Masih menunggu komentar, kritik, bahkan saran dari teman-teman. Dan bagi yang bertanya bagaimana caranya saya membuat kotak di bawah sana, klik aja di sini. Kamu mesti punya OpenOffice.org untuk bisa membukanya. Hehe, akibat modem yang bermasalah, bagian ini dan 12 jadi telat di-posting. Mohon maaf....
Pernyataan lisensi: Teman-teman boleh menyalin cerita ini ke media simpan lokal. Penggandaan diizinkan selama dalam bentuk digital, tidak menghilangkan sumber atau penulis asli, dan tidak untuk melanggar norma dan peraturan yang berlaku, dan bukan untuk tujan komersial. Jangan mencetak cerita ini ke atas kertas! Pohon sudah banyak yang ditebang untuk itu.
Kisah sebelumnya:
Alisya menderita oleh fibergen3 yang bereaksi di luar dugaan. Gaya yang berusaha menenangkan sahabat itu, juga merasa bahwa sisa-sisa fibergen2 membuat dirinya telah berubah dari manusia normal menjadi sosok yang paling ia takuti. Ia takut, perkataan sahabatnya menjadi kenyataan.
Di lain tempat, dengan bantuan proyek Mata Rantai milik Borneolab, DINA dan Polri akhirnya berhasil kembali ke masa lalu dan akhirnya membawa personil-personil mereka yang terluka saat terjadi penyerangan oleh dua anggota Morganred.
Dan kini, selain harus menghadapi Astro dan Morganred, mereka harus menghadapi serbuan asteroid yang semakin menjadi di hari ketiga.
Kira-kira, satu jam sebelum azan Subuh berkumandang, Ilyas sudah turun dari tempat tidur. Berhati-hati ia mencoba meniti tangga, dan akhirnya sampai di ruang tengah tanpa patah tulang. Dengan kunci yang masih tergantung di slot pintu, ia berhasil membuka daun pintu rumah Sonia yang hampir dua kali tinggi tubuhnya.
Demi keamanan, Ilyas memungut tongkat kayu dari taman rumah sahabatnya. Tongkat kayu itu sekaligus menjadi kaki ketiga baginya. Lima menit ia mengintai, dan ia pastikan bahwa pria yang menyerangnya tadi sore sudah tidak ada di rumahnya. Ia masuk dan mulai mengemasi barang-barang yang tampak amburadul.
Dan kini, sudah pukul enam pagi. Sudah selesai mandi, berseragam, dan sarapan. Ilyas mengambil tasnya yang sudah diisi buku pelajaran untuk hari ini dan bergegas ke depan pintu. Tak lupa, ia juga harus mengunci pintu rumahnya sebelum berangkat.
Saat kunci diputar baru satu kali, suara berderum terdengar berhenti di depan rumah. Suara yang dikenal oleh Ilyas sebagai suara pintu mobil yang dibuka tutup juga turut terdengar. Langkah kaki satu orang yang sama sekali tidak ingin Ilyas toleh, juga sepertinya semakin mendekat.
Derap langkah itu akhirnya berhenti. Meski bukan serangga dengan sistem navigasi built-in yang canggih, Ilyas bisa menentukan bahwa orang itu berhenti tepat di belakangnya. Aroma parfum yang sontak semakin menarik tengkuknya pelan-pelan tercium.
Ilyas mencoba berbalik. Pelan-pelan tubuhnya berputar dengan mata condong ke tanah. Setelah setengah lingkaran, matanya mulai naik dan mendapati wajah seram di udara pagi hari.
“Ilyaaaaaaaaaas!” suara Sonia membahana.
***
Andiev membuka mata. Suara deruan seperti gulungan air di bibir pantai, membuat ia melonjak untuk duduk. Benar saja, mobil yang ia tumpangi sekarang terparkir di badan jalan sebuah taman tepi pantai. Dari balik kaca jendela mobil, ia bisa melihat hamparan air laut yang cukup biru.
Agak jauh dari mobil, di sisi pantai, Astro terbungkuk-bungkuk. Mungkin, ia bercermin di atas air. Tetapi, kurang kerjaan sekali penjahat itu untuk bercermin di atas air laut yang terus digulung ombak serta memiliki banyak buih. Terlalu sembrono pula ia pergi meninggalkan mobil hanya untuk bercermin di laut. Bagaimana tidak. Untuk mengamankan Andiev, gadis itu ia letakkan di kursi belakang. Kedua pintu di sana ia kunci, begitu juga kaca jendelanya. Namun, ia malah membiarkan pintu depan terbuka lebar.
Andiev sudah hendak melangkahi jok depan, ketika Astro tiba-tiba menoleh. Tubuhnya sendiri tidak diikat, namun cahaya mata pria itu yang agak aneh cukup membuat ciut nyali Andiev. Mau tak mau, ia kembali duduk dan memperhatikan sekeliling yang sepi.
“Jika aku berhasil kabur pun, aku bisa bersembunyi di mana? Di sini pohon kelapa semua,” rintih Andiev dalam hati.
Usai menoleh ke mobil, Astro kembali menghadap permukaan air dan menumpahkan hampir semua isi lambung yang dimilikinya. Rasa mual ini mendadak datang di saat ia tidur. Segera ia mencari lokasi yang aman dan membungkuk sepuas-puasnya di tempat tersebut. Sekarang, ia sudah membungkuk hampir tiga puluh menit, dan rasa mual itu terus datang tak kenal henti.
Puluhan kilometer dari tempat Astro membungkuk, Hein yang semalam ditinggal begitu saja setelah mobilnya dibawa kabur oleh Astro, mulai mendapatkan titik terang. Di mobil tersebut ada alat pelacak. Karena hujan yang cukup deras, sinyalnya terganggu. Namun pagi ini, hujan sudah benar-benar hilang dan lokasinya terbaca dengan jelas pada jam tangan milik Hein. Tak buang kesempatan, ia segera melaju ke posisi mengendarai mobil yang ia peroleh di pelataran parkir sebuah gedung.
***
Getaran-getaran halus kembali terasa. Beberapa getaran kasar juga turut menyelingi. Profesor Irene terbangun karena usikan tersebut. Ia mengangkat kepalanya dan menoleh Digta menatap jendela.
Digta menoleh. “Seharusnya, Profesor melihat ini....”
Profesor Irene mengangkat tubuhnya. Ia meninggalkan meja tempat kepalanya berlabuh selama tertidur. Mendekati kaca jendela, cahaya merah sesekali terlihat melintas di udara.
“Padahal, ini baru hari ketiga,” ingat Digta. “Mereka semakin banyak....”
“Apakah Sangkakala sudah ditiup?” sambut Profesor Irene.
Bola-bola api seperti meluncur deras dari langit. Ada yang sangat kecil dan menghilang sebelum mencapai tanah, namun ada juga yang sebesar gundu dan menimbulkan getaran saat menyentuh permukaan planet. Beberapa berkelompok hingga mencapai dua puluh buah, dan beberapa juga terlihat sendiri-sendiri.
Meriam-meriam besar di sekeliling Borneolab hanya beberapa yang menembak. Lebih dari sepuluh buah meriam mengalami kerusakan karena overheat. Jin-jin yang berjaga juga sebagian besar meluncur ke atas dan sisanya terlihat gosong oleh noda terbakar.
Dengan pemandangan tak jauh berbeda, Bili mendongak di antara puing-puing gedung DINA yang masih basah. Banyak garis api halus melintas di pucuk kepalanya. Dan pada saat itu, semua mulai sadar akan situasi yang tidak bersahabat. Pengumuman untuk menarik diri dari lokasi puing terdengar dari pengeras suara. Masing-masing pekerja mulai menjauh, begitu pula dengan Bili.
Lokasi puing telah kosong. Semua bersembunyi di balik atap-atap tenda darurat serta di beberapa mobil trailer. Belum sampai Bili di depan pintu sebuah tenda, benda besar mengguncang tanah dan hampir membuat Bili terjerembab. Beruntung, seorang petugas wanita menyambut tubuhnya. Bili hampir saja salah kira, bahwa petugas tersebut adalah Ayu.
Benda besar yang mendarat di lokasi gedung DINA, tampak seperti jin di pelataran Borneolab. Hanya saja, mesin yang satu ini memiliki bentuk tidak jelas. Hanya kedua kaki yang menjejaki tanah. Badannya dipenuhi laras-laras senapan. Tidak terlihat tangan apalagi kepala untuk kebanyakan jin. Mendadak, beberapa laras berputar ke suatu arah. Sinar-sinar menyilaukan meluncur disusul suara ledakan di langit. Usai menembak, kakinya terlipat dan segera meluncur ke tempat lain. Mesin itu juga sempat berubah menjadi senjata dengan tiga laras yang menghadap tiga arah berbeda. Sinar laser meluncur untuk beberapa detik, lalu melesat kembali.
Dua buah jin mendarat seusai benda aneh itu menghilang.
***
“HER? Kita punya HER?”
Iris menoleh. Ia sudah dapat menduga bahwa Gaya akan menyambut dengan sedikit meriah. Usai gadis itu bertanya tentang beberapa benda aneh di langit, Iris menjawab bahwa benda itu adalah generation force dengan Hyper Explode Reaction. Mengagetkan memang, negara terbelakang dari sepuluh abad lalu itu, sekarang memiliki senjata perang yang sangat mutakhir.
“Dari mana kau tahu?”
“Beberapa orang dari ABRI membicarakannya. Aku juga baru tahu sekarang.” Keduanya tak menjauh dari kaca jendela di lantai tiga Borneolab. Mereka dijemput saat hujan masih turun dengan sangat deras tadi malam. Alisya yang dalam kondisi gawat, juga diangkut ke Borneolab. Dengan bantuan dari alat-alat yang dimiliki Departemen Laboratorium Medis Borneolab, Dokter Karim dan staf medis DINA yang lain kini tengah menangani gadis itu.
“Hebat sekali. Kita memiliki dua jin bersistem HER.”
“Bukan dua, tapi sepuluh. Dan kesepuluh jin itu masih dalam tahap pengembangan. Belum selesai.”
Baru selesai berkata, radio panggil Iris berbunyi. Ia dipinta untuk menuju ruang persiapan di lantai dasar. Bersegera ia pamit dan menghilang di balik sebuah lift tak jauh dari tempat Gaya berdiri.
Sepeninggalnya Iris, Gaya mencoba menemui Dokter Karim. Ia berharap, pemeriksaan terhadap Alisya sudah selesai. Dan ketika ia sampai, pemeriksaan itu memang sudah selesai beberapa menit lalu. Alisya juga sudah dipindah ke kamar perawatan. Dokter Karim terus memantaunya di ruang itu dengan sebuah laptop mungil yang selalu ia bawa.
Dokter Karim terlihat kusut ketika Gaya bertandang.
“Ada apa, Dok?” Gaya berbasa-basi. Matanya mencuri lihat ke layar laptop. “Alisya tidak begitu parah, kan?” Grafik yang muncul sulit untuk dicerna. Ia menjadi sukar menentukan, apakah yang dilihat Dokter Karim di monitor itu adalah kondisi sahabatnya, atau malah permainan komputer simulasi bakteri.
Dokter Karim tersandar. “Kepalaku sakit memikirkan ini....”
“Maksud Dokter?”
“Protein fibergen3 terlalu aktif. Ini yang menjadi penyebab tidak menentunya kondisi Alisya. Tetapi, aku masih belum tahu mengapa.”
“Fibergen3 jangan-jangan produk gagal. Atau, belum lengkap?” Tebakan Gaya menyentil kuping Dokter Karim.
“Tidak. Sudah lengkap. Sudah kucoba ke tikus.”
“Lalu, kenapa?”
“Sudah kubilang, aku juga bingung.”
Gaya memperhatikan wajah Alisya yang lebih tenang dari sebelumnya. Wajah itu tiba-tiba seperti pudar. Mendadak gelap dan Gaya nyaris menjatuhkan tubuhnya di lantai.
Gaya menarik napas pendek berkali-kali. Ia sadar, baru saja ia hampir pingsan. Melirik Dokter Karim yang masih bercokol di depan laptop, ia pun segera berujar, “Dokter.... Bisa..., periksa aku?”
***
Digta berdiri di depan tiga polisi muda. Di tangannya, menggantung sebuah sabuk bersilang berwarna hitam. Ada sebuah benda kotak di salah satu badan sabuknya.
“Ini adalah perlengkapan Gerbang-2. Sama seperti Gerbang sebelumnya, sabuk ini harus diselepangkan di badan. Pastikan bahwa slot kunci berada tepat di depan dada kiri. Sekarang, silakan....”
Sabuk itu berpindah ke tangan Iris. Ia dan kedua rekan yang lain segera menyelepangkan sabuk tersebut. Menguncinya rapat-rapat sehingga tidak mudah bergeser. Setelah masing-masing mengencangkan sabuk, giliran tiga buah benda kotak disodorkan ke mereka.
“Ini adalah kunci Gerbang yang baru. Kunci yang lama sudah tidak lagi cocok.”
Mereka lalu menuju laboratorium. Ketiga sepeda motor berwarna hitam mengkilap menyambut di dekat Mata Rantai.
“Sepeda motor ini adalah unit tambahan. Juga memiliki sistem Gerbang dan HNL, Holographic Navigation Layers. Sebenarnya, perlu waktu satu minggu minimal untuk menguasai sepeda motor ini. Tetapi karena kalian dalam misi yang mendesak, mau tidak mau.”
Semua mengangguk, terutama Iris.
“Sekarang, kita bisa memulai simulasi kecil sebelum keberangkatan.”
***
Dokter Karim terduduk. Kedua tangannya menyangkut di atas kepala. Matanya benar-benar dibuat tak bisa berpikir lagi oleh grafik di beberapa monitor ruang pemindai. Atas bantuan One-stop Medical Serving Toolkit Departemen Medis Borneolab, ia berhasil menangkap hal serupa di tubuh Gaya dengan yang kini dialami rekannya di ruang perawatan.
“Bagaimana, Dok? Aku baik-baik saja atau ada kanker yang terdeteksi?” Gaya keluar dari ruang pindai. Dokter Karim menghela.
“Kau takkan percaya ini. Residu fibergen2 di tubuhmu juga terlihat sangat aktif.”
“Apa maksudnya?”
“Penyakitmu sama dengan Alisya. Sekarang, kita tidak bisa menyalahkan formula fibergen3 yang belum lengkap.”
“Lalu, mengapa terjadi pada kami?”
“Mungkin, kalian terlalu aktif.”
Seorang petugas Departemen Medis Borneolab memasuki ruang pemindai. Ia menyerahkan papan klip pada Dokter Karim.
“Ini hasil pemeriksaan polisi itu.”
Dokter Karim berterima kasih, dan petugas itu pamit undur diri. Beberapa lembar di papan klip segera dibolak-balik.
Dokter Karim mengucap istigfar. Ia juga mendapat hasil pemeriksaan yang sama dari seorang anggota Gerbang. Polisi tersebut mengaku luka di wajahnya sembuh sangat cepat, dan sempat pula pingsan karena otot-otot di tubuhnya mendadak mengencang. Meski terlihat bugar, ia dilarang untuk bertugas sementara. Posisinya di Gerbang digantikan oleh anggota lain. Lagipula, anggota Gerbang kini susut dari enam menjadi tiga.
“Sekarang, apa yang harus dilakukan? Aku harus bagaimana?”
Dokter Karim berdiri. “Aku akan memeriksa semua orang yang pernah diinjeksi fibernetik. Untuk sementara, kau jangan ke mana-mana.”
Gaya mengangguk. Dan sebuah bunyi kecil membuat ia mengangkat pergelangan tangan kirinya. Veren meminta ia untuk segera berkumpul.
“Anggota pengintai mendapati Astro terlibat aksi kejar mobil. Kita juga akan mengejarnya.”
Komunikasi diputus. Gaya malah tersenyum. “Maaf, Dokter. Aku harus pergi.”
Gaya beranjak dari ruang pemindai. Dokter Karim kembali jatuh di tempat duduknya.






