Dreaming Still -- Story 1: Missing Mind(2)

26
points
"

Nih editannya, dan thanks untuk saran2nya^^

"

Missing Mind
Part 2

Satu detik.

Aku memandangi wanita itu dengan penuh tanda tanya. Dia membalasnya dengan sebuah senyuman. Senyum seorang malaikat.

Dua detik.

Entah bagaimana tetapi dia menghilang, dengan segera.

Halusinasi? Benarkah?

Tiga detik.

Tengkukku. Terasa lebih dingin dari biasanya.

Empat detik.

Kali ini sebuah sentuhan. Sentuhan yang sangat dingin, sedingin salju.

Lima detik.

Aku tak akan tahu apa yang bakal menimpaku selanjutnya.

Sebuah pukulan.

Enam detik.

Gelap.

“Ugh!!!”

Aku tersentak dari tempatku berbaring. Masih malam. Entah kenapa hari-hari ini aku tak pernah dapat menyelesaikan mimpiku.

Peti harta itu mencampakkanku selagi aku menyelam ke dalamnya, sekali lagi. Meski aku mencoba untuk tidur, mimpi itupun takkan pernah menjemputku.

Sial.

Aku mengutuki diriku sendiri.

“Ehm..”

Aku menengadahkan kepalaku. Ternyata di hadapanku sudah menunggu seorang gadis berkimono cokelat, dengan wajah tanpa emosi.

“Maaf Tuan Shino, tetapi Tuan harus pulang ke rumah. Keluarga di rumah sedang menunggu kepulangan Tuan.” kata gadis itu dengan sedikit tersenyum.

Aku sedikit bingung. Gadis ini gila atau apa?

“Mmm, maaf tapi saya tak tahu maskud kedatangan Anda ke sini.”

“Kumohon Tuan, jangan mengada-ada.”

Dari matanya dapat kulihat bahwa gadis ini bersungguh-sungguh. Tak ada, tak ada selumbar kebohongan satupun di pelupuk matanya. Aku jadi tak yakin.

“Mari pulang, Tuan. Citra keluarga Asuka akan tercoreng bila Tuan tetap tinggal di daerah kumuh ini.”

Asuka?

Shino… Asuka?

Rasanya aku pernah mendengar nama itu.

Tapi di mana?

Kapan?

Selagi aku mengingat-ingat dari mana aku tahu nama tersebut, aku akan mengiyakan ajakan gadis yang dari tadi hanya menunggu satu jawaban.

“Baiklah. “

“Syukurlah.”

Diapun mengajakku berjalan sejenak sampai berhenti di depan sebuah mobil. Sangat bagus, sampai aku tak bisa berkata apa-apa.

Mobil semacam ini hanya pernah kutemui di dunia mimpi.

Dunia mimpi? Ah, aku teringat saat aku menjadi pengusaha kaya di Amerika hanya karena tak sengaja menemukan rancangan produk Microsoft yang dijatuhkan oleh seorang staffnya. Setelah melalui berbagai jalan berliku, akhirnya aku dapat menyerahkan rancangan tersebut pada Bill Gates dengan tanganku sendiri.

Gadis berapron putih tadi membukakan pintu mobil dan mempersilakan aku masuk.

Di dalam mobil aku hanya memikirkan nama Shino Asuka.

Shino Asuka.

Shino.

Asuka.

Tiba-tiba aku terbayang sesuatu.

Banjir darah.

Di mana-mana.

Saat itu.

"Ugh..." rintihku. Aku merasakan sakit yang luar biasa di ubun-ubun kepalaku.

Saat itu pula terbersit di pikiranku sebuah pembunuhan yang sangat sadis dan menyayat hati.

Mobil yang kutumpangi tiba-tiba berhenti di depan sebuah rumah, lebih tepatnya istana.

"Kita sudah sampai, Tuan Shino."

Hatiku bergetar. Aku terkejut. Pembunuhan itu...

Pembunuhan itu terjadi di gerbang rumah ini.

Entah kapan.

"Tuan!!" teriak gadis itu.

Your rating: None Average: 6.5 (4 votes)
dikirim ramza_nightmare 28 minggu 3 hari yang lalu
Tag: