Aku tak tahu apa yang membuatku menamparnya seperti itu. Dan bahkan sebelum aku mencoba mengutarakan maaf, ia telah berlari pergi. Tak kudengar isakan tangis atau makiannya padaku, namun raut wajahnya yang terkejut seakan aku baru saja membunuh ayahnya itu, membuatku makin merasa bersalah. Aku hanya bisa terdiam, tak punya keberanian menyusulnya, dan meskipun akhirnya aku berani, kurasa egoku yang akan mengambil alih kuasa, memilih untuk membiarkan dia pergi.
Kini aku merasa konyol. Entah apa yang menggerakkan tanganku tadi, begitu saja kulayangkan tamparan itu ke pipinya, membuatnya merah dalam sekejap mata. Dan kini disinilah aku, terduduk di padang ilalang sendirian, menyesali perbuatan bodohku.
Kucoba memikirkan kembali tamparan tadi, dan sekarang setelah otakku mendingin, aku menyadari diriku kelewatan. Dia hanya datang padaku sesuai janji kita semalam. Kami mengobrol santai, sebelum dia mengutarakan bahwa ia terharu dengan seorang pria lain, dan jatuh hati padanya, lalu berlanjut dengan mengatakan dirinya kini jatuh cinta pada lelaki itu.
Ya, aku ingat bagaimana mataku langsung gelap seketika. Aku bisa mendengar detak jantungku yang memburu cepat, nafasku yang semakin berat, dan tak kuasa aku mendelik padanya. Ia tampak cukup tenang, masih menyunggingkan senyum khasnya, bertanya mengapa aku terlihat tidak seperti biasanya. Aku melakukan kesalahan dengan tidak mengutarakan saat itu juga apa yang ada di dalam pikiranku, melainkan menekannya dan—dengan pengendalian diri luar biasa—balik tersenyum padanya.
Maka pada akhirnya saat ia terus berkoar tentang betapa sempurnanya lelaki itu, aku membentak, ingin membuka matanya dan membuatnya melihat keberadaan diriku, yang selama ini terus di sisinya, mendukung dan terus mencintainya, bahkan setelah aku tahu bahwa dirinya takkan bisa mencintaiku. Tapi apa yang kudapat? Sedikit rasa haru pun tidak. Tak juga ada rasa sesal di wajahnya bahkan setelah aku memprotes.
Dan terjadilah. Saat ia utarakan ia harus pergi sekarang ingin mengunjungi lelaki itu, aku tak sadar lagi. Tanganku melayang begitu saja, mendarat keras di pipinya….
Kini hanya penyesalan yang mengampiri.
Aku tak bisa menghapus siluet wajah kagetnya yang terekam dalam otakku, dan kenangan-kenangan masa lalu pun muncul ke permukaan, membuat hatiku semakin terpuruk menyesal.
Namun kemudian begitu saja muncul pikiran positif yang datang, membuatku kembali bersemangat. Maka kuputuskan, tak ada waktu untuk ragu. Kalau memang aku tak bisa memilikinya, biarlah ia yang memilikiku. Dan bila ia tak bisa memberikanku cintanya, biarlah aku sepihak yang memberikan cintaku. Aku harus minta maaf!
Dengan langkah mantap kukejar ia, dengan menggenggam setangkai bunga Hyacinth ungu mekar yang sempat kupetik di taman. Aku tahu kemana ia pergi, dan benar kutemui ia berjalan gontai di tepi jalan itu, jalan yang menghadap langsung ke hamparan laut, jalan tempat pertemuan kita.
Kupanggil ia, dan ia menyambutku dengan wajah kakunya. Pucat dan tak secercah senyum pun tersemat. Nyaliku ciut, namun kuberanikan diriku menyerahkan bunga yang kugenggam.
“Apa ini?”
Suara dinginnya serasa menusuk. Tergagap, kucoba ucapkan satu kata itu.
“Maaf.”
Ia tak bereaksi, menatapku—tidak lagi dengan mata lembutnya—tapi dengan tatapan sinis.
“Bunga Hyacinth ungu,” kataku, berusaha mengabaikan sambutannya yang tak ramah, “Artinya, Please, forgive me atau I’m so sorry.”
Aku tak berani memandangnya, namun membuatku tersentak, ia mengambil bunga itu begitu saja dari tanganku, masih tanpa senyum, namun berkata “lupakan saja” pelan.
Dan tiba-tiba kelegaan luar biasa menyelimutiku. Pada akhirnya aku menemaninya—yang telah mengurungkan niat untuk menemui si lelaki lain—berjalan perlahan di sepanjang jalan itu. Ia memang berjalan di depanku, tak berusaha menungguku, namun hatiku lega. Air mata bahagia mulai mengalir turun ke pipiku, menandakan awal yang baru bagi hubungan kami.
Aku sadar diriku hanyalah perempuan biasa dan tak istimewa. Dan meskipun aku tak bisa milikinya, namun cintaku padanya tak akan berubah, tidak bahkan bila ia seorang gay….
dikirim Zhang he 28 minggu 1 hari yang laluTag:









