"Mas jahat!!!"
Kata-kata itu membuatku terhentak. Tiba-tiba saja Dian berada di hadapanku yang tengah mengkhayal tengah berdua dengan selingkuhanku. Sementara istriku telah tertidur bersama anak-anak di ruang tengah.
"Tega sekali mas mengkhianati Mbak Siti. Dia istri Mas yang setia. Tapi berapa kali Mas khianati dia?"
Aku bertambah bingung. Dian telah mengetahui semuanya. Mengetahui segala sesuatu yang justru tidak diketahui istriku. Padahal, dia tidak bersamaku sejak 10 tahun yang lalu.
Aku masih terdiam. Menunggu kata-kata berikutnya yang akan meluncur dari lisan Dian. Tapi kata-kata itu belum juga keluar. Aku hanya melihat parasnya yang semakin menampakkan kemarahan yang sangat. Jilbab putihnya yang putih bersinar terpantul sinaran purnama, berayun dimainkan hembusan angin malam. Gamisnya yang juga putih, menambah anggun penampilannya malam ini, walau ia masih marah besar kepadaku.
"Dian gak nyangka, Mas bisa sejahat itu dengan Mbak Siti. Dian itu senang Mas, bisa menyaksikan pernikahan Mas dengan Mbak Siti mampu menghidupkan kembali kegairahan hidup Mas. Karena Dian memang gak mampu memberikan kebahagiaan buat Mas" .. Dian memang sempat mengisi lembaran hidupku selama tiga tahun. Selama itu pula masalah yang tak pernah kubayangkan harus kami hadapi. Pahit. Bahkan nyaris tanpa bahagia, jika tidak hadir seorang Salma.
"Mas telah diberi Allah lagi tiga anak. Sekarang Mas sudah punya empat. Tapi coba Mas hitung lagi, berapa kali juga Mas khianati Mbak Siti. Mungkin Allah belum membuka topeng Mas dihadapan Mbak Siti, siapa Mas sebenarnya. Apa yang Mas lakukan di belakang Mbak Siti."
Ya, aku sudah sekian kali berselingkuh dengan beberapa teman wanita. Walau beberapa kali pula istriku mengetahui dan memberi peringatan kepadaku, sampai saat ini masih pula aku melanggar peringatannya. Dan saat ini aku tengah mengharap seorang wanita akan menjadi madu buat istriku. Walau sepertinya, ada sedikit salah jalan yang aku lakukan.
Wanita itu memang tidak memberi harapan padaku untuk mau menjadi istriku yang ketiga. Menjadi madu bagi istriku. Tetapi kesempatanku bertemu setiap hari, telah memberikan pilihan bagiku, menghalalkannya atau selingkuh saja dengannya, karena banyak hambatan untuk bisa mengantarkan pernikahanku dengannya.
"Mas ... Selama ini Dian selalu senang, setiap Mas memperkenalkan diri ke semua orang, kalo Mas telah memiliki dua istri. Mas, selalu bilang kalo istri Mas yang pertama sedang menunggu Mas di surga. Dian bahagia Mas. Tapi .... Kenapa Mas tidak menempuh jalan surga Mas? Apa Mas memang sudah tidak mau bertemu Dian Mas???"
Kalimatnya yang terakhir meninggi, diiringi tangisan yang merintih. Aku bingung harus berbuat apa saat ini.
"Mas, seandainya Mas tahu berapa sisa usia Mas, Dian khawatir kalo sisa waktu itu tidak mampu menjadi bekalan Mas bisa bertemu dengan Dian. Di surga Mas. Ingat Mas, Di SURGA !!!"
"Mas masih mau khan bertemu Dian di surga?" Suaranya merayu walau dengan kesedihan.
Aku ingin menjawab ... "Pasti Dian. Mas harus bertemu kamu di Surga ..." tapi belum sempat dan sepertinya memang tak bisa terujar ... Dian telah menyentuhkan jari telunjuknya di ujung bibirku sebagai tanda agar aku tidak menjawab dengan kata-kata. "Dian tidak ingin jawaban Mas di bibir, Dian ingin Mas buktikan! Setialah Mas kepada Mbak Siti. Amanah dari Dian, dari Mbak Siti juga, tolong dijaga. Jangan sia-siakan mereka!! Kalo Mas mau memiliki dia yang sedang Mas khayalkan, ambil dengan cara yang benar Mas dan cari saat yang tepat. Mas mau tahu kapan waktunya? Itu kalau Mas telah mampu membahagiakan Mbak Siti dan anak-anak Mas."
"Dian pamit Mas .."
Seraya menghampiriku dan menciumku ...
Aku masih merasakan cintanya padaku.
"Bi .. !!! Bangun, udah tengah malam koq masih di luar? Pindah ke kamar sana!"
Ternyata Ummi yang menciumku dan membangunkan tidur dan mimpiku. Ummi terbangun untuk sholat malam dan dia telah siap dengan mukena putih, persis seperti yang Dian gunakan untuk menegurku malam ini.






