kasih comment yae:)
"Perjalanan Spritualku
(Pergejolakan batinku untuk mengenal Tuhanku dan hakekat diriku)
Awal mulanya, saat aku tergila-gila dengan prestasi sekolah, pujian dan nilai-nilai dari orang lain. Sejak kecil aku memiliki sifat ingin bisa melakukan segalanya dan terobsesi dengan ranking 1 di sekolah.
Karena aku merasa setiap orang umumnya menyerukan untuk” bersikap benar dalam hidup ini”, apalagi keluargaku.
Itulah memang misi dan tugas hidup dari zaman Rasulullah hingga sekarang, tugas itu tiada pernah berakhir sehingga ada semacam tuntutan yang hebat pada diriku, kadang itu beban bagiku.
Seperti contoh dalam keluargaku kakakku yang tertua dan kakak perempuanku selalu bilang kamu harus juara 1 di sekolah, seringlah bertanya pada Guru, anak cerdas pasti banyak bertanya.
Abang yang kedua Bang Donny juga sering mengingatkan kami shalat awal waktu. Dia sering memberikan nasehat dan ceramah2 agung dan mulia. Bagaimana Islam, berjilbab bagi wanita muslim, memang masih agak panatik waktu itu.
Aku memang berhasil melakukan itu sehingga aku ranking 1, disayang Guru, banyak teman, jadi popular dan sering dapat jabatan di sekolah.
Di rumah juga aku ingin melaksanakan segala sesuatu dengan sempurna, mulai dari mengatur jadwalku, dan melaksanakan tugas- tugas yang biasa dilakukan di rumah.
Aku tipe gadis yang tergila-gila dengan kesempurnaan.
Semua harus terlaksana di depanku. Itulah prinsifku.
Sehingga jujur saja aku senang jika dapat pujian, seakan-akan kerjaku berhasil, aku juga tak ingin remeh dan rendah di hadapan orang lain.
Sehingga suatu saat perubahan hidupku banyak terjadi terutama dari keluargaku.
Cobaan satu per satu berdatangan. Di Sekolahku sekolah unggulan aku terbebani rasa penyesalan , hatiku tidak nyaman dengan nem yang tertinggi tiba-tiba tidak berprestasi lagi.
Aku juga terpukul sekali dengan kepergian (meninggal) ayahku ke rahmatullah di usiaku sekitar 9 tahun, kondisi keluargaku yang hidup dari bawah dan rumah selalu berpindah-pindah, hidup dalam kemiskinan.
Belum lagi yang paling sulit bagiku adalah masa pancaroba “Puberitas”.
Aku banyak berontak dengan kondisi di sekelilingku, protes pada pemerintah, sekolah dan kondisi-kondisi yang sangat menghuwatirkan saat itu.
Sedang zaman-zamannya reformasi, KKn, narkoba, penzarahan, tauran antar pelajar, pergaulan bebas.
Karena seiring belum adanya ilmuku sama sekali maka aku banyak berontak. Tidak kuat dengan kehidupan saat itu.
Saat itu aku merasa seperti neraka, pergi sekolah dengan ketakutan, gelisah, was-was, bingung dan sedih. Intinya tak punya pegangan, masih hidup dalam kegelapan”kafir” karena belum mengenal jati diri.
Serasa Tuhan sedang memanggil-manggilku saat itu.
Aku sangat tersiksa sekali. Akhirnya banyak pertanyaan-pertanyaan ke luar dari dalam diriku, Abangkulah yang paling banyak membimbingku, tentang hal ini.
Dalam kegundahan dan kegelapan itu, suara hatiku yang terdalam bertanya pada diriku sendiri.
Apa yang Kau cari dalam hidup ini?
Kenapa banyak sekali orang bersibuk ria, apa yang mereka sedang cari?
Beberapa pertanyaan dalam benakku:
Siapa aku?
Kenapa aku diciptakan dan hadir ke dunia ini?
Dari mana Aku?
Apa kebahagiaan yang dicari manusia?
Apa kekuatan itu?
Apa Islam itu?
Apa agama Itu ?
Apa syetan, syurga, neraka, malaikat, hari kiamat, hari akhir ?
Apa Ruh itu?
Aku pun haus dan lapar menemukan jawaban-jawaban dari pertanyaan itu, aku mencoba menjalankan ibadah syariat mungkin benar yang di bilang Pak Ustad ibadah shalat dapat menentramkan dan menolong diri, ternyata apa? Aku masih kembali pada pertanyaan-pertanyaanku itu.
Aku tersiksa karena belum menemukan jawabannya. Aku coba menjalankan syariat, tahadjut, puasa sunat, membaca al Qur’an. Ternyata penderitaanku tak kunjung sirna, kebahagiaan tak menghampiriku.
Aku pun mulai membaca buku-buku tasawuf, filsafat, Agama, karya- karya Imam Al-Ghazali, Anand Krisna, Kalil Gibran, Krisna Mukti
Buku- buku abangku di perpustakaan, aku coba baca untuk menemukan obat kedahagaanku itu.
Aku juga senang sekali mendengarkan ceramah-ceramah Aagym, saat itu Dia belum popular sekali. Sebenarnya sejak saat ini aku merasakan pentingnya Ma’rifatullah atau mengenal Allah dengan baik mulai dari saat mendengarkan ceramahnya.
Jadi ada semacam ruh yang membisikkan padaku untuk segera mengalaminya.
Rasanya hati ini ingin menjerit, tak bisa melukiskan pergejolakan batinku ini, hanya bisa aku rasakan. Aku penuh dengan kebingungan, aku haus, aku lapar akan kebenaran, kesejatian.
Mungkin orang lain menganggapku seperti orang gila, aku sering bolos sekolah dan tak nyaman hidup dalam keterikatan dan aturan-aturan yang tak jelas akarnya.
Apa yang dicari tak berujung, aku juga merasa tak menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang ku anggap sangat wajib untuk dijawab di sekolah.
Aku sering ke toko buku sendiri, membaca buku. Berbagai buku kubaca lama sekali, kurenungkan kata perkata.
Aku ingin berbagi dengan pembaca kondisi ruhaniku yang dalam bergejolak di batinku dalam menemukan kebenaran diri. Menemukan jati diriku dan Tuhanku.
Menemukan hakekat hidup ini. Saya rasa pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan dalam diri saya itu wajib untuk kita jawab dalam pribadi masing-masing.
Karena kita punya naluri dan pikiran, kita hidup dalam dunia ini, maka kita semestinya harus tahu ke mana melangkah, mengenal hakekat di balik semua ini, apa maksudnya dan untuk apa?
Aku masih ingat perasaanku pada saat hidup dalam kehampaanku itu, kegelapan dan kebodohanku itu, maka aku tuangkan dalam satu syair puisi karyaku sendiri, Aku ingin berbagi dengan kalian sebagai jiwaku sendiri, kita adalah satu dalam keesaan-Nya, dalam Nur-Nya.
Puncaknya aku pernah memutuskan untuk tidak beragama dan tidak menjalankan syariat, Karena kupikir untuk apa semua itu jika belum tahu akar dan hakekatnya.
Bahkan Saya tidak menjalankan shalat dan puasa Ramadhan, karena memang saat itu saya sedang sakit, sakit yang paling parah dari sakit pada umumnya. Kenapa tidak?
Betapa parahnya sakit seseorang yang tidak mengenal Tuhan dan hidupnya. Lebih parah dari sakit “gila”, yang hilang kesadaran, karena aku sendiri masih sadar saat itu. Aku tak tahan lagi, dalam pergejolakan itu aku selalu berdialog dengan Dia, hati nuraniku atau ruh terkecilku sendiri.
Aku bertanya pada Dia Penguasa alam semesta yang pasti sedang mendengar jeritan batinku untuk menunjukkan aku ke jalan yang benar. Maka aku putuskan untuk “ membunuh diriku”.
Mungkin imej orang ini sangat gila, tapi hakekatnya adalah aku ingin hidup yang lain, yang lebih baik. “akhirat” dengan ‘mati sebelum mati”.
Aku merasa dan yakin jika Allah maha Penyayang dan memang ada maka Dia akan menolongku. Aku berpikir tak apa-apa aku masuk neraka asal aku kenal siapa Tuhanku dan aku bisa seantiasa bersama-Nya di manapun berada. Memang aku nekat dan gila.
Pengalaman saat di rumah kakak Perempuanku,
Sebenarnya aku masih membawa beban dan kegelisahanku itu ke rumah kakakku itu, namun aku berusaha menutupinya, menutupi dari keluargaku, teman-temanku, lagipula meskipun aku ceritakan mereka tidak benar-benar akan mengerti dan ada untukku.
Dalam hatiku banyak gejolak dan rasa terpendam yang obatnya tak bisa kudapat dari manapun kecuali dari Tuhanku sendiri. Hidayah-Nya.
Saat itu aku dalam puncak strees, aku lari dari rumah kakakku itu. Bukan dari permasalahan dari luar , namun dari dalam diriku sendiri.
Di sekolah Alhamdulillah Aku lumayan bisa mengikuti pelajaran meskipun aku terlambat karena pindah-pindak sekolah terus dan harus cepat-cepat bisa menyesuaikan diri dengan setiap sekolah yang kuhadapi.
Teman-temanku baik, Gurunya pun baik padaku, Keluarga semua sangat menyayangiku.
Sebelum lari dari rumah Kakak Aku ditampar sama Kakaku itu, Dia mengira aku diperkosa cowok. Dia menanyaiku dengan paksa ” Jawab Caroline, ada apa?”
Jangan permalukan Aku di depan suamiku (suaminya). Katanya.
Aku tahu perasaannya, dan pasti seperti ini. Aku merasa ‘Kafir”, hidup dalam kegelapan lebih parah dari segala problema terparah dalam hidup ini. Entah itu diperkosa, putus kerja, dihina orang lain, kemiskinan.
Akhirnya Aku merasa tak ada yang memahamiku, dan bisa menolongku saat itu, makanya aku putuskan lari dari orang yang aku cintai, agar tidak menyusahkan mereka.
Aku ingin mencoba mencari sendiri, dalam pikiranku jika memang Allah sedang menemaniku dan memantauku saat ini, maka Dia pasti membimbing dan menjagaku di manapun aku berada, Aku serahkan hidupku untukNya.
Aku lari ke rumah Tuhan, ke Masjid Pondok Indah karena jika aku lari ke rumah teman itu sama saja aku akan merepotkan mereka. Aku bermalam di sana. Lagipula itu bukan kebutuhanku, Kebutuhanku untuk menemukan pertanyaan- pertanyaan philosophy hidupku.
Aku menagis semalaman sambil shalat, dengan bekal al Qur’an dan baju di badan, uang hanya Rp.3000,00 , aku ditawarkan makan malam, untuk berbuka puasa oleh pengurus Masjid mereka kira Aku musafir.
Tangisan air mata yang bercucuran dan perasaan bersalah yang tak henti-hentinya, aku selalu memikirkan keluarga dan Ibuku.
Maafkan aku, Ibu. Hati kecilku bicara. Ternyata malam itu Ibuku di rumah sedang menangis hebat dalan shalat tahajutnya seraya berdoa untuk selalu menjagaku.
Kondisiku juga mengingatkannya pada almarhum kakak perempuanku yang cantik meninggal di usia muda, kabarnya karena sakit”gila” entahlah.
Tuhanlah yang maha tahu. Kurasa kakakku itu tidak gila.
Ibuku trauma dengan kepergiannya.
Karena sempat kakakku tadi, menelpon aku hilang dan kalau aku gila seperti kakakku yang almarhum itu, yang dulu juga meninggal entah karena apa .
Keesokan harinya saat shalat shubuh di masjid, Pak ustad menghampiriku, Dia dan aku banyak berdiskusi. Akhirnya Dia menyarankan aku untuk pulang, dan akupun memutuskan untuk pulang dan meminta maaf. Pak ustad itu pemilik Masjid itu dan sudah sering bolak- balik Haji, sepertinya Dia sudah paham tentang makna hidup ini.
Dia banyak bicara denganku dan memberikan banyak nasehat dan kata-kata kebenaran Islam. Dia juga menyarankan aku untuk masuk ke sekolahnya, gratis. Dan menyuruhku mengajak kakakku mendaftar ke sana.
Saat itu rumah kami mengontrak sangat kecil dan kebetulan kondisi keluargaku sangat krisis sekali saat itu. Dideru banyak masalah dan ujian.
Setelah beberapa lama pergejolakan batinku tak kunjung padam. Saya akhirnya tak betah hidup. Hatiku menjerit untuk apa hidup seperti ini jikalau tidak bahagia dan tentram.
Kadang aku berpikir kenapa aku merasa seperti ini, orang lain biasa-biasa saja. Aku ingin mengikuti mereka, mencoba masuk seperti kehidupan mereka, tapi jiwaku tak bisa damai sebelum aku menemukan apa yang kucari, yakni hakekat semua ini ada.
Aku lelah di dunia ini.
Alhamdulillah, betapa syukur dan tentramnya hatiku sekarang. Bebas dan mengalir saja pasrah dengan segala kehendak Tuhan. Karena akhirnya Tuhan menjawab doa-doaku dan pertanyaanku itu.
Dia membimbingku bertemu dengan salah seorang Mursid Spritual yang bisa menjawab semua kegundahanku selama ini.
Setelah masuk ke pengajian itu aku hanya bisa diam dan seakan semua pertanyaan-pertanyaanku itu terjawab sendiri. Oooooo hanya itu kata yang kurasakan dalam hati. Aku terus mendengarkan semuanya. Mencoba masuk ke semua, dan membacanya. Aku jadi observer saat itu. Aku tidak terlalu banyak komentar lagi, apalagi berontak tentang keadaan di sekelilingku.
Karena dalam pengajian itu aku merasakan Cinta Allah bagi siapapun. Tidak pandang bulu, status, suku, kaya miskin. Inilah Islam yang kucari selama ini. Islam Universal. Islam untuk semua umat manusia dan alam semesta.
Sekarang tinggal aku mengalami apa yang telah aku temukan dalam “ma’rifatullah. Aku akan terus mencari Dia. Pencarianku tidak sampai di sini. Pencarian Cinta dan Ridhanya. Karena Ma’rifat adalah awal, baru permulaan.
Masih banyak yang harus aku alami dan pelajari dalam hidup ini. Keimananku akan terus diuji.
Karena makin kita mendapatkan ilmu maka semakin besar pula ujian dan semakin sulit ujiannya.
Inilah yang kualami setelah dibimbing oleh Mursidku itu:
Aku akan berbagi pengalaman setelah aku di Ma’’rifatullah, hampir 2 tahun saat itu.
Pertama yang kudapat setelah tahu kebenaran merasa bebas dari semua ketertekanan dan kegundahanku selama ini.
Karena aku pahami bahwa dalam hidup ini semua diciptakan indah oleh-Nya. Sangat baik semuanya.
Dengan sendirinya dalam proses kebebasanku itu. Aku merasakan betapa aku butuh dan menginginkan-Nya.
Aku tak bisa hidup tanpa diri-Nya. Jadi Aku merasa mulai penting bersyariat, yang ini berbeda syariat yang kujalani sudah kumaknai hakekatnya pelan-pelan.
Jujur saja sepintas lalu syariatku lebih bagus sebelum masuk ke Pengajianku itu. Namun makna esensi dan hakekatnya jauh lebih dalam setelah aku mengenal –Nya. Syariatku yang lalu tak ada esensi ruhnya. Sekarang Aku merasakan Rahman dan Rahim-Nya Allah saja.
Betapa Dia sangat dekat dengan-Ku. Dalam Ruh kecil-Ku ada Dia (Ruh Sejati), jadi Aku adalah bagian dari-Nya, percikan dari Cahaya-Nya. Aku dan Dia tidak bisa dipisahkan karena Aku adalah Diri-Nya. Ciptaan-Nya. Demikian juga semua yang ada dalam alam semesta ini dari Keesaan-Nya. Yang banyak dalam yang Esa. Esa dalam yang banyak.
Sekarang setelah masuk ke Pengajianku itu peningkatan ruhaniku ada rasa tak sabar untuk “terus maju”. Aku ingin bahagia dan sukses dunia dan akhirat. Seperti kata Abangku. Kita membooking dan memesan syurga atau neraka kita saat ini juga.
Kita tentukan saat ini juga di dunia ini, kita yang menentukan tingkatan alam akhirat kita masing-masing.
Saya sangat meyakini hidup ini untuk bisa, mensifati Diri-Nya, Hidup hanya proses mengalami diri Tuhan
Dengan mewujudkan keindahan yang ada dalam Ruh kita, Ruh-Nya jua. Hidup ini penuh dengan keindahan dan fenomena “Games”, semuanya berbeda tapi satu hakekatnya untuk mengkomunikasikan Keagungan dan Kesempurnaan-Nya.
Saya sangat merugi jika tidak bisa menikmati hidup ini, bahagia atau sukses. Oleh karena itu dalam jiwa Saya dan dalam doa- doa saya agar setiap detik penuh arti dan kebahagiaan. Amin. Hidup ini harus mengagumkan dan Fantastic…waw Keren.
Ya Allah saat ini aku sedang berusaha bergerak menuju-Mu.
Setelah penantian dan pencarian yang melelahkan.
Rinduku pada-Mu yang membara. Sebelum mengenal-Mu, hidupku dalam kegelapan dan kehampaan. Tanpa ruh dan jiwa.
Karena tanpa sentuhan Cinta-Mu, aku mati dan membeku, hatiku tertutup dan membatu. Hidup dalam ketidak pastian, dalam neraka-Mu.
Sekarang, rasa yang bercampur, Alhamdulillah.
Aku bisa melihat cahaya-Mu.
Aku terbang bebas, meskipun rasa ini sebentar, tapi aku akan terus merekam dan mengingatnya.
Selamanya abadi dalam diriku. Insya Allah. Amin.
A L L A H
Rasa, Ruh-Nya adalah seluruh denyut nadi kehidupan.
Rasa yang tak bisa terjelaskan, begitu sempurna, begitu Agung, dan begitu Misterius.
Rasa, pengalaman setiap ruh, pribadi insan manusia sangat uniq dan istimewa. Pengalaman berbeda-beda dan masing-masing.
Rasalah bukti nyata kehadiran Allah Swt.
Rasa rindu, rasa hampa, bosan, bingung, sedih, senang, rasa terbang, rasa gagal, jatuh, rasa menang dan sukses, pasrah, sabar, dihina dan ditolak. Mengerti, cuek, dan rasa memahami.
Setiap kata dan apapun itu memiliki rasa, Ruh.
Bahkan benda mati sekalipun memiliki esensi, keberadaannya.
Rasanya adalah tidak punya rasa.
Tag:








