Entah apa yang ada dalam pikiranmu saat kamu merapatkan sebagaian tubuhmu di bahuku. Apakah karena kita hendak berfoto atau ada hal lain yang sedang kamu sembunyikan?Entahlah, aku tidak peduli tapi aku menikmati situasi ini. Seperti biasa aku menikmati tawamu yang cerah, kalimat-kalimat rumit dari bibir yang mungil dan senyum yang seperti kode, dingin dan penuh misteri. Rambut kelam bergelombang itu sesekali mengenai leherku dan hampir saja memaksa tanganku untuk menyentuh dan merasakan kehalusannya.
Tapi kali ini ada sesuatu yang lain dari dirimu. Sesuatu yang istimewa dan menarik perhatianku seperti magnet saja. Kemeja ketat yang kamu kenakan memperlihatkan dadamu yang membusung. Diam-diam (dan berhati-hati) mataku mencoba menyelusup(pelan-pelan) ke celah diantara kancing kemeja itu. Mencari-cari bentuk yang sepertinya bisa kunikmati. Sia-sia tentu saja karena baru sebentar kamu sudah menyadari gerak-gerik mataku lalu menatapku dengan ketus. Jari tengahmu mengacung kearahku. Apakah kamu membenciku atau ada hal lain yang ingin kamu sampaikan? kulihat cincin yang terbiasa melingkar di jari manismu kini melingkar dengan sangat manis di jari tengahmu.
”Kenapa cincin itu berpindah tempat?”, tanyaku penuh keraguan.
”Dari dulu cincin ini selalu melingkar disini. Makanya matamu itu jangan terlalu sering digunakan untuk hal-hal mesum”, katamu dengan agak ketus.
”Oh begitu. Aku kira cincinmu itu seperti hati, bisa berpindah-pindah tempat”.
Jawaban terakhirku hanya membuat dirimu tersenyum. Senyum yang selalu kubenci, senyum yang seperti kode, dingin dan penuh misteri.
”ayo tunggu apa lagi!”
Suara aneh itu muncul lagi dikepalaku. Kali ini rasa-rasanya aku mendengarnya lebih kencang.
dikirim jatayushivalarasati 27 minggu 4 hari yang laluTag:








