Namaku Izrail Bab 4 : Hikayat Izrail (penggalan pertama)

9
points
"

Bab ke-4 ini agak panjang, jadi kupenggal beberapa bagian

"

Suaranya mendesah. Merambat di telingaku. Denyut gelombang yang memecah molekul udara itu rasanya menelusup, mengalir lembut, merasuki pendengaranku dengan intonasi yang runtun. Fraktal-fraktal seolah muncul di lembaran citarasa. Muncul dari kegelapan menjadi bercak dan titik cahaya yang meluas, menggeliat-geliat dengan liuk lenturan bagai ukiran Jepara, menciptakan keindahan alam imajinal.

Suara Izrail bagai bisikan yang jauh tapi sangat dekat. Getar dan gemanya yang memantul di dalam konstruksi golden ratio tulang rawan kupingku, mengaduk-aduk jiwaku yang tenggelam dalam lantun dan lamun kisahnya. Jelas sekali berirama, seperti syair kehidupan dan kematian yang sahut menyahut. Naik dan turunnya menciptakan harmoni yang tak bisa ditolak siapapun selama ia disebut makhluk ciptaan Yang Maha Pencipta. Izrail mengungkapkan kisah dirinya.

---oOo---

Begitu saja.
Ketika Dia Berkehendak melimpahkan rahmat dan kasih sayang-Nya,
maka aku mengada seperti yang lainnya dari jenisku.

Aku tercipta begitu saja dari samudera Cahaya Kehidupan dan Debu;
dari Nur Muhammad dan al-Haba.
Aku berasal dari keduanya, berkas-berkas debu dan cahaya yang mengalir menjadi dari perintah penciptaan semua makhluk
- Kun Fayakuun.

Aku adalah satu diantara yang tak terhitung,
yang Dia ciptakan untuk menjaga kelangsungan mantra Kun FaYakuun, sebagai suatu proses kehidupan.

Aku adalah bagian dari Niat, Hasrat, Keinginan, Kehendak dan Kemahakuasaan-Nya untuk dikenali.

Aku adalah bagian dari Perbendaharaan Tersembunyi Milik-Nya.

Aku adalah yang nyata dalam misteri bagi semua makhluk yang dihidupkan dan dimatikan oleh Perintah-Nya jua. Akulah yang melaksanakan fase akhir kehidupan dari awal kehidupan lainnya. Tentu, yang berbeda dengan segala imajinasi kehidupan yang kaummu telah nyatakan sebagai kenyataan hidup di alam fana ini;
Di Planet Biru ini.

----oOo---

Ada milyaran proses yang menyertai Kemahakuasaan dan Kemahabesaran yang dinyatakan-Nya dalam kalimat penciptaan itu. Sejumlah itulah kami ada.
Baik yang nyata maupun yang kasat mata.
Baik yang terasa maupun tidak terasa.
Baik di dalam maupun di tapal batas semesta.

Masing-masing dari kami, mempunyai tugas-tugas yang spesifik.
Aku hanyalah salah satu saja yang bertugas dengan kepatuhan HambaNya setiap saat, bersiap sedia bilamana semua makhluk sudah tiba untuk dipanggilNya,
untuk kembali ke awal mulanya, baik dengan Rahmat maupun MurkaNya.

Karena aku dari jenis makhluk yang mengikuti kepatuhan belaka,
maka aku sebenarnya tidak pernah terikat oleh ruang dan waktu,
maupun kesementaraan. Meski begitu, aku selalu mengikuti arus Sang Waktu,
seperti layaknya mahluk lain yang berada dalam kisaran tersebut.
Jadi pendeknya aku tak pernah mati, sebelum yang lainnya kumatikan atas kehendak-Nya. Yah, makhluk semacam itulah.

Aku bertasbih dalam perintah yang diamanatkan padaku, tanpa kenal lelah, tak kenal waktu; atau pun pengertian-pengertian relativistik seperti yang dinyatakan ada pada kaummu yang lemah.

Beruntunglah kaummu, karena dari kelemahan jasad dan fisik rahasia kehidupan yang ditiupkan ke alam kesementaranmu itu adalah rahasia DiriNya. Dan tentu ada kelebihan kaummu atas kaumku. Namun, ada juga beban berat yang kamu gendong, yang ditakdirkan dari Kehendak-Nya dengan Kemahabijaksanaan-Nya yaitu
kaummu sebagai Bani Adam, si Pengemban Amanat Penciptaan dengan Pengetahuan Ke-Esa-an.

-bab ke-4 masih bersambung di penggalan kedua---

Your rating: None Average: 4.5 (2 votes)
dikirim atmoon 28 minggu 2 hari yang lalu
Tag: