Senyuman

20
points
"

hmhhh, terinspirasi waktu pergi ke pasar.........

"

Hari ini dia datang lagi. Dia masih memakai pakaian yang sama, tutup kepala yang sama, raut wajah yang sama, segala yang terlihat dari dirinya tak berubah sedikitpun dari hari kemarin. Ia pergi dan duduk ditempat yang sama seperti kemarin, kemudian melakukan hal sama seperti yang dilakukannya tiap hari. Suasana ramai seperti biasanya di pasar. Orang-orang melewatinya seolah-olah dia tidak pernah ada di sana. Aku hanya terpaku dan memandanginya seperti biasa. Tidak ada yang bisa kuperbuat, pikirku dalam hati.
Wanita tua itu terus datang tiap hari dan duduk persis di lorong didepan penjual ikan tempatku bekerja. Ia selalu duduk dan mengulurkan gelas pelastiknya tanpa sepatah kata terucap dari bibirnya. Matanya terus menerawang ke tanah, ekspresinya bahkan terlihat tidak seperti manusia normal, tidak ada sedikitpun gairah dan ekspresi terpancar di wajahnya. Aku tidak pernah tahu siapa wanita itu, beberapa kali kutanya orang-orang pasar tentang wanita itu, mereka hanya tahu bahwa ia ada disana sejak sepuluh tahun lalu dan tidak pernah menyapa siapapun juga ataupun menjawab sapaan siapapun juga.
Aku biasanya menghampirinya ketika juraganku sudah menjual seluruh ikannya. Aku hanya bisa menunjukan rasa ibaku dengan memberinya uang seribu rupiah, karena aku orang tak punya. Aku masih sangat penasaran dengan wanita itu, ingin aku menghiburnya, berbincang-bincang dengannya, membuat senyum di wajahnya.

**********************************

Hari ini aku berniat memberinya sedikit uang lebih. Aku baru mendapat uang tahun baru. Aku tidak butuh baju baru, kupikir aku mungkin dapat membantunya.
Dia datang dengan raut wajah yang lebih pucat dari biasanya. Aku menghampirinya dan memberikan uangku. Gelas pelastiknya penuh bahkan tidak ada cukup tempat sehingga aku harus menyesaki tangannya dengan uangku ketika aku mengisinya. Biasanya ia akan pulang begitu aku memberikan selembar uang seribu, biasanya gelasnya itu hanya terisi selembar uang seribunya serta lima buah logam seratus, bahkan terkadang hanya selembar uang seribuku yang ada di gelas itu.
Kulihat ia perlahan menengadahkan wajahnya dan tersenyum kepadaku dan senyumnya itu indah sekali. Dia tersenyum dan mengucapkan dua patah kata yang terdengar sangat merdu di telingaku, "Terima Kasih" hanya itu katanya. Hari itu hatiku sangat lega, entah mengapa aku merasa sangat hidup.

***********

Sudah seminggu aku pulang kampung, hari ini aku kembali bekerja di pasar. Kutunggu hingga sore menjelang, tapi sosoknya tak muncul jua. Aku tak tahu dia kemana. Dia tidak pernah muncul lagi semenjak hari itu, tetapi kenanganku tentang senyuman itu terus terukir di hatiku.
Sudah sepuluh tahun berlalu semenjak hari itu, aku masih tetap bekerja di pasar itu. Tetap menjadi penjual ikan yang sama, di tempat yang sama, yang berbeda adalah sekarang aku di panggil juragan oleh beberapa orang yang bekerja untuku. Aku bahkan merasa uang tidak sesulit dulu, aku dianugerahi berkat sehingga aku menjadi seorang pengusaha yang cukup sukses. Hanya saja aku tetap memilih mengurusi dagangan ikan di pasar, karena tempat itu sangat berkasan bagiku.
Hari ini ada dua orang lelaki yang tersohor datang ke pasar ini. Mereka adalah bupati dan abangnya yang seorang pengusaha. Semua orang heran mengenai alasan mereka datang ke pasar, termasuk aku. Mereka datang dan menghampiriku. Aku bingung. Mereka bertanya apakah sepuluh tahun lalu aku telah bekerja disini dan mengenal wanita yang pernah mengemis di depan penjual ikan ini. Aku menjawab jujur pada mereka bahwa aku tahu tetapi tidak mengenalnya. Mereka bertanya lagi apakah aku pernah mengenal pria yang bertugas membersihkan ikan sepuluh tahun lalu di tempat ini. Hei itu aku!! aku menjelaskan bahwa aku dulu kerja pada juragan disini. Aku juga lupa bagaimana prosesnya, aku sekarang malah berubah jadi juragan di tempat ini.
Mereka berdua kemudian memelukku, menangis, dan mengucapkan terimakasih berkali-kali kepadaku. Aku semakin bingung. Mereka berkata bahwa itu ibu mereka, dahulu uang yang pernah kuberikan pada wanita itu telah mengubah hidup mereka. Uang itu telah membuat mereka bisa membiayai administrasi untuk pengambilan beasiswa, mereka dulu bahkan tak punya uang untuk itu. Sisa dari uang yang kuberikan akhirnya mengubah hidup mereka seutuhnya. Aku terharu, kenangan sepuluh tahun lalu masih terekam di otakku, aku tak tahu bahwa uangku yang sedikit jumlahnya itu bisa mengubah hidup mereka. Aku tak hentinya heran pada anugerah tuhan. Tuhan memang punya rencana yang tak bisa dimengerti manusia.

Your rating: None Average: 6.7 (3 votes)
dikirim paty_lucu 28 minggu 5 jam yang lalu
Tag: