Azura--panggilnya pelan--kenapa menjadikan kebencian baru sebagai alasan?--
Aku diam bukan karena tak punya jawaban. Aku hanya membenci air mata itu. Menganak sungai--kata teman kampusku dulu.
Kamu memang tidak pernah mengatakan 'aku ini pembaharu' atau sejenisnya. Namun kenapa sikapmu justru yang menunjukkan itu--lagi, kali ini ucapannya lebih kacau.
Benci tak ada yang baru Nia, tak ada--ucapanku tenggelam bersama debur ombak. Jika kamu tidak percaya, biru selalu seperti yang dulu. Melangit, melaut dan segunung cermai dari sudut Gunung Jati, sudah ribuan kali aku ulang kalimat ini padamu--
Tapi--Nia mendesah--kenapa kamu tidak berusaha menguasai cara lama sebelum memberontak untuk hal baru?
Aku mengangkat bahu--Mungkin satu-satunya jalan yang bisa ditempuh sebagai pemberontakanku hanya seperti ini. Hanya asing dan bukan baru.
Asing?
Ya asing. Baru hanya kata kosong. Baru bukan bentuk. Ia sekedar kuluman rasa dari asing, kata baru, lebih baku dan tampak anggun--
Di atas sampan kecil ini, ratusan kata pisah bagiku selalu baru. Apa kamu pernah merasakannya?
Aku tersenyum--Tidak, aku tak mengerti, setidaknya sampai saati ini--
Nia tersenyum--Kamu harus pergi lagi?
Aku mengangguk pasti
Nia membuang wajah ke arah lain, tidak lagi menatap aku.
Maafkan aku--
Itupun ribuan kali kamu bilang.
Hal lama
Hal baru... dan asing--Nia meralat.
Aku tersenyum getir.
dikirim azura7 27 minggu 6 hari yang laluTag:









