Musik Itu....

24
points
"

crita pertama gw mengenai musik... gw gak ngerti musik, ini tugas skolah >_<

"

“ Pagi Anak-anak, pagi ini kita kedatangan murid baru. Ayo masuk,”
“ Pagi semua, nama gue Fonkres, ”
Yah, namaku memang Fonkres. Aku memang suka pindah-pindah sekolah karena papaku sering sekali pindah kantor. Jadinya yah gini, jadi korban. Aku sangat gak suka dengan sekolah baruku. Sekolahnya sepi banget, kayak gak ada kehidupan. Murid-muridnya belajar mulu. Gak ada yang menyenangkan. Anak-anaknya juga yang tipe-tipe kutu buku gitu. Aku juga gak suka sama sekolah baruku ini karena di sini gak ada klub musik. Yah, aku memang cinta mati sama musik, terutama aku suka banget sama gitar. Di sekolahku yang dulu sempat ikut serta dalam band sekolah, tapi yah gitu deh, pindah sekolah jadi ganggu yah.
“ Kamu duduk di pojok situ saja ya. Tidak apa? ”
“ Gak apa, Bu. ”
Pelajaran biasa, sunyi, kelas sepi banget!!! Kayaknya papa salah pilih sekolah. Bikin gak betah di sekolah. Aku berharap cepat-cepat bel itu berbunyi. Baru hari pertama masuk sudah gak betah! Gimana bertahan di sini?!
KRRIINNGGGG!!!!
Yes! Bel itu berbunyi juga, lama sekali aku menunggu. Langsung aku berlari ke ruang OSIS, Niatku? Tentu saja membentuk klub musik di sekolah yang gak benar ini!
“ Ketua OSIS siapa? ” Semburku.
“ Gue, ada urusan apa? Lo anak baru itu ya? ” Jawab seorang murid perempuan. Dia berkacamata, dan membawa buku banyak sekali. Tampak sekali kutu buku-nya.
“ Gue ke sini mau minta izin untuk membentuk klub musik, ”
“ Hah? Klub musik? Baru masuk udah ngerepotin, terserah lo deh, nih kunci ruangan kosong. ” Jawabnya sambil melempar kunci yang ia ambil dari sebuah laci.
“ Serius nih? Ya udah deh, Thank you, ” aku langsung berlari sambil mencari ruangan itu. Sekitar 1 jam aku mencarinya. Ternyata ruangan itu benar-benar sudah tua, dan sepertinya ruangan itu dulunya digunakan untuk klub musik. Kenapa yah gak diurus lagi? Bodo ah, yang penting aku udah dapat ruangan.
Besoknya, aku membawa gitar ke sekolahku. Tentu saja aku menjadi pandangan dan buah bibir semua murid-murid. Tapi aku tetap tak peduli, aku tetap percaya diri dengan apa yang kulakukan, dan apa yang akan kulakukan nantinya. Hari ini aq membagikan selembaran untuk klub musik. Biar gak sendirian gitu, dan siangnya mungkin sudah ada yang ikut serta.
Siangnya, ternyata diluar dugaanku, tak seorang muridpun datang ke ruangan ini. Sunyi. Tapi aku tetap menunggu, siapa tahu ada yang telat. Tak lama kemudian pintu itu mengeluarkan bunyi. Aku langsung mengangkat kepalaku untuk melihat sosok yang aku tunggu-tunggu itu. Tapi, apa yang kulihat sungguh mengecewakan, ternyata hanya seorang guru. Akupun kembali menundukkan kepalaku.
“ Kamu Fonkres ya? Murid baru itu? ” tanyanya.
“ Iya, ada apa, Bu? ”
“ Tidak, saya hanya penasaran padamu. ”
“ Penasaran? Memang saya buat ulah yah? ”
“ Hahahaha… Tidak, saya ingin bertanya, kamu benar-benar suka dengan musik? Mengapa? ”
Pertanyaan yang cukup aneh. Karena aku mengira pasti semua orang punya alasan tersendiri mengapa mereka menyukai musik.
“ Soalnya, musik itu… hidup. Tanpa musik, hidup itu terasa sepi. Dan musik, bisa menggambarkan perasaan kita. Musik itu, bagian dari diriku. ”
Hening sejenak. Mimik wajah guru itu tampank berfikir tentang sesuatu.
“ Gimana kalau kamu konser ajah di sekolah nanti? Sound system yang dulu masih bisa dipakai. Memang sudah cukup tua sih, tapi masih layak kok. ”
“ Beneran Bu?!?!? Tapi saya mau tanya, mengapa sekolah ini, punya ruangan untuk klub musik, tapi tak ada 1 orangpun yang mengikutinya? ”
“ Sebenarnya, ini cerita yang cukup lama. Dulu, dulu sekali, sekolah ini merupakan sekolah umum yang sangat terkenal dengan klub musiknya. Benar-benar terkenal. Tapi sayangnya, bunga tak selalu mekar, ia pasti layu, sama halnya dengan kejayaan klub musik sekolah ini. Saat itu, saat dimana sekolah ini mengadakan konser musik. Terjadi percekcokan antara murid, yang diakhiri dengan tawuran yang sangat kacau, bahkan ada beberapa pihak yang mengalami luka parah. Maka dari itu, tak ada lagi yang mau mengingat masa kelam sekolah ini, lebih baik dibirkan katanya. Musik yang merupakan kehidupan dari sekolah ini mati ”
“ Untuk itu saya di sini. Saya ditugaskan untuk menghidupkan musik yang telah mati itu. Saya akan menghidupkan kembali sekolah ini! ”
“ Gimana kalau acaranya minggu depan? Tidak terlalu mendadak? ”
“ Tidak! Tidak! Tidak mendadak, saya akan mempersiapkan diri sebaik-baiknya. ”
Aku senang banget. Ternyata masih ada yang dukung, dan minggu depan, akan menjadi penentu, kembali hidup atau tetap mati, musik di sekolah ini.
1 minggu telah berlalu, selama seminggu ini, aku menjadi bahan omongan semua murid. Aku juga dipandang dengan tatapan yang aneh. Mungkin karena selembaran tentang konser hari ini. Tentu saja, hal ini membuat mentalku down. Aku semakin ragu dengan apa yang akan kulakukan bersama gitarku. Sekarang, sudah tiba saatnya aku memainkan gitarku. Tapi tak ada 1 muridpun yang datang. Bahkan untuk sekedar lewat saja mereka tidak mau. Aku kesal, dan akhirnya aku memaksimalkan suara sound system. Membuat suara musikku menggelegar ke seluruh sekolah.
Aku mulai memainkan simponi. Nada demi nada aku mainkan dengan sepenuh hati. Aku ingin, sekolah ini hidup dengan musik. Karena musik itu hidup. Perlahan-lahan aku memetik senar gitar satu persatu. Aku mulai memainkannya. Alunan yang menunjukkan emosi. Marah, kesal, sedih, lega, senang, semua bercampur aduk. Sebab, itulah perasaanku sekarang.
Lalu, emosiku yang tersalurkan lewat musik itu, mulai didengar oleh murid-murid. Perlahan-lahan, mereka datang, datang menghampiri panggung kecilku, dimana musik itu mengalun di diri mereka masing-masing. Musik yang tercipta dari emosiku yang meluap. Alunan musik itu tetap mengalir, kemudian, musik itu membawa semua murid sekolah ke panggungku.
Beberapa menit berlalu, dan alunan musik itu berhenti mengalun. Heninglah yang mengisi suasana. Hening itu pecah oleh suara seorang murid,
“ Kenapa lo begitu SUKA sama musik? ”
Hening kembali, sunyi…
“ Karena, musik itu… hidup. Tanpa musik, hidup itu terasa sepi. Dan musik, bisa menggambarkan perasaan kita. Musik itu, bagian dari diri gue, dan musik itu, juga bagian dari diri kalian semua… ”
Tak ada basa-basi lagi, semua murid bertepuk tangan.
“ WOI SMUA! AYO KITA IDUPIN TUH KLUB MUSIK LAGI!!! ”
“ YOK!!! ”
Semangat mereka benar-benar hidup, dan aku berhasil menghidupkan musik yang telah mati itu…

Your rating: None Average: 4.8 (5 votes)
dikirim Cynara 28 minggu 1 hari yang lalu
Tag: