terimakasih banyak teman-teman atas saran dan kritiknya, jadi nambah ilmu.
udah coba kuedit.
Jangkrik Muda berlari mengejar senja, namun ia tak pernah tahu dimana senja akan berbatas dan akan bisa menemukannya. Ketika suatu sore si jangkrik telah sampai di sebuah tanah lapang, rumput-rumput hijau dihampar di bawah langit yang mulai merah. Jangkrik Muda mengira senja telah dekat karenanya ia mempercepat langkahnya. Namun sejenak senja telah menggelincir pergi menarik tudung hitam ke atas bumi. Jangkrik Muda merana sekali lagi, “Senja bukan milikku” katanya.
Namun ia sudah berjanji pada kekasihnya untuk kembali ke arah senja, “Kembalilah kemari suatu saat nanti” bisiknya kedalam hati Jangkrik Muda dan dia mengangguk. Disanalah tempat Jangkrik Muda bertemu kekasihnya; dibawah senja. Dan kini ia ingin mencari senja itu karena kekasihnya menunggu disana. setiap kali ia merasa telah dekat dengan senja ia akan mempercepat langkahnya. Namun, sebelum ia sampai di bawah senja, senja telah pergi meninggalkan kegelapan dan kekecewaan bagi Jangkrik Muda. “Senja benar-benar mempermainkanku, tak bolehkah aku bertemu kekasihku?” gerutunya. Lalu si jangkrik akan berlari lagi ke barat mengejar senja karena kekasihnya menunggu disana.
Ia terus berlari meski malam selalu mendahuluinya namun, ahirnya senja akan nampak di ufuk barat dalam pengejarannya meski selalu hanya sebentar dan pergi lagi menggulung siang.
Di tengah perjalanan, seorang lelaki tua yang sedang duduk di atas sebongkah batu menyapanya, “Apakah yang hatimu risaukan sehingga kau terburu-buru demikian anak muda?”
Jangkrik Muda berhenti untuk menjawab sapaan orang itu, meski orang setua itu tidak akan memiliki kekuatan untuk membantu dirinya namun, Jangkrik Muda merasa harus bersopan santun padanya, dan ia menjawab, “Ah Kakek, aku sedang terburu karena kekasihku menungguku dan aku rindu padanya”.
Kakek tersenyum, “Bagaimana kalau kau duduk bersamaku sebentar…”.
“Maaf aku tidak punya waktu sebanyak itu”
“Nak, aku ingin bertanya padamu tentang apa saja yang telah kau lihat dalam perjalananmu kalau kau bersedia bercerita sebentar,”
“Maaf Kek, aku sangat sibuk dan terburu-buru sehingga aku tak sempat memperhatikan semua hal yang tak penting. Karena aku harus menemui kekasihku,”
“Ah engkau pemuda yang cerdas, ingin sekali aku melihat apa yang ada dalam pandangan matamu hanya saja engkau terburu-buru sehingga kau kehilangan banyak waktumu”.
“Dan engkau seorang tua yang baik hati namun sayangnya engkau tidak mengerti kesusahan pemuda karena itu sebaiknya aku melanjutkan perjalananku” kata Jangkrik Muda dengan kesal sehingga ia segera meninggalkannya, kembali berlari.
“Ah banyak orang aneh di dunia ini bagaimana dia mengatakan aku kehilangan banyak waktu sedangkan aku selalu bergegas agar menghemat waktu. Huh orang tua yang aneh, karena itu sebaiknya aku tidak memikirkannya. Mengejar senja adalah masa depan yang penting bagiku”. Dan Jangkrik Muda mempercepat larinya.
“Aku tidak akan menyerah mengejar senja, karena kekasihku menunggu disana”.
Sampai di batas malam ia berjumpa dengan Robot Lelaki Kecil yang tampak tergesa. Ia ingin berbicara dengannya mungkinkah bisa membantu kesusahannya.
“Salam hormat saya sampaikan pada Tuan, tapi saya harus pergi karena saya terburu-buru sekali”. Kata Robot Lelaki Kecil.
“Baiklah, aku juga sedang tergesa,” jawab Jangkrik Muda “tapi berkenankah Tuan yang kuat ini berhenti sejenak menjawab pertanyaan dariku?”
“Baiklah aku akan menjawabnya tapi aku harus terus berlari karena itu berlarilah bersamaku”.
Mereka berlari bersama menuju barat namun karena kaki-kaki Jangkrik Muda tidak panjang, ia tak dapat mengejar Robot Lelaki Kecil.
“Kemarilah biar Tuan kugendong saja,” maka Jangkrik Muda naik ke pundak Robot Lelaki Kecil dan Jangkrik Muda mengutarakan apa yang ingin disampaikannya..
“Tuan, kekasihku menunggu di bawah senja, aku harus menemukannya. Karena itu aku mengejarnya. Setiap kali aku hampir menemukannya aku mempercepat langkahku, tapi sayangnya senja selalu bergegas pergi sedang aku belum bertemu kekasihku,” si jangkrik diam, “oh sedihnya diriku sedang aku sangat merindukannya”
Tiba-tiba Robot Lelaki Kecil yang selalu berlari berhenti. Seperti terkejut namun raut wajahnya yang terbuat dari besi tidak berubah, lalu menelengkan kepalanya.
“Engkau bersedih pastinya nanti engkau akan bahagia,” si robot menelengkan kepalanya lagi, “sedangkan aku seorang robot tidak pernah bahagia karena aku tidak bersedih, oh malang sekali nasibku tidak pernah bersedih seperti Tuan, aku hanya bisa berpikir”.
“Bukankah seharusnya sangat menyenangkan bila engkau tidak pernah bersedih?”
“Tidak Tuan, tidak seperti itu. Aku ingin mencari kesedihan sehingga nanti aku akan bahagia”.
“Ah Tuan belum mengerti, kesedihan sangat tidak menyenangkan dan menyebabkan penderitaaan, hanya jika bisa berjumpa dengan kekasih kesedihan akan hilang”.
“Oh aku belum mengerti hal seperti itu, hanya seorang bijaksana berkata padaku jika aku ingin bahagia aku harus mencari cara untuk bersedih, karenanya aku terus berlari mencarinya,”
“Oh aku sampai lupa, aku harus terus berlari”. Robot Lelaki Kecil berlari lagi.
“Ah ternyata kita ini berbeda Tuan, aku ingin menghilangkan kesedihan tapi Tuan justru mencari kesedihan. Ternyata kita tidak sejalan. Karenanya lebih baik kita berpisah karena aku harus menjumpai kekasihku”. Jangkrik Muda turun dari pundak Robot Lelaki Kecil. Mereka saling mengucapkan terimakasih lalu berpisah.
Jangkrik Muda berlari lagi dengan langkah-langkahnya yang kecil mengejar senja yang tadi sembunyi di barat, hingga tubuhnya mengkilap berkeringat basah dan kelelahan namun ia terus berlari.
***
Entah sudah berapa lama Jangkrik Muda mengejar senja, ia sendiri tidak tahu karena ia tidak pernah memikirkan hal lain selain kekasihnya di bawah senja. Tapi ia telah menemui ratusan senja yang sama yang selalu mengintip di ufuk barat lalu bergegas pergi tanpa menunjukkan kekasihnya. Mungkin kekasihnya tak tahu bahwa senja selalu cepat pergi sehingga tak seharusnya ia menunggu di sana.
Sedang malam ini dia sangat lelah sehingga ia berhenti di naung kerindangan sebatang pohon.
“Ah bulan sangat indah tapi sayang kekasihku tidak bersamaku dan sebenarnya aku ingin mendengar lagu darinya, karena suaranya sangat indah dan lagunya sesejuk hembusan kedamaian akan membuatku bahagia,” Jangkrik Muda terduduk, kesedihan telah membebani tubuhnya dan ia tertidur.
Pagi-pagi sekali si jangkrik melanjutkan perjalanan. Ia bertekad akan mengejar senja ke ujung paling barat tempatnya bersembunyi. Namun ketika mentari baru menjamahkan siang, Jangkrik Muda telah terhalang tepian samudra.
“Oh apa yang harus aku lakukan…” ratapnya. “malang sekali aku tak mampu mennyeberangi laut ini. Oh aku pasti tak akan berjumpa dengan kekasihku”.
Ia duduk diatas pasir sambil merenungi nasibnya yang buruk. Lalu seekor kura-kura lewat di depannya sehingga terbitlah harapan di hati Jangkrik Muda.
“Malang sekali nasibku ini Tuan, aku tak dapat bertemu dengan kekasihku”
Kurakura tersenyum dan mengedipkan matanya yang lembut pelan, “Kawan yang baik , dimanakah kekasih Tuan itu?” tanyanya, “tidakkah engkau pernah menemui kekasihmu itu sebelumnya. Jika dahulu engkau bisa menemukannya tentu sekarang pun engkau bisa menemukannya,”
“Itulah yang menyebabkan kekecewaanku selama ini Tuan, karena aku telah lupa jalannya dan aku lupa juga tempatnya, satusatunya yang aku ingat adalah ia ada di bawah senja ia berada tepat di bawah senja karena itu aku mengejarnya ke barat namun lautan ini telah dengan jahat menghalangi diriku”.
“Aku belum pernah sampai di bawah senja” Kurakura sebentar menjulurkan lehernya yang berkerut-kerut menatap ufuk barat, “seperti apakah rupa kekasih Tuan itu barangkali aku bisa menanyakannya pada saudara-saudaraku?”
“Oh malangnya aku, aku tak pernah mempedulikan penampilan dan rupa karenanya aku tak dapat mengingatnya. Aku hanya merasa bahagia jika melihatnya dan bersamanya…” Jangkrik Muda menunduk dengan menyesal, “oh, seharusnya aku tidak demikian”.
“Mungkin aku tak dapat membantumu, tapi kawan dengarlah, setiap orang ditakdirkan dengan jalannya sendiri-sendiri jika engkau tak dapat melalui jalan ini berarti ini bukanlah jalanmu dan hanya dengan melalui jalan yang benarlah engkau akan dapat bertemu lagi dengan kekasihmu. Karena engkau pernah menemuinya maka ingat-ingatlah saja jalannya tapi sebelum itu kau harus terlebih dulu mengingat rupanya agar kau mengenalinya jika berjumpa nanti”.
Kurakura melangkah pergi dengan sangat pelan namun ketika Jangkrik Muda tersadar dari lamunannya, Kurakura telah jauh. Maka dia duduk terdiam merasakan gejolak hati dan pikirannya sendiri. Rasanya benar apa yang telah dikatakan Kurakura, dan ia termenung.
Hari itu Jangkrik Muda terus berdiam diri di tepi pantai menunggu tanpa tahu apa yang harus dilakukan.
“Oh alangkah letihnya diriku…” kesahnya.
Ia terus menunggu di pantai hingga tiba-tiba senja telah dekat di horison barat.
“Oh alangkah cepatnya diriku menyusul senja, senja telah nampak di ufuk. Aku mestinya mengejarnya tapi sayang sekali aku tidak bisa mengarungi lautan ini” wajahnya menjadi muram kembali. “kuharap aku akan dapat mengingat lagi jalan yang dulu ku lalui”.
Dan senja lalu menggelincir meninggalkan sunyi bagi Jangkrik muda yang sendiri.
Maka keesokan harinya ia menunggu lagi di sana dan tetap tak tahu apa yang harus dilakukannya hingga senja datang lagi, “Oh aneh sekali tepian laut ini, bukankah aku hanya diam saja namun tiba-tiba senja telah hampir dapat kususul namun sayang sekali masih terhalang lautan ini” dan ia terduduk lagi memandangi senja yang kemudian pergi meninggalkan bayang malam yang merayap pada gelap.
Keesokan hari ia masih disana seperti semula, dan tiba-tiba saja senja telah dekat sehingga Jangkrik Muda akan terlonjak bahagia. Namun ia masih kecewa tak dapat mengejarnya sehingga ia dapat berada tepat di bawah senja sehingga mungkin ia akan dapat mengingat lagi dan mengenali kekasihnya.
“Bagaimanapun letihnya aku mengejar senja aku tetap tak mampu mendapatkannya, namun ia selalu datang meski jauh di ufuk, menampakkan semburat keindahan wajah kekasihku di sana”.
Hari-hari Jangkrik Muda kini semakin sepi namun ia mulai terhibur oleh keindahan yang dipancarkan oleh semburat senja.
Hingga suatu sore saat Jangkrik Muda menelusuri tepian pantai menunggu senja, ia berjumpa lagi dengan Robot Lelaki Kecil yang sedang menanam serumpun bunga. Wajah besinya tak berubah akan tetapi nampak sinar bahagia disana. “Wahai Tuan apakah perjalananmu juga terhalang oleh lautan ini ataukah Tuan telah menemukan kesedihan yang Tuan cari?”
Robot Lelaki Kecil berkedip-kedip, “Tuan, aku belum menemukan kesedihan itu namun sekarang aku sudah tidak membutuhkannya lagi. Aku juga sudah tidak menginginkan kebahagiaan lagi. Karena semakin aku menginginkan kesedihan ternyata ia semakin menjauhiku dan seumur hidupku setelah aku dirakit, aku tak pernah mengerti kebahagiaan jadi kenapa aku harus menginginkannya? Saat ini yang kuinginkah hanyalah merawat kebahagiaan mereka yang telah mengenalnya,” dan ia mendekati seekor camar yang sayapnya terbebat luka lalu membelainya, “lihatlah pohon-pohon ini bukankah mereka bahagia, dan burung-burung itu kupikir juga menyukainya”.
Mereka berdua lalu terdiam.
“Lalu bagaimana dengan Tuan sendiri?” tanya Robot Lelaki Kecil.
Jangkrik Muda diam tidak menjawab. Senja telah muncul dan membentangkan keindahan yang seolah adalah rangkuman segala keindahan sepanjang siang.
Lalu si Jangkrik berkata, “Tuan, kuucapkan seluruh terimakasihku kepadamu”.
“Atas apa?” tanya Robot Lelaki Kecil.
“Ternyata mungkin kita berdua tidak berbeda Tuan. Kau tidak pernah mengerti kebahagiaan dan tidak mempedulikannya tapi dengan demikian sesungguhnya justru kau bahagia. Sedangkan aku, aku selalu mengejar senja hingga lupa mengenali seperti apa rupa kekasihku. Lalu untuk apa semua usahaku jika aku bahkan tidak dapat mengenalinya jika bertemu” si jangkrik diam.
“Mungkin sesederhana masalah Tuan, mengapa aku harus mencari yang tak kukenali? Mungkin kekasihku adalah senja ini, yang semakin menjauh tiap kali aku mengejarnya. Ternyata aku hanya harus diam, dan keindahannya akan menyapaku".
Mentari dengan anggun turun, mengedipkan kilau emas terahir menutup hari.
“Kilau senja menjadi sangat indah karena ia telah menjadi tempat perpisahan siang” kata Jangkrik Muda lirih, “dan semakin kita mendekatinya semakin jauhlah keindahan itu; aku telah menemukan kekasihku. Kekasih yang sangat indah”.
Sejak itu Jangkrik Muda hidup damai disana mendengarkan lagu indah alam yang bersiap tidur sambil menatap senja kekasihnya.
Dan suatu hari nanti ketika Robot Lelaki Kecil telah kehabisan daya maka ia akan mati. Namun burung-burung camar dan pohon-pohon di pantai yang mendapati dirinya terbaring tak berdaya itu tahu di balik lempengan besi penutup dadanya mereka melihat sebongkah hati semerah mawar.
Senja jeparaku08
dikirim senja_saujana 17 minggu 4 hari yang laluTag:







