juga dapat mendengar detak jantungnya. Ditatapnya wajah Steven pelan-pelan, takut ketahuan kalau sebenarnya dia sudah jatuh hati semenjak pertama kali bertemu dengannya. Ditatapnya mata Steven dalam-dalam sambil mendekatkan wajahnya.
”Dian, kita ke kantin yuk.” Katanya sambil memalingkan wajah balas menatap mata Dian.
“Sebentar lagi, aku masih mau di sini. Boleh, kan?” Jawab Dian secara tak sadar.
“Kamu tidak lapar?”
“Tidak.” Jawab Dian terus menatap matanya.
“Kalau gitu, aku mau bilang sesuatu padamu.” Balas Steven.
“Ah… Mau bilang apa?” kata Dian gugup karena sebetulnya dia belum siap utuk pacaran walau dia ada hati dengan Steven.
“Sudah lama aku mau bilang ini, tapi belum ada waktu yang cocok. Jadi karena sekarang suasananya sedang bagus, jadi aku mau bilang kalau sebenarnya…”
Wajah Steven juga kian mendekat menuju ke arah Dian. Tersadar, Dian sudah mengatakan perasaannya tadi lewat perkataannya yang barusan, dia ingin lebih lama berduaan dengan Steven. Keduanya sudah berada dalam jarak yang begitu dekat sampai kening mereka berdua telah saling bersentuhan. Steven sudah kembali membuka mulutnya untuk melanjutkan perkataan yang tadi tertunda. Sepatah kata telah keluar dari mulut Steven, namun tertutupi oleh bunyi bel tanda masuk kelas yang berada di atas mereka berdua, memekakan telinga mereka. Suasana romantis yang sudah susah payah dibangun kini telah hancur berantakan. Dian yang memang belum siap menerima cintanya langsung saja menggunakan kesempatan ini.
“Sud…sud…sudah masuk kelas, aku pergi dulu ya.” Kata Dian tergagap sambil turun dari tempat tidur tersebut.
Ditinggalkan begitu saja Steven dalam ruang kesehatan karena yakin itu akan membuat Steven semakin penasaran padanya. Malu dan senang bercampur menjadi satu dalam hati Dian, pipinya berubah lagi menjadi merah. Dipercepat kakinya melewati lorong ruang kesehatan sambil membayangkan lagi keromantisan apa yang nanti akan dia alami dengan Steven. Ditikungkan langkah kakinya pada akhir lorong dan sekerjap mata Dian terbelalak takut menatap seseorang tengah berdiri jauh di depannya, lalu menghilang di antara siswa-siswi yang berlalu-lalang memasuki kelas masing-masing. Baru saja cewek aneh itu menatap tajam padanya.

BERSAMBUNG...

Your rating: None Average: 2.5 (2 votes)
dikirim Cire 28 minggu 4 hari yang lalu
Tag: