Kalau ada yang mengharapkan alien menginvasi bumi atau meletusnya Perang Dunia III atau hari kiamat tiba, akulah orangnya.
...
Vincent Valentine, 20 tahun. Sebagai mahasiswa fakultas informatika, aku sering kali menghabiskan waktuku di depan komputer. Main game, baca komik online atau sekedar mengerjakan tugas kuliah.
Aku sering kali melamun bahwa aku mempunyai kekuatan tersembunyi yang luar biasa, entah bisa terbang, memiliki tenaga super dan sebagainya sehingga aku selalu menjadi seorang pahlawan bagi orang-orang yang membutuhkan.
Aku bosan bosan dengan kehidupan yang biasa-biasa saja. Kalau ada yang mengharapkan alien menginvasi bumi atau meletusnya Perang Dunia III atau hari kiamat tiba, akulah orangnya.
Selama 20 tahun menghembuskan CO2 tidak ada kejadian luar biasa yg terjadi pada diriku. Semua biasa-biasa saja sampai malam ini...
...
Mengenakan helm kebesaran berwarna biru mengkilap di atas motor bututnya, Vincent memasuki halaman rumah melalui pagarnya setengah terbuka. Ia turun dari motor setelah memastikan motornya terkunci, melepas helmnya yang kebesaran dan meletakkannya di atas jok motornya.
Ia dilindungi jaket hitamnya ketika angin dingin mulai berhembus.
“Tok tok tok ... “ sambil mengintip ruang tamu yang gelap gulita melalui pintu bersekat.
Ada suara seseorang berjalan keluar dari balik ruang tamu yang gelap. Sosok gadis muda yang kemudian dikenalinya sebagai muridnya, Faye. Sebagai tuan rumah yang baik, Faye segera menyalakan lampu ruang tamu dan mempersilakan Vincent masuk.
Malam itu Faye mengenakan kaos mickey mouse dan celana pendek. Tubuhnya yang indah sama sekali tidak menjelaskan bahwa ia adalah gadis SMP.
“Alo...” Vincent memulai percakapan ketika ia dipersilakan masuk.
“Alo...” balas faye pendek, yang kemudian menutup pintu setelah gurunya itu tiba di tempat duduk.
“Gimana ulangan tadi pagi?” basa-basi yang sudah fasih di lidah Vincent.
“Uhm, lumayanlah. Keknya sich ga bakalan remedial” Faye mengambil tempat duduk di depan gurunya itu.
“Tumben kok hari ini sepi?” Vincent heran dengan keadaan rumah yang biasanya ramai pada malam ini menjadi sepi.
“Ia papa, mama ma cece keluar semua. Aku ditinggalin dirumah katanya disuru belajar buat ulangan besok huhuhu...” protes Faye.
“Hahaha... Gpp tar kalo ulanganmu dapat nilai bagus ajak mereka jalan-jalan mpe puas dech” bujuk Vincent.
...
Malam itu semua berjalan seperti biasa sampai pukul delapan kurang. Faye dan Vincent mendengar suara kasa kusuk diluar rumah. Faye meninggalkan latihannya, segera ke pintu sambil berharap keluarganya sudah pulang.
Sebilah pisau dengan sedikit karat pada permukaannya ditodongkan ke leher Faye dan dengan satu gerakan pria gondrong itu memutar tubuh Faye mendekapnya dengan erat sambil membungkam mulutnya.
“JANGAN BERGERAK!” teriak si Gondrong dengan kulit gelap yang mendekap Faye itu.
Kejadian terjadi begitu cepat, Vincent masih bingung apa yang sedang terjadi ketika seorang pria kekar masuk, segera mengikat tangan dan kakinya.
Vincent melihat air mata mengalir dari mata Faye. Tubuhnya mengigil, ketakutan jelas terlihat dari wajahnya dengan sebilah pisau karatan tertodong di lehernya. Ia sendiri tidak lebih baik, ketakutan, sosok yang sedang mengikatnya jauh lebih besar dan lebih kekar dari tubuhnya.
Hampir tidak ada perlawanan yang dilakukan Faye maupun Vincent. Si Gondrong tetap menodongkan pisaunya di leher Faye sementara si Kekar dengan mulus memindahkan isi rumah ke dalam karung yang mereka sediakan.
“Cewe ini lumayan nich hehehehehe. Beri nga?” Ujar si Gondrong sambil meletakkan pisau karatannya di lantai dan mulai meraba2 tubuh seksi Faye.
Faye mencoba melawan, namun kekuatannya jauh dibanding si gondrong. Ia menggeleng-geleng kepalanya sambil meraung-raung, menangis tak karuan. Sementara Vincent menatap tingkah bejad si gondrong sambil memupuk amarah.
“Beri ajah! Habis itu gantian yah” balas si Kekar.
Kemudian segalanya menjadi samar-samar bagi Vincent.
Tali yang mengikat tangannya putus, dilanjutkan dengan memutuskan tali pengikat kakinya.
Kedua pria itu kaget.
“JEDUG!” dalam sepersekian detik sebuah asbak pecah menghantam kepala si Gondrong yang sedang berusaha membuka paksa bra Faye. Kemudian jatuh tak sadarkan diri.
Sementara si Kekar terbelalak melihat temannya, sebuah tendangan mendarat di perutnya membuatnya terbungkuk menahan rasa sakit. Belum lama berselang si Kekar merasakan pipi kirinya dihantam.
Faye mengambil kesempatan itu segera merangkak mundur sambil menyaksikan peristiwa berdarah itu.
Dengan tangan berdarah akibat pecahan asbak, ia menjambak rambut si Kekar memaksanya untuk bangun.
“BANGSAT! MAMPUS LU!”
“PRYANGG!” kemudian di hantamkan kepala si Kekar ke meja yang akhirnya kaca meja itu pecah berkeping-keping.
Darah segar pun membanjiri lantai. Entah itu darah si gondrong, si Kekar ataupun darahnya sendiri. Ia tidak perduli dan berjalan mendekati Faye setelah memastikan kedua pria asing itu sudah tak sadar.
Ia melihat ketakutan di mata Faye yang basah oleh air mata, tubuhnya menggigil dan bajunya koyak, compang-camping tercabik oleh pisau karatan. Dengan tangan kanannya yang berdarah ia mengelus pipi Faye yang kemudian ikut merah oleh darahnya sebelum akhirnya semua menjadi gelap.
dikirim wend 27 minggu 6 hari yang laluTag:








