Belum sepuluh meter aku melewati pintu depan Lawang Sewu, tetapi cahaya di lorong yang aku lalui ini sudah mulai meremang. Hawa dingin merasuki tubuhku. Bulu kudukku mulai berdiri saat telingaku menangkap suara bagaikan cicak tetapi volume nadanya teratur. Terkadang lemah, terkadang keras, terkadang seperti di depanku, terkadang seperti sedang dibelakangku mengikuti langkahku.
Senter di genggaman tangan kananku masih aku pegang. Tetapi cahanyanya perlahan-lahan mulai surut.
"Bug...,"
Suara keras seperti kelapa jatuh dari pohon, tetapi mana mungkin di lorong panjang gini ada pohon kelapa. Jantungku seakan copot saat ada bayangan hitam tinggi muncul sekitar lima meter di belakangku.
Aku percepat langkahku, aku mencoba memanggil temanku Parjo yang sudah lima belas menit lalu mendahului masuk pintu Lawang Sewu.
"Jo ! Jo !" sambil kupercepet langkah, suaraku menggema ke lorong-lorong di sekitarku, tetapi tidak ada jawaban.
Bayangan di belakangku terus mengikuti, hingga tangan dingin itu memegangi leherku. Aku terlonjak, aku berusaha lepaskan cengkeraman itu, tetapi cenkeraman itu semakin lama semakin keras. Akupun berteriak, berusaha sekuatnya melepaskan cengkeraman mahluk itu. Usahaku berhasil, dan cengkeraman itupun lepas dari leherku. Dengan sekuat tenanga aku berlari dan berlari. Lorong di depanku semakin gelap karena senter yang aku pegang sudah dari tadi telepas dari genggamanku. Beberapa kali aku terjatuh bergulingan dan terus ku coba berlari, sementara nafasku terus memburu.
Aku menengok kebelakang, dan makhluk tinggi besar itu terus mengejarku.
"Tuit.. tuit... tuit ...,"
"Tuit.. tuit... tuit ...,"
Suara ponselku menyelamatkan aku dari mimpi seram malam itu.
dikirim iksan01 28 minggu 3 hari yang laluTag:








