*Mohon maaf kalo karya saya panjang banget,niatnya bukan mau bikin pusing kalian,cuma pengen memberikan cerita yg lengkap doank!>_<
Silahkan di-copy utk dibaca di rumah,tapi jangan di-claim yah??..Hehehe... :P*
Ada istilah yg nggak dimengerti?Mungkin wikipedia bisa membantu 
PUKUL 0100
KETINGGIAN 35 RIBU KAKI
PERBATASAN REPUBLIK RUNE-MIDGARD—REPUBLIK ESTHAR
SAMUDRA ESTHAR
Pesawat angkut militer C-17 Globemaster III dari Skadron Udara ke-160,meliuk-liuk di udara dengan anggunnya.Pesawat tambun bewarna hitam keabu-abuan itu seperti seekor angsa,terbang dengan penuh keanggunan dan juga kewibawaan.Pesawat C-17 itu sedang terbang diatas perbatasan Republik Rune-Midgard dengan Republik Esthar—salahsatu dari negara besar di Benua Estharian yang diduduki oleh ketiranian Kekaisaran Galbadia,lima tahun yang lalu,dipicu oleh tragedi Bloody Valentine—secara rahasia.
Sang pilot dan co-pilotnya terlihat sangat sibuk memantau radar dan peralatan navigasinya dengan harap-harap cemas,takut keberadaan pesawat tambun tanpa pengawalan itu akan terendus radar militer Republik Esthar maupun Kekaisaran Galbadia yang mengendusnya masuk ke wilayah mereka tanpa ijin.Gawat akibatnya kalau mereka gagal menyelinap ke pekarangan mereka,ia akan dicegat dan ditembak jatuh,dan keberadaannya tak akan dianggap oleh pemerintah yang mengirim mereka.
Stradivarius bisa melihat jam tangan digitalnya menunjukkan pukul 0105 pagi,ketinggian 35 ribu kaki,dan suhu kabin yang berkisar 25 derajat celsius.Waktu penerjunan masih lama,ia pun mulai gelisah,tetapi ia tetap berusaha menenangkan dirinya sendiri.Perlengkapan terjun—helm terjun,tangki oksigen,pemberat limapuluh kilogram—dan ransel MOLLE yang terikat di kakinya semakin terasa berat.
“—Gelisah,heh?—“tanya atasannya yang bisa mendengar napas Stradivarius yang begitu jelas.”Ya.”jawab Stradivarius datar.
“Gelisah pada saat tugas pertama itu wajar,kok..”ujar sang komandan—pria berambut pirang klimis dengan kumis tipisnya yang juga pirang.Ia membenarkan posisi badgenya—yang bertuliskan Letnan Kolonel Nicholas Piccard//Komandan Gugus Tugas—yang terlihat miring di jaket kulit kesayangannya itu.
“—Ya—“jawab Stradivarius yang terdengar di ruang komando Komandan Piccard yang dipenuhi dengan monitor dan peralatan komputer beserta peralatan canggih lainnya.”Tapi jangan sampai kegelisahanmu dibawa selama misi berlangsung.”ujar Komandan Piccard mengingatkan.”—Baik.—“jawabnya singkat dengan suara napasnya yang terjebat di helm terjunnya yang ditutupi oleh masker oksigen.
Wajar saja Stradivairus merasakan kegelisahan yang amat sangat pada misi perdananya itu.Selain sebagai tugas pertama—setelah bertahun-tahun digembleng oleh pusat pelatihan dan menanti”masa pembuktian”—ia juga akan diterjukan ke medan tugas yang jauh berada di belakang wilayah musuh sendirian,dan akan berhadapan dengan musuh yang banyak—sendirian.
Stradivarius memandangi lampu terjun yang belum menyala,pintu kargo di sampingnya pun masih tertutup,dan ruang kargo yang bisa menampung pasukan setengah kompi dan dua jip Humvee itu terlihat sangat gelap dan mencekam.
Pak,Pelikan-1 sudah mulai memasuki wilayah Esthar!”lapor Sersan Dua Anne-Marie Christeson—atau lebih akrab dipanggil dengan nama Anne—kepada sang komandan—Letnan Kolonel Nicholas Piccard—yang memimpin unit khusus milik angkatan bersenjata Republik Demokratik Rune-Midgard ini.
Dari layar komputer terlihat jelas radar udara menunjukkan pesawat C-17 dengan sandi Pelikan-1 beberapa mil lagi akan memasuki garis kedaulatan Republik Esthar yang dikuasai oleh ratusan kapal perang Kerajaan Fasis Galbadia yang menjaga wilayah Negara pendudukan itu.
“—Disini Pelikan-1,beberapa menit lagi kami akan memasuki wilayah musuh.Bersiap untuk melakukan Mematikan komunikasi—“lapor pilot C-17 kepada Komandan Piccard.Komandan Piccard mengangguk mengerti,”Baik,laporan diterima,Pelikan-1.Bersiap untuk mematikan komunikasi sampai waktu yang ditentukan.Hati-hati di jalan,dan semoga Tuhan bersama kalian..”jawab Komandan Piccard.Komandan Piccard kembali ke salurannya dengan anakbuahnya.
“Kau dengar itu,Nak?..”Tanya Komandan Piccard.Ia mengangguk paham walaupun sang komandan tak melihatnya mengangguk.”Dengar,Komandan.”jawabnya mantap.”Bagus.Mematikan komunikasi radio dilaksanakan!”Pelikan-1 dan markas komando pun bersama-sama mematikan komunikasi navigasi dan radio mereka masing-masing ketika beberapa detik lagi akan memasuki wilayah musuh.Radar pun kehilangan posisi Pelikan-1,Komandan Piccard hanya bisa menunggu selama empat jam sesuai dengan yang direncanakan.
Komandan Piccard juga terlihat tegang,karena ia baru melaksanakan tugas pertamanya juga,tugas pertama yang nyata,setelah beberapa bulan menjalani latihan simulasi yang direkayasa seperti aslinya bersama tim yang lainnya.”Semoga mereka sampai sesuai dengan jadwal..”gumamnya resah.Matanya tak henti-hentinya memandangi belasan layar komputer yang tak menemukan keberadaan Pelikan-1.
Sedangkan sepuluh ribu mil dari posisi terakhir Pelikan-1,seorang pria setengah baya dengan tubuh penuh luka dan juga babak belur,duduk terikat tak berdaya di dalam jeruji besi yang dingin dan gelap.Sudah sebulan penuh ia mengalami nasib setragis ini setelah ia teledor melaksanakan tugas rahasianya,yaitu memata-matai aktivitas pasukan Galbadia yang berada di Kota Primea-Mirkovii,salahsatu dari ratusan kota kecil di Turkjiyan—salahsatu dari Negara-negara kecil yang bernasib sama seperti Esthar—yang dijadikan wilayah militer Galbadia.
Suara derap langkah sepatu lars mulai terdengar di telinganya,ia hanya bisa memejamkan matanya dan menghela napas panjang.Sudah waktunya,ujarnya dalam hati,sesuai dengan jadwal,malam ini ia akan diintrogasi oleh seorang komandan pasukan elit SS habis-habisan.Sudah sebulan penuh ia disiksa oleh sang komandan SS untuk memperoleh informasi mengenai kegiatannya di kota itu.
Sudah beribu kali pertanyaan yang menanyakan maksudnya berada di kota ini dijawab dengan jawaban—Mark Dougherty,wartawan The Midgard Post yang sedang melakukan peliputan di Primea-Murkovii—.Namun perwira SS itu tak bodoh—karena kalau ia bodoh,ia tidak akan menjadi seorang komandan dari unit kecil SS ini tentunya.Ia bisa mencium mana yang benar-benar wartawan dengan”wartawan”—wartawan yang ternyata adalah mata-mata yang dikirim untuk mengawasi atau mencuri segala kegiatan yang dilakukan Kekaisaran Galbadia di tanah jajahannya—
Wartawan biasa akan mati ketakutan ketika berurusan dengan SS—unit elit milik Kekaisaran Galbadia yang terkenal beringas,kejam,fanatis,dan tak kenal perikemanusiaan—dan langsung mati karena deraan siksa mereka yang kadang suka”iseng”menghabisi wartawan yang asli!
Namun tangkapan mereka kali ini berbeda dari sebelumnya,sudah tiga bulan mereka dera dengan berbagai siksa,namun wartawan itu masih bisa bertahan hidup dan menjawab pertanyaan sang komandan dengan jawaban yang sama.
Pukulan dengan cambuk,balok kayu,bahkan hingga setruman bertegangan tinggi pun,sudah menjadi menu sehari-harinya selama satu bulan ini ia tetap mengunci rapat-rapat mulutnya walau dengan bayaran siksaan yang sangat kejam dan tidak berprikemanusiaan.Sudah sumpah tugasnya untuk menutup kerahasiaan instansi yang mengirimnya walau harus dikorbankan dengan cacat permanent,bahkan kematian!
“Selamat pagi,Tuan Dougherty.Sepertinya anda sudah tak sabar menunggu kedatangan saya.”sapa seorang pria berwajah culas dan kejam yang sedang membuka topi tentaranya dan mengusap rambut pirangnya yang klimis.Ia menggaruk alis kanannya yang gatal,sudah ciri khasnya sebelum melakukan introgasinya yang kejam itu.
Komandan SS itu menghela napasnya dalam-dalam sebelum memberikan sambutan kepada Rubah.Dari wajahnya,ia terlihat lelah dan bosan,lelah karena apa yang ingin ia dapatkan tak kunjung diberikan olehRubah,dan ia bosan karena selama tiga bulan ia menyiksaRubahhabis-habisan,jawaban yang ia dapatkan Cuma—Mark Dougherty,wartawan The Midgard Post,yang sedang melakukan tugas peliputan di Kota Primea-Murkovii.
“Tuan Dougherty!..Jujur saja..Tiga bulan.Tiga bulan tidak ada keterbukaan antara kita berdua.Ia mulai berjalan menghampiri Rubah yang dalam terikat dan babak-belur karena selama tiga bulan disiksa oleh perwira kejam itu.”Tak disangka,anda adalah orang yang benar-benar tidak memiliki keramahtamahan dan kompromi dengan kami..”gumamnya sambil membersihkan topi kebesarannya dari debu.
Rubahbisa mendengar suara derap sepatu lars Komandan SS itu.Suara derap sepatunya begitu garang dan kokoh,seperti langkah kaki malaikat kematian yang mendekati para korbannya dan bisa mencabut nyawa mereka bila ia mau.”Baru kali ini,kami mendapatkan orang tidak seramah anda..Padahal,sebelum-sebelumnya tak perlu sehari..Ya pengalaman ada juga yang sampai seminggu..Untuk bisa dekat dengan orang-orang seperti anda,Tuan Dougherty.”
Rubah bisa merasakan langkah sepatu sang penyiksa itu berhenti tepat dibelakangnya,bau parfum mahal yang sudah ia hapal betul baunya juga merebak wangi di belakangnya.”Tiga bulan kami menunggu anda untuk merubah pikiran anda untuk membuka hati anda..Tapi selama tiga bulan dan sampai sekarang,anda belum membuka hati anda untuk kami..”tiba-tiba lengan kanan sang komandan langsung membelit lehernya.
“Eeeerghhh!!!”erang Rubah yang berusaha menahan sakitnya pitingan sang komandan.”Kami harap anda bisa mau bekerjasama dengan kami kali ini...Katakan..Siapa yang mengirim anda kesini?...Nacadian?..Balamb?...Komunis Trabia?..Atau Midgard yang menjadikan kau sekeraskepala ini??”tanya Komandan SS sambil terus memitingnya,semakin lama pitingannya semakin kuat,dan membuat Rubah mulai susah bernapas.
“M..Mark...Do..Dougherty..Wart..Wartawan The Mid..Midgard Post!..”jawab Rubah yang susah bicara karena oksigen yang mulai habis karena pitingan Komandan SS itu.”Kurang ajar!!Masih beraninya kau!!”
Ia melepas pitingannya,dan tiba-tiba kaki kanannya menendang kepala Rubah hingga ia jatuh tersungkur bersama kursi yang diikatkan bersama seluruh tubuhnya dengan tali tambang.”Uhuk!” Rubah mengeluarkan darah segar dari mulutnya yang bengkak dan memar.
Akhirnya pitingan yang hampir melayangkan nyawanya itu dilepaskan juga,ia pun terbatuk-batuk,berusaha untuk mengambil napas yang hampir habis itu.Matanya yang bengkak itu memandangi Komandan SS yang mondar-mandir gelisah karena kehilangan akal untuk membuka mulutnya.Ia pun memandangi dua anakbuahnya yang datang bersamanya itu.”Kalian!..Hajar dia!”suruh sang komandan.
Tanpa ampun dua prajurit SS itu langsung menghampiri dan menghajar Rubah yang tubuhnya hancur lebur itu tanpa ampun dan tanpa jeda.Komandan SS itu merapihkan lengan kanan seragamnya,lalu ia berkacak pinggang,memandangi kesal Rubah yang sedang mengaduh-aduh dihajar habis-habisan oleh dua prajurit SS itu.
BUAGH!!Bogem mentah melayang ke wajah Rubah yang masih sembab karena deraan siksaan kemarin.DUAGH!!Tulang kering seorang penyiksanya menghantam perutnya yang memar-memar.Rubahhanya meringis dan mengerang kesakitan ketika ia kembali mendapatkan hadiah atas kebungkamannya itu.
“Uhuk!..Ahak!..”entah berapa liter darah segar yang menetes di lantai penjara ketika ia terbatuk-batuk melepaskan rasa sakitnya disiksa.Dua penyiksanya yang sedang mengambil napas karena lelah menyiksanya,langsung kembali menarik kerah bajunya yang sudah compang-camping itu dan lanjut melayangkan bogem mentahnya lagi.
“Kau!”panggil sang komandan kepada seorang anakbuahnya.Ia menghentikan pukulannya,ia langsung menghampiri sang komandan.”Siap!”jawabnya.Komandan SS itu mengatakan sesuatu yang tak bisa Rubah dengar,yang ia dengar hanyalah suara sepatu lars tentara SS yang menghantam perutnya dengan sangat keras.
Ia mengangguk mengerti dan bergegas pergi meninggalkan ruang penjara.Komandan SS tersenyum puas sambil mengusap-usap dagunya yang belah itu.”Luar biasa,Tuan Dougherty,luar biasa..Mereka memang pintar menciptakan mata-mata tangguh yang akan menutup mulutnya sampai mati..”gumam Komandan SS.
“Aku akui,kau memang seorang yang kuat.Dengan berbagai siksaan demi siksaan,kau bisa melewatinya.Tak ada yang tahan dengan siksaanku…Namun kau ternyata berbeda dari mereka.Kau lebih kuat,dan juga lebih keras kepala!!”pujinya.Beberapa saat kemudian,anakbuahnya membawa sebilah besi dimana ujungnya bersinar merah terang.Dengan hati-hati ia menyerahkannya kepada sang komandan.Ia memandangi ujung besi yang membara itu dengan penuh kekaguman.
“Mungkin anda berpikir kalau besi panas membara ini akan ditempelkan kepada tubuh anda ketika anda kembali menyangkalnya…”gumamnya.Lalu ia menodongkan besi panas membara itu ke mata kanannya,ia bisa merasakan betapa panasnya hawa ujung besi itu,entah berapa ratus derajat Celsius yang ada pada ujung besi panas itu.”Katakanlah,sebelum besi ini akan melelehkan kedua mata anda itu dari tempatnya..”goda komandan SS.
Jantungnya berdegub sangat kencang,keringat dingin berucucran,rasa takut akan kehilangan keduamatanya mulai menyeruak.Komandan SS itu tersenyum puas ketika melihat korbannya mulai ketakutan ketika mendengar ancamannya itu.”Ini pasti tidak pernah diajarkan oleh para instrukturmu…”gumam Komandan SS sembari memandangi ujung besi panas itu dengan tatapan culasnya.
Ia kembali mendekatkan ujung besi membara itu di dekat mata pria setengah baya itu.”Menjadi buta adalah siksaan yang paling menyakitkan daripada siksaan lainnya..Jadi aku mohon janganlah kau berbuat tolol kali ini..”mohon komandan SS itu.Pria itu mencoba menahan rasa takutnya,ia berusaha untuk menahan napasnya dalam-dalam.”Ini kesempatan terakhirmu..Untuk siapa anda bekerja untuk memata-matai pangkalan kami di Primea-Murkovii?..”Tanya komandan SS itu.
Komandan SS itu mendekatkan telinga kirinya ke mulut Rubah yang bengkak dan memar,gigi-gigi depannya banyak yang hilang karena copot dan patah karena dipukuli oleh si Komandan SS itu.Rubah mulai bicara,komandan SS itu menajamkan pendengarannya dengan harap-harap cemas,berharap kalau intimidasi terakhirnya berhasil membuka mulut Rubah.
Ternyata harapannya hancur total,kekecewaan yang sudah berada di ubun-ubun kepalanya mulai meletus ketika pria itu menjawab,
”Sudah kukatakan sebelumnya…Mark Dougherty,wartawan The Midgard Post,aku ditugaskan untuk meliput di Primea-Murkovii…Dasar goblok!”jawab pria itu.
Tanpa banyak Tanya lagi,ia langsung menempelkan ujung besi panas itu ke mata pria itu.”AAAAAAAAAAAHHHH!!!”Erangan pria itu.Erangan menyayat hati itu menggema di seluruh penjara Primea-Mirkovii.
Beberapa jam sebelumnya…
Langkah mantap Letkol Piccard memecah kesunyian sebuah asrama tentara.Dengan mantel kulitnya yang hangat dan nyaman itu,ia menyembunyikan sebuah berkas besar untuk diserahkan kepada seseorang yang tinggal di asrama tentara itu.Ia terlihat tegang,namun juga terlihat lega dan bersemangat.Tegang karena hari yang ditentukan sudah datang,lega dan bersemangat karena hal yang ia tunggu-tunggu selama ini akhirnya datang juga.
Dua orang polisi militer dengan wajah sedingin es bersikap istirahat di tempat,di depan sebuah pintu bernomorkan 3506—disanalah orang yang ingin ia temui itu berada.Dua orang polisi militer itu langsung memberikan sikap sempurna di depan sang Letnan Kolonel.Ia mengangguk,dan salahsatu dari mereka membukakan pintu kamar itu.”Terima kasih..”ujar Letkol Piccard.
Ia masuk ke dalam kamar 3506,terlihat dua buah ranjang bertingkat dua,lengkap dengan bantal-guling,juga selimut,dan juga meja belajar beserta sebuah kursi kecil untuk duduk.Semuanya serba putih!Langit-langit,tembok,putih.Meja belajar dan kursinya juga bewarna putih,lantai kamar pun putih.Komandan Piccard bisa membayangkan kalau ia bisa mati kebosanan di tempat seperti ini.
“Hebat juga kau bisa tinggal di tempat seperti ini..”gumam Komandan Piccard,sembari memandangi sosok pria berumuran 21 tahun,terlihat sedang tiduran di ranjang sebelah kiri sang komandan.Mata birunya yang indah terlihat terpaku memandangi langit-langit ranjang atas yang juga bewarna putih.Sudah bertahun-tahun Stradivarius betah di kamar 3506,tanpa mengeluh akan kebosanan hidupnya disini.
Komandan Piccard merogoh jaket kulit kesayangannya itu,lalu ia menunjukkan sebuah amplop coklat dengan cap lambang Negara—delapan mata angin—dan tulisan capital—RAHASIA NEGARA—dalam warna merah.”Selamat,bersiaplah untuk tugas pertamamu.”ujar Komandan Piccard sembari menyunggingkan senyumannya yang tersembunyi di kumis tipis pirang menggemaskannya.
Stradivarius mengalihkan hiburan sehari-harinya itu—memandangi langit-langit ranjang atasnya—memandangi amplop coklat itu.Ia terlihat sangat tertarik,walau wajahnya masih sedingin es dan sekaku robot itu.Ia bangun dari tidurannya dan duduk membungkuk diatas tempat tidurnya yang sederhana itu.Komandan Piccard menyodorkan amplop coklat itu ke Stradivarius,dan Stradivarius meraih amplop coklat itu.
SRET!SRET!SRET!Bunyi segel amplop yang Stradivarius robek.Lalu ia merogoh isi dari amplop coklat itu.Komandan Stradivarius terus memperhatikan tingkah laku Stradivarius.Dia ini sebenarnya manusia atau robot?Tanya Komandan Piccard dalam hati.Stradivarius melihat berkas-berkas taklimat tugas pertamanya yang berhalaman-halaman itu,didampingi oleh foto intai dan foto seseorang.
“Tugas pertamamu adalah menyelamatkan salahsatu dari agen MCA—Midgard Central Agency,badan intelijen milik pemerintah Republik Rune-Midgard—yang memiliki nama sandi—Rubah.”
Stradivarius memandangi foto-foto orang berumur setengah baya dengan berbagai macam sudut pengambilan gambar,lengkap dengan fotokopi tanda pengenalnya,--Edward Kristenson—nama asli Rubah yang tercantum pada fotokopi tanda pengenal MCA-nya.
Stradivarius juga memperhatikan fotokopi tanda pengenal samarannya.Sebuah passport dengan nama Mark Dougherty dan badge pers dengan atasnama The Midgard Post,salahsatu dari media cetak yang ada di Rune-Midgard yang dijadikan kedok operasi rahasia yang dilakukan Rubah.
“Junon—istilah bagi MCA—menugaskan Rubah ke Turkjiyan selama setahun untuk memata-matai aktivitas militer pasukan pendudukan Kekaisaran Galbadia disana dengan menyamar sebagai wartawan.Namun sialnya,ia dipergoki oleh elemen patroli dari Divisi Infantri ke-201 ketika melakukan tugas intelijennya di Kota Primea-Murkovii.
Sayang sekali..Padahal setelah tugas di Kota Primea-Murkovii selesai,ia akan kembali ke tanah air untuk melepas rindu dengan istri dan putrid semata wayangnya..”ujar Komandan Piccard lirih.Namun Stradivarius terlihat tak perduli,ia lebih memperhatikan berkas-berkas taklimat dan foto-foto yang ada.
“Pada pukul 0000,kau akan berangkat dengan menggunakan pesawat angkut C-17 menuju titik penerjunan pada pukul 0530,kau akan terjun dengan HALO.”ujar Komandan Piccard sembari menunjuk sebuah foto rute penerbangan rahasianya.Dari Iskandarjamillah,lalu ke bagian selatan perairan Esthar,lalu ke titik penerjunan di wilayah Republik Turkjiyan.
“Setelah mendarat di titik penerjunan,sekutu kita dari kelompok pemberontak setempat akan menjemputmu.Merekalah yang tahu kondisi Rubah.”ujar Komandan Piccard.Stradivarius yang diam seperti batu karang itu mulai bertanya kepada sang komandan.”Bagaimana caranya aku bisa tahu kalau itu para pemberontak yang kau katakan?”Tanya Stradivarius.
“Berikan kode morse FREEDOM kepada para pemberontak itu,kalau mereka membalasnya dengan FREEDOM,berarti itu mereka.”jawab Komandan Piccard singkat.
Komandan Piccard terlihat sedang sibuk mencari sesuatu dari tumpukan foto yang berserakan di atas meja belajar.”Mereka akan membantumu membebaskan Rubah dengan cara mengalihkan perhatian para garnisun yang ada di kota,dan kau akan mengambil kesempatan itu dengan membebaskan Rubah.”ia pun menunjukkan foto yang tadi ia cari-cari.Foto sebuah kantor polisi yang terlihat dijaga beberapa tentara Galbadia.”Junon menginformasikan bahwa Rubah dipenjara dan disiksa di penjara bekas kantor polisi ini,oleh seorang perwira SS yang bertugas disana untuk memperoleh informasi darinya.”ujar Komandan Piccard singkat.
Stradivarius pun memungut foto kantor polisi itu dan memperhatikannya dengan sebaik mungkin,sampai gambaran foto itu terekam dalam ingatannya.Komandan Piccard melihat jam tangannya,”Taklimat selesai,sisanya aku serahkan kepadamu.Kau punya waktu dua jam untuk bersiap-siap.”ujar Komandan Piccard sembari membalikkan badannya dan meninggalkan kamarnya.
“Melawan satu kota..Itulah gunanya para pemberontak itu...”ujar Stradivarius datar.Komandan Piccard terdiam beberapa saat,dan menoleh ke Stradivarius.”Begitulah!”jawab Komandan Piccard sembari menutup pintu kamar Stradivarius.
Di gudang logistik,Stradivarius dengan gesit mempersiapkan perlengkapan yang akan ia bawa pada misi penyelamatannya.Dengan wajahnya yang sudah diwarnai abu-abu kecoklatan itu,ia memasangkan asesoris terakhir pada senapan M4A1-nya,sebuah pelontar granat M203 yang ia pasangkan pada rel bawah laras depan.Ia pun membidik senapannya dengan alat bantu bidik Holosight 553.CEKREK!Stradivarius mengokang senapannya.
TING!Lampu bewarna hijau pun menyala terang di kabin belakang pesawat.Sang loadmaster yang sibuk berkoordinasi di ruang kokpit,langsung bergegas menuju kabin belakang dimana”paket”yang mereka akan bawa sedang menunggu saat penerjunan.”Bersiaplah,sobat!..Kita sebentar lagi sampai di titik penerjunan!”ujar sang loadmaster sembari memencet tombol membuka pintu kargo.Suara dengungan mesin terdengar memecahkan keheningan kabin pesawat.
Stradivarius memandangi jam tangan digitalnya,angka digital yang ada di jam tangan canggihnya itu menunjukkan angka 0525.Lima menit lagi ia akan melakukan prosedur terjun HALO.
Dengan perlahan namun pasti,pintu kabin terbuka.Cahaya cakrawala mulai merangsek masuk ke dalam kabin pesawat yang gelap dan dingin itu.Hembusan angin juga tanpa ampun masuk ke dalam kabin.Samudra awan dan gemuruh angin di ketinggian 35 ribu kaki itu menyambut kedatangannya.Yang ada di mata Stradivarius hanyalah lautan awan,dan bumi pun terlihat tak jelas karena tingginya C-17 terbang.Sang pilot kembali menyalakan perangkat navigasi dan komunikasinya.
“Kepada komando,disini Pelikan-1,dua menit lagi kami akan sampai di titik penerjunan!”lapor sang pilot kepada Komandan Piccard.”Di sini Komando,diterima,Pelikan-1.”jawab Komandan Piccard.Sang paket berusaha berdiri dari duduknya,ia sedikit sulit untuk berdiri karena beban perlengkapan terjunnya yang hampir mencapai 100 kilogram itu.
Hembusan kencang angin langit Turkjiyan menghajar tubuhnya,ia nyaris terjatuh karena kencangnya kecepatan angin yang menyerbu ruang kabin belakang.”Kau beruntung,cuacanya sedang bagus!..Ini bakalan jadi penerjunan yang menyenangkan,sobat!”ujar sang loadmaster yang berpegangan di bibir pintu.Lautan awan putih menutupi bumi,namun menurut sistem GPS pesawat,dua setengah menit lagi mereka akan sampai di titik penerjunan.
Dengan perlahan-lahan ia melangkah menuju bibir kabin,hembusan angin semakin kencang,namun tak bisa menggoyahkannya karena kokohnya kuda-kuda sang paket yang dijejali oleh berbagai macam peralatan superberat.Ia pun melebarkan kedua tangannya,menarik napas dalam-dalam untuk menengakan dirinya.Matahari pagi mulai menyilaukan kacamata terjunnya.
Matahari itu seperti tak sabar untuk menjadi saksi bisu sebuah operasi militer rahasia pertama yang dilakukan oleh gugus tugas rahasia yang sudah dipersiapkan pemerintah Rune-Midgard bertahun-tahun lamanya.TING!Lampu hijau pun menyala,sang loadmaster mengacungkan jempolnya sebagai tanda untuk mempersilahkannya untuk terjun.Sang paket mengangguk mantap,dan tanpa ragu lagi ia menerjunkan dirinya ke gugusan langit luas.
“Paket sudah diterjunkan,diulangi,Paket sudah diterjunkan!”lapor sang loadmaster sembari melihat sang paket bersandikan Paket itu menukik cepat menuju gugusan awan putih nan dingin itu.Hanya dalam hitungan beberapa detik saja,ia sudah tak terlihat dari pandangan sang loadmaster.Pelikan-1 langsung membalikkan haluannya,terbang kembali menuju sebuah pangkalan udara milik sekutunya yang berada dekat dengan kawasan musuh.
“—Komando,disini Pelikan-1.Paket sudah diterjunkan,kembali ke pangkalan.—“lapor pilot C-17 yang mengantar Stradivarius ke titik penerjunan.”Disini Komando.Roger,Pelikan-1,segera kembali ke pangkalan.”jawab Komandan Piccard.”—Disini Pelikan-1,roger,kembali ke pangkalan.—“jawab sang pilot.
Gemuruh suara angin terdengar jelas di kedua telinganya.Sedangkan Stardivarius hanya bisa memperhatikan perlatan altimeter portable-nya yang terpasang di lengan kirinya.Altimeter digital itu terus menghitung mundur ketinggiannya,30 ribu kaki dan terus menghitung mundur dengan cepatnya.
Ia harus ingat kalau pada ketinggian 1500 kaki,ia harus sudah melepaskan parasutnya,sesuai dengan apa yang dilatih selama ini.Sedangkan di ruang komando,Komandan Piccard terus memandangi layar LCD yang sedang menunjukkan posisi Stradivarius.
Permukaan bumi yang terlihat hanya terlihat sayup-sayup makin lama semakin jelas bentuknya ketika Stradivarius terus menuruni ketinggian.Stradivarius terus berusaha mengendalikan posisi terjunnya yang diganggu oleh kecepatan terjunnya yang semakin tak terkendali dan juga tiupan angin sangat kencang.
“Bagaimana dengan aktivitas komunikasi musuh?”Tanya Komandan Piccard resah.Anne menggelengkan kepalanya,”Tak ada aktivitas komunikasi musuh yang mencurigakan,mereka tidak mengetahui keberadaan Pelikan-1,Pak.”jawab Anne yakin.Komandan Piccard hanya bisa mencoba mengatur napasnya,dan terus menunggu kabar Stradivarius yang sedang menukik tajam di udara.
Altimeter menunjukkan 6500 kaki,dan terus menghitung mundur dengan sangat cepat.Kumpulan awan sudah mulai menyibakkan pemandangan indah kawasan berbukit-bukit Mirkovii dari langit.Hutan belantara yang terpaparkan dari ujung ke ujung mata memandang,bagaikan sebuah permadani hijau raksasa ciptaan alam yang tak akan ada tandingannya.
Stradivarius terus menahan dadanya yang semakin sesak oleh tekanan angin dingin menusuk tulang yang menahan dadanya.Seperti ada orang yang sangat kuat mencoba menekan dadanya.Kedua tangannya pun bergetar karena berusaha menahan kencangnya tekanan.
Matanya semakin jelas kalau ia sedang jatuh dalam kecepatan sangat tinggi,terlihat awan-awan putih dengan cepat ia terobos dalam hitungan detik,tubuhnya sudah seperti sebutir peluru yang ditembakkan dari laras senapan.
Altimeter menunjukkan ketinggian 3000 kaki dan terus menghitung mundur lebih cepat dari ketinggian sebelumnya,ia tetap berusaha berkonsentrasi mengendalikan penerjunannya walau dadanya semakin sesak karena tekanan udara.”—Hufff!!!..Hufff!!!..—“bunyi deru napasnya Stradivarius.Komandan Piccard tahu kalau Stradivarius mulai mengalami masalah dengan pernapasannya.
1500 kaki!Ia langsung menarik tuas tas parasutnya dengan cepat.BRAP!!Parasut bewarna abu-abu itu mengembang dengan cepat.Dengan seketika tubuhnya tersentak hebat oleh sang parasut.Tak ada waktu untuk menikmati pemandangan Turkjiyan,ia harus segera meraih kedua tuas pengendali parasut kalau tak mau mendarat jauh dari lokasi penerjunan.
”Ya!”kedua tangannya berhasil meraih kedua tuas pengendali parasut itu.Dengan hati-hati ia mengendalikan parasutnya sesuai dengan apa yang ia dapatkan dari taklimat malam sebelumnya.Ia membawa parasutnya ke sebuah hamparan rerumputan luas yang dikelilingi oleh gugusan hutan pinus yang lebat—seperti foto yang ia lihat dalam taklimat—.
“—Huff…Huff..—“Stradivarius mulai bisa mengendalikan napasnya,dadanya terasa lebih ringan dalam keadaan melayang bersama parasut ketimbang terjun bebas barusan.Dengan perlahan-lahan parasutnya mendekati rerumputan luas yang merupakan daerah dimana ia harus mendarat.
Sedangkan tak jauh dari titik penerjunan,limapuluh orang bersenjata yang sudah menunggu lama kedatangan Stradivarius mulai gembira.Ketika sang komandan melihat sebuah parasut sedang melayang di udara.”Ia datang!Ayo kita jemput mereka!”perintah sang komandan dari keempatpuluh sembilan orang bersenjatakan senjata rampasan perang itu.Mereka pun langsung berjalan cepat menuju titik penerjunan,tempat dimana sesuai dengan yang dijanjikan.
BRUK!Kedua kakinya yang dijejali oleh pemberat dan ransel MOLLE-nya akhirnya menyentuh bumi dengan lembutnya.Ia langsung membuka sabuk tas parasutnya dengan cepat,lalu disusul dengan membuka pemberat-pemberat yang mengikat kedua kakinya.Tak ada kamus untuk bersantai ketika sudah sampai di bumi lagi,ia langsung melipat parasut abu-abunya,dan lalu mengumpulkan semua perlatan terjun payungnya yang sudah tidak berguna lagi.
Ia memanggul ranselnya,dan serta mengalungkan tali senapan serbu M4A1—standar SOPMOD—nya.Ia langsung bergegas meninggalkan tempatnya ia terjun menuju kegelapan hutan pinus yang tak jauh dari titik penerjunan.Ia harus bergegas bersembunyi karena siapa tahu musuh yang berada di sekitar titik penerjunan melihatnya mendarat dan bergegas mengejarnya disaat ia lengah.
“Komandan,Stardivarius berhasil sampai dengan selamat.”lapor Anne ketika melihat alat pemantau berbasis radar supercanggih itu.Komandan Piccard bernapas lega ketika mendengarnya,akhirnya rencana pertama berjalan dengan sempurna.Namun ketegangan itu masih tak mau untuk menghilang,masih banyak hal yang—jauh lebih menegangkan—untuk dilaksanakan selanjutnya.”Stradivarius,disini Komando.Kau dengar kami?”panggil Komandan Piccard.
“—Stradivarius,disini Komando.Kau dengar kami?—“panggilan Komandan Piccard mulai mengganggu,padahal ia sedang sibuk membuka masker gasnya yang terlalu kencang mengikat lehernya.Akhirnya masker gas yang sempit itu bisa dilepaskan juga.Ia pun merapikan peralatan troath-mic-nya,ia memencet tombol input yang berada di lehernya.”Disini Stradivarius,sangat jelas,Komando.”jawab Stradivarius sembari menyembunyikan peralatan terjunnya dengan tumpukan dedaunan kering dan kayu-kayu lapuk.
Komandan Piccard terlihat sangat lega ketika Stradivarius menjawab panggilannya.”—Kenapa kau menjawabnya dengan begitu lama,prajurit?!—“Tanya Komandan Piccard dengan nada kesal.”Aku sedang membereskan peralatan terjunku,Komando.”jawab Stradivarius datar.Mata birunya terus menyisiri sekitarnya dengan waspada.
Sedangkan di markas,radar inframerah menunjukkan ada pergerakan manusia yang sedang menuju titik penerjunan.”Pak,ada orang yang bergerak menuju titik penerjunan!”lapor Anne.Radar inframerah itu menunjukkan ada limapuluh orang bersenjata sedang bergerak menuju titik pendaratan.Komandan Piccard mengangguk paham,ia pun melaporkannya kepada Stradivarius.
”Stradivarius,ada kelompok orang bersenjata sedang bergerak menujumu,posisi di arah jam 10-mu.Mungkin itu adalah anggota pemberontak yang akan menjemputmu,namun kau harus tetap waspada!”lapor Komandan Piccard.
“Roger,Komando.”jawab Stradivarius sembari mengawasi arah jam 10-nya dengan mengarahkan senapan serbu khususnya.Ia terus menunggu sembari bersembunyi dibalik gelapnya rerimbunan hutan pinus yang melindunginya dari penglihatan orang yang tidak diinginkan.
“Dimana orang itu,Kapten?”Tanya salahsatu anakbuahnya yang terlihat sangat kesal.Sang komandan hanya terus mengawasi sekitarnya dengan teropongnya,namun penglihatan teropongnya tidak memberikan jawaban yang memuaskan.”Seharusnya ia sudah mendarat disini..”gumam sang komandan dari gerakan pemberontak itu yakin.”Lalu apa yang harus kita lakukan,Kapten?”Tanya anakbuahnya yang bertubuh jangkung.”Aku yakin dia sudah ada disini,dan aku merasa kalau dia sedang mengawasi kita di suatu tempat!..”jawabnya.
Mendengar jawaban dari sang komandan,mereka langsung mengawasi sekitarnya dengan membidikkan senapan G3 rampasan.”Dimana,Kapten?..Dimana?..”Tanya seorang anakbuahnya panik.Sang komandan memberikan isyarat kepada para anakbuahnya untuk tetap tenang.”Tenang,dia adalah teman kita.Johan!Nyalakan isyarat morse!”perintah sang komandan kepada anakbuahnya yang bernama Johan.Johan mengangguk paham.Ia langsung meraih senternya yang ia simpan di kantong celananya.Ia menyala-matikan senternya untuk membuat kode morse.
Dibalik kegelapan hutan,Stradivarius memperhatikan kode morse itu.
F-R-E-E-D-O-M…
F-R-E-E-D-O-M!...
“Komando,sepertinya mereka adalah penjemputku.”lapor Stradivarius dengan nada berbisik.”Apakah kau yakin,Stradivarius?”Tanya Komandan Piccard tegang.”Saya yakin sekali,Komando!”jawab Stradivarius mantap.Komandan Piccard menarik napas dalam-dalam,”Baiklah,lakukan apa yang harus kau lakukan,Stradivarius..”jawab Komandan Piccard.
Stradivarius menyalakan senternya yang disangkutkan pada rompi IBA-nya,tepat ke arah para pemberi sandi morse FREEDOM itu.Johan terkejut,dari gelapnya hutan ada yang membalas sandi morse-nya.
F-R-E-E-D-O-M..
F-R-E-E-D-O-M..
“Itu mereka,Komandan!”ujar Johan dengan suara tegas.Sang komandan mengangguk paham,hanya mereka dan sekutunya yang tahu kode morse itu.”Johan,Visier kalian ikut aku untuk menemuinya,Lonant,buat perimeter disini dan tunggu sampai kami kembali.”perintah sang komandan.”Siap!”jawab Lonant,ia langsung memerintahkan yang lainnya untuk membuat perimeter.Sedangkan dua anakbuahnya—Johan dan Visier—ikut sang komandan untuk menemui bala bantuannya.
Dengan hati-hati mereka bertiga menghampiri sumber cahaya itu,dimana Stradivarius menunggunya.Pemimpin para pemberontak itu tersenyum ramah kepada Stradivarius yang tak pernah tersenyum itu.”Selamat datang di Murkovii,Tuan-tuan!”sambut sang pemimpin pemberontak itu.
Namun ia dan dua anakbuahnya terheran-heran ketika hanya melihat hanya satu orang utusan sekutu—dengan wajah robotnya yang dicat abu-abu kecoklat-coklatan—di dalam hutan.”Dimana yang lainnya?”Tanya Johan bingung.”Cuma aku saja yang ada disini.”jawab Stradivarius dingin.
Tiga pemberontak itu tertawa terkekeh-kekeh ketika mendengar guyonan si robot ini.Namun mereka mulai menelan tawa mereka ketika melihat Stradivarius tidak tertawa.”Aku tidak bercanda.”jawab Stradivarius dingin.Suasana kembali dingin,sedangkan sang pemimpin patroli itu hanya bisa tertawa satir sembari menggaruk-garukkan kepalanya.”Baiklah…”gumamnya.
Sang komandan mengulurkan tangannya,”Perkenalkan,Nikolai Tupolevski!”ujar sang komandan.Namun keramahannya dibalas dengan dingin dan arogannya Stradivarius.Nikolai menarik kembali tangan kanannya,sembari menelan bulat-bulat malunya.”Kurang aja!..”gerutu Visier geram.Namun Nikolai mengisyaratkan untuk tak membuat keributan dengan Stradivarius.
“Kita akan berjalan menuju desa kami terlebih dahulu untuk konsolidasi dengan para pemberontak lainnya untuk mempesiapkan penyelamatan rekanmu..Mari!”ajak Nikolai.Stradivarius beranjak bergerak keluar dari gelapnya hutan bersama para pemberontak.
Dalam perjalanan ke desa,Johan yang tergolong masih remaja itu,terus memperhatikan Stradivarius yang terlihat tak peduli dengan sekitarnya itu.Ia mempehatikan seluruh tubuh Stradivarius,bandana hitam yang menutup rambut coklat ikalnya,rompi IBA hijau tua dengan banyak kantong—dengan warna yang sama—,speed-holster dimana pistol M1911A3 terpasang di rel holster,dan senapan M4A1 yang ia tenteng selama perjalanan.
Muncul keragu-raguan dari diri Johan,ia pun menghampiri Nikolai,sang pemimpin.”Komandan,apa iya uma stu orang saja?”Tanya Johan tak percaya.Nikolai cuma menjawab dengan senyuman ramah kepada juniornya itu.”Sekutu selalu punya kejutan yang tak pernah kita ketahui,Johan..”jawabnya mantap.
Mereka pun berjalan selama lima jam penuh tanpa henti hingga sampai ke Desa Mirkovii,Nikolai melihat arloji rampasan dari seorang komandan yang ia habisi dalam penyerbuan beberapa hari yang lalu.Waktu menunjukkan pukul 1130 siang,matahari pun sudah mulai beranjak naik ke ubun-ubun mereka.
Setengah jam lagi mereka akan sampai di Desa Mirkovii.”Setengah jam lagi dan setelah melintasi bukit tinggi itu,kita akan sampai di desa!”ujar Nikolai kepada Stradivarius.Johan terus memperhatikan Stradivarius,sosok yang jauh lebih misterius daripada pasukan khusus sekutu yang pernah ia temui.”Maaf!”panggil Johan.Stradivarius pun menoleh ke arah Johan yang memiliki pertanyaan untuknya.
“Bolehkah aku bertanya?”ijin Johan.Stradivarius tidak menjawabnya,ia hanya diam.Namun Johan memberanikan diri untuk bertanya,”Kenapa sekutu hanya mengirimmu sendirian saja?”tanya Johan.Stradivarius langsung menjawab pertanyaan Johan,”Maaf,pertanyaan itu tak bisa aku jawab.”jawab Stradivarius singkat.”Oh..”Johan—yang berusia belia itu—hanya bisa menelan rasa kecewanya saja.Sedangkan para pemberontak yang lain hanya bisa memandangi Stradivarius dengan pandangan tak simpatik,mereka baru melihat begitu arogannya pasukan khusus sekutu.”Ayo kita kembali berjalan!..”komando Nikolai,ketegangan pun berhasil diredam dan perjalanan panjang pun kembali dilanjutkan.
Para pasukan patroli dan tamunya,Stradivarius,berjalan menyusuri jalan setapak yang berada di tengah-tengah ladang gandum yang siap dipanen.”Tak kami sangka,kalau mereka cuma mengirimu,tuan...”Nikolai lupa menanyakan namanya di hutan.”Panggil saja Stradivarius.”jawab Stradivarius singkat.”Kau yang ditugaskan untuk menyelamatkan orangmu di kota?”tanya Nikolai lagi.
“Ya.”jawab Stradivarius datar.Lonant pun memotong pembicaraan mereka dan berseloroh,”Apa iya orang ini bisa?”ejek Lonant.Namun orang yang ia sindir ternyata tak bergeming.”Cih!”umpatnya kesal karena ejekannya tak mempan.
“Lalu,bagaimana dengan bantuan yang dijanjikan oleh para atasanmu yang kami minta?”tanya Nikolai penasaran.Stradivarius hanya menjawab,”Aku tidak tahu,dan itu bukan wewenangku untuk tahu.”jawabnya dingin.Nikolai terdiam,”Ooh..Maafkan saya kalau begitu.”ujarnya.
Mereka akhirnya masuk ke wilayah Desa Murkovii,dimana dijaga oleh sebuah pos jaga.Pos jaga yang terbuat dari pohon sekitar yang ditebang dan dibuat seperti pos,seadanya.Ada empat orang pemberontak yang mendapat tugas juga di pos itu,sembari bersantai-santai.Stradivarius bisa melihat senapan G3 rampasan yang menggantung di punggung-punggung mereka.
Salahsatu dari petugas jaga itu berteriak,”Hey,kau kembali,Niko!”sambutnya hangat.Nikolai tersenyum ramah dan membalas sapaan pemberontak itu.Beberapa anggota patroli berhenti sejenak untuk meminta rokok dari rekan-rekannya itu.”Oh ya,dimana bantuan sekutu itu?”tanya seorang penjaga pos penasaran.
Nikolai tidak menjawabnya,Cuma pergi melintasi pos jaga bersama pengikut-pengikutnya.Mereka memandangi Stradivarius yang memiliki dandanan berbeda dengan para pasukan patroli yang melintas.”Dia?”tanya rekannya bingung,sembari menunjuk Stradivarius yang mulai jauh meninggalkan pos jaga.
Sudah beberapa lama berjalan,Nikolai menghentikan langkahnya dan menghela napas lega.”Selamat datang di Desa Murkovii.”ujar Nikolai kepada Stradivarius.
Akhirnya,rombongan pemberontak yang dikomandani oleh Nikolai sampai juga di Desa Mirkovii.Desa kecil yang hanya dihuni oleh limapuluh kepala keluarga,mereka terdiri dari penduduk asli Desa Murkovii,maupun dari desa lainnya yang mengungsi karena desa-desa mereka dihancurkan oleh tentara Galbadia,pekerjaan mereka adalah petani gandum dan peternak sapi perah.
Namun kehidupan penuh kedamaian ini mulai berubah 180 dejarat ketika Kekaisaran Galbadia menjajah Turkjiyan dan menanamkan pemerintahan pendudukan yang bertangan besi kepada seluruh jajahannya.Mirkovii menjadi salahsatu dari pos-pos pertahanan pasukan pemberontakan Turkjiyan.
Para anak-anak penduduk desa bersorak-sorak menyambut para pemberontak yang baru saja pulang patroli.Beberapa dari mereka memberikan sekerat roti gandum untuk para pemberontak,dan mereka pun menerimanya dengan sukacita.Seorang wanita keluar dari dalam rumahnya yang sederhana untuk menyambut suaminya yang bergabung dalam pemberontakan sambil menggendong putra mereka yang masih berumur satu tahun.
Beberapa anak kecil berusia sekolah juga menyambut kakak-kakak mereka yang meninggalkan kewajibannya—sekolah dan belajar—dengan kewajiban merebut kembali kemerdekaan.Para orangtua juga menyambut anak-anaknya,juga ada seorang wanita muda yang menyambut suaminya dimana mereka baru saja melangsungkan pernikahannya.
Nikolai tersenyum senang ketika melihat para pemberontak bisa kembali ke rumah mereka masing-masing.”Senangnya bisa pulang ke rumah...Dan bisa bertemu dengan orang-orang yang kita sayangi..”gumam Nikolai senang.Namun ia berubah sedih ketika melihat seorang anak kecil menangis memanggil-manggil ayahnya yang tak kunjung pulang,sang ibu mencoba menghibur anak semata wayangnya itu.
“Beberapa hari yang lalu,kami disergap oleh pasukan musuh disuatu tempat ketika kami berpatroli.Nyawa kami semua benar-benar di ujung tanduk,namun kami berhasil selamat berkat pengorbanan yang dilakukan oleh rekan-rekan seperjuangan kami.Salahsatunya adalah ayah dari anak itu...”gumam Nikolai lirih.
“Setiap kami pulang patroli atau bertugas,anak itu selalu keluar dari rumah,mencari-cari dan memanggil-manggil ayahnya.Kami cuma bisa berharap kalau anak itu bisa tegar menerima kepergian ayahnya...”tambahnya.Stradivarius memandangi para pemberontak yang memandangi miris anak kecil yang terus melawan ibunya dan berteriak kalau ayahnya tak pulang-pulang.
Namun Stradivarius tidak terlihat memberikan respon sedikit pun dengan kisah drama yang diceritakan oleh Nikolai.Nikolai pun sedikit kecewa,ceritanya kurang menyentuh hati tamu dari barat itu,namun ia membalasnya dengan senyuman renyahnya.”Andai peperangan ini tak terjadi,hal seperti ini tak akan terjadi...”ujar Nikolai.
Beberapa saat kemudian,Visier,salahsatu dari pengikutnya menyambut kedatangan Nikolai.”Kau kembali,Komandan!”sambutnya penuh semangat.Mereka berpelukan erat,seperti dua orang kakak dan adik,tawa pun pecah dari kedua mulut mereka.Visier dan Nikolai saling menepuk-nepak punggung masing-masing.”Pasti aku kembali!”jawab Nikolai.
Visier pun terdiam dan memandangi Stradivarius dengan tatapan tajam.”Siapa dia?”tanya Visier curiga.Nikolai menoleh ke arah Stradivarius yang terus memperhatikan seisi desa yang tenang dan sejuk itu.”Dia adalah orang yang dikirim sekutu.”jawab Nikolai.”Dia?!..”Visier mempehatikan sekeliling Stradivarius,”Cuma dia?!”tanya Visier tak percaya.
Lonant pun datang dan menghampiri sang komandan.”Komandan,kamarnya sudah disediakan.”ujar Lonant.”Baik..Tuan Stradivarius!..”panggil Nikolai.Stradivarius menoleh ke arah Nikolai yang diapit oleh dua anak buahnya yang bertatapan tak simpatik kepadanya,Stradivarius perduli setan dengan sikap antipati Visier dan Lonant yang tak suka cara memandangnya.”Mari!..”ajak Nikolai.
Lonant terus mengawasi sekitar desa dari balik tirai kamar yang disediakan untuk Stradivarius oleh Nikolai.Ketika kondisi di luar jendela terlihat aman,ia kembali menutup tirai dan memperhatikan pembicaraan antara Nikolai dan Stradivarius.”Tidak terlalu luas,tapi cukup nyaman...”gumam Nikolai sembari memandangi seisi kamar yang akan dipinjamkan untuk tamu dari jauhnya beristirahat.
Stradivarius dengan tenang menaruh ransel MOLLE-nya yang lumayan berat di atas ranjang,ia memandangi seisi kamar itu.Baru pertama kali ia melihat kamar dengan berbagai macam warna di dalamnya,tidak seperti kamar 3506.Walau wajahnya terlihat datar,Nikolai bisa melihat kekaguman yang terlihat sekilas dari wajah Stradivarius.
“Minum?”tawar Nikolai kepada Stradivarius sembari menyodorkan segelas penuh air putih yang ia tuangkan dari kendi tembikar untuk sang tamu.”Tidak.Terima kasih...”jawab Stradivarius datar.Nikolai tersenyum lebar,”Tenang saja,kami tidak akan mencelakai kau,kok...”ujar Nikolai.
Namun tetap saja Stradivarius tak menggubris tawaran Nikolai.Nikolai menghela napas,”Baiklah...Kalau kau ingin minum,tinggal ambil saja.”ujar Nikolai sembari menaruh segelas air putih untuk Stradivarius itu dan membiarkannya berada di atas meja kecil yang ada di samping ranjang.
Lonant memandangi jam tangannya,”Komandan,sudah waktunya untuk pergi.”lapor Lonant.Nikolai mengangguk mengerti,ia ada rapat penting dengan para pemberontak mengenai rencana penyerbuan ke kota nanti malam.”Maaf,aku harus bertemu dengan yang lainnya untuk persiapan nanti malam.Beristirahatlah..”ujar Nikolai sembari bersiap untuk meninggalkan Stradivarius sendirian di dalam kamar.
“—Dia benar..Istirahatlah,Stradivarius,nanti malam akan menjadi tugas yang melelahkan.—“ujar Komandan Piccard yang mencuri dengar pembicaraan mereka berdua.”Baiklah.”jawab Stradivarius dingin,Nikolai tersenyum hangat dan meninggalkannya di dalam kamar.Lonant memandangi tajam Stradivarius,lalu menutup pintu kamar.
Namun seperti biasa,Stradivarius menghibur dirinya dulu sebelum memejamkan matanya untuk beristirahat,tangan kirinya menopang kepalanya,sedangkan tangan kanannya terus menggenggam senapan M4-nya dengan telunjuk menyentuh picu senapan.Wajahnya yang masih menggunakan kamuflase itu memandangi langit-langit kamarnya yang bergambarkan ribuan bunga mawar.
BRAK!Tangan seorang pemberontak yang kokoh itu menghantam meja rapat.Ia terlihat sangat marah,kesal,dan juga terhina ketika melihat orang yang akan mereka bantu cuma seorang saja.”Apa maksud dari semua ini?!Hanya satu orang?Ini penghinaan!!”ujarnya lantang.Kemarahannya diiyakan oleh para pemberontak yang hadira dalam rapat.
Namun Nikolai dan pengikutnya yang hadir dalam rapat itu—Lonant,Johan,dan Visier—berusaha untuk menenangkan diri dalam keadaan rapat yang semakin memanas itu.Nikolai cuma bisa duduk diam menyimak segala protes keras yang didampratkan kepadanya.
“Satu orang?!Bagaimana bisa satu orang membantu kita semua kalau nanti malam akan ada masalah??”tambah seorang pemberontak yang ikut memberikan protes kerasnya.Protesnya pun diiyakan oleh para hadirin rapat yang banyak menentang keputusan yang diambil oleh Nikolai.”Tapi kami yakin sekutu mengirim orang itu bukan untuk menunjukkan ketidakseriusan mereka untuk membantu kita!”bela Lonant.
“Apa buktinya kalau mereka tidak meremehkan kita?”Tanya seorang pemberontak dengan nada mengejek.Semua hadirin semakin memanas,tak cuma mengiyakan protesan yang lain,mereka juga mengeroyok Nikolai dengan perkataan-perkataan yang membuat panas telinga.
“Dasar tidak punya pendirian!Keparat biadab!!”kutuk Lonant yang sudah tak tahan lagi menahan kekesalannya ia langsung menyerang seorang penentang Nikolai,namun ditahan oleh Visier dan Johan.”Lonant!Hentikan!”tegur Nikolai dengan suara keras.”Lepaskan!..Lepaskan!!..”tolak Lonant yang masih bernafsu untuk menyerang lawannya.
”Semuanya!Tenang!!”teriak Nikolai.Semua hadirin yang ributnya bukan main itu langsung terdiam ketika mendengar suara lantang sang komandan.Mereka yang beradu mulut dengan yang pro dengan Nikolai terdiam dan memandangi Nikolai yang sudah mulai gemas akan situasi yang memanas.
Nikolai berdiri ditengah-tengah para hadirin yang duduk.Lonant akhirnya bisa meredam amarahnya ketika dua rekannya berusaha menahan luapan amarahnya itu.Nikolai menarik napas panjang dan mulai mengajukan argumennya kepada para hadirin.”Memang tidak masuk akal,tetapi aku yakin orang itu bukan orang dengan kemampuan pas-pasan seperti kita.Kita harus mempercayainya kalau ingin bantuan yang dijanjikan oleh pihak sekutu datang!”
Semua hadirin terdiam ketika mendengar argument yang disampaikan oleh Nikolai.Seorang dari hadirin rapat mulai memberanikan diri untuk menyerangnya lagi,”Apa buktinya kalau dia memang memiliki kemampuan yang lebih dari kita?”Tanya seorang pemberontak.”Jadi kau menyuruh kami mengorbankan diri kami demi sebuah bantuan?”tambah seorang pemberontak yang tak kalah sinisnya.
“Dalam pengalamanku menjadi seorang tentara komando Republik Turkjiyan..Ada yang kami kenal dengan insting,salahsatunya adalah insting mengenali kekuatan lawan.Aku bisa merasakan kalau dia adalah orang yang memiliki kemampuan yang lebih tinggi dari tentara biasa,bahkan lebih tinggi dari diriku sendiri yang kalian amanahkan sebagai pemimpin pemberontakan di desa ini.
Aku bisa merasakan auranya,dia adalah hasil tempaan mental dan fisik yang jauh lebih keras dan kejam yang selama ini kita rasakan.Ia jauh lebih kejam dari tentara SS yang pernah menyiksa sampai mati dan membantai saudara-saudara seperjuangan kita.Untung saja dia berada dalam pihak kita.”
Semua hadirin rapat terdiam ketika mendengar penjelasan yang diberikan oleh Nikolai.Mereka juga tahu kalau Nikolai ditunjuk sebagai pemimpin mereka karena ia adalah seorang tentara komando Republik Turkjiyan,dan ditakuti oleh tentara pendudukan karena kemampuannya dalam pertempuran dan membaca peta kemampuan musuh yang mereka hadapi.
“Kita tahu kenyataannya bahwa,jumlah anggota kita semakin menyusut seiring banyaknya yang gugur dalam perjuangan kita mengusir tentara pendudukan,sedangkan musuh semakin datang dengan jumlah yang semakin banyak dan membawa persenjataan yang jauh lebih canggih daripada apa yang kita miliki!
Tak ada jalan lain,demi terus berlangsungnya perjuangan kita merebut kemerdekaan kita yang terenggut musuh,maka aku menerima tawaran untuk membantu mereka menyelamatkan orang mereka yang dipenjara di kota dengan imbalan bantuan senjata yang jauh lebih canggih dari tentara pendudukan miliki.”
Semua hadirin yang ada dalam rapat itu kembali hening,semuanya merenung,memikirkan apa yang dikatakan oleh Nikolai.”Nanti malam,pukul setengah sepuluh malam akan ada taklimat di tempat biasa.Setelah taklimat,kita berangkat Primea-Murkovii,membantu orang itu yang bernama Stradivarius.Persiapkan diri kalian masing-masing.”ujar Nikolai.
Dari keheningan ruang rapat,seorang pemberontak yang
menentangnya berdiri.”Kau,benar,Nikolai..Baik,seperti keputusan rapat ini..Jam setengah sepuluh malam.”jawabnya setuju.Seorang yang juga kontra dengannya juga memberikan dukungan kepada Nikolai yang sempat runtuh beberapa saat,”Demi kemerdekaan bangsa kita yang terenggut!..Mari kita bantu orang itu!”dukungnya.
Semua yang hadir berdiri dan memberikan dukungan kepada Nikolai.Nikolai dan pengikutnya tersenyum lega ketika melihat sambutan positif dari para pemberontak.”Baiklah!..Aku ingatkan sekali lagi.Jam setengah sepuluh malam,siapkan segalanya dengan baik..Kita akan terlibat pertempuran besar.”ujar Nikolai penuh semangat.
“Hurrah!!”pekik para pemberontak yang ada di ruang rapat.
Stradivarius terus tiduran di atas ranjang yang bersepraikan abu-abu tua,ia pun memandangi kamar pinjamannya yang bewarna-warni.Kamar yang jauh berbeda dengan kamar dimana ia tinggal selama ini,di kamar 3506.Beberapa saat kemudian ia memandangi langit-langit kamar yang bergambar ribuan bunga mawar dengan berbagai macam warna.
Merah,putih,kuning,semua yang ada di kamar ini tak pernah ia dapatkan di kamar 3506.Beberapa saat kemudian,Stradivarius memejamkan matanya.Lalu tak lama kemudian,ia tertidur lelap,tak perduli kalau ia tertidur dalam keadaan masih menggunakan sepatu botnya.Tertidur sampai waktu yang ditentukan akan datang.
dikirim AkangYamato 27 minggu 5 hari yang laluTag:









