“Non, makanan udah mbok siapin....”
“Aku nggak mau makan!”
“Tapi Non...”
“Pokoknya nggak! Udah, mbok pergi aja!” teriakku
Aku nggak mau makan bukan karena makanannya nggak enak, tapi karena tidak ada yang menemaniku makan. Ayahku kerja, pulangnya larut malam. Kakakku juga kerja, pulangnya bareng ayah.
Kalo Mamaku..... dia sudah tidur, untuk selama-lamanya.... Jadi, tidak ada yang menemaniku di malam spesial bagiku ini. Besok kan aku ulang tahun. Jadi nggak ada deh ucapan selamat pertama pada jam dua belas.
“Woi, gue ulang tahun, nih! Ulang tahun!” gerutu ku sendirian sambil menggigit-gigit sarung bantalku
“Non, Non Meira nggak mau makan?” tanya Mbok Intan lagi dari depan kamarku
Duh, nih pembantu cerewet amat sih? Kan dari tadi gue udah bilang kalo gue nggak mau makan!
“Nggak mau, Mbok!” jawabku dari dalam kamar
“Tapi nanti Non masuk angin, loh!”
“Aku nggak nafsu makan, Mbok! Kalo mau, tunggu papa sama kakak pulang aja...”
“Tapi tuan pasti udah makan.”
“Ya udah. Kalo mereka udah makan, aku nggak usah makan!”
“Tapi Non...”
“Nggak ada tapi-tapian! Udah sana, Mbok bikin aku tambah pusing aja!”gertakku
Tidak terdengar suara Mbok Intan lagi di depan kamarku. Aku menata kearah foto-foto yang terpajang diatas mejaku. Disemua foto itu ada aku, ayah, kakak, dan mama. Saat itu, ayah dan kakak tidak sesibuk sekarang. Tapi sejak mama meninggal, mereka jadi melupakanku. Dalam seminggu, paling banyak kita cuma bisa ketemu dua kali. Gimana nggak bete, coba?
“Udah nggak ada lagi yang peduli padaku....” gumamku sendirian sambil mengucurkan air mata. Menangis di malam hari sudah biasa bagiku yang kesepian.
Aku membuka pintu beranda kamarku, lalu aku turun dengan tali yang biasa kugunakan untuk turun ke lantai satu dari kamarku. Setelah memanjat pagar rumah, aku berlari ke arah taman yang ada ditengah-tengah komplek perumahanku.
Walaupun sudah malam, tapi taman itu tidak terlalu gelap karena setiap beberapa meter sudah dipasangi lampu. Aku duduk di ayunan sambil mengayunkan ayunan ku pelan-pelan.
“Lo lagi ngapain?” tegur seseorang yang tiba-tiba muncul disebelahku.
“Siapa lo?” tanyaku yang kaget dengan kemunculan orang itu
“Gue tinggal disekitar sini. Kenalin, gue Ita.” Kata cewek asing yang kira-kira
seumuranku itu sambil mengulurkan tangannya ke arahku
“Gue Meira...”balasku dan menjabat tangannya.
“Kenapa lo sendirian gelap-gelapan disini?” tanyanya sambil duduk di ayunan sebelahku
“Gue lagi.... gue kabur.”
“Kabur? Emangnya rumah lo dimana?” tanya Ita yang kaget karena aku bilang kalo aku itu kabur
“Disana....”jawabku sambil menunjuk ke arah rumah yang lumayan besar bercat warna salem, pilihan mamaku.
“Loh, rumah lo disitu? Kok lo kaburnya kemari?”
“Abis gue mau kabur kemana lagi? Gue nggak tau rumah sodara-sodara gue dimana.
Nenek kakek gue yang satu udah meninggal, yang satu lagi ada di Bogor.”
“Kenapa lo nggak kabur aja ke Bogor?”
“Gue takut. Lagian kan gue nggak pernah pergi sendirian. Kalo pergi, pasti gue
dianter supir.”
“Dasar anak orang kaya....” Ita tertawa. “Emangnya ngapain lo pake kabur-kabur segala? Bukannya hidup lo udah enak di rumah besar itu?”
“Apanya yang enak? Rumah sih besar, tapi isinya cuma orang-orang sibuk yang nggak meduliin anak dan adik!”
“Maksud lo apa?”
“Yah pokoknya begitu, lah...”
“Orang tua lo sibuk?” tanya Ita sambil memandangku kasihan
“Ya begitu, lah... Sejak nyokap gue meninggal, bokap dan kakak gue jadi sibuk sama kerjaannya sampe ngelupain ulang tahun gue.”jawabku
“Oh... nyokap lo udah meninggal...” gumam Ita sambil menunduk. “Emang kapan lo ulang tahun?”
“Besok.”
“Yah elah, kan ultah lo masih besok. Kalo malem ini mereka nggak ada, yah nggak apa-apa lagi... Mungkin aja hari ini mereka kerja lembur biar besok bisa bareng-bareng sama lo di hari ultah lo itu.”
“Mana mungkin...”kata ku melecehkan. “Hari peringatan kematian mama aja mereka nggak inget, apa lagi ultah gue!”
“Jangan begitu, dong... Mereka kan kerja buat cari duit untuk menghidupi lo juga. Kalo mereka nggak kerja, lo mau hidup dan sekolah dari mana? Mungkin aja sebenernya mereka nggak lupa sama hari kematian nyokap lo.”
“Mana mungkin? Buktinya mereka nggak mengunjungi makam nyokap gue?!”
“Kan kalo inget belum tentu mesti mengunjungi makam nyokap lo. Dengan berdoa dalam hati, gue rasa nyokap lo juga udah seneng.”
“Eh?” aku menatap Ita yang sedang menengadahkan kepalanya menatap bulan yang lagi purnama. Aku merasakan angin berdesir menerpa wajahku.
“Karena itu, walaupun bokap sama kakak lo nggak bisa nemenin lo malam ini, mereka kan bisa mendoakan dalam hati mereka supaya lo panjang umur, tetep sehat, dan dilindungi oleh Tuhan. Kan permintaan mereka jadi lebih cepet nyampe ke Tuhan. Gue berani jamin kalo mereka itu sayang sama lo. Walaupun nggak sering ketemu, kita masih bisa tetep berinteraksi di dalam hati. Karena kita ini kan keluarga. Pasti ada ikatan batin antar sesama anggota keluarga....”
Aku jadi sadar dengan kata-kata yang diucapkan Ita itu. Ya... setiap sesama anggota keluarga, pasti ada ikatan batin. Karena kita ini kan satu darah...
“Meira!!!” panggil kakakku yang tiba-tiba berlari-lari ke arahku.
“Loh, kakak?” aku kaget karena tiba-tiba aja kakak bisa muncul disini. “Kok kakak udah pulang?”
“Besok kan kamu ulang tahun. Walaupun udah jam dua belas kurang lima belas menit, setidaknya di detik-detik menjelang ulang tahun mu kan kita mesti bareng-bareng.” Jawab Kak Marcell sambil mengelap keringat di dahinya. “Lagian, ngapain kamu sendirian disini?”
“Nggak kok aku nggak sendirian! Aku kan bareng....” saat aku menengok ke arah Ita, dia sudah tidak ada disebelahku.
“Bareng siapa? Udah yuk pulang, kasihan tuh papa sengaja kerja lembur biar besok bisa ngerayain ulang tahun kamu....”
Aku jadi merinding. Kok si Ita bisa menghilang secepat itu?
“Kak, perasaan tadi aku ada yang nemenin, deh...”kataku sambil berjalan beriringan dengan kakakku menuju rumah
“Siapa?”
“Sama Ita...”
“Siapa tuh? Kok namanya ampir sama kayak nama panggilan mama waktu dulu, ya?”
“Hah?”
“Nama mama kan Anita, sama nenek kakek dipanggilnya Ita, kalo sama papa dipanggilnya Nita.”
“Kak, jangan-jangan, itu rohnya mama lagi....”
“Wah, bisa jadi....” Kak Marcell nyengir padaku
Aku terdiam sendiri sambil terus berjalan ke rumah.
“Pa, nih si Meira udah ketemu, nih!” kata kakak setelah kami sampai dalam rumah
“Meira.... Papa minta maaf selama ini ninggalin kamu.... Maaf....”papa berjongkok dihadapanku sambil menggenggam ke dua tanganku. “Papa merasakan kalo kamu itu selalu sedih ditinggalkan seorang diri tapi papa terpaksa kerja sampe sesibuk ini, soalnya papa kan direktur perusahaan.”
“Iya Pa...” balasku. Aku memeluk papa. “Aku kangen sama papa...”
“Papa juga...”
Terdengar bunyi jam ding-dong yang menunjukan jam dua belas tepat.
“Mei, happy birthday, ya....”kata Kak Marcell sambil mencium keningku.
Dilanjutkan papa yang juga mencium kening dan kedua pipiku. “Selamat ulang tahun, Meira... Semoga kamu panjang umur.... dan bahagia....”
“Makasih, Pa....” balasku
Tiba-tiba ada selembar kertas jatuh ke lantai dekat kakiku. Aku mengambilnya lalu melihatnya yang ternyata sebuah foto lama hitam putih.
Loh, inikan Ita! Kok dia....
“Loh, foto mamamu kok bisa jatuh disini, sih?” tanya papa yang mengambil foto itu dari tanganku. “Marcell, kemaren ini kamu buka-buka album foto mamamu nggak dirapihin lagi, ya?”
“Udah rapi kok, Pa... mungkin aja ini ketinggalan...”balas Kak Marcell
“Ini mama, Pa?” tanyaku
“Iya. Ini foto mamamu waktu seumuran kamu gitu...”
Hah? Jadi yang tadi itu......
“Selamat ulang tahun, Meira!” untuk sesaat terdengar suara mama dalam hati ku









