"Stop, Bang, saya turun di sini," aku menepuk pundak Pak Sopir angkot yang membawaku dari Ajibata, dan melompat di depan Inna Prapat. Nauli menatapku agak sangsi dari balik jendela angkot yang setengah terbuka. "Kamu berani sendiri? Kamu baru pertama kali ke daerah sini. Kalau nyasar gimana?" ujarnya kuatir. Aku tersenyum lebar. "Tenang aja, aku kan sudah melanglang buana sampai Nias, masa menaklukkan Prapat saja nggak bisa?" jawabku tegar, supaya Nauli percaya. Dia mengerutkan kening. "Aku bisa percaya padamu?" tanyanya lagi, penuh sayang. Aku mengacungkan jempol. "Jangan ragu," Nauli mengedikkan bahunya, menyerah. "Kalau ada apa-apa, telpon aku. Nanti aku jemput," Aku membalas dengan lambaian. ***
"Siapa? Mantan pacarmu?" tanya Nauli kemarin sambil menungguiku mengepak baju. "Bukan, dia hanya teman SMP," jawabku sambil setengah berpikir, sebaiknya kubawa atau tidak syal ini? "Dingin nggak Prapat?" tanyaku sambil mengangkat syal di tanganku, minta pertimbangannya. Nauli mengangguk cepat. "Kok sampai bela-belain mau ke sana? Bukan mantanmu?" kejarnya penasaran. Aku menghembuskan nafas gemas. "Bukaaann...," jawabku dengan penekanan panjang, "..dia teman lama. Hanya itu. Kebetulan sedang tugas di daerah Samosir, dan kebetulan juga aku sedang di Medan, belum pernah ke Danau Toba, jadi sekalian. Aku piknik dan reuni. Puas, cinta?" aku mengakhiri penjelasanku dengan menyeleretkan ritsliting tas ranselku. Mulut Nauli membentuk 'oh' tanpa suara. Syukurlah, dia akan mengakhiri interogasinya. "Lalu, sudah tau nanti jalurnya?" tanyanya lagi. Aku mengangguk mantap. "Aku sudah tanya Ginting," jawabku. Nauli manggut-manggut. Lalu pergi meninggalkanku di kamar asrama kami. Ketika aku mau pamit untuk berangkat, dia keluar dari kamarnya sambil menyandang ransel. "Aku ikut, sekalian kunjungan ke rumah Namboruku. Sudah setahun ini aku nggak ke sana," Protes panjangku hanya dijawab seretan tangannya. ***
Aku menghembuskan nafas panjang sebelum masuk ke Terace Cafe, tempat dia menungguku satu jam ini. Tapi tiba-tiba keraguan melandaku. Aku lupa wajahnya, dan nggak ingin salah menyapa orang. Sembilan tahun bukan waktu yang singkat untuk merubah profil seseorang. Kuambil cell phone dari kantongku. "Halo Ter," "Aku sudah sampai di depan Inna," "..ya..ya..di depan patung Bung Karno..," "..pakai baju hitam, sendirian..," Aku menatap ke Danau Toba di depanku, membelakangi tempat makan itu. "HAI!!" seseorang menepuk pundakku. Aku terlompat sedikit, terkejut dan membalikkan badan. Mataku tertumbuk dada bidang seorang pria, yang ketika kutelusuri ke atas, kutemukan sebentuk mata dalam yang menawanku sembilan tahun lalu. "Frater! Long time no see.. mengagetkanku!" dia tertawa, menampakkan deretan putih giginya. Tanpa kuduga, dadaku berdesir. "Ya..ya.. very long time. Kamu nggak tambah tinggi ya sejak SMP?" tuduhnya kocak. Aku merengut. "Salahkan yang tambah tinggi dong, aku memang sudah 'pol'," ujarku sewot. Hmm... Baruno sekarang sudah menjulang. Bayangan tentang seorang pria kurus ceking bercelana pendek biru digantikan oleh pemuda gagah seratus delapan puluh sentimeter, tegap, profil wajahnya menegas. Siang ini dia tampak santai dalam jeans dan kaos oblongnya. Seperti avonturir. Yang membuatnya tetap nampak muda adalah lesung pipit yang mengiringi tawa renyahnya. "Nyasar nggak tadi?" dia memulai percakapan. Dan tanpa dikomando, kami berjalan beriringan, menyusuri jalanan depan Inna Prapat, menuju pinggiran Danau Toba untuk mencari tempat mengobrol yang enak. ***
Bukan cinta, mungkin. Namun kekaguman mendalam dan terpendam. Jaman SMP adalah masa awal aku mengenal pria secara lebih dekat, dan Baruno adalah sosok pendiam yang tidak menarik perhatian. Tapi, ada satu hal yang tidak berhenti memaksa mataku selalu tertuju padanya. Dia mirip kakak lelakiku. Kekaguman itu hanya sebatas itu. Aku selalu suka pria pendiam yang banyak karyanya. Baruno seorang penulis puisi dan jago mengarang. Dan benar, kekaguman itu hanya cukup sebatas itu. Setelah lulus SMP, dia meneruskan ke Seminari Menengah -menjadi adik kelas kakakku- mengukuhkan rasa kagumku padanya. Jaman sekarang, hanya sedikit pria yang mau meniti jalan selibat -tidak menikah dan mengabdikan seluruh hidupnya untuk pelayanan rohani-, dan salah satunya adalah Nuno. Aku bangga padanya. Tanpa aku sadari, kekaguman itu sudah agak berubah bentuk. Beberapa kali aku memimpikannya sebagai pria, walau kemudian hal itu kutepis sendiri. Kakakku sendiri adalah calon Pastur, sehingga aku 'anti' jatuh cinta pada calon Pastur, termasuk Baruno. Karena aku tahu, cinta manusia bisa menghambat langkahnya. Jadi, kukubur dalam, menunggu rohnya menyublim di kedalaman hatiku.
Lalu, di suatu siang, aku menemukan pesannya di kotak surat Friendsterku. Dia menemukanku, dan meninggalkan nomer telpon. ***
Danau Toba menghampar tenang di bawah sana, mengitari Pulau Samosir. Beberapa kapal boat lewat membawa turis domestik, meninggalkan riak kecil di belakangnya. Pepohonan menaungi tepian danau, sebagian sudah gundul, namun kecantikannya masih bersisa. Kami duduk di kafe ikan mujaer di pinggir danau. Pembicaraan kami sudah berjalan satu jam. Dan tidak seperti bayanganku awal bahwa kami hanya saling diam, pembicaraan ini sungguh mengalir. Membicarakan kabar teman SMP, kesehariannya di Tarutung, keseharianku di Aceh, dan banyak lagi. Benih kagum yang kuharap sudah pupus itu entah sejak menit keberapa mulai bertunas lagi. Baruno semakin dewasa dan matang.
Aku menyesap tehku, mengakhiri makan siangku. "Kapan tahbisan, Ter?" tanyaku. "Masih lama, mungkin enam tahun lagi," aku manggut-manggut. "Kamu, kapan menikah?" tanyanya balik. Aku terhenti sebentar. "Emm..Juni nanti, dua bulan lagi," jawabku. Tadi, sekilas ada rasa enggan untuk memberitahunya. "Oh, sudah mau nikah? Cepat sekali ya," ujarnya. Aku tertawa. "Usia kita itu sudah 26 tahun, sudah masanya menikah," "Oh, jadi alasan menikahnya itu? Karena sudah waktunya? Dikejar umur?" "Emh..ya, terus terang iya juga. Di keluargaku, semua anak perempuan menikah di usia sekitar itu. Lalu, aku pacaran juga sudah lama. Semua kakakku sudah menikah, semua kakaknya juga. Dia sudah bekerja, aku juga. Hmm..apalagi alasan yang membuat aku tidak menikah dengannya?" Kami terdiam sejenak. Entah mengapa topik ini sebenarnya enggan aku ungkit dalam pembicaraan kami siang ini. "Eh Ter, aku tanya ya," ujarku mengalihkan pembicaraan. "Apa alasan Frater memutuskan masuk seminari dulu?" Baruno memandangiku sebelum menjawab. "Adil kan kalau aku balik bertanya, apa yang membuatmu memutuskan menikah?" aku terdiam sejenak lalu tertawa. Iya, aku paham maksud Nuno. "Hmm..sejak beberapa saat lalu, aku menyadari bahwa aku seorang 'aloner'. Aku penyendiri. Aku bersemangat jika membayangkan melaksanakan misi, di tempat jauh, sendiri, orang tidak tahu, tapi aku siap sedia jika mereka membutuhkan. Dan itu tidak mungkin jika aku mempunyai orang yang menungguku pulang di rumah," dia menerawang. "Tapi semua panggilan hidup itu luar biasa lho, tidak ada yang lebih istimewa, selibat atau menikah. Menikah pun punya tingkat kesulitan sendiri. Dan malah lebih rumit," dia tertawa, menampakkan lesung pipitnya. Aku mengalihkan pandangan, karena senyum tawanya itu hanya membuat debaran jantungku semakin tak beraturan. "Aku... aku mungkin juga seorang 'aloner', Ter. Aku menyukai jalan sendiri, menunaikan misi," aku menghembuskan nafas. "Mungkin aku sebaiknya jadi suster ya," candaku. Wajah Nuno berubah serius. "Hus, kamu itu sudah mau menikah kok masih berpikir begitu? Menikah itu bukan karena faktor eksternal. Tapi dari dalam hatimu," "Iya, sayangnya aku masih mengikatkan diri pada nilai-nilai sosial ya, di mana usia menikah itu antara 26-28..," "Haha.. kamu punya kebebasan. Dan itu tidak ada hubungannya dengan sosial. Kamu jangan melegitimasi kelemahanmu, ah..," ujarnya santai. Aku mengigit bibir. Nuno benar. Tiba-tiba perasaanku menyesak. Hanya tinggal beberapa hari lagi dan aku belum menegaskan posisi hatiku? Pembicaraan kami berlangsung beberapa saat lagi, sebelum kami menyadari bahwa matahari sudah tenggelam beberapa menit lalu. Kami harus pulang. Nuno harus pulang ke tempat pelayanannya. ***
"Kamu menangis," kata Nauli memeluk bahuku. Aku diam saja, membiarkan sungai air mata turun di pipiku. Aku duduk mematung memandangi Danau Toba. Kami menginap di rumah kakaknya, di bukit dengan pemandangan eksotis air dan pepohonan.
Aku tidak jatuh cinta padanya, elakku dalam hati. Aku hanya sedih karena aku belum mantap menjelang pernikahanku.
Namun sayangnya, yang terbayang sekarang hanya wajah Frater Nuno. ***
Kemudian.com telah kembali, lihat pengumuman lebih lanjut disini. Bagi yang usernya hilang, silahkan lapor disini
NB: hanya fiksi belaka. Jika ada kesamaan tempat dan tokoh, hanya kebetulan yang disengaja ;)