Aku keturunan anjing. Darahnya mengalir dalam tubuhku. Persetubuhannya dengan ibu adalah ibadah. Anjing itu menyumbang mani. Dalam tiga kegelapan aku berlindung di rahim ibu.
Aku suka menetek puting ibu. Aku tak pernah menghisap kenti anjing. Tapi, kenapa dadaku tak membukit seperti milik ibu? Malah kelamin anjing menempel di selangkanganku. Fisikku serupa anjing. Tapi, wujudku tak seperi Anubis. Aku manusia.
“Kamu keturunan Bapakmu. Kalau sampai seperti Bapakmu. Ibu tak ragu mengebiri kamu” ancam ibu suatu hari.
Kencingku tak akan mampu menguras darah anjing dalam tubuhku.
Alel-alel anjing masih bersemayam di dalamnya.
Cukupkah dengan menyayat kemaluanku, sifat anjing akan hilang?
Rating
Comments: 13
Rating:
Delicious
Digg
StumbleUpon
Propeller
Reddit
Furl
Facebook
Google
Yahoo
Technorati
komen saiaa...
idem sama rijon
*komen boleh idem gak yah?
mungkin kalo ada bahasa2 yg ga semua orang tau bisa dikasi catatan kaki.. =D
Iya Om Ijo, kurang nendang dibanding sebelumnya.....
Cuma keseluruhan tetep bagus kok.
Btw, kenti itu apa yak??
wuhi... keyen. keplok.. keplok aja deh!
Huss... huss.. pergilah kau anjinggg *nunjuk vivin. huwahahahaha...
Misi Om, Duet Imoet Cuman Bisa koment Junk nehh..
Gak boleh marah lhooo ya!! Ntar Anjingnya brontak.
alamak: bang paijo yang selalu penuh kejutan. semakin berani memainkan kata, semakin terasa hangatnya makna.
salut
iya bang,, terlalu lembut,, ^^
beda dari anjing2 sebelumnya yang sangaatt garaaangg,,,
Aku rasa bagian cerita ini, cukup menjelaskan tentang sang "aku" yang aku pertanyakan dalam jilid 6.
So, aku gak segan-segan mengapresiasikannya 10.
sekali anjing, tetap anjing, Joe
tapi kok ga ada rasana, yah?
Iyak, benar kata yang lain. Soulnya mulai berkurang dan terkesan dipaksakan. Sebenarnya sudah mulai terasa di keping keenam.
Begini nih jadinya kalau hanya mencurahkan konsentrasi perchapterw (pengalamanku juga). Coba buat dulu satu kesatuan utuh kisahnya yang kemudian dibagi dalam chapter-chapter.
kurang berasa bro
tp karena tanda tanya di akhir cerita, maka cukup OK lah ceritamu ini :P
Daku tak begitu suka...
Entah, mungkin karna masalah selera aja
Selain cerita kali ini tak begitu menarik, kurasa kau belum begitu maksimal kali ini, agak dipaksakan
*lihatlah djenar maesa ayu*...? emmang!!
pemaksaan thdp 100 kt ada benarnya.mungkin lebih baik dibuat langsung 1000 lbih kata...with your own style dude!:D
asosiasi yg cukup asik sebenarnya, cuma mungkin karena keterbatasan 100 kata yg kaupaksakan jadi terkesan menyederhanakan..
lihatlah djenar maesa ayu, bermain asosiasi yg kurang lebih sama(lintah), cuma punya dia lebih terasa menampar tidak hanya sekedar berkasar2 saja..
Bener-bener tegas apa maksudnya..(agak sarkastik jg yah.)..but guut, tp kelebihan 1 kata tu..bukan 100 kata...:D..