KK tidak pernah menyangka apalagi berharap kalau pesan yang dititipkan ke Adit tidak akan pernah dibaca oleh Ruki. Bahkan dia cenderung yakin kalau keesokan paginya Ruki pasti bakal kembali in-action dengan segala kekonyolan plus suara berisik Harley kebanggaannya.
Tidak sekadar yakin saja, KK juga sudah menyiapkan sejumlah property untuk aksi konyol mereka di sekolah. Kecoak karet dia siapkan untuk Lusy. Mainan kecoak-kecoakan paling cocok buat menakut-nakuti si Venti latah. Pasti akan banyak lontaran kata-kata lucu dari Venti kalau kaget pas dikerjain. Dia juga tidak lupa membawa Jipi, ular miliknya. Rencananya Jipi mau dia lepaskan ke Trio Cucakrawa. Pasti super heboh dan Ruki dapat melupakan kesulitannya sejenak.
“Lu gak inget dosa kali ya, K?” ujar Valent sok tua sok menasehati pagi itu ketika tahu yang akan dilakukakan KK. Kebetulan hari itu Valent libur karena kelasnya dipakai buat ujian kakak kelasnya.”Apa gak ada yang lebih penting selain ngerjain orang?”
“Nenek ah, lu!” tukas KK sebal.
“Nenek gua nenek lu juga.”
“Gak lucu. Basi.”
“Kalo basi jangan dimakan.”
KK gak mau membalas lagi. Daripada melayani Valent debat bocah mending dia memantapkan rencana.
“Aria gimana?” Valent mulai lagi.
KK tidak mau mempedulikan.
“Ruki udah lama gak nongol, ya,” pancing Valent.
KK berlagak tuli.
“Kalian lagi buat lakon cinta segitiga, ya..”
PLETAK. Itu jawaban KK. Jitakan serius maha dasyat mendarat keras di jidat Valent.
Valent bermaksud membalas, tapi keburu ditimpa ancaman KK,” Lu balas, gua bilangin Mama soal hasil ulangan harian Geografi lu.”
“Bilangin aja, emang gua takut. Mama udah tau ini,” sahut Valent nekad. Dia pakai jurus shock therapy. Siapa tahu KK percaya dan dia dapat leluasa melancarkan serangan balasan.
“Bener nih?” tantang KK.
“Gih, bilang.”
“MA...” jerit KK pakai gaya Tarzan.
Valent mendekap mulut KK. Dia sadar kalau jurus shock therapy yang dilancarkannya gagal. Terpaksa dia memilih mengalah. Kalo sampe Mama tahu ulangan hariannya jeblok bisa-bisa dia bakal dapat diskon uang jajan besar-besaran. Wah, rugi!
KK tidak menikmati kemenangannya. Otak jahilnya sibuk berputar menyusun rencana. Dia sampe tidak sadar kalo Aria sudah berdiri di depannya.
“Hoiii, pagi-pagi udah melamun…”
Sentakan suara Aria tidak mengagetkan KK. Dia hanya melihat malas kepada sosok cowok yang pernah diberikannya nilai sembilan plus. Rasa kecewa dan sakit hati atas sikap Aria kemarin masih tersimpan dihati.
“Berangkat, yuk,” ajak Aria.
“Gua berangkat ama Ruki,” jawab KK ogah-ogahan.
Aria terdiam. Ditatapnya KK. Dan dia menemukan apa yang dicarinya. Masih ada percik api kemarahan dimata KK. Aria juga tahu penyebab percikan itu adalah sikapnya kemarin. Tapi dia tidak peduli karena tidak merasa bersalah. Sambil mengangkat bahu dia berlalu.
“Terserah,” katanya.
Karena terlalu bersemangat dengan rencana gokilnya, KK tidak menanggapi Aria. Dia malah meleletkan lidah saat cowok itu membalikkan badan. Tidak cukup hanya itu, dia juga menjentikkan jari kelingkingnya pada Aria.
Namun KK mulai gelisah sewaktu jam tangannya menunjukkan pukul tujuh lewat lima. Kalo dipaksakan untuk menunggu sudah dapat dipastikan dia akan telat. Akhirnya dengan kedongkolan hati yang membuncah, KK memutuskan untuk berangkat sendiri.
Tetapi belum lagi niatnya terlaksana, dia melihat sosok kecil yang diketahuinya sebagai tetangga Ruki berlari tergopoh-gopoh menuju rumahnya.
“Kak…Kak….,”katanya disela-sela napasnya yang tersenggal-senggal.
“Tenang. Tenang dulu. Tarik napas…”
Dengan polosnya anak itu mengikuti permintaan KK. Ia mengatur kembali napasnya.
“Ada apa?”tanya KK ketika melihat anak itu telah normal pernapasannya.
“Kakak disuruh Kak Adit ke rumah.”
“Lho, ngapain?Kakak mo sekolah.”
“Nggak tau. Tapi kayaknya penting, deh.”
“Kok kamu tau penting?”
“Rumahnya Kak Adit rame. Kayak mau ada acara sunatan.”
Acara sunatan?Siapa pula yang mau sunatan pagi-pagi hari begini?Bukankah Adit dan Ruki udah pada sunat?Masak Papanya yang mau sunatan?Nggak lucu,ah.
“Ayo!”Anak itu menarik-narik KK.
KK bingung. Dia nggak tau persis keperluannya Adit memanggilnya. Dia juga telanjur kesal karena Ruki nggak kunjung menjemputnya pagi ini. Lagian, jangan-jangan ini akal-akalan konyolnya Ruki.
“Nggak, ah,” kata KK akhirnya mengambil keputusan.”Bilang Kak Adit kalo kakak ke rumahnya nanti sore aja. Sekarang kakak mo ke sekolah dulu.”
“Tapi, Kak..”Anak itu masih mencoba memaksa.
“Nggak apa-apa. Kamu bilang gitu aja. Nanti kalo kamu dimarahin pasti Kakak belain deh.”
Begitu anak itu membalikkan badan, KK segera berlari ke pangkalan ojek.
***
Sampe lonceng istirahat pertama, KK masih berharap Ruki masuk sekolah. Biasanya sih kalau memang pengen ke sekolah, baik dengan niat benar untuk belajar atau sekadar buat mejeng, Ruki pasti datang biar bagaimana telatnya dia.
Tapi sekarang paling tinggal duapuluh menit menuju lonceng masuk istirahat kedua. Sudah mustahil bagi Ruki untuk menginjakkan kaki ke pekarangan sekolah
.
KK mengaduk-aduk mangkok bakso beserta isi-isinya dengan gerakan kesal.Gagal total sudah rencana briliannya yang telah disusun rapi. Tanpa Ruki dia tidak bernafsu meneruskan aksi konyolnya.
Pas dia mau memasukkan bakso pertama ke mulut, Anya sudah ada di depannya dengan napas tersengal-sengal.
“Napa lu?” tanya KK.
“Ular…ular…lu….”ujar Anya terputus-putus.
Bakso yang hampir ketelan meloncat keluar. KK mendapat feeling jelek tentang peliharaannya.
“Jipi?”KK histeris.”Kenapa dengan Jipi gua?”
“Jipi keluar dari tas lu. Anak-anak pada histeris. Mereka gak tau kalo itu peliharaan lu. Trus Jipi di…”
Tidak laporan selayang pandang dari Anya selesai, KK lansung berlari ke ruangan kelasnya. Mukanya pucat tatkala melihat Jipi udah jadi bangkai. Kepalanya remuk. Hampir tidak berbentuk.
“JIPIII…”
Seorang anak cowok yang keliatannya ingin pamer keberanian masih menginjak-injak bangkai Jipi didorong keras hingga jatuh.
KK memunggut bangkai ularnya. Dimatanya terlihat kesedihan menggelayut dan kilatan kemarahan dalam waktu bersamaan. Dengan bangkai Jipi dalam gengaman dia mendekati anak cowok yang tadi didorongnya.
“Ardiiiii!”geramnya.”Mampus lu!”
Beruntunglah Ardi bernasib baik. Bel tanda istirahat kedua telah selesai, berbunyi. Semua anak kembali menduduki tempat mereka masing-masing. Menunggu pelajaran dimulai.
KK malah ngeloyor pergi.
Dia meratapi kematian Jipi di kantin. Hari ini dia benar-benar sial. Jipi mati. Ruki tidak masuk. Rencana berantakan.
Jadi dia tidak peduli kalo dalam jam pelajaran dia masih di kantin adalah melanggar peraturan sekolah. Dia juga tidak takut kepergok guru BP yang piket dan mendapatkan hukuman.
“Udah masuk aja,” saran Anya. Ternyata sejak tadi dia terus menguntit KK.”Masak yang mati cuma ular aja lu segitu sedihnya.”
“Cerewet, ah. Gih, lu masuk aja.”
“Gak mau kalo lu masih sedih gitu.”
“Tumben lu perhatian ama gua.”
“Abis liat Jipi gua jadi…”
“Sedih juga, ya,”sambung KK.”Iya’kan?Jipi tuh lucu.”
“Bukan.”Anya mengeleng.
“Trus?”
“Liat Jipi gua jadi inget.”
“Inget apa?”
“Lu dulu beli Jipi’kan pake duit gua.”
“Jadi?”
“Gua mo nagih uang yang lu pake buat beli Jipi.”
Jawaban Anya sebenarnya bernada rendah dan cenderung memohon. Tapi siapa tidak emosi kalo ada temen yang tega menambah kesusahan didalam kesusahan temennya. Tentu saja KK mencak sejadi-jadinya.
Tahu kalo misi menagih hutangnya tidak berhasil, Anya kabur. Daripada melayani seribu satu bahasa makian KK mendingan dia masuk kelas.
KK tertunduk lesu. Dia mendadak teringat Ruki. Karena biasanya dalam keadaan begini hanya Ruki yang siap menjadi penghibur sejati. Perasaan kehilangan yang amat sangat tiba-tiba menyelimuti hatinya.
Rasa kehilangan itu menusuk dalam. KK sendiri heran, kenapa dihatinya tidak ada kemarahan menggelegak. Padahal setidaknya Ruki mempunyai andil besar dalam peristiwa kematian Jipi.
Ada apa ?
.............................................bersambung
dikirim em_el 28 minggu 4 hari yang laluTag:








