Akhirnya seminggu lewat lagi, ini dia chapter 4, selamat menikmati :3
"Seira’s Dreamland (???)
Seira berdiri kebingungan. Tempat yang dikunjunginya dalam mimpi satu malam sebelumnya muncul lagi. Kali ini tidak ada yang berlutut di depannya. Dia sendirian. Seira menatap salib di depannya yang menancap di atas sebuah makam lalu menghampirinya. Gadis itu berlutut sejenak sesuai adat Maryweather untuk menghormati arwah dan membaca nama yang tertera di sana: Meredith Heartilly.
Duka yang mendalam tiba-tiba saja menyerang summoner itu. Air matanya menetes, lalu tanpa disadarinya, seolah ada kekuatan yang menggerakkannya, tangan Seira bergerak menyusuri sebuah kalung di lehernya dan mengambil sebuah kristal kuning keemasan.
Cargo Ship (Fall 24th, 0533)
Seira terbangun kaget. Langit masih berbintang dan gelap. Di sebelahnya terbaring Ruina dan Esper. Mereka berada di atas sebuah kapal sebagai satu-satunya penumpang, karena tidak ada orang bodoh yang sengaja menuju medan perang.
Ia meraba sekeliling lehernya mencari-cari kalung dan kristalnya yang sesaat tadi dipegangnya. Entah kenapa Seira merasa Kristal tersebut sangat berharga, namun ia tidak dapat mengingat di mana pernah melihat benda itu sebelumnya. Yang ditemukan Seira hanya sebuah kalung berisi sebuah foto yang diketahuinya sebagai ibu dan kakaknya. Seira pun mau tak mau teringat cerita ayahnya yang mengatakan mengapa ibu dan kakaknya tidak bersama dengan mereka.
“Seira, kau bangun jam berapa?”
Seira sedang melamun di dek kapal memperhatikan matahari terbit saat suara ngantuk Esper menyapanya.
“Aku hampir tidak bisa tidur…” Jawabnya berbohong.
“Kau yang terlelap duluan tadi malam tahu,“ timpal Esper sambil tertawa, “Apa maksudmu dengan tidak bisa tidur, eh?”
“Lebih baik kita bangunkan Ruina. Aku bisa melihat daratan di kejauhan.”
Esper mengangkat bahu. Ada nada dalam bicara Seira yang menandakan ia tak ingin meneruskan pembicaraan. Merekapun membangunkan Ruina. Cargo Ship mulai merendah, lalu mendarat, dan membawa kejutan bagi ketiganya.
Riuna (Fall 24th, 0533)
“Sial, tiketnya tertukar…,” gumam Alexis.
“Apa maksudnya ‘tertukar’?” tanya Sakato.
“No way, aku ingat memberikan tiket ke Riuna kepada party member mereka, tapi kenapa…?”
Raiko dan Raika menghela napas.
***
Hagrant (Fall 23rd, 0533)
“Raika!” panggil Esper sambil berlari.
“Ya? Ada apa Kak Esper?”
“Eh, aku ada permintaan. Sebenarnya lebih tepat dibilang permohonan sih…”
“Apa?” Tanya Raika. Raiko ikut menyimak di sebelahnya.
“Ng.., bisakah kau dan Raiko menukarkan tiket party kami dengan kalian?”
“Untuk apa?” keduanya mengerutkan dahi.
“Yah.., tentu saja aku punya alasan yang kuat.”
Raiko dan Raika bertukar pandang heran sejenak sebelum Raiko menjawab.
“Yah, kami tidak keberatan ke manapun pesawat kami pergi, tetapi kakak harus ingat bahwa jumlah tiket party kami berbeda dengan party kakak.”
“Apa kakak tidak bisa menceritakan alasannya?” Tanya Raika.
Esper terdiam, lalu teringat tiga kartu yang dibukanya tadi. Dia menggigit bibir bawahnya dengan gelisah.
“Dengar, kita sudah tidak punya waktu untuk cerita macam-macam, yang jelas,” Esper memilih kata-katanya dengan hati-hati, “sebaiknya jangan biarkan Seira bertemu Sally sekarang. Soalnya…eh…pokoknya, bisakah kalian lakukan itu diam-diam? Kumohon…”
***
Riuna (Fall 24th, 0533)
“Begitulah ceritanya,” kata Raika menyelesaikan.
“Lalu Kak Esper menyerahkan tiket party mereka kepada kami dan membeli satu tiket ekstra ke sini untuk menggenapkan jumlahnya,” sambung Raiko.
Sakato dan Alexis hanya bisa menggelengkan kepala. Rencana mereka berubah. Saat ini, mereka tengah memasuki penginapan di kota itu untuk memesan kamar.
“Bocah itu…, kelakuannya seperti anak kecil yang tidak bisa diatur padahal dia lima belas tahun. Selalu seenaknya. Semoga saja alasannya cukup kuat untuk menempatkan tiga gadis muda ke medan perang,” gerutu Alexis.
“Tidak ada gunanya bertele-tele memikirkan itu,” bisik Sakato, “Kau sudah memikirkan Nickname kita?”
Alexis terkejut. Memang, karena tujuan mereka berubah tidak sesuai rencana, nickname baru tak sempat dipikirkan.
“Untuk apa ada nickname?” tanya Raika.
“Untuk jaga-jaga. Kita aman di dalam istana, tetapi di tempat lain, gosip selalu mudah menyebar melalui klan-klan yang sangat banyak jumlahnya. Di tempat kalian mungkin tidak ada, tetapi di sini, apalagi untuk misi penting, kita perlu nickname,” jelas Sakato, “Kurasa, Princess juga punya nickname?” tanyanya pada Alexis.
“Permisi, kami ingin memakai ruangan nomor tiga belas atas nama Jasmine, Rose, dan Alice. Kami menggantikan mereka datang karena mereka berhalangan,” Alexis berbicara menirukan gaya professional travel guide yang membuat Raiko dan Raika menahan senyum.
Pemilik penginapan telah melihat kedipan mata Alexis, dan mempelajari wajah keempat orang di depannya.
“Nama kalian?”
“Faith,” katanya menunjuk Sakato, “Rena dan Reno,” katanya menunjuk Valentine bersaudara, “Dan Yuki,” katanya menunjuk ke dirinya sendiri.
“Punya bukti pembayaran?” ujar si pemilik penginapan.
“…Yuki?” sapa seorang gadis tiba-tiba.
Keempatnya menoleh. Memang sedang dalam penyamaran, tetapi wajah lembut dan rambut panjang Princess Sally Sonata yang dikepang tidak mengalihkan perhatian Sakato maupun Alexis.
“Hai! Maaf, kami gantikan mereka kemari!” kata Alexis lancar.
“Lama tak ketemu,” sambung Sakato, “Kurasa kau belum pernah bertemu dengan keponakanku, Rena dan Reno?”
Mereka berlima berlaku selayaknya kawan lama. Sally mengisyaratkan mereka untuk ke kamarnya segera setelah menaruh barang.
***
Rhapsody (Fall 24th, 0533)
Kota sudah sepi. Sebagian besar penduduk dievakuasi. Setiap gerbang dijaga oleh pasukan khusus Rhapsody Kingdom yaitu para Paladin. Seira, Ruina, dan Esper keluar dari Cargo Ship setelah mendapatkan pemeriksaan keamanan dan langsung menuju istana.
“Ada yang bisa jelaskan sekali lagi kenapa kita ada di sini?” tanya Ruina jengkel.
“Entah. Mungkin jebakan?” kata Seira polos.
“Kalian terlalu pesimis,” Esper berbicara masih dengan tawanya yang tanpa-henti, “Memangnya di sini tidak menyenangkan? Apa rencana kita?”
“Menghadap King Andante,” gerutu Ruina, “Bilang ada perubahan rencana. Sebisa mungkin beritahu ayahmu juga, Sei. Apa kalian para Summoner memiliki cara khusus untuk hal semacam itu?”
Mereka tiba di gerbang istana yang tertutup dan dijaga satu pasukan Paladin.
“Jangan bergerak,” perintah komandan barisan, “Katakan tujuan kalian.”
***
Maryweather Valley (Fall 24th, 0533)
“Kepala Desa?”
Felio tersentak dari lamunannya dan melihat Athena di belakangnya.
“Ya?”
“Sudah ada perkembangan baru?” tanya Athena.
Felio menghela napas panjang untuk kesekian kalinya, lalu kembali menatap gunung dari teras rumahnya. Gunung itu tinggi dan memberi kesan keramat.
“Semenjak Seira pergi sepertinya ‘penghuni gunung’ semakin jarang keluar. Seharusnya sekarang anak-anak itu sudah sampai di tujuan,” kata Felio.
“Kau khawatir?” Tanya Athena menenangkan.
“Sedikit.”
“Sedikit?” jawab Athena sambil tertawa ringan, “Karena ini akan jadi pengalaman perang mereka yang pertama tanpa kita?”
“Yah, bila sudah tua, kita semakin sering ingat masa lalu, kan? Kau ingat kejadian tiga tahun lalu?”
“Saat Seira bertemu Sally? Rasanya sudah lama ya.”
Felio membayangkan yang terjadi hari itu, seolah baru kemarin: hujan lebat…langit gelap…ruangan yang hanya diterangi cahaya bulan…Sally tiga tahun lalu berlutut…menangis…Seira terbujur kaku…berlumuran darah…
***
Rhapsody (Fall 24th, 0533)
Seira menggeleng-geleng, menepis ingatan itu dari kepalanya.
“Kau tidak apa-apa, Sei?” terdengar suara Ruina seolah dari jauh.
Mereka sedang berjalan dipandu oleh seorang paladin memasuki aula istana. Suasana istana ini disukai oleh Seira: menyiratkan kemurnian dan kesucian entah bagaimana.
“Silahkan tunggu di sini,” kata Paladin tersebut.
Seira dkk berdiri di sebuah ruangan untuk rapat. Ruangan itu, seperti ruangan istana yang lain, bernuansa putih bersih dilengkapi meja bundar yang besar. King Andante maupun siapapun belum ada di sana.
“Sei, kau dengar aku?” Tanya Ruina khawatir.
“Ya, aku baik,” jawab Seira, “Aku hanya sedang memikirkan Sally. Apa dia baik-baik saja?”
“Mau kuramal?” Tanya Esper semangat, “akan kutarik satu kartu yah…” Esper mulai men-shuffle tarotnya.
“Jangan! Tidak perlu…”
Terdengar suara pintu terbuka. Esper segera menyembunyikan lagi tarotnya dalam jubahnya, tetapi satu kartu telah terjatuh. Ia segera berdiri di atas kartu itu untuk menutupinya dengan jubah panjangnya.
Andante masuk diiringi empat orang Paladin khusus yang dikenal Seira sebagai Quadra.
“Selamat datang di Rhapsody, Seira dan teman-temannya. Kalian tentu lelah akibat perjalanan yang jauh dari Maryweather Valley…,” Ruina menahan keinginannya untuk mengatakan bahwa raja tua di depannya ini justru membuat mereka terlihat sesegar orang yang baru istirahat panjang, “…tetapi menurut Kepala Desa Felio, bukankah anda akan didampingi beberapa pemuda juga?”
“Sepertinya terdapat kesalahan teknis, Yang Mulia,” jawab Seira dengan nada pahit, “Party kami sebelumnya direncanakan berada di Hagrant untuk situasi darurat. Harap maklum.”
“Tak ada masalah, karena kamilah yang mendapatkan bantuan maka kami tak berhak meminta macam-macam, bukan begitu?”
“Yang Mulia…,” gumam seorang dari Quadra.
Seira memperhatikan keempat sosok itu, grup teraneh yang pernah dilihatnya. Terdiri dari seorang anak laki-laki bersenjatakan sword yang tidak mungkin lebih tua dari Seira mengenakan pakaian biru seperti akan menghadapi pesta elit, seorang pria bertubuh raksasa kira-kira 1 rinne lebih tinggi darinya dengan mace yang sesuai dipadukan pakaian yang sama sekali tidak melindungi tubuh bagian atasnya dan menampakkan otot-ototnya yang garang. Jelas pria ini tipe fighter, pikir Seira. Ada juga seorang wanita (Di Rhapsody, female paladin dikenal dengan panggilan saint) dengan wajah mirip sekali dengan Sally, juga cara berpakaian ala putrinya. Wanita ini membawa magic wand. Tipe spellcaster, Seira mengingat. Yang terakhir, juga tipe spellcaster, seorang laki-laki berwajah kaku dengan jubah mage putih dan magic wand.
“Ah, ya,” gumam Andante, “Aku hampir lupa tujuan kami di sini. Kalian akan menerima penjelasan situasi yang akan kita hadapi saat ini. Joan?”
Anak laki-laki Quadra itu melangkah agak ke depan sementara Andante mundur. Esper terbatuk tak jelas. Ruina menyikutnya.
“Aku akan menjelaskan situasi geografis kita saat ini,” katanya dengan lagak sok penting. Seira melihat tangan Esper sepertinya sudah gatal ingin meremas kepalanya. Ia sendiri teringat akan Raiko dan Raika bersaudara.
“Rhapsody, mempunyai gerbang dua lapis dengan pintu di empat tempat: arah jam 12, jam 3, jam 6, dan jam 9. Struktur gerbang tersebut cukup menguntungkan bagi kita dengan adanya ruang antara gerbang dalam dan gerbang luar sehingga kita dapat mengurangi jumlah musuh yang masuk ke dalam kota,” tangan Joan memberi aba-aba pada si Quadra wanita yang lalu membuka map untuk memperjelas, “Usahakan,” kata Joan dengan tekanan, “agar gerbang dalam tidak diterobos. Apabila keadaan sudah tidak terkendali, seluruh pasukan akan ditarik mundur ke istana yang akan menjadi medan perang kedua. Tentu saja hal ini tidak diharapkan perlu.”
“Deizalia, menurut mata-mata kami, sudah berada di Cain Plateau, kira-kira tiga fatri arah jam 11. Kapan saja mereka siap menyerang. Seperti yang sudah kalian ketahui, kami telah menempatkan satu peleton Paladin dan Saint di tiap gerbang. Camp sudah didirikan di sekitar gerbang untuk peristirahatan prajurit, kalian juga bisa memilih untuk beristirahat di sana bila tidak ingin jauh dari gerbang, namun kami memiliki strategi khusus untuk kalian.”
“Yeah? Apa?” tanya Esper spontan dengan nada campuran antara “apa kabar?” dengan “diam kau,”.
“Kami ingin kalian berpasangan dengan Quadra,” Andante menjawab dengan sabar sementara Joan menatap Esper tajam.
“Menambah pertahanan istana,” jelas Joan, “Kami mempunyai dugaan mengenai target mereka. Anda tentu mengerti, Miss Seira. Hal yang bukan rahasia di Maryweather tetapi diatur ketat oleh Rhapsody.”
Seira terpana. Ia tahu persis apa yang dimaksud Joan. Dia melihat Ruina dan Esper memandang ingin tahu.
“Kami akan membagi kalian bertiga dalam tiga grup, masing-masing akan berpasangan dengan seorang Quadra: Lief,” kata Joan sambil menunjuk spellcaster berwajah kaku, “Amanda,” sambil menunjuk saint yang sejak tadi membuka map, “dan Ross,” sambil menunjuk si raksasa, “Ketiga grup akan dipencar di istana sebagai umpan hidup, sementara Raja,” Joan menatap mata Seira penuh arti,” akan menjalankan rencana rahasia. Salah satu grup akan ditempatkan tepat di depan ruangan tempat rencana rahasia dilakukan. Kami sudah membicarakannya, dan orang yang berada dalam grup tersebut harus siap bertahan dengan taruhan nyawa.”
Seira, Ruina, dan Esper saling lirik, lalu…
“Aku,” kata Seira, “yang akan bertahan di sana.”
“Baiklah,” kata Joan, “Seira Romancy, anda akan berpasangan dengan…”
***
Riuna (Fall 24th, 0533)
“Senang berkenalan, Raiko, Raika,” kata Sally sambil mengecup keduanya sebagai tanda persahabatan.
Mereka ada di kamar Sally dan ibunya. Melody tengah tertidur karena lelah. Mereka semua sekarang duduk bersila di lantai.
“Suatu kehormatan bisa menjaga Anda di sini, Princess Sally,” kata Raika.
“Kalian dari Revin Island?” tanya Sally, “Pulau itu mempunyai kebudayaan yang amat menarik. Salah satu dari tujuh suku tertua di dunia. Apa nama yang diberikan untuk kemampuan kalian yang sangat special itu? Ninjutsu?”
“Anda tahu banyak, Princess,” kata Raiko malu-malu.
“Panggil aku Sally saja. Aku tidak sedang di istana dengan segala kemewahannya kan?” kata Sally sambil tertawa.
“Kak Sally,” sambung Sakato juga tertawa.
“Tentu tidak,” Sally tersenyum kepadanya, “Perbedaan usia kita tidak sejauh itu kan, Sakato?”
“Perubahan rencana ini tidak mengganggu, kuharap?” kata Alexis, “Kami di sini sebagai akibat bocah sialan bernama Esper, yah, usianya sih lima belas tapi kelakuannya benar-benar seperti anak-anak,” keluhnya, “dia juga yang menukar tiket kami ke sini.”
“Tidak,” Sally tiba-tiba teringat, ”ada yang harus kuceritakan pada kalian.”
***
Riuna (Fall 23th, 0533)
Sally sedang menjauhi kerumunan itu ketika tiba-tiba saja, di depan matanya telah mendarat dari ketinggian tertentu, tak lain tiga Dragoon bernama Auror, Kei, dan Sibel.
“Selamat malam, Princess Sally Sonata dari Rhapsody,” sapa Kei tajam.
Sally tersentak dan berusaha lari, namun usahanya sia-sia. Auror berhasil mengepungnya. Situasi ini berbahaya, pikirnya.
“Tak ada yang perlu dikhawatirkan, Princess, kami hanya ingin berbicara,” kata Auror dengan tenang.
“Kami?” sahut Sibel getir, “Kau yang punya urusan, tahu.”
Auror menghela napas.
“Tak perlu basa-basi lagi, Princess. Kami telah berhasil mengetahui keberadaan benda keramat yang ada di istanamu saat ini. Kau…,” Auror memincingkan mata reptilnya membuat wajahnya semakin memucat mengerikan, “…tentunya tahu maksud kami, kan?”
***
Riuna (Fall 24th, 0533)
“Apa maksudnya?” Tanya Alexis.
“Di negara ini, hal itu tidak untuk diketahui umum, berbeda dengan Maryweather. Sakato,” kata Sally memandang pemuda itu, “Kau tahu apa maksudku?”
“Kami tidak tahu apa maksudnya,” kata Raiko.
“Kalau memang benda itu yang dimaksud, tentunya situasinya lebih berbahaya yang kami duga,” jawab Sakato mengabaikan kata-kata Raiko, “Tetapi aku tidak pernah tahu Rhapsody memilikinya. Apakah Felio tahu?”
“Oh, tahu,” Sally tersenyum pahit, “Seira tidak akan pergi ke sini bila peristiwa itu tidak terjadi.”
Sally juga teringat peristiwa itu. Gadis itu masuk ke ruangan tepat pada waktunya untuk menemukan Seira sekarat, karena sejak saat itulah hubungan Rhapsody dengan Maryweather terjalin.
“Aku tidak bisa di sini. Sakato, kau pasti mengerti, bawa aku kembali ke Rhapsody secepatnya, kumohon..” kata Sally.
Baik Sakato, Alexis, maupun Raiko dan Raika Valentine bersaudara terbengong. Andante sendiri yang menempatkan Sally di sini. Tentunya mereka tidak bisa membawa sang putri kembali.
“Tidak bisa, Sally,” debat Sakato, “Kami di sini untuk memastikan kau aman! Bukan mengembalikanmu ke medan perang!”
“Tolonglah!” Sally nyaris menangis, “Ini menyangkut masa depan Rhapsody!”
“Kami tidak punya hak untuk mengambil keputusan seenaknya, Sally,” Alexis berusaha meyakinkan, “Paling tidak, Kepala Desa Felio harus tahu.”
“Tuan Felio sudah tahu!” desaknya, “Kumohon mengertilah!”
“Kami juga tidak bisa, Kak Sally,” Raika berkata takut-takut, “Kak Esper sempat mengatakan sesuatu pada kami. Katanya, Kakak tidak sebaiknya bertemu dengan Kak Seira sekarang.”
Sally menatap mereka semua dengan bingung. Tak tahu harus berbuat apa. Pada saat itu, ia baru melihat ibunya sudah bangun, entah sejak kapan.
“Kenapa kemarin kau tidak menceritakan itu pada ibu, Sally?”
Mereka semua menoleh dan membantu Melody duduk di tempat tidurnya. Sakato berusaha untuk tidak menatap mata Ratu Rhapsody itu, sayangnya, hal tersebut terlihat jelas oleh Melody.
“Aku mohon bantulah Sally, Sakato. Soal Felio, biar aku yang mengurusnya. Ia memang harus tahu. Kumohon, lindungilah Rhapsody.”
Sakato menghela napas. Kenapa semua jadi kacau begini? Pikirnya.
***
Rhapsody (Fall 24th, 0533)
Andante dan para Paladin meninggalkan ruangan lebih dulu. Saat itu, Seira dan Ruina masih berbincang-bincang.
“Kau tahu resikonya, kan, Sei?” Tanya Ruina.
“Cukup sepadan, Rui. Sally telah membahayakan nyawanya sendiri untuk menolongku waktu itu. Ini akan melunaskan hutangku,” jawab Seira sambil tersenyum.
“Berani sekali,” gumam Ruina walau sekilas ia menangkap nada khawatir pada kata-kata Seira tadi, “Semoga sukses. Esper, apa itu?”
Esper terlonjak, ia baru saja mengamati kartunya yang tadi jatuh. Ia berusaha menyembunyikannya, tetapi tangan Ruina jauh lebih cepat dari dugaannya.
“The World,” Ruina mengumumkan dengan jelas, “Jelaskan pada kami, Esper. Kalau tidak salah, Sally yang ingin kau ramal, kan?”
“Kartu itu cuma terjatuh!” bantah Esper, “Itu belum tentu kartu Sally!”
“The World?” Seira mengerutkan dahi, “Ada masalah dengan kartu itu?”
“Esper? J-e-l-a-s-k-a-n,” Ruina mulai melotot.
Esper menghela napas panjang. Ia mencoba berkata sewajar mungkin.
“The World bisa berarti semacam kemakmuran,” katanya, “Biasanya memiliki arti positif, tetapi aku merasa posisi jatuhnya tadi agak aneh.”
“Posisi?” Tanya Seira.
“Kukatakan tadi ini terjatuh, jadi tidak ada kepastian, yang jelas saat kupungut, kartu ini terbalik.”
“Jadi?”
“Masalah ini mungkin akan berkembang ke arah yang tak terduga.”
Tag:









