MENDUNG TANAH RENCONG

MENDUNG TANAH RENCONG

Beberapa anak asyik bermain engklek di halaman rumah Irwan. Tertawa begitu lepas. Tanpa beban...

Irwan bangkit dari duduknya, menggeser sebuah kursi untuk menopang kedua kakinya. Bibirnya berdecak, penuh keputus asaan. Matanya terpaku pada televisi, menyiarkan berita tentang keberangkatan rombongan pasukan TNI ke Tanah Rencong ─ Aceh.

Otak Irwan menangkap ketidak puasan hatinya. Betapa banyak orang yang harus dikorbankan hanya untuk kepentingan segelintir orang. Dia memang menolak kebijakan pemerintah itu, tapi pihak pemerintah jarang mendengarkan keluhan orang-orang sepertinya. Paling-paling hanya dijadikan topik dialog di sebuah program televisi. Berita utama di halaman depan koran-koran ibukota. Tapi sama sekali tidak memikirkan anak-anak yang baru saja menjadi yatim piatu. Bagaimana dengan nasib mereka? Apakah mereka pernah peduli itu? Ekonomi carut-marut saja sudah mau pergi berperang, hanya memberikan kesempatan bagi oknum-oknum baru yang ingin memperkaya dirinya sendiri.

Mulut Irwan ternganga memandangi tubuh-tubuh kecil yang sedang bermain di halaman rumahnya, tiba-tiba, air matanya menitik di kedua belah pipinya. Dia tak ingin anak-anak itu tumbuh di atas derita orang lain. Tertawa disaat tangisan makin kerap terdengar. Dia tak rela. Sama sekali tak rela. Dia tak ingin anak-anak itu menggandaikan harga dirinya hanya untuk setumpuk harta, memperkosa hak-hak orang lain, dan memiliki hak yang bukan miliknya. Dia terduduk lemas di atas sofanya. Dia tak pernah berharap bumi nusantara menjadi neraka kecil bagi anak-anak itu. Hehhhhh…

----

“Berapa orang yang kau dapat!”
Seorang pria berjalan berkeliling, mengitari Darwis yang tegap berdiri. Dia mengepulkan asap rokoknya, bau tembakau putih rupanya. Dadanya membusung ke depan. Dia merasa dialah yang memiliki kekuasaan di daerah itu.

“Tidak ada, Wan!”

“Dasar babi kau! Apa yang kau bisa untuk Aceh?!”

“Maafkan saya, Wan.” Orang itu memelas.

“Goblok sekali kau ini! Sekarang, kau panggil Inoeng Balee-Inoeng Balee itu! Suruh mereka ke bilikku, cepat!”

Darwis segera berjalan meninggalkan orang itu seorang diri. Darwis menggerutu. Memang beberapa hari yang lalu Darwis menerima perintah untuk melakukan pendadakan di seberang hutan, dia gagal, bukan karena kekurangan personil, tapi rencana itu telah bocor sebelumnya. Gejolak hatinya makin meruah, siap untuk dilampiaskan, entah pada siapa, mungkin pada orang-orang di desa. Bisa juga pada tuan tanah-tuan tanah di kota dengan meminta pajak retribusi perjuangan Nangroe. Bahkan cara yang lebih ekstrim, melakukan teror terhadap budak-budak pemerintah yang berdiri sombong dengan mobilnya di kota kecamatan.

Darwis berhenti sesaat, dia mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Dia memandangi sebuah gubuk reot tempat para Inoeng Balee itu berada, asal dari maksiat para gerilyawan. Kenapa harus mereka? Bukankah mereka masa depan Nangroe? Kenapa mereka merelakannya? Apakah mereka dipaksa? Kata mereka, kemerdekaan Aceh butuh suatu pengorbanan dan menjadi pemuas nafsulah yang hanya mereka bisa. Dia tahu kalau itu semua bohong. Mereka takut. Sebuah permasalahan besar kalau sudah dicap sebagai penghianat, apalagi sanak keluarga yang jadi taruhannya.

“Inikah perjuanganmu Nangroe…”

----

Kepulan asap hitam membumbung tinggi ke udara. Api masih terlihat melalap setiap sudut bangunan. Beberapa mayat bergelimpangan.

Seorang anak menangis kencang di samping mayat ibunya. Dia menepuk-nepuk wajah ibunya.

“Umi…umi…bangun umi!” ratapnya.

Anak itu ketakutan, bukan pada jilatan api yang melantakan rumahnya, tapi pada kesendiriannya disenja yang makin temaram itu. Dia mendekap erat tubuh ibunya, berharap ibunya dapat menemaninya dalam kesenyapan. Ratapannya makin melemah seiring kegelisahan yang merasuki hatinya. Pada siapa lagi dia harus mengadu. Bapaknya, ibunya, kakaknya, semua sudah berada di tempat itu.

Anak itu menatap mega merah di ufuk barat. Dia mau mega itu menemani kesendiriannya. Serombongan burung pipit terbang merendah di tengah kemilau senja, tepat berada di atasnya, dia juga ingin burung-burung itu menjaga dirinya yang takut. Anak itu kembali bersedih, ternyata burung-burung itu dan mega di ufuk barat tak mau menuruti keinginannya. Semua meninggalkan dirinya dalam kesendirian dan kegulitaan malam. Kegulitaan yang makin menyelimuti kelamnya tanah rencong.

-----SELESAI-------

Bogor, 13 Mei 2008

dikirim nataryasena 10 weeks 1 hari yang lalu
Tag: