MARIA
Perumpamaan tentang Putri Tuhan.
CTAAARR !!! ………suara……… p…e…t…i…r….
Dalam jangakauan penglihatannya, kilatan cahaya itu merambat turun. Sekejap meledak di angkasa. Gaung petir membuat langit memekik tajam. Menyalak – nyalak seperti gonggongan serigala liar. Menembus permukaan tanah yang basah akan gerimis yang belum enggan berhenti menitik. Bunga api pun belum beranjak mekar di atas sana menunggu giliran menghias langit fatamorgana yang semakin membiru. Dari atas sana Tuhan akan melihat dan mendengar pekik kerumunan orang – orang berikut ekspresi mukanya masing – masing. Meringis takut, akibat histeria sejenak, namun penuh kekaguman akan kembang merekah yang hanya sesaat. Payung – payung warna – warni mulai mengembang di sana – sini, hilir mudik berjalan menaungi ratusan tubuh yang setengah basah.
Sebuah tepukan hangat mendarat di pundaknya dan menyadarkannya untuk segera bergegas. Dengan terburu – buru ia membantu mengepak alat – alat yang terbuat dari kayu itu agar tidak kebasahan. Kadar air yang tinggi akan membuat kayu menjadi lembab, suara yang keluar akan menjadi sumbang dan hal itu merupakan sesuatu yang tabu dikalangan para Violis berdarah murni. Satu menit cukup untuk membereskan semuanya. Dalam satu menit itu semua telah kembali ke peraduannya masing – masing. Terlelap sejenak, beristirahat dengan damai di alamnya masing – masing.
Guyuran hujan yang membabi buta seperti senapan mesin bergesekkan dengan suara langkah ketukan sepatu. Ada ritme yang tercipta di antara keduanya. Suara langkah yang turut mendarat di atas genangan air, dan riak – riak kecil yang terciprat mengotori terusan Kamisol biru muda bermotif batik berlapis cardigan merah marun yang dikenakannya. Meski banyak yang menyanyangkan baju yang melekat di badannya itu terlalu muda mengingat usianya saat ini. Gadis itu berlari menembus pagar hujan, membiarkan rambut hitam panjangnya bergerak naik turun tersibak terhantam turbulansi angin membiarkan kristal – kristal air jatuh ke atas rambut hitamnya, membuatnya berkilauan seperti hamparan serbuk bintang.
Pelan tetapi pasti, langkahnya perlahan terhenti. Langkahnya yang tertahan membuat kepalanya berpaling. Sejenak, pandangan kedua matanya menatap lurus kearah deretan pertokoan yang membujur kaku di sepanjang jalan Rakuen Street. Diantara dua baliho raksasa yang tegak berdiri tinggi menjulang, gadis itu tersenyum penuh keanggunan. Aura bangga akan kecantikan yang akan diakui oleh siapapun yang memandangnya terpancar diantara guratan warna merah tua yang melengkung mengikuti garis tepi bibir.
Aku mengumpamakan tatapan matanya bagai beningan kaca…..
Mata biru hujan yang begitu teduh namun menyiratkan keangkuhan seakan membangkitkan partikel – partikel pemberontakan dalam asa. Gadis itu duduk bersimpuh di atas lembayung renda bernuansa Victoria pada masa perang dunia ke 2. Gaun pengantin sutera berkerah tinggi menutupi lehernya yang seputih kapas, menguntai turun bertabur ribuan pancaran batu berlian. Sepasang keindahan kaki putri duyung itu sedikit tersingkap di balik kain yang menutupi kulit perawannya. Kecantikan yang tidak bisa terkalkulasi oleh rumus hitung manapun juga. Mengundang jiwa untuk memasuki alam bawah sadar, menelusuri, menguak, dan menggenggamnya erat, tanpa melepaskannya lagi.
Matanya terpana oleh gadis itu. Setiap menatap matanya, seolah – olah ia telah mengenalnya sejak lama dan membangkitkan kenangan di masa lalu yang dulu sekali telah ia lupakan.
Hujan sore itu sama akan hujan kemarin lusa, hanya saja hari ini terasa sedikit asin. Bulir – bulir air mengalir jatuh melewati kedua matanya. Jatuh ke jalan bercampur dengan segala air, memurnikan dosa masa lalu. Tangisan yang tidak bisa dilupakannya dalam 9 tahun terakhir, akhir dari mimpi buruknya selama ini telah terhapus oleh hujan. Di bawah guyuran hujan sore ini akhirnya ia bertemu dengannya. Mempertemukannya dengan sepasang mata sebiru langit dan binar seteduh hujan. Dalam lukisan senja itu,
…………….aku menemukan Tuhan ………
Tag:









