It is complicated.
Not black
Not white
There is no light
, but it is not dark.
It is always torturing me
, but I enjoy the hurt
I hang myself
On the sadness cliff
Could I say it love?
..
Perlu waktu untuk menjelaskan apa yang sebenarnya ada dalam benakku selama bertahun-tahun ini. Menjelaskan di belahan hati mana aku berdiri. Di belahan hati mana aku melambaikan tangan, menyambut sambil berkata selamat datang. Di belahan hati mana aku akhirnya merasa kehilangan. Dan di belahan hati mana akhirnya aku merelakan semua yang tiba dan berhenti menjadi pudar dalam masa.
Perlu banyak pengorbanan untuk mencapai apa yang diinginkan, tapi kupikir aku telah banyak memberinya beban. Aku buat segalanya membeku. Membuat hatinya menunggu dan membeku. Membuat mimpi indahnya hitam. Menjadikan harapan-harapannya berangsur hilang. Aku bersalah.
Segala yang telah aku lakukan adalah bentuk apresiasiku. Walau memang, kadang aku tidak bisa mengapresiasi dengan baik semuanya. Aku ingin bisa menjawab segala pertanyaan hatinya. Ingin bisa berkata, bertanya balik, atau tertawa lepas. Kadang aku gagal. Aku malah merobek, menghabisi kebahagiaannya. Aku bersalah, lagi-lagi.
Kebekuan itu terjadi karena aku. Bila akhirnya aku menangis kecewa dan kehilangan, aku tidak akan menyalahkan siapa pun. Aku yang bersalah di sini. Dan bila akhirnya segala nasib buruk menimpanya, akulah tersangkanya. Kejahatanku tak terampuni. Iya, aku berkata yang sebenarnya. Aku ombang-ambingkan hatinya sampai karam. Aku buat dia menanti, lalu aku tinggalkan bersama angin saja.
Aku membuatnya terjebak dalam sedih yang mendalam. Aku jahat. Seharusnya aku tahu sejak dulu. Ini adalah serius, nyata. Dia tidak pernah bermain dengan ucapan dan sikapnya. Dia putuskan, dia lakukan. Aku yang bodoh. Membiarkan bertahun-tahun hatinya tegar dan di tahun terakhirnya layu. Tanpa pernah mekar sempurna.
Segala kesedihan adalah salahku.
Dengan segala penyesalan, aku meminta maaf.
Tercintamu, masa lalu yang terabaikan dan mengabaikan.
Aku memang terkejut.
Isinya tak sekedar mengingatkanku pada dia. Bahasa khasnya telah membawa jiwaku pulang ke masa lalu. Aku mengingatnya kembali.
Dia adalah tersangkanya, itu benar.
Tersangka yang telah membunuh hatiku untuk tahun-tahun itu.
Tapi, dia juga cintaku yang membakar.
Membuatku tetap hidup hingga kini.
Yah, aku memang lama pergi dan kini hidup. Dia masih tidak tahu. Aku tetap ada bersama hatinya. Tapi, tidak dengan ragaku.
Biar dia ratapi saja lenyapnya aku. Asal dia tidak berpikir untuk mati.
Aku tahu, dia tidak bodoh. Dia cerdas.
Nyatanya, dia kirimkan email ini padaku yang lama tidak ia sapa.
Aku juga merasa bersalah.
Aku buat dia menjadikan dirinya sendiri penjahat.
Padahal, tidak. Aku hanya ingin kami agak menjauh.
Jujur, aku sedikit merasa tersakiti olehnya. Sedikit.
Aku hanya ingin memberinya sedikit pelajaran tentang rasa sakit.
Tidak banyak, hanya sedikit saja.
Aku yang memang butuh wadah untuk bersedih,
akhirnya berakhir di samping gadis lain.
Yang bukan mauku, yang bukan harapanku.
Gadis lain yang siap menjadikan aku sebagai emas, gadis yang siap menghantarkanku menuju kebahagiaan. Gadis yang membuatku sedikit mengulas senyum.
Sedikit, tidak banyak.
Aku tidak akan pernah bisa lepas dari tali merah yang aku ikatkan padanya.
Pada raga dan hati yang telah menyakiti aku.
Dan aku tidak akan pernah bisa melepaskan tali merah itu dari sana.
Apapun yang terjadi.
Aku tidak akan bisa mengikatkan pada sosok lain.
Bahkan pada gadis penghapus lara hatiku.
Aku tetap untuknya. Tapi, tidak kini ragaku.
Sebentuk pengikat emas melingkar padaku. Aku tidak akan bisa melepas diri.
Meskipun untuk meraih hatiku sendiri.
Aku masih ingin menggapai mimpiku. Meraih apa yang harusnya jadi milikku.
Aku ingin.
Dan cinta ternyata bukan jawabannya.
Cinta tak akan membawaku ke sana.
Cinta akan membawaku pada masa yang samar.
Aku masih menangkap perasaan yang tak nampak di email itu.
Sebuah harap dengan sedikit sesal.
Sebuah khas darinya yang bisa kupahami.
Dan aku ingin berlari, melepas pengikat emasku, menuju tempatnya berada.
Tapi, tidak akan bisa.
Masa depanku telah terajut dengan gadis pengulas sedikit senyumku.
Bukan pada gadis jahat itu.
Aku gamang.
Gadis penjahat,
Bila nanti memang aku akan hidup sambil terus memendam rasa ini,
terus mendamba tanpa henti padamu,
dan aku menjadi rusak karenanya,
kaulah tersangkanya.
Aku berjanji dalam penatku.
Yang aku mau adalah segalanya berhenti.
Biar aku bisa berpikir,
biar jadi jelas semuanya.
Apa yang sebenarnya telah kuambil,
apa yang telah kutinggalkan.
Gadisku yang kejam,
Menengok ke dalam nurani, jelas aku akan menjadi badai. Menerjang segala yang ada di hadapku, lalu menghancurkan pedih sesalmu. Lantas membawamu hanyut denganku, sang badai.
Namun badai ada di dalam saja. Tak mampu keluar, barang sehelaan saja, Gadisku.
Seandainya kau bisa melihatku di sini.
Terkapar. Sekarat. Kebingungan mencari di mana ada sebuah kejelasan.
Memilih bukan yang bisa kulakukan saat ini. Begitu pun dengan melepas yang telah kugenggam.
Ini bukan sebuah sirkus.
Ini adalah realita, wahai Cintaku yang sungguh jahat.
Tak cukup memang mengayunku saat itu. Bahkan saat aku tak lagi ada di sekitarmu, kau tetap coba mengayunku dengan siulanmu. Dan entah kenapa, aku selalu bisa ikut terayun, Gadisku. Kamu memang penjahat.
Aku tak bisa berkata. Karena jika kubuka mulutku, hanya kebingungan yang keluar.
Aku – entah kenapa – selalu mencintai kejahatanmu. Walau aku tak lagi bisa menikmati secara langsung. Meski hanya lewat fantasi mimpi masa lalu. Seperti candu yang tak bisa dijauhi.
Gadis yang penuh kejahatan dan mimpi buruk,
Saat pesan ini tiba,
Aku harap kau bisa menghilangkan potongan hidup saat ada aku di sana.
Biar kita tak saling merasuk lalu jadi gila.
Aku percaya,
Jika memang Tuhan ciptakan kita untuk jadi satu,
Maka tak ada yang bisa menandingi kehendak agung-Nya itu, wanita ..
Dengan segala hatiku yang tersisa untukmu,
Dengan segala sakitku yang tercipta olehmu,
Aku telah memaafkan.
Impas, bukan?
Masa lalumu, yang terabaikan
dan kini berusaha mengabaikan
Ku-klik send.
Terkirim.
***
dikirim faradiba 28 minggu 2 hari yang laluTag:









