EDIT 1 : Paragraf terakhir dirubah sesuai saran Zhang He.
Terms Dragonhorse diganti dengan Basilican Lizard yang berasal dari Basilisk, kadal jenis gecko yang bisa lari super cepat bahkan bisa lari diatas air. (jd bukan basilisk yg mythology)
EDIT 2 : sedikit upgrade disana sini menanggapi komentar elbintang soal kakunya kata2 penjelas dialog.
EDIT 3 : Mayoritas part 3 sampai part 4 yaitu mencakup percakapan Arlond dan prophet Irnite telah di remake total. Termasuk didalamnya yaitu kemunculan sepatu sleipnir.
"“Hmph…begitu, mengorbankan satu orang untuk kebaikan yang lebih besar… kedengarannya ironis.” Arlond mengikuti Irnite dari belakang. “Tapi katakan satu hal padaku prophet, walau kau tidak membunuhku sekarang, bukan berarti tidak ada yang akan mencoba membunuhku… atau bisa saja besok aku terpeleset jatuh ke jurang dan Folfaghnom akan berpindah tangan ke salah satu dari ratusan juta penduduk Surface ini. Oh tapi kalian tinggal meramalnya lagi kan ?”
Nada bicara Arlond terdengar seperti merendahkan tetapi Irnite tampaknya tidak perduli dan terus berjalan sambil berbicara dengan tenang. “…kekuatan prophet tetap saja ada batasnya, ada saat dimana ramalan kami meleset… bahkan ada juga saat dimana kami mengalami keadaan tidak bisa meramal sama sekali yang kami sebut mind paralyze syndrome. Kami tidak bisa mengambil resiko itu”
“Jadi? Apa akan ada pengawal khusus yang akan melindungi nyawaku?” Arlond mengangkat sebelah alisnya.
Irnite menoleh ke arah Arlond sambil tetap berjalan mendekati Galnus river – sungai yang membelah daratan Cielgris menjadi dua. “Sayangnya tidak ada, itu malah akan memancing perhatian kepadamu” kata Irnite dengan entengnya. “Kau harus bisa melindungi dirimu sendiri, demi dunia ini. Berhati-hatilah karena mungkin ada orang-orang yang akan mengincar nyawamu”
“Uh…kurasa begitu” Arlond menelan ludah, tiba-tiba saja bertahan hidup terasa lebih berat dari biasanya. Walaupun ia tidak keberatan dunia ini dihancurkan, jelas sekali kalau Arlond masih menyayangi nyawanya.
Melihat Arlond yang lagi-lagi menjadi pucat, Irnite berhenti di tepi Galnus river dan mengeluarkan sepasang sepatu boots aneh berwarna hitam dengan hiasan sayap emas di kedua sisinya. Ada sepasang rune oval berwarna silver yang terpasang di ujung sepatu seperti sepasang mata. Bentuknya pun aneh dan secara keseluruhan bisa dikatakan mirip kepala kuda.
“Sleipnir,” kata Irnite sambil mengulurkan sepatu itu ke arah Arlond. “adalah salah satu dari sebelas artifak kuno yang berasal dari jaman sebelum dunia pertama. Sepatu ini sudah berumur lebih dari seribu abad dan bisa membuat pemakainya berlari dengan kecepatan yang luar biasa. Sepatu ini ditemukan oleh leluhurku empat ratus rahun lalu dan sejak saat itu diwariskan turun temurun di dalam keluargaku. Kini aku akan meminjamkannya kepadamu.
“Wow… sepatu ini sehebat itu?” Arlond menerima sepatu itu dan terkejut karena rasanya ringan sekali seperti bulu. Sepatu itu memang tampak begitu megah dan tidak biasa. Hanya dengan menyentuhnya saja Arlond dapat merasakan kekuatan mengalir ke tubuhnya.
“Semoga Sleipnir bisa membantu melindungi nyawamu.” Kata-kata Irnite terdengar final, tampaknya tak ada lagi yang ingin ingin ia sampaikan.
“Kau sudah mau pergi sekarang? Tapi kau belum memberitahuku dimana Spirit Summoner itu berada” kata Arlond.
“Kami para prophet entah kenapa tak mampu meramalkan letak keberadaan Spirit Summoner. Besar kemungkinan ia menggunakan semacam barrier untuk melindungi dirinya sendiri dan menyebabkannya tidak bisa terdeteksi. Kita belum tahu apa-apa mengenai Spirit Summoner dan apa yang mampu ia lakukan selain memanggil kekuatan Folfaghnom.” Irnite tampak serius. “Karena itu kami semua sepakat untuk menyerahkan ini pada takdir, kepada orang yang berkaitan langsung dengan semua ini, yaitu kau.”
“He…hei… kalau kalian saja tidak mampu apa aku akan bisa melakukannya?”
Irnite memandang ke tangan kanan Arlond sejenak, lagi-lagi dengan tatapan aneh seakan sedang berkomunikasi dengan sesuatu yang tak terlihat. Arlond pun merasa aneh, karena seingatnya tadi Irnite bilang Folfaghnom ada di tangan kirinya, lalu mengapa Irnite malah mengamati tangan kanannya?
“Kekuatanmu yang sebenarnya sangat mengerikan Arlond, dan aku bukan mengatakan tentang kekuatan Folfaghnom tetapi kekuatan yang benar-benar milikmu sendiri.” Irnite tampak sedikit ragu mengatakan ini. “Kekuatan itu tampaknya disegel oleh seorang ga… seseorang dari masa lalumu maksudku, dan ia tampaknya tidak berniat untuk melepas segel itu, sekalipun demi dunia ini. Hanya itu yang ku tahu.”
Arlond merasa ada yang aneh dengan gelagat Irnite, sepertinya ada yang dirahasiakannya. Kata-katanya tadi malah terkesan seperti bukan ditujukan ke Arlond karena Irnite terus melirik ke arah tangan kanan Arlond.
“Kau yakin tidak ada lagi yang bisa kau katakan tentang ini? Arlond menelengkan kepalanya sedikit.
“Yah…kurasa begitu. Tapi satu hal yang pasti, kekuatanmu itu tidak sembarangan. Entah kau sadar atau tidak, bahkan dengan segel berlapis, tubuhmu masih memancarkan tekanan mist yang cukup kuat,” kata Irnite. Yang disebut dengan mist itu adalah tenaga dalam, aura, atau chi yang hanya bisa dilihat oleh sesama pengguna kekuatan mist.
“Tapi tetap saja kau tidak bisa memberitahuku cara melepas segel kekuatan itu.” Arlond tidak tampak terlalu senang mendengarnya. Kalau hanya sebatas itu ia juga sudah bisa menebaknya dari dulu, tapi apa gunanya punya kekuatan besar tapi tak bisa dipakai.
“Kau sendiri yang harus mencarinya, Arlond… baik sang Spirit Summoner... maupun kekuatan yang dibutuhkan untuk mengalahkannya, hanya dengan begitu roda takdir akan dapat terus berputar. Elfrant memberkatimu…” Elfrant adalah dewa pengetahuan yang dipuja bangsa prophet. Pada kenyataannya yang memuja Solfatum hanya ras Himmels, yaitu manusia yang sekarang ini. Semua ras demihuman dan non human – kemudian disebut para Filthus, masing-masing memuja dewa yang berbeda.
Arlond menghela nafas dan melihat ke langit malam yang bertabur bintang. “Jadi kau memang sama sekali tidak berniat membantu yah… tapi… sang spirit summoner itu pasti sangat jahat ya? Kalau dia hidup, dunia ini akan hancur… supaya dunia ini tetap hidup, ia harus mati. Takdir yang begitu menyedihkan…”
“Orang sepertimu bisa percaya karma juga yah” Irnite tersenyum. “Memang…takdirnya sangat menyedihkan, tapi begitu juga dengan takdirmu, Arlond…”
“Ap…?” Arlond baru saja menoleh ke arah Irnite namun prophet itu sudah tidak ada disana, menghilang begitu saja di kegelapan malam. Arlond memikirkan kata-kata Irnite yang terakhir tadi namun kemudian sadar tak ada gunanya dibingungkan oleh hal itu sekarang. Ia perlu mencari sang Spirit Summoner, setelah bertemu baru ia akan putuskan langkah selanjutnya. Yang pasti ia merasa setelah tiga tahun hidup hampa tanpa tujuan, akhirnya ia memiliki satu petunjuk yang bisa mengubah hidupnya, selamanya. Segalanya akan menjadi lebih jelas setelah ia menemui sang Spirit Summoner, setidaknya begitulah pikirnya.
Tapi darimana ia harus memulai? Pikirnya, Surface begitu luas, darimana ia harus memulai? Kemudian Arlond teringat dengan Eilen Dias, desa para summoner yang terletak tak jauh dari sini. Karena tak ada petunjuk lain, ia mengeluarkan gulungan peta kuno dan mulai mencari rute terdekat untuk mencapai Eilen Dias.
Sekarang ini ia berada di Cielgris, berarti ia harus ke arah barat dari sini. Arlond melihat kearah seorang pedagang yang menyediakan jasa sewa basilican lizard – kadal bertanduk yang berjalan dengan dua kaki, dan sudah dipergunakan sebagai alat transportasi sejak 200 tahun yang lalu. Sekilas ia tergiur untuk menyewa basilican lizard yang larinya mencapai 120 kilometer per jam itu namun kemudian ia sadar kalau uang di dompetnya hampir kosong. Ia pun mengurungkan niatnya dan mulai berjalan ke desa Eilen Dias. Setelah berjalan beberapa langkah, Arlond teringat dengan sepatu Sleipnir yang tanpa sadar dari tadi terus ia pegang.
Sungguh bodoh dirinya ini, pikir Arlond. Dengan sleipnir ini bukankah ia bisa mengelilingi dunia dengan cepat? Ia tak butuh kadal itu, karena ia bisa berlari jauh lebih cepat dari apapun. Arlond pun mencoba memakai sleipnir. Cukup pas, pikirnya.
Kemudian Arlond mulai mengambil ancang-ancang untuk berlari. Ia merendahkan tubuhnya ke depan sedikit, dan kemudian melesat dalam satu hempasan. “Astaga !!” teriaknya ketika baru sedetik ia mulai berlari. Ia langsung terjatuh ke belakang sambil memegangi wajahnya karena menghantam pohon dengan keras. Ia mengerung kesakitan, mengeluhkan sepatu yang tak berguna ini. Walaupun ia bisa belari dengan cepat, kira-kira 70 meter dalam satu detik tadi, tetapi kecepatan mata dan reaksi tubuhnya tidak bisa mengikuti kecepatan itu.
“Sudah kuduga pasti tidak segampang itu…” kata Arlond sambil mengusap dahinya yang terluka. Ia pun berusaha berjalan dengan pelan, dan dengan sleipnir terpasang di kakinya, hal itu lebih sulit daripada berjalan terbalik. Setelah dua puluh menit penderitaan, akhinya ia mulai terbiasa. Ia mencari daerah di Galnus plain yang sama sekali tidak memiliki pohon, hanya hamparan rumput yang sangat luas dan kemudian kembali mengambil ancang-ancang untuk berlari.
Kali ini ia akan berlari dengan lintasan mengitar, pikirnya. Arlond pun mulai berlari sedikit lebih lambat supaya aman. Rumput yang dilewatinya bergoyang hebat seperti dilewati badai. Dalam beberapa detik saja ia sudah melakukan ratusan langkah. Rasanya enak sekali, bagaikan terbang pikirnya.
Namun dua puluh detik kemudian Arlond sudah terbaring di atas rumput dengan nafas terengah-engah. “Se…sepatu tak berguna…!!” keluhnya sambil mencoba mengatur nafas. Sekalipun bisa berlari dengan cepat dengan sleipnir, tubuhnya hanya tubuh biasa yang akan kelelahan setelah berlari ribuan yard. Keringat Arlond mengucur deras, nafasnya benar-benar habis, kakinya serasa kejang dan paru-parunya seperti mau meledak. Ia pun menghabiskan malam itu dengan beristirahat untuk memulihkan tenaganya, ditemani rasa sakit di seluruh tubuhnya, sambil bergumam tidak mau berlari lagi.
dikirim serpentwitch 27 minggu 6 hari yang laluTag:








