Keyakinan Itu Terjawab
Parmin seorang pemuda berumur 20 tahun akhirnya menjejakkan kakinya di kota Jakarta. Dengan persiapan seadanya dia mencoba mengundi nasib di ibu kota Indonesia tersebut. Bermodalkan uang seratus ribu, dua pasang pakaian dan sebuah sepatu butut yang disimpan di dalam tas gendong yang dibawanya itu Parmin tidak gentar untuk menghadapi kerasnya gelombang kehidupan di kota yang penuh persaingan ini.
Parmin yang berasal dari desa Ciampea Bogor mencoba mengundi nasib di Jakarta ini karena mendapat ajakan dari Amin salah seorang tetangganya yang sekarang mengaku sudah menjadi seorang pengusaha yang sukses setelah datang ke Jakarta. Temannya tersebut mengaku sudah menjadi penjual pakaian di salah satu pusat belanja di Jakarta tepatnya di daerah Cipulir. Mendapat ajakan dari tetangganya tersebut hati Parmin terarik untuk datang dan mengundi nasib di Jakarta. Secarik kertas yang bertuliskan sebuah alamat yang dia simpan di saku kemejanya itu menunjukkan tempat tetangganya itu tinggal di Jakarta yaitu di daerah Cipulir.
Parmin berangkat ke Jakarta menggunakan Bus dengan jurusan Bogor- Lebak Bulus. Turun di terminal Lebak Bulus Parmin langsung bertanya kepada salah satu supir angkot menanyakan alamat yang sedang dicarinya itu dengan menunjukkan kertas yang bertuliskan alamat tadi.
“Kang tau alamat ini tidak..?” tanya Parmin seraya menunjukkan kertas itu. Parmin yang berasal dari Ciampea yang tergolong desa terbilang paling tampan parasnya. wajahnya tidak menunjukkan dia berasal dari desa namun dia mempunyai tampang polos yang sepertinya mudah dimanfaatkan oleh orang.
“ Tau-tau, ayo naik mobil ini aja. Kebetulan saya narik mobil menuju tempat itu.” Jawab sang supir sekenanya. Padahal mobil yang dikemudikannya itu mempunyai jurusan Lebak Bulus- Pondok Labu. Rupanya sopir itu hanya mengejar setoran dan tidak punya niatan baik sama sekali untuk membantu. Parmin yang seperti tidak tahu apa-apa mengenai Jakarta akhirnya menurut saja kemudian dia naik Mobil itu.
Setelah sekian lama mobil angkot itu berjalan, timbul penasaran dalam hati Parmin. “ apa alamatnya jauh pisan nya. Soalna ti tadi can nyampe-nyampe“ gumamnya dalam hati. Parmin yang lama tinggal di Bogor dengan bahasa sehari-hari Sunda terkadang suka mencampur bahasanya ketika berbicara menggunakan bahasa Indonesia.
“ Kang jauh Pisan, Kok belum nyampe-nyampe sih ? “ ujar Parmin menanyakan keraguan hatinya kepada sang supir.
“ bentar lagi de, ni di lampu merah depan kamu turun yah..” jawab si supir seadanya aja.
“ Dimana Kang ?”
“ Ni bentar lagi….”
Kemudian Sopir itu memberhentikan mobilnya dan menyuruh Parmin untuk turun.
“ kamu turun disini aja, ntar kamu tanya lagi alamat yang tadi, gak jauh kok dari sini. Sekarang bayar, Ongkosnya enam ribu !!. “ sang supir menagih ongkos mobil dengan jumlah yang berlebihan.
“nih kang uangnya, makasih yah Kang udah mau nunjukkin.” Ucap Parmin karena merasa alamat yang dicarinya tidak jauh dari tempat itu. Dan lagi-lagi karena ketidak tahuannya dia membayar ongkos yang diminta Supir yang sebenarnya hanya empat ribu saja.
Letak lampu merah tempat Parmin diturunkan merupakan salah satu perempatan yang cukup padat dan laju mobilnya sangat kencang. Parmin yang berasal dari Desa yang tidak terbiasa dengan situasi lalu lintas seperti itu sangat kesulitan untuk menyebrang. Dia tidak memperhatikan lampu lalu lintas yang menjadi pedoman kapan pejalan kaki boleh menyebrang, sehingga ketika dia mencoba menyebrang sebuah mobil Fortuner dari arah kiri Parmin dalam kecepatan yang tinggi tak ayal lagi menabrak tubuh Parmin yang berada satu garis lulus dengan mobil itu. Beruntung Mobil tersebut dapat mengerem secara maksimal sehingga tubuh Parmin hanya terpental sekitar 1 meter saja karena terkena hempasan Mobil yang telah mengerem tersebut, tapi kepala bagian belakang Parmin yang menghantam aspal rupanya cukup parah. Suasana lalu lintas di sekitar tempat kejadian langsung menjadi macet. Para pengemudi lain memperlambat laju kendaraanya untuk menyaksikan apa yang terjadi. Para warga yang kebetulan berada di lokasi kejadian langsung berhamburan untuk menolong Parmin. Pemilik mobil Fortuner yang menabrak Parmin langsung keluar dari mobilnya dengan wajah yang khawatir karena takut Pemuda yang ditabraknya tak bernafas lagi.
Dia periksa denyut nadinya. Ternyata masih berdetak. “Pak tolong bantu saya mengangkat mas ini kedalam Mobil saya, saya akan segera membawanya ke Rumah sakit. !!” ucap pemilik Fortuner untuk kepada para warga yang mengerubuni tempat itu.
Mereka langsung membawa Parmin masuk kedalam Mobil Pak Azmi yang tadi menabraknya. Parmin masih dalam keadaan tidak sadarkan diri mungkin karena Syok karena kejadian itu berlangsung sangat cepat. Mobil milik Pak Azmi tersebut langsung meluncur menuju rumah sakit terdekat dari lokasi kejadian yaitu Rumah sakit Fatmawati . Parmin langsung ditangani di bagian Gawat darurat. Tubuh Parmin tidak ada yang mengalami luka yang serius hanya lecet karena terkena aspal. Tapi lain lagi dengan bagian kepalanya. Walaupun tidak memerlukan operasi tapi karena benturan yang lumayan keras pada bagian kepala Parmin, maka Dokter yang memeriksanya menyatakan bahwa kemungkinan Parmin akan lupa ingatan.
Saat itu pak Azmi yang menunggui Parmin di ruang UGD. Setelah sekilas melihat wajah Parmin Ada perasaan yang telah lama hilang dari pak Azmi namun perasaan itu seakan timbul lagi. Ada perasaan orang tua yang sangat behagia setelah kehilangan sesuatu dan akhirnya menemukan lagi sesuatu yang hilang itu. Setelah memperhatikan wajah Parmin, pak Azmi dijalari oleh perasaan yang tidak menentu. Ada getaran kebahagiaan menyusup ke dalam hatinya. Seakan pak Azmi telah menemukan sesuatu yang selama ini dia cari. Dia perhatikan wajah Parmin sekali lagi. Dari mulai rambut Parmin, alis matanya, kemudian hidung. Semuanya seakan tidak asing lagi bagi pak Azmi, padahal mereka baru kali itu bertemu dan itupun karena pak Azmi menabrak Parmin.
Dalam hati dia bergumam. “ Apa benar ini anakku Reza yang sudah hilang dua tahun lalu. ” ada butiran bening menetes dari mata pak Azmi. Tetesan bahagia karena menemukan sesuatu yang dicintainya. Sosok yang sekarang sedang terbaring di depannya sangat mirip dengan anaknya yang telah hilang sekitar dua tahun silam di gunung Ciampea. Untuk menyakinkannya pak Azmi mencoba merogoh saku pada baju dan celana Parmin berharap menemukan sesuatu yang menunjukkan identitas pemuda yang telah ditabraknya itu. Namun tidak ada satu bendapun yang ditemukan yang menunjukkan itu. Di dalam sakunya hanya ditemukan beberapa uang dua puluh ribuan. Sedangkan di dalam tasnya hanya didapati dua potong baju dan sepatu butut. Namun keyakinan bertambah bahwa pemuda yang ada didepannya adalah anaknya yang telah hilang dua tahun lalu ketika pak Azmi melihat tanda hitam di kening sebelah kanan pemuda itu. Tanda yang sama dengan anaknya Reza.
“ pasti dia anakku yang telah hilang itu. Tapi apa mungkin dia masih hidup?, tapi pasti ini anakku” . suara dalam hatinya tidak menentu. Antara yakin, tidak percaya dan ragu-ragu. Namun pak Azmi mencoba menyakinkan dirinya lagi, bahwa benar itu adalah sosok anaknya. Butiran bening itu kembali menetes. Apakah benar dia memang anakku ?
***
Dua Tahun yang Lalu
Pencarian korban bencana gempa di Gunung Ciampea sudah dihentikan. Para petugas sudah menyerah untuk meneruskan pencarian karena hampir seluruh wilayah tempat para pendaki gunung yang tertimbun longsoran tanah ketika gempa sudah mereka sisir. Dan tetap saja mereka tidak menemukan satu korban lagi yang menurut penduduk setempat ada lima pendaki gunung yang pergi ke gunung ciampea ketika gempa terjadi. Empat Korban yang berhasil ditemukan tidak ada yang selamat. Untuk menemukan mereka para petugas menggunakan anjing pelacak guna mengetahui keberadaan mereka. Mereka berempat ditemukan dalam kondisi tubuh tertimbun tanah.
Bu Wida orang tua dari korban yang tidak ditemukan hanya dapat berharap bahwa suatu saat anaknya tersebut dapat ditemukan. Dia sudah pasrah kalau ternyata anaknya ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa karena melihat keempat kawannya yang berhasil ditemukan sedikit harapan untuk menemukan anaknya dalam kondisi bernyawa. Lain dengan bu Wida, Suaminya yang juga ikut menyaksikan proses pencarian ke lokasi gempa meyakini bahwa suatu saat anaknya akan ditemukan dalam keadaan masih hidup. Entah keyakinan yang begitu kuat itu datangnya dari mana, tapi dalam hatinya dia sangat yakin dengan itu.
“ Mah aku yakin kalau anak kita masih hidup Mah..suatu saat dia pasti akan kembali. Udah jangan sedih berlarut-larut.” Ucap suaminya mencoba menenangkan Isterinya yang masih terus menangisi anaknya yang tidak ditemukan itu.
“ iya Yah, Mamah juga berharap seperti itu, tapi setelah melihat keempat kawan-kawannya….Mamah ja..di..” Bu Wida kembali menangis dan tidak meneruskan kalimatnya.
Mobil Fortuner itu kembali ke Jakarta setelah seminggu mengikuti proses pencarian anak mereka yang terkena musibah tanah longsor di gunung Ciampea. Hujan gerimis yang turun sore itu seakan air mata kesedihan yang mengiringi kepulangan mereka menuju Jakarta.
Seminggu sudah setelah kejadian gempa Bumi yang menimpa desa Ciampea. Para petani yang bertani di kaki gunung sudah mulai memberanikan diri untuk kembali bercocok tanam lagi di ladangnya masing-masing. Termasuk Pak Maman yang letak ladangnya berdekatan dengan lokasi musibah yang menimpa para pendaki gunung seminggu yang lalu sudah menjalankan aktivitasnya kembali sebagaimana biasa. Hari itu Pak Maman harus bekerja ekstra keras karena longsoran tanah itu mengenai sebagian ladangnya sehingga pak Maman harus menggali Sisa tanah longsoran yang berada di dekat ladangnya.
“ Pak ini makanan sama kopinya..! Ayo makan dulu pak, ini sudah siang !.” ujar istrinya yang datang ke ladang membawakan makanan untuk suaminya.
“ Iya bentar lagi.. ini tinggal sedikit lagi “ tanpa menoleh ke arah suara Maman terus memindahkan tanah yang menutupi sebagian ladangnya.
Maman dan Tarmi adalah sepasang suami Isteri yang sudah berumah tangga selama tiga puluh lima tahun. Mereka hidup bahagia. Maman yang sehari-hari bekerja sebagai Petani dan Tarmi yang menjadi kuli cuci sudah dapat mencukupi hidup mereka untuk terus menjalani hari. Namun ada satu hal yang selalu meresahkan mereka. Karena sekian lama mereka membangun mahligai Rumah tangga, Pelipur lara dan penyejuk hati yang mereka inginkan tidak kunjung terlahir ke dunia. Tarmi yang diduga Mandul tidak memungkinkan untuk mempunyai anak. Sehingga walaupun mereka cukup bahagia rasa bahagia itu belum lengkap jika mereka tidak memiliki buah hati.
Maman menghentikan pekerjaannya dan menghampiri Istrinya. Tarmi langsung menyendok nasi ke piring. Tempe, ikan emas goreng dan sambal menemani nasi di piring yang kemudian diberikan kepada suaminya. Disekanya keringat sang suami dengan handuk kecil.
“ Mi, tadi malam aku bermimpi. Mimpi yang sampai sekarang aku masih ingat dengan jelas” Maman membuka pembicaraan sembari makan.
“ Mimpi apa Pak..” selidik Tantri penasaran.
“ Aku mimpi kita punya anak..”
Jawaban itu terasa menyesakkan dadanya. Ada perih yang menyusup di dada yang selalu dia rasa setiap mendengar kata-kata mengenai anak. Namun dia tidak ingin memunculkannya berhubung suaminya sedang lelah setelah bekerja.
“ masa pak, terus gimana Pa !?”
“ iya kita punya anak, tapi yang aku heran anak kita itu udah langsung besar. Seumur dengan Asep anak tetangga kita. Kalau menurut kamu apa yah arti mimpi aku itu. ? “
“ mudah-mudahan itu pertanda yang baik pak dari Allah. Umi hanya bisa berdoa pak. Semoga mimpi bapak itu menjadi kenyataan” ucapnya istrinya lirih dengan air mata harapan yang tidak sampai menetes.
“ iya mi mudah-mudahan itu alamat untuk kita bakal mendapatkan anak..”
Setelah merasa kenyang Pak Maman kembali ke ladang untuk meneruskan pekerjaannya menyingkirkan tanah bekas bencana longsor. Tanah itu sangat tebal sehingga sebuah mulut gua yang berada di dekat ladang Pak Maman pun tertutup tanah.
Hari semakin sore. Tanah yang disingkirkan oleh pak Maman semakin banyak sehingga sedikit demi sedikit mulut gua yang tadinya tidak terlihat itu mulai terlihat. Samar-samar terdengar suara yang meminta tolong dari dalam gua yang mulai terlihat itu.
“to..long…”suara itu sangat kecil dan serak..
Pak Maman yang mendengar suara itu berhenti menggali sejenak untuk memastikan kalau yang didengarnya itu adalah benar. Suara itu semakin lama semakin jelas terdengar. Pak Maman memanggil istrinya yang sedang merapihkan rantang.
“Mi kesini..!! umi dengar tidak suara orang minta tolong!?” pak Maman mencoba memastikan kalau suara itu bukan hanya dia yang mendengar.
“ iya Pak, sepertinya suaranya dari dalam gua pak..!!”
Setelah merasa yakin dengan apa yang didengarnya pak Maman langsung mempercepat gerakannya untuk menyingkirkan tanah yang masih menutupi mulut gua itu. Mulut gua yang tadinya tertutup sekarang sudah terlihat keseluruhan. Sesosok tubuh yang kurus dan pucat dengan tanah yang melekat di sekujur tubuhnya tergeletak tidak jauh dari mulut gua. Spontan pak Maman dan istrinya yang melihat itu mundur beberapa langkah karena terkejut.
“ Pak bener itu orang yang tadi bersuara minta tolong !!” seru ibunya menyadarkan keterkejutan Maman.
Setelah menguasai diri pak Maman langsung menuju ke gua dan mengangkat tubuh yang tergeletak itu. Pak Maman memeriksa denyut nadi orang itu. Masih berdenyut. Namun rupanya orang itu sekarang pingsan karena saat itu sudah tidak bersuara lagi. Pak Maman langsung bergegas mengeluarkan orang itu dari dalam gua agar tubuhnya terkena sinar matahari dan mendapat oksigen yang cukup.
“ Mi !! tolong ke pak RT supaya kesini buat bantu membawa anak ini ke rumah !!” perintah Maman untuk memanggil pak RT yang sedang berladang tidak jauh dari ladangnya.
Anak itu dibaringkan di atas kasur di rumah pak Maman. Tanah yang menempel di tubuhnya sudah dibersihkan. Pak Rt dan warga yang membantu membawa anak itu berkumpul semua di rumah pak Maman. Mereka berbincan-bincang di teras rumah pak Maman.
“ Pak Maman sepertinya anak ini adalah korban gempa seminggu yang lalu yang tidak berhasil ditemukan ..” ujar pak RT mencari kejelasan.
“ kemungkinan besar pak RT. Karena waktu saya menemukannya dia ada di dalam gua yang tertutupi oleh tanah longsoran. “ jawab Pak Maman.
“ saya sangat heran dengan anak ini. Karena walaupun sudah satu minggu terjebak di dalam gua tapi anak ini masih hidup yah..”
“ iya pak RT. Mungkin selama itu dia makan dari makanan yang terdapat di dalam tasnya. Karena disekitar tempat saya menemukannya berserakan bungkus-bungkus makanan. Dan kemungkinan anak ini adalah anak yang membawa makanan kawan-kawannya yang lain ketika mereka hendak mendaki gunung. “
“ Sungguh kebesaran Allah telah ditunjukkan kepada kita “ ucap pak RT yang juga dikenal sebagai ustadz di desa itu.
Sementara di dalam ruangan Tarmi menunggui anak itu seperti menunggui anaknya sendiri. Dengan air mata yang membasahi pipinya dia berucap dalam hati. “ alangkah bahagianya kalau kamu benar-benar anak saya nak…” dengan penuh kasih sayang di bersihkannya tanah yang masih tersisa di rambut anak itu. Merasa ada yang membelai-belai kepalanya anak itu membuka matanya. Tangannya memegang bagian belakang kepalanya yang sudah diberi perban oleh mantri yang bekerja di puskesmas Ciampea.
“ Ahh… sakit..!!! ” jerit anak itu sambil memegang kepalanya.
“ nak kamu sudah bangun.” Seru Tantri yang menunggui anak itu.
“ saya dimana !!?, apa yang terjadi ? “ tanya anak itu penuh dengan kebingungan.
“ tenang nak kamu sekarang sudah aman. Sekarang kondisi kamu masih lemah lebih baik kamu makan dulu. Baru setelah kamu segar akan ibu ceritakan kejadiannya.” Ujar Tarmi mencoba menenangkan anak itu seraya mengambil piring yang sudah berisi nasi dan lauk kemudian menyuapi anak yang masih lemas itu.
Pak Maman yang mendengar jeritan anak itu masuk ke dalam rumah diiringi pak RT dan beberapa warga yang masih berada di rumah pak Maman.
“ tenang nak sekarang kamu sudah berada di rumah kami. Sekarang kamu aman nak.” Ujar Maman yang juga mencoba menenangkan anak itu.
Melihat anak itu sudah sadar pak RT dan para warga pamit dan pulang ke rumahnya masing-masing.
“ Man aku pulang dulu, besok aku akan kesini untuk membicarakan masalah anak ini . Sementara anak ini tolong kamu rawat dulu ya ”
“ iya pak RT. “ langit sudah gelap. Bulan menampakkan wajahnya. Desa Ciampea diselimuti kabut yang turun dari gunung Ciampea. Tidak dapat dibayangkan jika anak itu sekarang masih berada di dalam gua. Mungkin dia tidak akan merasakan matahari esok hari.
***
Siang itu pak RT datang ke rumah pak Maman untuk menguruskan masalah anak yang ditemukan oleh pak Maman.
“ Assalamu’ alaikum” terdengar suara pak RT dari luar rumah.
“ wa’alaikum salam” jawab pak Maman seraya membuka pintu.
“ mari masuk pak RT ”
“ iya terima kasih “
Keduanya kemudian membicarakan langkah selanjutnya yang akan mereka lakukan terhadap anak itu. Pak RT mengusulkan untuk memberitahu orang tua anak itu bahwa anak mereka sudah ditemukan. Namun yang menjadi kendala adalah tidak seorang pun tahu dimana orang tua anak itu berada.
Tarmi menghampiri mereka berdua dengan membawa nampan berisi tiga gelas air teh. Dengan perlahan Tarmi meletakkan gelas itu satu-persatu diatas meja.
“ Silahkan diminum pak RT..”Tarmi mempersilahkan.
“ Iya terima kasih..”
“ Mi tolong panggilkan anak itu kesini, pak RT ingin bicara dengan dia. “ ujar Pak Maman kepada istrinya.
Sejurus kemudian anak itu menghampiri mereka di ruang tamu. Dia duduk di sebelah pak Maman. Pandangannya tampak hampa. Seakan orang yang baru dilahirkan kembali ke dunia. Pak RT mencoba menanyakan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan orang tua anak itu kepadanya.
“ Nak orang tua kamu tinggalnya dimana?” tanya pak RT
“ pak saya tidak tahu apa-apa mengenai asal-usul saya. Nama saya sendiri saja tidak tahu “ sesekali anak itu memegang bagian belakang kepalanya yang terluka ketika ditemukan. Anak itu menjadi lupa ingatan karena benturan keras yang telah melukai bagian belakang kepalanya.
“ rupanya dia lupa ingatan pak RT, sebab dari semalam dia tidak dapat memberikan jawaban yang kami tanyakan kepadanya” pak Maman menceritakan.
“ Wah kalau begini keadaannya kita tidak dapat berbuat banyak pak Maman, soalnya tidak ada yang tahu mengenai orang tua anak ini. Ya sudah kalau begitu, saya akan mencoba terus untuk mencari informasi mengenai orang tuanya. Sementara itu biar anak ini tinggal dengan Pak Maman dulu yah. Pak Maman ga keberatan kan?”
“ Wah pak RT saya malah sangat senang ada seorang anak diantara kita, karena pak RT sudah tau lah kalau kita mendambakan anak dari dulu”
“baik saya pulang dulu. Assalamu alaikum”
Pak RT kembali ke rumahnya. Sementara Tarmi yang mendengar pembicaraan suaminya keluar ke ruang tamu menghampiri suaminya setelah pak RT pulang.
“ Pak mungkin ini merupakan bukti dari mimpi yang bapak ceritakan kemarin. Buktinya sekarang ada seorang anak diantara kita”
“ lah tapi dia kan anak orang lain. Bukan anak kita.” Sanggah Maman
“ tapi paling tidak dia ada diantara kita, kita anggap saja sebagai anak sendiri. Lagi pula dia lupa ingatan. Bagaimana kalau kita beri nama saja dia. Gimana pak ?”
“kira-kira kita beri nama apa yah Mi ?” sambil mengangguk-angguk Maman berusaha menemukan sebuah nama.
“ bagaimana kalau kita beri nama Parmin pak.” Jawab Tarmi merasa menemukan nama yang tepat.
“ bagus juga namanya. Tapi kita harus tanya dulu anak itu, mau apa tidak diberi nama seperti itu “
Kemudian mereka menanyakan perihal nama itu kepada sang anak. Karena dia lupa ingatan anak itu setuju-setuju saja dengan nama yang diberikan. Akhirnya tersebutlah anak itu dengan panggilan Parmin.
Sudah hampir dua tahun Parmin berada di keluarga pak Maman. Pak RT yang berusaha mencari informasi mengenai orang tua Parmin akhirnya menyerah. Sudah berbagai cara dia tempuh untuk mendapatkan informasi itu. Sementara itu Parmin yang hidup di tengah-tengah keluarga pak Maman sudah tidak asing lagi menganggap Maman dan isterinya sebagai orang tuanya. Maman dan istrinya sangat bahagia dengan adanya Parmin ditengah-tengah mereka. Walaupun Parmin bukan anak mereka, tapi dia adalah anak yang sangat baik dan banyak membantu pekerjaan Maman.
Hari itu Parmin pergi ke ladang seperti biasanya. Pak Maman tidak menyertainya karena sedang sakit panas. Di ladang dia bertemu dengan Amin tetangga sebelah rumahnya.
“ Min lagi ngapain kamu ?” seru Amin yang kebetulan lewat di ladang Parmin.
“ Biasa Min, aku merpihkan tanaman di ladang buat aku jual besok ke pasar Ciampea.”
“ Min kamu mau gak kalau ikut aku ke Jakarta.”
“ mau ngapain Min..!??”
“ begini, sekarang kan aku sudah mempunyai usaha jual beli pakaian di Jakarta. Gimana kalau kamu ikut ke Jakarta buat bantu aku menjual pakaian di sana. Daripada kamu setiap hari harus pergi ke ladang, terus penghasilan yang didapat tidak seberapa. !! gimana, mau gak?” ajak Amin pernuh harap.
“ aku sih mau aja. Tapi aku harus izin dulu sama bapak. Kapan kamu berangkat ke Jakarta ?”
“ aku pergi ke Jakarta hari ini. Kalau kamu mau, kamu menyusul saja ke Jakarta. Nih alamatnya aku tulis” Amin mengeluarkan pena dan secarik kertas dari kantong bajunya dan menuliskan alamatnya.
“ baiklah kalau begitu, aku akan minta izin dulu ke bapak sama Umi. Kalau diizinkan aku akan menyusulmu ke Jakarta.” Parmin mengambil secarik kertas yang diberikan oleh Amin kepadanya.
“ aku tunggu yah di Jakarta “ sambil melambaikan tangan Amin berlalu pergi meninggalkan Parmin.
Sore hari sudah menjelang, matahari akan segera berpamitan. Sepanjang jalan pulang Parmin memikirkan mengenai keputusan yang akan diberitahukan kepada ibu dan bapak angkatnya. Dalam hati dia bergumam .” aku harus pergi ke Jakarta untuk mendapatkan pengalaman baru.
Mentari pagi menyinari desa Ciampea. Bunyi ayam jantan bersahutan menyambut datangnya pagi nan cerah ini. Namun Tidak secerah pagi itu. Hati kedua orang tua angkat Parmin gerimis dengan kesedihan. Sedih karena takut kehilangan anak yang sudah mereka anggap sebagai anak sendiri itu. Pagi itu Parmin sudah bertekad untuk pergi ke Jakarta menyusul Amin. Dengan berat hati akhirnya mereka harus melepaskan Parmin untuk pergi ke Jakarta.
Matahari sudah mulai menebarkan sinarnya menyulap semua yang disinarinya menjadi berwarna kuning keemasan. Dengan langkah mantap dan tekad yang bulat Parmin pergi meninggalkan rumahnya. Langkah yang akan membawanya menuju asal-usulnya. Langkah yang akan mempertemukan dengan orang yang menantinya dengan penuh keyakinan. Lambaian tangan Parmin seakan terasa menjadi lambaian tangan yang terakhir bagi Maman dan Tarmi. Keputusan telah dibuat. Langkah telah diukir. Nasib telah ditentukan. Dan keyakinan itu akan terjawab.
SELESAI
dikirim ndunk_34 28 minggu 11 jam yang laluTag:








