Kisah Bagian 12: Kusut

"

Masih menunggu komentar, kritik, bahkan saran dari teman-teman. Dan bagi yang bertanya bagaimana caranya saya membuat kotak di bawah sana, klik aja di sini. Teman-teman harus memiliki OpenOffice.org untuk dapat membukanya.
Pernyataan lisensi: Teman-teman boleh menyalin cerita ini ke media simpan lokal. Penggandaan diizinkan selama dalam bentuk digital, tidak menghilangkan sumber atau penulis asli, dan tidak untuk melanggar norma dan peraturan yang berlaku, dan bukan untuk tujan komersial. Jangan mencetak cerita ini ke atas kertas! Pohon sudah banyak yang ditebang untuk itu.

"

Pagi yang enerjik. Matahari masih condong ke timur, tetapi enam mobil sudah adu lari menerobos ruas jalan. Di posisi pertama, ada mobil yang dikendarai Astro, menyusul Hein dengan mobil hasil curiannya. Empat mobil terakhir adalah mobil polisi lokal dengan sirene sahut-menyahut. Dua di antara empat mobil itu kemudian berbelok, dan muncul lagi di sebuah simpang empat. Mereka mengagetkan Astro. Astro mengerem dan mobilnya sempat membentur mobil polisi yang melintang. Benturan cukup keras. Mesin mobil Astro meninggal.

Hein sempat pula menabrak bumper belakang mobil Astro. Ia berhenti setelah hampir dua puluh meter menjauh. Mesin mobilnya memang tidak mati, tetapi Astro membuat ia tidak akan terus tancap gas dan dikejar polisi-polisi lain.

Para polisi turun dan menodongkan pistol. Astro mengangkat tangan, Hein menurut. Astro suka rela turun dari mobil, Hein hanya termenung hingga membuat polisi meneriakinya.

“Buat repot saja...!” Hein mengumpat. Tampak Astro tersenyum ketika tangannya diborgol dan digiring masuk ke mobil polisi. Tak ketinggalan, Andiev juga diangkut dengan mobil terpisah. Koper berisi giganium turut diamankan.

Polisi lagi-lagi meneriaki Hein. Tak ingin ditembak dan memperkeruh situasi, ia akhirnya turun. Fokus Hein masih tertumpu ada Astro, sementara tubuhnya didorong ke sisi mobil dan kedua tanggannya diborgol di balik punggung.

Tiga mobil mulai bergerak. Satu sisanya tinggal di TKP dan meminta unit bantuan. Mobil mereka mogok dan perlu pula mengamankan lokasi.

Belum sampai seratus meter, Astro mendadak menerjang pintu mobil. Pintu terlempar dan ia melompat ke jalan. Borgol berhasil ia sentak hingga burai, lalu berlari menghentikan mobil yang membawa Andiev. Aksi Astro tersebut memberi inspirasi yang sama pada Hein. Namun, Hein hanya perlu merentak borgol, lalu melempar orang-orang di dalam mobil, dan menguasai setir untuk segera berbelok. Aksi adu cepat kembali berlangsung.

Polisi yang mengejar semakin banyak. Beberapa unit juga telah bersiap dengan penggembos ban. Mereka berjaga di beberapa ruas jalan yang mungkin diambil oleh Astro. Dan benar, Astro berbelok ke salah satunya.

Sementara Astro semakin melaju, di atas sebuah gedung, dua pemuda menikmati aksi kejar mobil tersebut.

“Ingat, misi kita ada dua. Mengambil giganium dan membunuh Astro. Kau ambil giganium dan segera menuju portal. Biar Astro aku yang urus.”

“Bagaimana dengan polisi-polisi itu?” Lawan bicara Josh membalas.

“Polisi lokal tidak akan berpengaruh banyak untuk masalah ini. Yang patut dikhawatirkan hanyalah polisi-polisi dari masa yang sama dengan masa kita. Tapi kau juga tidak perlu mencemaskan polisi-polisi itu. Ada yang lain yang akan menangani. Fokusmu hanya membawa giganium dengan selamat sampai portal.”

Castro sepertinya tertawa. Tawa remeh.

“Apa yang kau tertawakan?” sambut Josh.

“Aku tidak dapat memahami jalan pikir Tuan Morgan. Dengan mudah, ia menghabiskan semua uangnya demi giganium dan nyawa Astro.”

“Jika Tuan Morgan meminta kita, lakukan saja. Kau tidak perlu mempertanyakan itu. Kau bisa pergi sekarang.”

Castro mempererat sabuk ransel jet di punggungnya. Tanpa ragu, ia pun melompat dari atap gedung. Setelah beberapa detik tak tampak, ia dan ransel jet terlihat melambung dan meluncur cepat mengejar iring-iringan mobil.

Mobil yang menjadi target adalah mobil yang dikendarai Astro. Penjahat itu semakin tancap gas, meski tahu jalan yang ia ambil telah dipotong sederet duri. Pada saat konsentrasi semakin menumpuk pada kecepatan mobil, Castro bermanuver, meliuk dan menukik cepat, serta mendarat di sisi kiri mobil Astro. Daun pintu penumpang dilepas. Koper giganium segera dibawa terbang.

Astro mengerem.

“Orang itu membawa giganium!” pekik Andiev.

Astro kembali tancap gas. Namun belum sampai roda bergerak satu meter, orang gila lain jatuh tepat di kap mesin mobil Astro. Mesin mobil serta-merta rusak dan mati. Polisi-polisi lokal, yang berjarak kurang dari lima puluh meter, dibuat terkejut.

Josh menjongkok, hingga wajahnya terlihat jelas dari kaca depan.

“Apa kabar, Astro? Aku dari Morganred.”

Astro mengepal. Kaca depan sontak berderai dilempar setir. Josh melambung salto belakang. Ia mendarat di aspal dan Astro sudah keluar dari mobil.

“Aku akan membunuhmu nanti.” Astro berlari. Ia mengejar jejak roket Castro di udara. Andiev yang telah ia lupakan, bersegera turun dari mobil. Baru saja terjatuh dari pintu, bagian belakang mobil terangkat dan meluncur ke arah Astro.

Laki-laki yang tengah berlari itu bisa merasai sesuatu mendekat. Ia berputar dan sebuah mobil melaju satu meter di udara. Tangannya mengayun dan mobil terlempar bagai bulu angsa.

Hein menginjak rem. Polisi-polisi di belakang juga turut. Sadar bahwa Josh telah mengambil alih Astro, Hein lagi-lagi injak pedal gas dengan persneling mundur. Ia berhasil menerobos polisi dan berputar menempuh ruas jalan lain. Polisi lokal mau tak mau membagi unit pengejar untuk Hein.

Polisi bersiap. Mereka tersandar di balik mobil dan telunjuk tinggal kapan saja menarik pelatuk. Fokus kini adalah Astro dan seorang lagi pembawa masalah. Mereka tidak perlu mengkhawatirkan pengguna jalan lain di sini. Khusus ruas jalan ini telah ditutup semenjak pengejaran.

“Semua unit diharap berhati-hati. Kita tidak hanya sekadar bertemu pengemudi ugal-ugalan.”

Astro dan Josh masih saling tatap. Para polisi lokal masih menunggu di balik mobil. Degup jantung mereka serasa mengisi udara yang tiba-tiba berubah sunyi.

***

Gaya menyetir SUV. Sewaktu pengejaran, ia dan rekan lain hanya memantau dari jauh. Mereka baru terlihat sibuk ketika Castro menyambar dan membawa pergi sebuah koper. Dari laporan DIVENN, koper metalik logam dengan ukiran logo divisi tersebut, adalah koper giganium.

“Di sini Gaya, Unit Pemburu Astro Divisi Gerakan Cepat. Aku berhasil menemukan pemuda yang membawa lari koper giganium.”

“Usahakan untuk tidak kehilangan lagi!”

Yang benar saja?

Castro terlihat bahagia menerobos udara. Sementara untuk mempertahankan jarak lihat target, Gaya terpaksa menerabas beberapa lampu merah dan menyusur di arus berlawan. Sebagai bagian dari badan pemberantas tindak kriminal, ia malah melanggar hukum hingga mental tunggang-langgang. Patroli lalu lintas terpaksa memintanya untuk menepi.

Bimbang. Antara memutar setir ke trotoar, atau terus menginjak pedal gas. Sirene polisi sudah mencak-mencak di belakang, sementara lampu merah lagi-lagi melotot di simpang empat.

Castro di langit benar-benar membuat susah. Ingat tugas, Gaya lagi-lagi terpaksa menyumpal mata hatinya dan tancap gas sejadi-jadinya. Tepat di tengah simpang, SUV Gaya disambar mobil lain. Bunyi tumbukan hebat dan besi remuk melontar serpihan onderdil mobil. Kaca berderai di aspal. Bagian depan kedua mobil tersebut ringsek parah dalam hitungan kurang dari dua detik.

Gaya terlontar. Serpih-serpih tabrakan menggores lengan, wajah, hingga leher. Nyaris sebuah mobil melindas kepalanya.

Polisi patroli meminta ambulans. Sebelum ia turun dari sepeda motor untuk membantu langsung, Gaya sudah menegakkan kaki di aspal.

“Terima kasih....”

Sopir mobil merinding. Gadis yang nyaris ia bunuh mencabut satu potong kaca dari bahu kanan. Ia seperti tak peduli, meski telapak kirinya turut mengeluarkan darah. Tapi, toh, luka itu sekarang pelan-pelan berangsur sembuh.

Gaya berlari pincang menuju mobil yang menabraknya. Bagian mesin mengepulkan asap yang cukup tebal. Tak ada yang berani menolong, karena mobil itu sewaktu-waktu bisa memancarkan bunga api yang besar.
“Bertahan!” Pekik Gaya. “Aku akan mengeluarkanmu!”

Namun, Gaya tidak pernah mengeluarkan orang yang menabrak mobilnya. Tiba-tiba mobil orang itu terbelah. Bagian depan melesat nyaris mengenai Gaya. Gadis itu terkaget dan berhenti. Lebih kaget lagi, ia malah bersua dengan Hein yang muncul dari balik mobil.

“Kau...?” Otak Gaya yang kuat kembali berputar. Wajah di depannya tak asing. Hein. Ia pernah saling todong pistol dalam jarak kurang dari satu meter, saat penerobosan Borneolab hampir satu bulan lalu.

“Kau... anggota DINA?”

Gaya hanya bisa menarik diri satu langkah. Ia tidak dapat menyembunyikan identitas yang satu ini. Seragam yang ia kenakan, jelas-jelas berlabel DINA di bahu kanan, dada kiri, dan punggung. Namanya juga tertera di bawah label DINA di bagian punggung seragam.

Gara-gara kekacauan ini, polisi-polisi lokal tambah merasa diakali.

***

Tiga sepeda motor meluncur dari lantai empat belas. Mereka terjun bebas dari lubang ledakan yang masih menganga. Dua di antaranya menjejak aspal dan mempercepat putaran roda. Di sebuah simpang, mereka lalu berpisah. Satu sisanya, menyentuh dinding gedung seberang dan melesak naik. Iris dan dua anggota unit sudah berseragam Gerbang-2. Perlengkapan tempur kali ini lebih tampak kokoh, dengan kesan logam di seluruh tubuh.

“Radar menangkap adanya dua anomali besar.”

“Anomali?”

“Komputer menerjemahkan sebagai lubang cacing. Ini sepertinya portal waktu.”

“Tetapi, mengapa sampai ada dua?”

“Entahlah. Mungkin, ada pihak lain yang juga membuka portal mesin waktu?”

“Anomali yang berada di belakang kita berasal dari Mata Rantai. Anomali yang lain ada di depan. Norman, periksa anomali itu!”

Sepeda motor yang melompat, berhenti di atap sebuah gedung. Penunggangnya mengaktifkan pemindai multilayer. Monitor transparan proses pindai muncul di sisi kiri. Setelah proses usai, monitor status muncul di sisi kanan.

“Aku telah berhasil mendapat peta tiga dimensi kota ini. Jarak portal kedua sekitar empat puluh kilometer di utara dan lima puluh meter di atas tanah. Arah yang sama dengan arah pengejaran.”

“Ada aktivitas yang patut dicurigai?”

Norman mendekat ke monitor kiri. “He-em...! Ada beberapa orang dengan ransel berekor api keluar dari portal. Aku yakin, mereka bukan orang-orang kita.”

“Jangan-jangan Morganred.”

“Aku menyusul.”

Norman menangkap kedua tangkai stang. Ia memutar gas, dan sepeda motor melejit.

***

Sebuah mobil polisi berhasil menguntit jejak Castro. Salah satu dari dua anggota di mobil mempersiapkan pistol. Seperempat tubuhnya menjulur di jendela. Tangan kanannya mengacung ke kaki Castro. Belum sempat ia menarik pelatuk, suara dengungan yang cukup keras memutar kepala anggota itu ke kiri.

Peluru basoka! Refleks, tangannya memutar arah laras pistol dan segera menarik pelatuk. Ledakan cukup besar menyemburkan api satu meter di atas atap mobil.

Dua orang lain sudah berdiri di sisi jalan. Mereka juga memanggul basoka. Segera setelah ledakan, seorangnya menembak ke mobil yang sama.

Usai mobil terbalik, rombongan mobil lain bermunculan. Mereka berhenti di sekitar mobil rekan mereka dan keluar menenteng senjata. Sebelum sempat ditembaki musuh, mereka sudah berlindung di balik mobil, sementara beberapa mencoba menolong.

Jalanan yang semula ramai dan pikuk, kini kurang dua menit sudah menjadi kuburan.

Peluru basoka kembali meluncur.

dikirim dirgita 10 weeks 1 hari yang lalu
Tag: