Ode of The Air - A

69
points
"

Lets the show begin! PS: Say No To Junk Comment...

"

Ribuan bayang-bayang menari
Ribuan bayang-bayang bernyanyi
Kepingan-kepingan cahaya berserakan
Pintu yang terkunci perlahan mulai terbuka

***

Angin sepoi-sepoi dengan lembut membelai rambut Andrea yang kelabu. Tak ada lagi bising, sesekali hanya kicauan burung samar terdengar seakan-akan berasal dari kejauhan. Sinar hangat matahari pagi perlahan mengembalikan kesadaaran Andrea.

Luka di perutnya masih terasa sakit tapi ia masih hidup, namun apa yang telah terjadi membuatnya tak yakin apakah ia benar-benar sudah tersadar dari tidurnya.

Perlahan Andrea berdiri, lalu sambil berpegangan pada dinding dia melangkah menuju jalan keluar.

Seperti yang sudah ia duga, kota itu telah hancur sama sekali. Dimana-mana hanya reruntuhan bangunan yang terlihat, tapi sama sekali tak terlihat satu mayat pun.

"Apakah ini adalah akhirnya?" gumam Andrea sambil kembali duduk bersandar. Ia kemudian tergelak, "Setelah semua yang kulakukan... apakah hanya ini akhirnya?" kali ini ia berseru, hanya untuk mendengarkan gema menyuarakan kembali seruannya.

Suasana kembali hening.

Rasa sakit di perut Andrea mulai mengikis kesadarannya, namun sebelum ia kembali terlelap terdengar lembut suara kepakan sayap.

"Kau mau lari lagi?"

Andrea mengangkat kepalanya. Duduk di bagian atas reruntuhan tempat ia bersandar seorang pria dengan sepasang sayap merah menyala.

"Setelah aku kemari... kau ingin lari lagi?" pria itu kembali bertanya.

"Aku sudah lelah..." jawab Andrea sambil memicingkan matanya, mencoba melihat dengan lebih jelas wajah pria tersebut. Sia-sia saja, sinar matahari yang berkilauan mencegahnya melakukan hal tersebut.

"Apa kau sudah lupa apa yang kau katakan waktu kita bertemu untuk pertama kalinya?"

Kepala Andrea tiba-tiba terasa sakit. Samar-samar dia mencium bau amis darah dari sekujur tubuh pria itu. Matanya terbelalak ketika ia menyadari tetesan darah yang perlahan berjatuhan dari sayap sang pria. "Kau... kau melakukannya..."

***

Hujan turun dengan derasnya.

Di tengah padang rumput, di antara ratusan mayat yang bergelimpangan, seorang anak berdiri. Rambutnya merah menyala namun kedua sayapnya hitam pekat.

Petir menyambar.

Andrea berjalan mendekati anak tersebut.

"Jangan mendekat!" seru sang anak, suaranya melengking tinggi. Namun Andrea tetap menghampirinya.

"Jangan dekati aku... kumohon..."

"Jangan..." ucapan sang anak berhenti ketika Andrea berlutut di sampingnya lalu dengan lembut memeluknya.

Andrea membisikkan beberapa kalimat pada sang anak, lalu membiarkannya menangis sepuasnya.

***

"Kau sudah berjanji padaku !!!" seru Andrea pada pria itu. Tertatih ia mencoba berdiri menggapai pria tersebut.

"Kau sudah berjanji !!!" tangis Andrea meledak.

"Kau sudah berjanji..."

Pria tersebut memalingkan wajahnya.

"Kau yang lebih dulu melanggar janjimu! Kau yang..." ucapannya terhenti saat ia melihat Andrea berlutut.

Pria itu lalu melompat turun. Sayapnya terkepak beberapa kali sebelum akhirnya ia berlutut di hadapan Andrea.

"Maafkan aku... maafkan aku..." isak Andrea.

"Rea..." Pria itu kemudian memeluk Andrea.

Erat.

Sangat Erat.

"Maafkan aku... maafkan aku..." Andrea masih terisak.

"Maafkan aku... Johan."

***

Ribuan bayang-bayang menari
Ribuan bayang-bayang bernyanyi
Kepingan-kepingan cahaya berserakan
Pintu yang terkunci perlahan mulai terbuka

Your rating: None Average: 6.9 (10 votes)
dikirim 145 21 minggu 5 hari yang lalu
Tag: