Bersama Mereka bag:1

43
points

" Cerita ini mengisahkan tentang persahabatan anak remaja di masa-masa akhir Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) di tingkat akhir. Dimana mereka harus berjuang untuk mendapatkan hasil kelulusan yang baik, di samping kelakuan mereka yang mengundang masalah, di saat-saat akhir menjelang ujian sekolahnya, sehingga menimbulkan konflik-konflik yang membuat retak persahabatan mereka". Mau tahu kisahnya baca dan hayati cerita ini.

Di pagi hari, Kriing...kriing...kring...suara handphoneku berdering kuat.
"aaaaah, siapa sih ganggu orang tidur aja"
kesalku dibuatnya, karena malam tadi aku tidur lambat, pagi ini aku tidak ingin bangun awal. Merangkak aku menghampiri suara bising dalam kamarku.

"Hallo, ya ada apa Mugs?"
jawabku dalam panggilan, yang ternyata Gmugs kawanku, sempat aku melihat nama pemanggil dalam layar handphoneku.

"Woi...bangun ikut gw pergi pantai O.K"
suara Gmugs terdengar kuat di telingaku

"Phenk......cepet siap-siap, jangan lupa bawa koleksian minuman loe"
terdengar suara agak samar diantara suara Gmugs. sudah pasti itu Cho-cho.

"Hah apaan sih, ga jelas"
balasku yang setengah sadar dan masih memeluk guling kesayanganku.

"Sini-sini biar Mamang yang ngomong, Gphenk denger ya, sekarang loe siap-siap, mandi, sarapan, ga pake lama, pokoknya kita dateng loe mesti sudah siap, 15 menit lagi kita sampe, paham Phenk"
Koneng yang merebut telepon dari Gmugs memberikan penjelasan dengan suara yang lembut, macam dia jelasin ke pacarnya.

"Hah, 15 menit oke oke gw siap-siap sekarang"
aku yang terkejut langsung melompat turun dari tempat tidurku.

Aku bereskan kamarku yang berantakan, berserak kertas A4, abu rokok yang hampir menutupi seluruh lantai kamarku, A4? iya aku sedang membuat Karya Tulis Akhir (KTA) sekolahku, kesal juga aku dibuatnya.

Aku Danu Gpenk 18 thn paling takut disuruh nembak cw, juru ketik di sekolah, bersekolah di Sekolah Menengah Industri Perhotelan (SMIP) di tingkat akhir, memiliki 5 orang sahabat yang aneh-aneh, diantaranya:

1. Bagus Cho-cho, 22 thn paling pandai membius cw-cw di
sekolah dengan dongeng-dongengnya,
2. Tama Kampleng, 20 thn paling tengil tidak bisa diem,
idaman para cw-cw di sekolah (play boy),
3. Faisal Koneng, 19 thn paling Percaya Diri (PD), blom
kenal terlihat pendiem tapi kalo loe sudah kenal,
huuuu bawel banget,
4. Rendi Gmugs, 17 thn pemalu ma cw-cw, tapi dia tidak
malu kalo bermain gitar, dia gitaris handal,
5. Wanto Bulluk, 17 thn kutu buku, ga pernah pacaran,
rajin ibadah, dia malaikat kami.

Sudah aku siap semua, kamarku sudah bersih tempat tidurku sudah rapih, aku pun sudah rapih dan wangi, sambari tunggu kawanku datang duduk aku di teras rumahku, berbincang dengan bapakku yang dari pagi tadi memang sudah ada di teras rumah, bapak yang selalunya duduk di teras bila pagi hari, memandang aguarium cantik atau pun membaca koran dengan secangkir kopi dan rokok DjiSamSoe sudah menjadi keseharian bapakku.

"Mau kemana mas? tumben pagi-pagi sudah keren?"
tanya bapakku, melihatku sekilas lalu membaca koran lagi,

"Mau jalan-jalan, boleh ga?, tapi Danu--"

"Ga ada duit?" bapakku memotong pembicaraanku

"Nih ambil seperlunya"
bapakku mengorek kantung celananya dan memberikan kartu ATMnya padaku, menyuruhku mengambilnya sendiri,

"Thanks dad....." bergegas aku pergi ambil uang.

Sesampainya di rumah, waktu sudah menunjukan pukul 9 pagi, kawan-kawanku sudah ada di rumahku,

"Nah ni die orangnya, ayo kita jalan"
sapa temenku di teras rumahku yang baru sampai, mengajakku segara pergi.

Karena memang hari sudah siang, kami pun pergi kami semua pamit dengan orang tuaku. Dengan menaiki mobil milik orang tuanya Kampleng, kijang merah yang sudah di modif gaul, membuat kami semakin percaya diri, kami pun sudah cukup senang, berbincang di dalam mobil, bernyanyi, hisap rokok, minum-minuman keras yang aku bawa dari rumah, sudah menjadi kelakuan kami yang liar. Perjalanan yang cukup jauh tidak membuat kami lemas, 2 jam kami tempuh perjalanan menuju Pantai Anyer, dan akhirnya kami sampai di tempat tujuan.

"Huaaah, mantaaaap, anginnya sepoi-sepoi menyapu serpihan pasir membentuk ombak menghantam karan---"

"Pook...." Kampleng memukul pundakku menghentikan kata-kataku.

"Aaah, sok pujangga loe Phenk, mengalun bla...bla..bla..apa lah ga ngerti gw" keluh Kamleng.

"Yeee....syirik tuh...lanjut ahh, menghantam karang, memberikan nada merdu pada dahan-dahan pohon kelapa" lanjutku

Kami semua mencari tempat makan, karena waktu sudah menunjukan pukul 12 tengah hari, sampailah di sebuah warung sederhana, kata Koneng menu makanannya kesukaan aku semua, sepertinya kawan-kawanku memang sudah menyiapkan segalanya untuk aku, entah kenapa aku pun tidak tahu. Di warung itu pun ada pelayan cantik, yang wajahnya serupa dengan mantan pacarku.

"Siang, eneng saya mau order"
Koneng memanggil pelayan itu, sambil melihat-lihat buku menu.

"iya bang, mau order apa?"
balas pelayan cantik itu, yang hanya memakai tengtop, celana pantai yang menampakkan mulus putihnya paha pelayan itu.

Koneng memberikan orderan kami ke pelayan itu, dengan alunan langkah yang bergoyang perlahan pelayan itu pun pergi menyiapkan orderan kami.

"Anjrit....mantep banget men, huh kalo digoyang bisa jebol kasur gw"
jerit Cho-cho membelanga memperhatikan goyangan pelayan itu.

"Dasar orang tua, sono Cho, samperin, keluarin cerita-cerita loe yang konyol"
ucap Gmugs, sambil bermain game di handphonenya, seolah tidak pernah peduli dengan wanita.

"Koneng, Bulluk mana?"
tanyaku, karena dia tidak ada dari kita sampai di warung.

"Biasalah, kayak ga tau aja loe, liat jam dong, liat jam berapa sekarang, waktunya zuhur Phenk"
jawab koneng, sambil mengusap mukanya yang berminyak dengan handuk yang selalu di bawanya kemana pun dia pergi.

"assaallammualaikum, woi pada ga sholat loe"
Bulluk yang datang menghampiri kami.

"iya pak ustad, kan gw suruh loe salamin buat gw, sudah loe salamin belom?"
balas Kampleng yang konyol, matanya sambil mencari cw untuk jadi korbannya.

"maaf bang, pesanannya sudah siap"
pelayan itu menghantarkan pesanan kami, dengan membungkuk pelayan itu meletakan pesanan di meja, menyudurkan dadanya tepat di depan pandanganku.

Aku yang hanya diam, hampir-hampir takjubku dibuatnya. Bentuk dadanya yang bulat putih, sizenya tidak besar tidak kecil, memang sempurna dengan warna bra coklat muda membuatku tidak dapat menahan tubuhku, tapi aku hanya bisa diam, bergetar bibirku dibuatnya.

"maaf bang yang ini pesanan abang"
pelayan itu memberikan pesananku

"hah,iya, hah ya.. ya..taruh disitu terima kasih ya"
terkejut aku, tidak sadar pelayan itu sudah bertukar posisi, aku masih dalam lamunan dadanya yang indah.

"yeee....Gphenk, bengong aja loe, maaf neng temen saya memang seperti itu, eneng namanya sapa ya?"
Cho-cho dengan sigap merebut start terlebih dahulu dariku.

Tapi tiba-tiba terdengar suara laki-laki memanggil pelayan itu dengan mesra.

"Mama....ni orderannya sudah siap"

"eh, maaf ya suami saya panggil, saya harus kerja lagi"
pelayan itu pergi tanpa meninggalkan nama, apalagi goyangan berjalan, hanya suara langkah berlari yang terdengar. Kami semua hanya tertawa melihat Cho-cho yang gagal sebelum bertempur.

Kami makan dengan lahap, sudah siap kami makan, kami bayar di kasir, tidak lupa aku meninggalkan nomber handphoneku di kertas bill tersebut, berharap aku bisa bersama dia walau hanya semalam.

Pergilah kami meninggalkan warung itu, mencari ketenangan bermain di gulungan ombak kecil, membentuk istana pasir, mengubur diri, banyak yang kami lakukan, tapi perasaanku masih tidak tenang.

"Phenk kenapa sih loe, kok bete amat sih, sudah rilex dong o.k sobat"
Gmugs yang coba menghiburku.

"Sorry Mugs, gw ga tenang kalo KTA kita belom selesai, balik aja yuk...."
balasku yang memohon pada semua untuk balik.

"Oke....oke....kita turutin lagi mau loe, tapi inget KTA kita juga harus siap?"
jawab Kampleng yang berharap KTAnya juga sudah siap.

"itulah kerjaan gw masih banyak ni, tolong ngerti gw dong, itu semua buat kalian juga"
balasku dengan tampang melas, karena aku harus buatkan KTA mereka juga.

Kami pergi meninggalkan pantai, menuju rumah masing-masing, sementara aku masih memikirkan KTA yang belum selesai, sementara waktunya hanya 3 hari lagi.

bersambung......

Your rating: None Average: 6.1 (7 votes)
dikirim danu yudhatama 27 minggu 6 hari yang lalu
Tag: